Menikah Kontrak 100 Hari

Menikah Kontrak 100 Hari
Lamaran di terima


Malam menunjukkan pukul 7, Aftar dan Vino sama-sama berdiri di tempat parkir mobil, mereka sama-sama melihat cincin yang sudah di siapkan untuk melamar wanita-wanita mereka.


"Vin, kamu yakin ini yang mau oleh istriku?" Aftar terlihat ragu, sungguh dia takut salah dan pastinya di suruh tidur di sofa lagi.


"Bagaimana kalau kita taruhan,bos?" Vino mengedipkan satu matanya, membuat Aftar menatapnya jijik.


"Taruhan apa?" Tanya Aftar males.


"Jika ini benar yang di inginkan oleh Nona Kinan, saya mau salah satu dari mobil yang bos punya." Tawar Vino, dalam hatinya dia merasa senang dia juga merasa yakin kalau Aftar pasti akan merima tawarannya.


"Baiklah, kamu boleh ambil salah satu!" Aftar setuju dengan taruhan Vino, lagian mobilnya banyak jadi tidak masalah buat Aftar kalau harus kehilangan satu mobilnya.


"Tapi jika salah dan kamu membuatku di hukum lagi, kamu juga harus berikan mobilmu padaku atau kamu belikan arloji keluaran terbaru?" Aftar juga tidak mau mengalah, senyumnya tidak kalah licik kali ini.


"Aish bos Aftar ini, sungguh tidak mau kalah jika aku kalah pasti uangku dalam tabungan harus terkuras untuk membeli arloji keluaran terbaru, mana harganya tidak murah lagi." Batin Vino dalam hatinya.


"Bagaimana?" Tanya Aftar memastikan.


Vino menghela nafas dalam-dalam, dia mau mundur tapi dia juga gengsi. Vino yakin di lamar oleh bos Aftar itu maunya Nona Kinan. Vino terus meyakinkan hatinya.


"Baiklah bos, saya setuju!" Vino dan Aftar saling berjabat tangan.


Caca melangkahkan kakinya menuju ke parkiran mobil, karena Vino sudah mengirim pesan kalau dirinya menunggu di tempat parkiran mobil.


Caca terlihat canggung, karena di parkiran mobil juga ada Aftar.


"Ada Pak Aftar juga, tumben banget? Biasanya Pak Aftar sudah pulang." Gumam Caca lirih.


"Sayang," panggil Vino dengan begitu mesra.


Aftar mendengus kesal, pasti Vino bucinya juga kebangetan.


"Mending aku pulang, daripada aku harus jadi obat nyamuk." Gumam Aftar dalam hatinya.


"Vin, Ca, duluan ya." Pamit Aftar, dia langsung menaiki mobilnya dan berlalu pergi dari tempat parkir.


Setelah Aftar pergi, Vino terus senyam-senyum membuat Caca menggelidik bingung.


"Kenapa dari tadi Vino terus senyam-senyum begini? Apa jangan-jangan dia mulai tidak waras," batin Caca dalam hatinya.


"Sayang, aku mau ajak kamu ke suatu tempat!" Kata Vino, dan Vino langsung mengajak Caca masuk ke dalam mobil.


"Kita mau kemana?" Tanya Caca penasaran.


"Nanti, kamu akan tahu." Jawab Vino, mereka langsung masuk ke dalam mobil dan malam ini Vino akan membawa Caca ke tempat yang sudah Vino siapkan.


Sebelum pergi ke tempat yang sudah Vino siapkan, Vino mampir ke sebuah salon dan tentunya malam ini Vino akan menjadikan Caca wanita yang cantik dan elegan.


Entah akan seperti apa penampilan Caca, malam ini?


*****


Aftar baru saja sampai di rumah, matanya melihat ke setiap sudut ruangan tapi rumahnya terlihat sepi.


"Pak Aftar, sudah pulang?" Tanya Bi Ijah.


"Iya bi, kakek kemana bi?" Tanya dengan nada sopan.


"Pak Sanjaya pergi katanya mau ke villa Bu Marta." Jawab Bi Ijah dan Aftar mengangguk pertanda mengerti.


Bi Ijah kembali ke dapur, sedangkan Aftar terdiam sejenak.


Dalam hati Aftar, biarpun nenek sudah tidak ada untuk selamanya tapi cinta kakek begitu besar pada nenek.


Aftar kembali melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya, sesampainya di kamar Aftar melihat Kinan sedang berbaring sambil membaca novel terbaru Author.


Aftar tersenyum, lalu menghampiri sang istri dengan penuh kelembutan Aftar mengusap rambut Kinan sambil tersenyum.


"Masih marah?" Tanya Aftar, sekarang tangannya sudah berpindah ke pipi mulus sang istri.


"Aku tidak marah mas, hanya sedikit kesal saja sama mas," jawab Kinan terlihat senyum tipis di sudut bibirnya.


Mendengar jawaban dari istrinya, Aftar merasa lega dan tentunya agak tenang mudah-mudahan nanti tidak di suruh tidur di sofa lagi.


"Buku apa yang kamu baca? Apa kamu menangis?"


"Mas aku membaca novel baru punya Author ceritanya sedih sekali, mamanya ini jahat sekali sama anaknya. Geram sekali aku bacanya."


"Jadi kamu menangis gara-gara membaca novel ini?"


Kinan mengangguk pelan, Aftar hanya tertawa kecil. Seperti inilah kerjaan istrinya kalau tidak baca novel ya nonton drama.


"Judulnya apa sayang?"


"Judulnya "Suamiku Duda Kaya Tajir Melintir" tapi nanti gadis malang ini bertemu dengan duda kaya, cerita seru deh mas."


"Nanti mas baca, oh iya mas punya kejutan buat kamu." Aftar tersenyum, terlihat senyum begitu sumringah di bibir Aftar.


"Kejutan apa mas?" Tanya Kinan malu-malu.


Kinan tersenyum, mungkin dalam hal ini Kinan terlalu seperti anak kecil tapi Aftar tidak pernah mempermasalahkan itu. Karena yang terpenting istrinya bahagia.


Aftar membuka kotak kecil itu dan benda kecil itu terlihat begitu bersinar.


"Mas, iya aku mau hidup selamanya bersama Mas Aftar." Jawab Kinan sambil tersenyum, Aftar juga ikut tersenyum.


Aftar mengambil cincin yang ada di dalam kotak, lalu dia menyematkan cincin berlian yang dia beli di jari manis Kinan.


Kinan terlihat bahagia, dia seperti anak kecil yang baru saja dikasih permen dari tadi dia senyam-senyum terus.


"Sayang, aku mencintaimu." Aftar mendekatkan wajahnya ke wajah Kinan, dengan penuh cinta Aftar mencium bibir Kinan dengan lembut.


Kinan begitu menikmati ciuman dari suaminya. "Boleh, aku melanjutkannya?" Tanya Aftar, yang sudah melepaskan ciumannya.


"Tapi mas belum mandi, belum makan malam juga, apa mas....."


"Sayang, itu nanti saja!" Aftar memotong perkataan Kinan dan kini bibir sudah mendarat di bibir Kinan.


Aftar terus melanjutkan aksinya dengan penuh kenikmatan, Kinan juga tidak menolak dia sangat menikmati belaian demi belain dari suaminya. Desahan dan erangan juga mulai terdengar dari mulut keduanya, malam yang begitu dingin menjadi saksi bisu perpaduan cinta mereka malam ini.


****


Malam ini Caca terlihat cantik dengan gaun warna putih yang Vino pilihkan. Riasan yang begitu natural membuat malam ini terlihat cantik elegan.


Vino melanjutkan perjalanan dan dia menghentikan mobilnya di tepi jalan lalu dia mengajak Caca berjalan menuju ke suatu tempat.


"Sayang, kita mau kemana?" Tanya Caca yang dari tadi masih sangat penasaran.


Mereka berjalan menaiki tangga, hingga mereka sampai di atas rumah Vino. Iya Vino membuat kejutan di balkon atas rumahnya.


Lilin-lilin kecil menghiasi tempat itu, makan malam yang romantis juga sudah Vino siapkan buat Caca.


"Duduklah!" Vino menarik satu kursi buat Caca.


Caca duduk, matanya terus menatap keindahan malam ini.


"Indah sekali, ini adalah pertama kalinya aku mendapatkan kejutan semewah ini." Batin Caca dalam hatinya.


"Kamu, menyiapkan semuanya ini sendiri?" Tanya Caca menatap Vino begitu dalam.


"Iya sayang, aku siapkan khusus buat kamu. Dan malam ini aku....." Vino menghentikan perkataannya.


"Aku apa?" Caca kembali menatap Vino, aduh Caca yang mau di lamar Vino yang deg-deggan tidak karuan.


Vino menarik nafasnya dalam-dalam, dia mengumpulkan keberanian untuk melamar pujaan hatinya.


"Caca, aku ingin melamar kamu, maukah kamu menjadi istriku?" Tanya Vino, hatinya semakin deg-deggan ini pertama kalinya dia melamar seorang gadis.


Caca terdiam, dia masih ternganga tidak percaya.


"Apa, kamu serius? Tapi aku hanya cleaning servis, aku tidak pan.... tas denganmu." Kata Caca, dengan nada terbata-bata.


"Vin, kita sangat jauh berbeda aku hanya gadis miskin dan kamu laki-laki kaya," gumam Caca dalam hatinya.


"Sayang, kita itu sama-sama manusia. Aku tidak peduli apapun pekerjaanmu selagi itu membuatmu nyaman, tapi nanti kalau kita sudah menikah biarkan aku yang menafkahi kamu!" Tutur Vino dengan lembut, terlihat ketulusan yang begitu dalam di dalam hati Vino.


Caca sangat terharu, tiba-tiba air matanya menetes di pipi.


"Kenapa kamu menangis? Kamu tidak mau menikah denganku?" Tanya Vino agak sedih.


Caca menggeleng pelan, Vino yang dari tadi berdiri kini dia berjongkok di hadapan Caca dan terus memegangi kedua tangan Caca.


"Jangan menangis, jika kamu tidak mau menerima lamaranku tidak apa-apa," kata Vino dia terus memegang erat tangan Caca.


"Apa yang mas katakan? Bagaimana aku tidak menerima lamaran laki-laki sebaik mas," omel Caca, karena Vino mengambil kesimpulan sendiri.


"Lalu?" Tanya Vino antusias.


"Aku menerimanya mas, aku mau jadi istrimu." Jawab Caca sambil tersenyum, tanpa meminta persetujuan dari Caca Vino langsung mencium bibir Caca dan Caca juga menerima ciuman itu.


Tiba-tiba Caca menggigit bibir Vino dengan pelan. "Sakit, kenapa kamu main gigit? Nanti mas makan kamu." Vino agak merajuk, sedang enak-enak malah di gigit sama Caca.


"Mas, dimana-mana itu pasangkan cincinnya dulu di jari manis sang perempuan, baru lanjut berciuman." Rajuk Caca dengan begitu polos.


Sungguh sangking semangatnya Vino sampai ***** menyematkan cincin berlian yang sudah dia siapkan.


"Maaf sayang, mas lupa." Vino mengeluarkan kotak cincin dari saku kemejanya, lalu membuka kotak itu.


"Sayang, mulai sekarang kamu adalah calon istriku dan kamu tidak boleh macam-macam!" Kata Vino sambil menyematkan cincin di jari manis Caca.


Caca mengangguk pelan, setelah cincin berlian yang Vino di sematkan di jari manis Caca. Akhirnya mereka kembali berciuman dengan penuh cinta.


Malam ini adalah malam yang bahagia, Kinan sudah mendapatkan apa yang dia mau. Dan lamaran Vino juga akhirnya di terima oleh Caca.


BERSAMBUNG 🤗


Terimakasih para pembaca setia 😘