
Hari demi hari berlalu, bulan demi bulan silih berganti dan kini sudah lima tahun telah berlalu dan tentunya Kenzo dan Melly juga sudah sekolah, mereka sekolah di sekolahan yang sama hanya saja beda kelas, karena Melly adalah adik kelas Kenzo.
Saat ini Kinan juga sedang hamil anak kedua dan kandungan Kinan sudah memasuki bulan kedua dan tentunya hamil kedua ini Kinan lebih manja, bahkan maunya di peluk sama Aftar tiap hari, sebelum Aftar berangkat kerja, setelah Aftar pulang kerja Kinan sudah seperti kucing yang selalu membuntutinya kemana saja Aftar pergi.
Hingga saat libur kerja Aftar lebih sering menghabiskan waktu di dalam kamar, hanya demi ngidam sang istri yang aneh ini.
Jam menunjukkan pukul 7 pagi, seperti pagi biasanya Kenzo sudah rapi dengan seragam sekolahnya, iya Kinan memasukan Kenzo ke Bimba agar Kenzo bisa belajar menulis dan membaca.
"Mama, kapan adik Ken aku lahir ma?" Tanya Kenzo, terlihat kepolosan di setiap kata-kata yang keluar dari dalam mulutnya.
"Tunggu ya nak, nanti kalau adik Ken sudah lahir Ken sayang tidak sama adik?" Kinan balik bertanya, sambil memakaikan sepatu Ken.
"Pasti Ken sayang mama, tapi kalau adik nakal Ken tidak mau main bareng nanti," jawab Kenzo yang membuat Kinan tertawa kecil.
"Dasar anak kecil, anak mama kamu begitu menggemaskan," batin Kinan dalam hatinya.
Aftar yang baru saja keluar dari dalam kamar, dia berjalan menghampiri anak dan istrinya, kini tatapan matanya begitu lembut pada Ken.
"Ken, anak papa. Ken kan sudah besar, jadi Ken harus belajar memakai sepatu sendiri, kasian kan mama duduknya susah, karena ada adik Ken di dalam perut mama." Tutur Aftar, dia begitu sabar dalam mengajari sang putra dalam setiap hal.
Ken menganggukkan kepalanya dengan pelan, kini dia menatap sang mama lalu menghambur ke dalam pelukan Kinan.
"Mama, maafkan Ken. Ken, janji Ken akan belajar memakai sepatu sendiri mulai besok," kata Ken disela-sela pelukannya.
"Iya sayang, mama maafkan." Jawab Kinan dengan nada lembut.
Biarpun Ken baru 5 tahun, tapi Ken tubuh dengan begitu cerdas. Dia bisa menangkap apa saja yang selalu diajarkan oleh kedua orang tuanya dengan baik.
"Ken, cicitku. Kemarinlah nak!" Panggil Sanjaya, dia begitu bahagia melihat cicit kesayangan ini tubuh dengan baik dan sehat.
"Papa besar," Ken berlari menghambur ke dalam pelukan Sanjaya. Iya Ken selalu disuruh panggil Sanjaya dengan sebutan Kakek buyut, namun Ken tidak mau dan dia memilih memanggilnya dengan sebutan papa besar.
Sanjaya memeluk Ken dengan penuh kasih sayang, Kinan dan Aftar melihatnya dengan begitu bahagia.
"Anak kita sudah besar mas," kata Kinan sambil mengelus-elus perutnya yang sudah mulai terlihat membuncit.
"Iya sayang, terimakasih sudah menjadi ibu dari anak-anakku." Aftar mencium kening dengan penuh cinta.
Tiba-tiba ada anak kecil yang masuk ke dalam rumah, seperti biasanya anak kecil ini main masuk saja, baginya rumah Kenzo itu sudah seperti rumah sendiri apalagi Sanjaya juga menganggap anak ini sama sebagai cicitnya.
"Kak Ken, aku sudah menunggu kakak tapi kakak lama sekali," kata anak itu dengan suara yang begitu cempreng.
"Lihat Melly, aku jadi pingin punya anak perempuan." Kata Aftar, Kinan hanya tersenyum kecil. Bagi dia anak keduanya laki-laki atau perempuan itu sama saja, itu adalah anaknya Aftar adonan yang Aftar buat dan di kasih pupuk setiap malam.
"Berdoa saja mas!" Kata Kinan.
Kinan tersenyum, lalu berjalan menghampiri anak itu. Iya anak yang punya suara cempreng ini adalah anaknya Caca dan Vino, dia juga tumbuh sebagai anak yang cantik dan sangat menggemaskan.
"Melly sayang, sini nak. Kamu sudah sarapan?" Tanya Kinan, sambil berjongkok di depan Melly.
"Mami Kinan, tadi Melly sudah sarapan." Jawab Melly, dia selalu memanggil Kinan dengan sebutan Mami Kinan dan Aftar dengan sebutan Papi Aftar.
"Hay cantik, kemarinlah nak." Kata Sanjaya dan Melly berlari menghambur kepelukan Sanjaya.
"Papa besar, Melly sayang papa besar." Kata Melly, dengan begitu menggemaskan.
Kenzo melepaskan dirinya dari pelukan Sanjaya, lalu menarik tangan Melly dengan lembut.
"Ayo berangkat nanti kita terlambat!" Ajak Kenzo, membuat Kinan dan Aftar saling melempar senyum.
"Sudah-sudah, kalian berangkatlah." Lerai Sanjaya, agar kedua cicit kesayangan ini tidak sampai bertengkar.
Kenzo dan Melly berpamitan pada semuanya, mereka menyalami tangan Sanjaya, Kinan dan Aftar secara bergantian.
Setelah berpamitan mereka bergandengan keluar dari dalam rumah, Vino dan Caca sudah menunggu mereka berdua.
"Hay Kak Caca," Kinan melambaikan tangan pada Caca.
Kenzo dan Melly berpamitan pada Caca, mereka menyalami tangan Caca secara bergantian.
"Ken, jaga Melly baik-baik ya sayang!" Pinta Caca dengan nada lembut.
"Siap Tante cantik," jawab Ken. Iya dia selalu memanggil Caca dengan sebutan Tante cantik.
Kenzo dan Melly naik ke dalam mobil, dan Vino siap mengantar mereka berdua.
"Kin, aku mau ngobrol sebentar sama kamu." Kata Caca, Kinan melihat ke arah suaminya. "Pergilah sayang, mas selesaikan kerjaan mas dulu. Kalau cari mas, mas ada di ruang kerja," kata Aftar sambil tersenyum.
Kinan pergi ke rumah Caca sedangkan Aftar langsung masuk ke dalam rumahnya dan dia segera menuju ke ruangan kerjanya, untuk mengurus pekerjaannya.
*****
Kini Kinan dan Caca duduk di sofa, Caca terlihat sedih membuat Kinan menatapnya dengan tatapan penuh rasa kawatir.
"Kak Caca, kenapa? Apa ada masalah?" Tanya Kinan, melihat raut wajah Caca tidak seperti biasanya.
Biasanya Caca bersemangat dan selalu bahagia, tapi pagi ini terlihat begitu berbeda.
"Kinan, aku pingin hamil lagi. Aku pingin seperti kamu, punya anak lagi." Kata Caca, tatapan matanya sulit di artikan.
"Kak, kenapa tidak meminta Vino membuatkan satu anak lagi untuk kakak?" Tanya Kinan, dia begitu hati-hati kali ini.
Tiba-tiba air mata Caca pecah, membuat Kinan terlihat kawatir. Kinan mendekatkan duduknya ke Caca, lalu memeluk Caca.
"Kenapa Kakak, menangis? Apa ada sesuatu yang terjadi?" Tanya Kinan, tapi isak tangis Caca semakin kencang.
Kinan hanya berusaha menenangkan Caca, dia tidak berani bertanya lagi. Karena takut Caca akan semakin sedih, entah apa yang terjadi Kinan juga tidak tahu? Kinan hanya menunggu sampai Caca mau menjawab pertanyaan dari dirinya.
"Kinan, aku sudah tidak bisa punya anak lagi." Kata Caca, tangisannya semakin pecah kini Kinan terkejut, tapi Kinan berusaha tenang.
"Kenapa kak?" Tanya Kinan, di sela-sela pelukannya.
"Rahim aku di angkat, karena ada masalah di dalam sana Dan jika tidak di angkat kata dokter akan bahaya, aku tidak tahu apa terjadi tapi Vino menyetujui untuk melakukan pengangkatan rahim," Caca hanya bisa menangis dalam pelukan Kinan.
Jadi selama beberapa hari ini Caca dan Vino tidak terlihat di rumah, karena Caca sedang melakukan operasi pengangkatan rahim, karena di dalam rahim Caca ada masalah dan akhirnya Vino menyetujui apa yang di katakan oleh Dokter, agar rahim istrinya di angkat.
Vino tidak memberitahu Kinan atau Aftar, Caca juga setelah operasi hanya istirahat beberapa hari dan sekarang sudah pulih.
"Kakak, kakak yang sabar ya. Aku yakin, sebelum Vino memutuskan untuk operasi pasti Vino sudah memikirkan dengan baik kak. Dan kakak juga tidak boleh sedih, ada Melly yang harus kakak jaga dan sayangi setiap hari," kata Kinan berharap Caca agak sedikit bahagia.
"Iya Kin, aku masih punya Melly. Aku harus menjaga Melly dengan baik," jawab Caca sorot matanya terlihat penuh semangat.
Setelah lima tahun telah berlalu banyak yang terjadi, Arga dan Vira juga memilih pindah keluar negeri karena Vira sudah tidak kuat dengan sikap Rosa yang tidak pernah berubah, bahkan kehidupan Kimmy juga mulai Rosa atur membuat Vira tidak suka, apalagi Vira tidak ingin kalau anaknya seperti Rosa menjadi sombong dan tidak tahu diri. Akhirnya Vira meminta Arga untuk pindah di luar negeri.
BERSAMBUNG 🤗
Terimakasih para pembaca setia 😘