
Aftar duduk di kursi kerjanya, lalu dia kembali menggeser-geser layar ponselnya.
"Karin mengirim pesan padaku," gumam Aftar.
Aftar membuka pesan dari Karin, entah apa isi pesan dari Karin itu?
Pesan dari Karin.
Datanglah, ke acara pernikahanku! Aku akan menikah minggu depan.
Aftar ternganga tidak percaya. "Apa, sungguh dia akan menikah? Dengan siapa?" Tanya Aftar, hatinya begitu penasaran tapi dia juga senang karena akhirnya Karin menemukan pasangan hidupnya.
"Mudah-mudahan Karin bahagia dengan suaminya kelak," doa Aftar dalam hatinya.
Aftar membalas pesan Karin.
Sungguh? Kamu tidak sedang bercanda kan?
Karin tersenyum melihat balasan pesan dari mantan kekasihnya itu. "Apakah dia sedang meragukan ku, memangnya aku harus terus mengejar-ngejar dia? Dasar Aftar ini, aku juga ingin bahagia dan hidup lebih baik lagi," Karin tersenyum. Rasanya bahagia sekali karena akhirnya dia menemukan laki-laki yang begitu mencintai dirinya.
Karin membalas pesan dari Aftar.
Sungguh, jika kamu tidak percaya maka datanglah! Aku juga tidak akan menganggu rumah tanggamu lagi, ajak Kinan bersamamu aku ingin minta maaf padanya!
Aftar kembali tersenyum, dia sangat bersyukur karena akhirnya mantan kekasihnya ini akhirnya akan sungguh-sungguh menikah.
Aftar membalas pesan Karin.
Baiklah, aku pasti akan datang bersama dengan istriku. Dan aku harap calon suamimu itu tidak jauh lebih tampan dariku, Aftar memberikan emoticon meledek di pesannya.
Karin hanya tersenyum melihat balasan pesan dari Aftar.
"Dasar Aftar ini, selalu saja dia itu merasa dirinya paling tampan.Tapi memang dia tampan sih," Karin tertawa dalam hatinya.
Karin membalas pesan dari Karin.
Dasar kamu ini, baiklah kamu tetap yang paling tampan. Ingat jangan sampai tidak datang!
Aftar membuka pesan dari Karin dia hanya membacanya lalu dia tersenyum simpul.
"Aku harus pulang, aku akan memberikan kabar bahagia ini pada Kinan." Kata Aftar dengan begitu semangat.
******
Jam menunjukkan pukul 5 sore, Aftar buru-buru pulang karena sudah tidak sabar ingin bertemu dengan istrinya yang begitu manja hari ini.
Vino juga baru saja keluar dari dalam ruangannya.
"Pak, tumben buru-buru sekali?" Tanya Vino yang melihat Aftar berjalan buru-buru.
"Aku ingin segera bertemu dengan istriku, seperti inilah enaknya punya istri. Pulang kerja ada yang nungguin," jawab Aftar dengan nada meledek.
Vino hanya diam, dia sadar kalau di rumahnya tidak ada yang menunggunya. Vino hidup sebatang kara karena kedua orang tuanya sudah tidak ada untuk selamanya.
"Baik-baiklah, aku kalah karena aku belum punya istri." Jawab Vino sedih.
"Makanya cepatlah nikahi Caca, sebelum di gondol yang lain!" Aftar nyengir, rasanya puas sekali meledek Vino.
"Terserah Pak Aftar lah, dia itu paling benar. Dia lupa waktu dirinya belum menikah saja sama sepertiku," batin Vino. dalam hatinya.
"Jika ada yang berani, maka aku akan membunuhnya lebih dulu pak." Jawab Vino, dia juga ikutan nyengir.
Dasar Vino ini memang tidak mau mengalah sekali dengan bosnya.
"Dasar b*doh, jika kamu membunuhnya maka kamu akan mendekam di penjara. Dan Caca akan di nikahi oleh laki-laki lain," ledek Aftar. Yang seketika membuat Vino begitu geram.
"Untung saja bapak bos saya, coba kalau bukan aku saya akan menghajar bapak," batin Vino dalam hatinya.
"Sudahlah pak, cepat pulang temui Nona Kinan kasian Nona sudah menunggu lama!" Vino tersenyum jail pada Aftar, mengingat istrinya sudah menunggunya di rumah Aftar langsung berlalu pergi dari hadapan Vino.
Aftar segera melajukan mobilnya dengan kecepatan agak tinggi menuju ke rumahnya. Sedangkan Vino masih berdiri di tempat parkir sambil menunggu Caca yang belum keluar dari dalam kantor.
Caca berjalan menghampiri Vino sambil tersenyum bahagia.
"Kok belum pulang?" Tanya Caca pura-pura tidak tahu.
"Tentu saja, aku ingin pulang bersama denganmu sayang." Jawab Vino, dan dia menarik tangan Caca lalu menyuruh Caca masuk ke dalam mobilnya.
Setelah Caca naik, Vino juga naik ke dalam Mobil, kini Vino sudah melajukan mobilnya tapi Vino tidak melajukan mobilnya ke rumah Caca. Caca terlihat kebingungan, sebenarnya Vino mau membawa dirinya kemana?
"Ini bukan arah rumahku, kita mau kemana?" Tanya Caca, pikirannya sudah traveling tidak jelas.
"Aku takut Vino membawaku ke hotel, lalu dia memberikan aku minuman keras dan aku mabuk dan terjadilah seperti adegan-adegan di beberapa film drama yang aku tonton," batin Caca dalam hatinya.
"Nanti kamu akan tahu, sayang." Jawab Vino, hanya senyum kecil yang Vino pancarkan.
"Jangan macam-macam!" Kata Caca, tatapan matanya begitu penuh ancaman.
"Dasar, apa yang ada di pikiran Caca ini?" Gumam Vino dalam hatinya.
"Diamlah, nanti kamu akan tahu! Ini kejutan," jelas Vino dan dia terus melajukan mobilnya dengan kecepatan agak tinggi.
Entahlah, Vino ini akan membawa Caca kemana?
*****
Aftar sudah sampai di rumah, kini dia sudah berada di dalam kamar sambil berbaring di atas ranjang tempat tidur.
"Mas, bukannya mandi. Ini malah berbaring, mandilah dulu!" Dengan bawel Kinan geleng-geleng kepala.
Aftar hanya tersenyum. "Nanti saja mandinya, sayang kemarilah! Aku punya kabar bahagia buat kamu," kata Aftar dan Kinan berjalan menuju ke ranjang tempat tidurnya.
Kinan ikut berbaring di samping suaminya, matanya terlihat berbinar penuh dengan rasa penasaran. "Kabar bahagia, apa mas?" Tanya Kinan.
Aftar memberikan ponsel miliknya pada istrinya. "Bacalah, nanti kamu akan tahu!" Aftar tersenyum. Membuat Kinan semakin penasaran, Kinan menerima ponsel dari tangan Aftar lalu menggeser layar ponsel itu.
"Karin," gumamnya matanya sudah memancarkan penuh dengan kecemburuan.
"Baca dulu!"
Kinan membaca isi chat dari Karin. "Karin mau menikah?" Celetuknya tidak percaya.
"Iya sayang, dia akan menikah." Ujar Aftar, tangannya seperti biasanya mengelus-elus perut istrinya.
"Mas ih, lihat isi chat mas! Karin mau menikah tapi mas masih saja bergurau mesra dengan dia," Kinan mengomel melihat gurauan Aftar saat membalas chat dari Karin.
Aftar tertawa kecil, dia hanya bergurau tidak ada maksud lain. Tapi dia tahu pasti itu akan membuat istrinya ini cemburu.
"Hanya bergurau, kamu tidak usah cemburu." Kata Aftar, dia membenarkan posisinya lalu mengambil ponsel miliknya dari tangan sang istri.
"Baik-baiklah, karena Karin akan menikah maka aku tidak cemburu. Tapi jika dia berani menganggu kamu maka aku tidak akan diam saja," tutur Kinan penuh dengan penegasan.
Aftar mengangguk pelan, terserah istrinya saja yang penting hari ini dan seterusnya Aftar hanya akan mencintai Kinan untuk selamanya sampai maut yang memisahkan mereka berdua.
"Kamu mau kan, datang ke acara pernikahan Karin nanti?" Tanya Aftar, dia ragu kalau Kinan tidak akan mau datang.
"Acaranya minggu depan," sambung Aftar.
"Mau mas, kita kasih kado apa buat Karin?" Jawab Kinan, pancaran rasa cemburu seketika hilang begitu saja dari matanya.
"Entahlah, yang penting kita datang! Untuk kadonya, aku kasih uang saja buat dia pergi bulan madu. Apa boleh?" Aftar terlihat bingung, tatapan matanya juga terlihat ragu karena takut Kinan akan marah gara-gara usulan darinya.
Bukannya marah, Kinan malah tersenyum dengan begitu manis.
"Boleh mas, jadi kaki aku juga tidak pegal gara-gara mencari kado." Jawab Kinan, dan Aftar langsung memeluknya dengan pelan.
Biarpun ada rasa cemburu, tapi Kinan juga bahagia karena akhirnya Karin menemukan kebahagiaannya.
BERSAMBUNG 🙏
Terimakasih para pembaca setia 🤗