Menikah Kontrak 100 Hari

Menikah Kontrak 100 Hari
Menjadi laki-laki kedua.


Pagi hari yang terlihat begitu mendung tapi kini semuanya harus kembali berkerja, Melly dan Kenzo juga sudah berangkat ke kantor dari tadi pagi-pagi sekali.


Kini mereka sudah sibuk dengan pekerjaannya di kantor, apalagi kemarin Kenzo libur dan tentunya ada beberapa kerjaan yang tertunda.


"Mas, kamu tadi belum sarapan, aku pesankan sarapan dulu ya," tawar Melly yang sedang sibuk dengan laptopnya.


"Lagi mendung, pinginnya makan kamu saja sayang," goda Kenzo membuat Melly geleng-geleng kepala.


"Terserah kamu sajalah mas, susah kalau punya suami otak m*s*m, sungguh apa-apa di kait-kaitkan dengan hal yang berbau kem*s*m*n," batin Melly dalam hatinya.


"Mas, serius!" ketus Melly, jangan sampai Kenzo di kantor macam-macam lagi.


"Mas juga serius," goda Kenzo yang kini sudah duduk di sebelah Melly.


Melly kembali fokus dengan laptopnya, dia enggan mengurusi suaminya yang semakin menjadi-jadi ini atau akan terjadi sesuatu yang lebih di dalam ruangan ini, Melly paham lah bagaimana suaminya ini?


"Mas ada meeting penting, sebentar lagi! Kamu mau sarapan dulu atau tidak?" Melly menantap Kenzo dengan tatapan agak kesal.


"Nanti saja sayang, setelah meeting baru aku makan," jawab Kenzo, dia tidak berani melihat Melly, dia tahu istrinya ini sudah kesal.


Melly mengangguk, Kenzo juga hanya diam sambil melihat Melly yang sibuk dengan laptopnya.


Setelah beberapa menit telah berlalu, mereka langsung pergi ke sebuah restoran untuk bertemu dengan kliennya pagi ini.


Sesampainya di sebuah restoran, Melly dan Kenzo sama-sama masuk ke dalam restoran itu.


Mereka bertemu dengan kliennya pagi ini, klien Kenzo pagi ini begitu gagah dan sangat tampan, keliatannya juga masih lajang.


Kenzo berjabat tangan dengan kliennya itu yang bernama Fery, setelah berjabat tangan dengan Kenzo tatapan Fery tertuju pada Melly yang berdiri di samping Kenzo.


"Ini sekertaris bapak?" tanya Fery, senyumannya begitu manis pada Melly.


"Padahal sedang hamil tapi auranya begitu cantik, andai saja aku punya istri seperti dia," batin Fery dalam hatinya.


"Iya pak, silahkan duduk!" jawab Kenzo, dia menarikan kursi untuk Melly duduk.


Fery melihat semua ini dengan tatapan tidak percaya, hanya seorang sekretaris saja Pak Kenzo memperlakukan dengan sangat baik.


"Ahh mungkin karena wanita ini sedang hamil, jadi sebagai atasan harus perhatian juga," batin Fery dalam hatinya.


Kini Melly mulai menjelaskan tentang kerja sama dengan perusahaan di Sanjaya Group pada Fery, tapi tatapan mata Fery tertuju pada Melly.


"Ini klien, mau lihatin aku atau mau dengerin aku sih?" batin Melly dalam hatinya.


Kenzo terlihat tidak suka dengan cara Fery menatap istrinya, setelah penjelasan kerja sama selesai, Kenzo tiba-tiba mengambil tissu lalu mengelap wajah cantik Melly, padahal Melly tidak keringatan sama sekali.


"Enak saja kamu terus menatap istriku dengan tatapan begitu menjijikkan seperti itu," batin Kenzo dalam hatinya.


"Mas, terimakasih. Tapi aku bisa sendiri," kata Melly, dia hendak mengambil tissu yang ada di tangan Kenzo.


"Mas juga bisa melakukan ini untuk istri mas, apalagi istri mas sudah setia menjadi istri dan sekretaris mas," Kenzo sengaja memperjelas perkataannya agar Fery tidak terus menatap Melly lama-lama.


Fery ternganga tidak percaya, ternyata mereka ini suami istri.


"Kalian...."


"Kita suami istri, maaf pak tadi tidak perkenalkan lebih dulu." Jelas Kenzo, Fery mengangguk paham.


"Ternyata Pak Ken ini suaminya, kirain wanita itu cuma sekertaris kan tadinya aku mau ajak dia makan malam, aku maulah jadi laki-laki keduanya," batin Fery dalam hatinya.


"Oh iya pak, maaf tadi saya tidak tahu, saya kira Bu Melly ini hanya sekertaris bapak saja," Fery merasa tidak enak dan langsung meminta maaf.


"Tidak apa-apa pak, lain kali tatapan mata bapak di jaga ya, saya risih melihatnya," kata Kenzo dengan sindiran keras.


"Maaf Pak, untuk kerja sama kita lupakan saja! Karena saya tidak mau ada laki-laki lain yang menatap istri saya begitu lama," jawab Kenzo, seketika Fery merasa kesal.


"Apa maksudnya Pak Ken tidak mau berkerja sama dengan perusahaan aku?" batin Fery dalam hatinya.


"Kalau begitu saya dan istri saya permisi dulu pak," pamit Kenzo dengan sopan.


Kenzo dan Melly langsung pergi meninggalkan Fery yang sedang duduk, mungkin jika tadi Fery tidak menatap Melly dengan tatapan begitu menjijikkan, Kenzo pasti akan setuju dengan kerja sama yang akan mereka lakukan tapi melihat tatapan Fery, seketika Kenzo tidak rela jadi memilih untuk tidak melakukan kerja sama dengan perusahaan Fery.


Sesampainya di mobil, Kenzo membukakan pintu mobilnya untuk Melly, Melly masuk ke dalam mobil dan Kenzo juga masuk ke dalam mobil.


"Mas, kenapa?" tanya Melly, tidak biasanya suaminya main pergi begitu saja ninggalin kliennya.


"Mas tidak suka dengan matanya, dia terus menatap wajah cantik kamu, mas tidak rela." Jawab Kenzo, kali ini tahapan matanya begitu cemburu.


Melly tersenyum, inilah suaminya begitu mudah sekali cemburu, tapi Melly bahagia karena di cemburui itu salah satu hal yang Melly suka.


"Mas cemburu?"


"Apa salah kalau mas cemburu?"


"Tidak ada yang salah, tapi itu klien mau berkerja sama dengan perusahaan kita."


"Aish sayang, perusahaan mas akan baik-baik saja jika tidak bekerja sama dengan perusahaan Fery."


Melly hanya mengangguk, susah kalau sudah cemburu.


Kenzo menyalakan mobilnya dan langsung menuju kembali ke kantor.


Di cafe Kalandra hari ini begitu rame, Kimmy juga ikut ke cafe karena lagi pingin dekat terus sama suaminya.


Apalagi anaknya yang ada di dalam kandungannya sedang manja sekali sama bapaknya, bahkan mintanya dielus-elus terus.


Di cafe juga Kalandra hanya ada di dalam ruangan kerjanya, biasanya dia keliling cafe untuk mengecek beberapa hal tapi karena Kimmy ikut jadi Kalandra seperti di penjara tidak bisa kemana-mana.


"Sayang, kenapa kamu akhir-akhir ini manja sekali?" tanya Kalandra, tangan kekarnya mengelus-elus perut Kimmy.


"Bukan aku mas, tapi calon anak kita yang manja, pinginnya di sentuh-sentuh terus sama bapaknya," jelas Kimmy dengan nada lembut.


"Anak papa, kamu pintar ya ngerjain papa, nanti kalau kamu sudah lahir, kalau papa mau buatin adik buat kamu, ingat nak jangan nangis ya! Kamu harus tidur yang nyenyak," tutur Kalandra pada anaknya yang masih ada di dalam perutnya.


Sungguh Kimmy itu tidak tahu lagi dengan suaminya, ngebet banget pingin punya anak banyak? Padahal satu saja kita tidak tahu, nanti bagaimana peran Kalandra sebagai seorang papa muda?


"Mas, kalau anak kita lahir, kan kamu harus puasa dulu, kata mama setelah melahirkan tidak boleh melakukan selama 40 hari," kata Kimmy membuat Kalandra ternganga tidak percaya.


"Haahh 40 hari, entah akan jadi apa burung perkututku nanti jika 40 hari tidak di masukkan ke dalam sangkarnya?" batin Kalandra dalam hatinya.


"Sayang, apakah selama itu?" tanya Kalandra yang masih tidak percaya.


"Haruskah kita bertanya pada Mama Kinan?" Kimmy malah balik bertanya, malu sekali jika harus bertanya dengan mamanya.


"Jangan sayang, nanti mas yang ngobrol dengan papa saja," jawab Kalandra, lebih baik mengobrol dengan papanya yang sama-sama laki-laki.


Kimmy mengangguk, 40 hari itu bukan waktu yang sebentar, apalagi Kalandra orangnya tidak tahanan, mungkin jika harus 40 hari pasti Kalandra akan sering bermain solo di dalam kamar mandi.


Kimmy hanya bisa tertawa dalam hatinya membayangkan semua itu, sungguh pasti ini akan menjadi cobaan terberat bagi Kalandra nanti.


Kalandra hanya bisa garuk-garuk kepala, haruskah selama itu?


BERSAMBUNG


Terimakasih para pembaca setia