
Aftar tersenyum simpul seolah-olah dirinya merasa senang, karena membuat Kinan kesal tapi tetap menurut pada dirinya.
Setelah selesai makan, Aftar langsung mengajak Kinan pergi.
Sesampainya di salon Aftar dan Kinan melakukan perawatan bersama, di salon Kinan tampak canggung mungkin karena baru pertama kalinya masuk salon elit. Kalau biasanya Kinan hanya masuk salon biasa dan itu juga kalau potong rambut saja.
Setelah selesai perawatan, Aftar kembali mengajak Kinan ke toko baju wanita untuk membelikan Kinan dress-dress cantik dan keperluan Kinan yang lainnya.
Kinan hanya mengikuti langkah kaki Aftar, mata Kinan terpesona dengan cantiknya dress-dress cantik yang ada di hadapannya saat ini.
"Pak....!" Kata-kata Kinan terpotong.
"Kinan, biasakan panggil Mas Aftar mulai sekarang!" Sambung Aftar dengan senyum juteknya.
"Mas, baju-baju di sini pasti sangat mahal kita beli di toko biasa saja ya!" Ajak Kinan, kini tangan Kinan menarik tangan Aftar tapi Aftar malah menahan tangan Kinan dengan kuat.
"kita beli di sini, jangan perdulikan harga yang paling penting kamu harus selalu cantik setiap hari." Jawab Aftar dengan nada begitu menggoda.
Kinan hanya menganggukkan kepalanya, Aftar mengandeng tangan Kinan dan memilih-milih baju-baju cantik yang menurut dirinya Cocok untuk di pakai oleh Kinan.
Aftar mengambil banyak dress-dress cantik, sungguh ini pertama kalinya Kinan membeli baju begitu banyak.
"Mas, ini sangat berlebihan." Protes Kinan, yang melihat Aftar membeli dress cantik untuk dirinya begitu banyak.
"Tidak ada yang berlebihan, aku membeli semua ini untuk mempercantik calon istriku." Jawab Aftar tidak mau tahu dan lagi-lagi mengambil dress yang menurut dirinya cantik dan cocok untuk Kinan.
Setelah membeli baju untuk Kinan, Aftar juga membeli beberapa sandal hak tinggi untuk pasangan dress-dress yang dia beli.
"Mas..." Belum sempat Kinan melakukan protes, Aftar tiba-tiba mengacak-acak rambut Kinan dengan lembut "Berhentilah melakukan protes, banyak wanita lain yang berharap aku melakukan semua ini untuk dirinya." Aftar tersenyum begitu manis.
Lagi-lagi Kinan hanya menganggukkan kepalanya, apalagi Aftar hari ini tidak sedingin biasanya.
"Sepertinya Pak Aftar salah makan." Batin Kinan dalam hatinya.
Setelah selesai membeli semuanya, Aftar dan Kinan kembali melangkahkan kakinya, saat ini tangan Aftar penuh dengan barang belanjaan yang dirinya beli.
"Sini, biar aku bantu membawanya!" Kinan hendak mengambil barang belanjaan yang ada ditangannya Aftar.
Aftar menepis tangan Kinan dengan lembut "Membawa barang belanjaan, itu adalah tugas laki-laki jadi kamu cukup gandeng tangan aku saja!" Aftar mengulurkan tangan dia agar Kinan mengandeng tangannya.
Lagi-lagi Aftar memanfaatkan kesempatan yang ada, dalam hati Aftar dari tadi selalu tertawa bahagia karena dirinya merasa telah menang banyak dari Kinan.
Kinan meraih tangan Aftar, akhirnya mereka berjalan bergandengan seperti muda-mudi yang sedang melakukan kencan bersama pacar mereka.
"Tangan Kinan lembut sekali, biarpun dia hanya seorang cleaning servis tapi dia pasti menjaga tangannya dengan baik." Batin Aftar dalam hatinya.
"Kita mau kemana lagi?" Tanya Aftar.
"Kita pulang saja ya, kaki aku capek sekali." Jawab Kinan dan di anggukin oleh Aftar.
"Tidak makan dulu?" Tanya Aftar lagi.
"Masih kenyang, Mas Aftar mau makan dulu?" Tanya Kinan sambil melihat wajah tampan Aftar.
"Hari ini, manusia es ini kesambet dedemit mana?" Tanya Kinan pada hatinya.
"Tidak, ayo pulang bukankah kakimu sakit!" Ajak Aftar dengan penuh semangat.
Saat mereka hendak keluar dari mall, tiba-tiba Kinan menghentikan langkah kakinya karena Kinan melihat seorang yang tidak asing, Aftar menatap Kinan dengan tatapan penuh tanda tanya?
"Ada apa?" Tanya Aftar.
"Bukankah itu Pras, temannya Arga yang pernah Arga kenalkan padaku?" Kinan malah berbicara sendiri.
Tiba-tiba Pras berjalan menghampiri Kinan, lalu berhenti tepat di hadapan Kinan.
"Kinan, mantan kekasihnya Arga bukan?" Tanya Pras tanpa bertele-tele.
Kinan tersenyum sambil menganggukkan kepalanya "Pras, bukan?" Tanya Kinan memastikan.
"Iya aku Pras, tidak menyangka kita bisa bertemu lagi, kamu semakin cantik pantesan Arga sungguh tergila-gila padamu." Pras mengulurkan tangannya berniat berjabat tangan dengan Kinan, Kinan juga mengulurkan tangannya sambil tersenyum.
"Kamu bisa saja Pras, Arga sudah menikah." Jawab Kinan dengan tersipu malu-malu.
"Tapi dia masih selalu menyebut namamu." Kata Pras, mengingat kejadian waktu di club malam bersama Arga.
Kinan tidak sadar dari tadi Aftar sudah menatapnya dengan tatapan begitu garang, tangannya juga sudah mengepal dengan sempurna.
"Maksud laki-laki ini apa? Kalau Arga masih selalu menyebut nama Kinan, memangnya aku akan mengizinkan Kinan kembali pada laki-laki br*ngsek itu, tidak akan!" Batin Aftar meronta-ronta.
"Arga memang seperti itu dari dulu, nanti juga akan lupa dengan sendirinya." Jawab Kinan dengan nada lembut.
"Kenapa dulu kalian putus sih?" Tanya Pras yang merasa penasaran.
Dia tahu waktu Arga pacaran dengan Kinan, Arga itu begitu menyayangi Kinan, sangat perhatian pada Kinan dan tentunya melihat hubungan Arga dan Kinan dulu mereka itu begitu hangat dan sangat romantis. Arga juga setiap kali ada acara dengan teman-teman pasti dia akan mengajak Kinan ke acara itu.
"Emm, kita putus....." Kata-kata Kinan terpotong.
"Sayang, bukannya tadi katanya kaki kamu sakit? Ayo pulang, jangan berdiri nanti kaki kamu bengkak pernikahan kita tinggal menghitung jam." Potong Aftar, yang sebenarnya tidak suka melihat Kinan mengobrol dengan laki-laki lain dengan begitu akrab.
Aish seketika wajah cantik Kinan berubah menjadi merah seperti kepiting rebus.
"Aish, haruskah dia bilang masalah pernikahan di hadapan Pras? Apalagi semua ini hanya pernikahan kontrak." Batin Kinan dalam hatinya.
"Tunggu, kamu akan segera menikah?" Pras memastikan dengan tatapan mata tidak percaya.
Aftar melihat kearah Pras "Iya, dia akan menikah denganku!" Jawab Aftar dengan tegas.
Pras melihat Kinan, lalu dia tersenyum pada Kinan dengan begitu manis "Aku kira, kamu belum mau menikah aku siap tahu menjadi penganti Arga." Pras senyam-senyum pada Kinan, membuat Kinan juga ikut tersenyum.
"Iya, boleh di pertimbangkan!" Canda Kinan dengan tawa kecil, lagi-lagi Aftar merasa sangat kesal.
"Dasar gadis genit, bisa-bisanya dia menggoda laki-laki lain di hadapan calon suaminya." Batin Aftar dalam hatinya.
"Tidak ada di pertimbangkan, sekarang ayo kita pulang!" Protes Aftar dan langsung menarik tangan Kinan berjalan menuju ke mobil.
"Aku duluan ya Pras!" Pamit Kinan yang sudah berjalan dari hadapan Pras.
"Iya, Kinan aku tunggu jandamu!" Jawab Pras dan di dengar oleh Aftar.
"Apa-apaan laki-laki itu, dasar laki-laki br*ngsek. Jangan harap kamu akan mendapatkan jandanya Kinan." Batin Aftar dalam hatinya.
Aftar membuka pintu mobilnya dengan kasar, lalu dia menyuruh Kinan masuk ke dalam mobilnya dan kembali menutup pintu mobilnya, kini Aftar juga sudah duduk di jok depan dan siap melajukan mobilnya menuju ke rumah Kinan.
Aftar melajukan mobilnya, di dalam perjalanan bahkan Aftar hanya diam dengan raut wajah yang tampak kesal.
"Mas Aftar, kamu itu kenapa sih?" Tanya Kinan dengan nada agak marah.
"Aku......."
BERSAMBUNG ๐
Terimakasih para pembaca setia๐