Menikah Kontrak 100 Hari

Menikah Kontrak 100 Hari
Lebih dari 20 menit


"Tapi mas...." Kata-kata Kinan terpotong, karena Aftar sudah membawa masuk ke dalam kamar.


Entah apa yang akan terjadi dengan 20 menit itu?


Sesampainya di kamar, Aftar langsung membaringkan tubuh Kinan di atas kasur. Kinan melirik Aftar dengan tatapan agak kesal, bukannya tidak mau melayani suaminya tapi rasa pegal-pegal di tubuhnya bekas semalam juga belum hilang, tapi ini sudah mau di garap lagi.


"Mas, ini masih pagi." Kinan menahan bibir Aftar dengan jari telunjuknya, tapi Aftar malah menyingkirkan jari telunjuk Kinan dan dia mel*mat bibir Kinan dengan manja.


Kinan hanya bisa diam sambil menikmati ciuman dari suaminya, kini Aftar sudah menindih tubuh mungil Kinan.


Tangannya sudah menyusup masuk ke dalam baju Kinan sambil meremas benda kenyal milik Kinan. Kinan merasakan sensasi yang luar biasa, di bawa sana tepat dia atas miliknya Aftar sudah menggesek-gesekkan miliknya tepat di milik Kinan.


Erangan dan desahan sama-sama keluar dari mulut keduanya, Kinan yang awalnya menolak kini dia mulai menikmati permainan sang suami dengan begitu nikmat.


"Achh...." desahnya yang diiringi dengan rintihan.


Aftar membuka sedikit celananya, dia juga menaikan rok Kinan agak sedikit ke atas. Aftar tidak melepaskan semuanya pakaiannya dan pakaian Kinan karena dia juga buru-buru mau berangkat ke kantor.


Kinan miliknya sudah tegang dan siap di tancapkan ke dalam milik Kinan. "Tahan sayang," Aftar mulai menusukan miliknya hingga masuk ke dalam milik Kinan


Kinan mendesah, dia juga agak merintih karena benda tumpul milik suaminya lagi-lagi sudah memenuhi miliknya.


Setelah beberapa lama, akhirnya Aftar mencapai puncaknya dan dia segera mengeluarkan cairan hangatnya di dalam rahim sang istri.


Setelah puas, Aftar mencabut miliknya dia berbaring di sebalah Kinan. belum lama dia berbaring, miliknya kembali keras dan menegang.


"Sayang, mau lagi." Kata Aftar dengan begitu manja.


"Tapi sayang..." belum sempat Kinan menyelesaikan pembicaraannya, Aftar sudah membuka sl*kangan Kinan lalu kembali memasukkan miliknya ke dalam milik Kinan.


Alhasil bukan 20 menit seperti yang Aftar katakan, karena akhirnya Aftar melakukannya lebih dari sekali.


Setelah selesai, Aftar tersenyum lalu langsung merapikan celananya dan pakaiannya.


Kinan masih terbaring di atas ranjang dengan keadaan yang masih acak-acakan karena ulah sang suami.


Aftar beranjak dari tempat tidurnya, lalu dia menyelimuti tubuh istrinya dengan benar.


"Terimakasih istriku, kamu tidur lagi saja. Ingat jangan banyak gerak, pasti kamu sangat lelah," Aftar tersenyum lalu mencium kening Kinan dengan penuh cinta.


Kinan hanya menganggukkan kepalanya, lalu mencium tangan suaminya sebelum dia pergi ke kantor.


Rasanya sangat lega dan puas sekali, Aftar juga berangkat ke kantor dengan raut wajah yang begitu bahagia.


Setelah suaminya berangkat ke kantor, Kinan kembali tidur karena badannya sangat sakit gara-gara ulah sang suami.


"Dulu waktu status kita masih menikah Kontrak, Mas Aftar tidak seganas ini tapi setelah perjanjian kontrak itu sudah di robek Mas Aftar semakin kesini semakin manja," batin Kinan dalam hatinya.


___


Sesampainya di kantor, Aftar langsung masuk ke dalam ruangan kerjanya. Banyak pegawai Aftar yang melihat Aftar dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Tumben, Pak Aftar begitu bahagia wajahnya pagi ini juga terlihat begitu cerah."


"Sekarang sudah punya istri jadi dia bahagia setiap hari."


Aftar menyapa para pegawainya sambil tersenyum pada para pegawainya, sungguh ini bukan hal biasa Aftar lakukan.


"Lihat, Pak Aftar tumben dia tersenyum."


"Bahkan dia menyapa kita."


"Baguslah, kalau Pak Aftar seperti ini setiap hari pasti dia akan terlihat tampan."


"Iya tampan, bahkan sangat tampan."


Banyak yang heran dengan sikap Aftar, Vino yang berdiri di ambang pintu ruangannya dia melihat Aftar juga tampak bingung.


"Kesambet dedemit mana Pak Aftar, senyumnya tumben sumpringah sekali?" Tanya Vino pada dirinya, sungguh ini pemandangan yang luar biasa.


Vino paham, pasti ini semua karena Kinan dan tentunya bosnya ini begitu bucin pada istrinya. Tapi hal ini juga membuat Vino iri, setelah sekian lama menjomblo Vino juga berpikir untuk mencari pasangan hidup agar bisa seperti Aftar.


Melihat Aftar yang dulu begitu mencintai Karin dan bahkan sangat bucin dengan Karin. Tapi semuanya berubah, Aftar memutuskan Karin dan sekarang sudah bahagia dengan Kinan.


Kali ini Vino akan berusaha membuka hatinya untuk wanita lain. Dia juga ingin bisa merasakan indahnya punya rumah tangga yang bahagia.


"Selamat pagi Vin," sapa Aftar sambil tersenyum.


"Selamat pagi juga pak, cie bahagia sekali pagi ini." Goda Vino dengan jail.


Aftar senyam-senyum dengan begitu bahagia, Vino hanya bisa menghela nafasnya.


"Sungguh Pak Aftar bahagia sekali," batin Vino dalam hatinya.


"Iyalah bahagia, habis di kasih jatah sama istri. Memangnya kamu jomblo," Aftar meledek Vino. Sungguh Vino merasa sangat kesal.


"Sebentar lagi aku akan menikah," cetus Vino. Yang sebenarnya tidak tahu dia mau menikah dengan siapa?


Sekilas pikiran Vino traveling kemana-mana dia juga berpikir kalau dirinya akan menikah dengan siapa? Sedangkan selama ini dia saja selalu menutup hatinya untuk wanita lain.


Aftar tertawa sejadi-jadinya sungguh ini pertama kalinya dia mendengar Vino bicara seperti ini, lagian Vino mau menikah dengan siapa? Pacar saja tidak punya.


"Vino, besok kamu bangunnya jangan kesiangan ya!" Aftar kembali tertawa, sungguh Vino semakin kesal di buatnya.


"Dasar Pak Aftar, lihat saja aku pasti akan segera menikah." Batin Vino dengan begitu yakin.


"Aku selalu bangun tepat waktu pak." Jawab Vino dengan tatapan kesal.


"Baguslah, mudah-mudahan kamu cepat bertemu dengan jodohmu." Aftar menepuk pundak Vino dengan pelan.


"Iya pak, terimkasih. Tapi aku takut belum bisa melupakan Nana," Vino menatap Aftar dengan tatapan serius.


Aftar tahu cinta Vino yang begitu dalam pada Nana, tapi Aftar juga tidak mau kalau Aftar berlarut-larut dalam kenangan masa lalunya.


"Vin, ketika kamu menemukan wanita lain yang bisa membuatmu merasa nyaman maka yakinlah seiring berjalannya waktu pasti bayangan Nana akan hilang dengan sendirinya," tutur Aftar dengan penuh nasehat.


Vino menganggukan kepalanya pertanda mengerti.


"Kamu lihat saja, aku dulu begitu mencintai Karin dan aku kira selamanya hanya akan mencintai Karin. Tapi setelah seiring berjalannya waktu, perasaan itu pudar begitu saja dan aku sekarang hanya mencintai Kinan," tutur Aftar. Dia berusaha meyakinkan Vino bawa cinta itu bisa datang kapan saja.


Vino kembali tersenyum. "Akan aku ingat kata-kata bapak," kata Vino dengan begitu yakin.


"Oh iya, bagaimana menurutmu tentang gadis yang kemarin makan siang bersamamu? Aku rasa dia cocok untukmu," Aftar tersenyum jail.


"Maksudnya?


BERSAMBUNG 🙏


Terimakasih para pembaca setia 😊


Maaf ya akhir-akhir ini sibuk banget soalnya lagi di kampung, sinyalnya juga susah banget.