Menikah Kontrak 100 Hari

Menikah Kontrak 100 Hari
Rasa curiga Vino


"Aku......"


Vino membalas pesan Caca.


"Aku apa? Katakan dengan jelas, gadis sapu!!"


Membaca balasan pesan dari Vino, Caca terus berdecak kesal. Sungguh rasanya ingin sekali bertriak pada Vino dengan keras di telinganya


Seketika Caca tersenyum, tentunya dia mempunyai ide cemerlang untuk menolak ajakan jalan berdua dengan Vino.


Caca membalas pesan Vino.


"Maaf pak, saya ada acara makan malam berdua dengan Ronal." Caca memberikan emoticon senyum simpul.


Mata Vino membulat sempurna rasa kesalnya seketika menguasai hatinya.


"Jawaban macam apa ini? Sungguh rasanya ingin sekali menghajar Ronal. Dia akan makan malam berdua dengan Ronal, aku tidak akan membiarkan mereka makan berdua," batin Vino dalam hatinya.


Vino membalas pesan Caca.


"Jangan jalan dengan dia! Dia itu laki-laki br*ngsek!!"


Caca kembali membaca balasan dari Vino, Haah seketika Caca ingin menghajar Vino.


"Apa-apaan dia ini? Dasar laki-laki tidak waras, seenaknya saja mengatai Ronal laki-laki br*ngsek!" Gerutu Caca dalam hatinya.


Caca membalas pesan Vino.


"Jangan sembarangan bicara! Mungkin bapak yang br*ngsek."


Sungguh Vino hanya bisa garuk-garuk kepala dan ingin sekali membanting ponsel miliknya.


"Lihat saja, aku akan membuktikannya padamu gadis sapu," batin Vino dalam hatinya.


Setelah kirim-kiriman pesan dengan Vino, Caca terus ngedumel tidak jelas dia merasa kalau Vino itu sungguh keterlaluan karena sudah bilang Ronal itu br*ngsek.


"Pak Vino, kamu tahu apa tentang Ronal?"


"Dasar tidak jelas, seenaknya saja mengatai Ronal itu br*ngsek. Memangnya dia itu siapa? Sungguh aku kesal sekali padamu!"


"Pokoknya nanti malam aku harus jalan dengan Ronal, dia memang sangat baik dan sangat perhatian."


Caca yang beberapa bulan ini dekat dengan Ronal, rasa nyaman itu juga seketika hadir di dalam hatinya. Menurut Caca, Ronal itu adalah laki-laki yang sangat baik dan sangat perhatian, tapi kita tidak tahu seperti apa Ronal yang sebenarnya?


****


Di kediaman Ronal, Ronal terus senyam-senyum karena mau makan berdua dengan Caca.


"Dia itu gadis yang terlalu polos, hanya bermodal perhatian dan kebaikan saja dia langsung luluh padaku," batin Ronal dalam hatinya.


"Aku harus menyiapkan rencanaku sebaik mungkin. Agar aku bisa bersenang-senang dengan gadis itu,"


"Tapi, bagaimana cara aku bisa meniduri dia?"


"Yes aku punya ide, malam ini aku tidak boleh gagal. Dan tentunya setelah mendapatkan kesuciannya aku akan meninggalkan dia begitu saja. Hahahaha." Terdengar tawa yang begitu menggema, iya itu suara Ronal.


*****


Jam menunjukkan pukul 7 malam, Aftar dan Kinan jalan-jalan malam ke taman yang tidak jauh dari rumahnya.


"Mas, aku pingin makan...." Kata-kata Kinan terhenti, karena melihat Karin berada di taman yang sama dengan mereka.


"Pingin makan apa?" Tanya Aftar, dengan tatapan bingung. Aftar mengikuti pandangan sang istri. "Karin, sedang apa disini?" Cetus Aftar yang mengerti pandangan sang istri.


Kinan hanya bisa diam, memang nenek sihir itu bisa muncul dimana saja dan kapan saja. Pokoknya tempat-tempat yang sering Aftar kunjungi pasti dia juga mengunjungi juga karena masih berharap bisa bertemu dengan Aftar.


"Aftar...." panggilnya dengan begitu manis.


Karin berjalan menuju ke tempat Kinan dan Aftar sedang berdiri, dengan tidak tahu malunya Karin berdiri di samping Aftar.


"Kamu tumben ke taman, apa kamu merindukan saat-saat kita bersama waktu di taman ini?" Kata Karin tiba-tiba, sungguh dia tidak tahu malu sekali.


Kinan yang mendengar perkataan Karin rasanya sangat kesal sekali, maksudnya apa dia berkata seperti itu pada suaminya?


Kinan tiba-tiba memegangi perutnya. "Sayang, calon anak kita tidak suka dengan wanita itu! Aku melihatnya rasanya mual dan pingin mutah sekali," keluh Kinan dengan begitu manja.


"Karin, kamu mau apalagi sih? Kenangan apa? Aku sudah lupa semua dengan kenangan kita dan kamu jauh-jauhlah dariku!" Aftar melirik Karin dengan tatapan malas, lalu beralih melihat Kinan dan memapah Kinan untuk duduk di sebuah kursi taman.


Karin menatap Kinan dengan tatapan tidak suka.


"Apa aku sudah tidak bisa mendapatkan cinta Aftar kembali? Sungguh, aku ingin kembali pada dirinya." Batin Karin dalam hatinya.


Dalam hati Karin, aku sengaja datang ke taman ini berharap bisa bertemu dengan Aftar dan saat aku bertemu dengan Aftar. Tapi ada wanita udik itu, sungguh Kinan kamu adalah wanita perusak hubungan orang.


Di sebuah kursi taman, Aftar terlihat perhatian pada Kinan. "Masih mual?" Tanya Aftar dengan begitu polosnya.


Kinan menggelengang kepalanya. "Tidak mas, mas jangan dekat-dekat dengan wanita itu lagi, anak kamu tidak suka padanya." Tutur Kinan, tatapan matanya begitu lembut.


"Iya sayang, aku juga tidak tahu kenapa dia bisa berada di sini?" Jawab Aftar tidak mau tahu.


"Mas tidak janjian kan dengan dia?" Tanya Kinan penuh rasa curiga.


"Apa kamu sedang curiga padaku?" Aftar tanya balik pada Kinan.


"Kenapa mas malah balik bertanya," Kinan merajuk manja.


Aftar hanya tersenyum, lalu membawa sang istri masuk ke dalam pelukannya.


"Percayalah, aku tidak pernah menghubungi dia lagi. Dan mungkin tadi hanya kebetulan," jelas Aftar dengan nada lembut.


Karin yang masih berdiri melihat Aftar betapa mesranya dengan Kinan, sungguh membuat dirinya merasa iri.


"Aturan aku yang ada di pelukan Aftar, bukan wanita udik itu!" Batin Karin dalam hatinya.


Karin berlalu pergi, dia tidak sanggup melihat Aftar begitu mesra dengan istrinya. Rasanya dia ingin kembali pada Aftar tapi ternyata sudah tidak harapan lagi.


****


Di sebuah restoran mewah dua sejoli yang cantik dan tampan duduk berdua. Iya mereka adalah Caca dan Ronal, Caca hari ini terlihat cantik dengan gaun warna hitamnya, Sedangkan Ronal terlihat tampan dengan setelan jas warna hitamnya.


"Malam ini, kamu akan menjadi milikku." Batin Ronal begitu yakin.


"Caca, aku ke kamar mandi dulu ya." Pamit Ronal dengan nada lembut.


"Iya, jangan lama-lama ya." Jawab Caca sambil tersenyum simpul.


Di meja lain ada Vino yang sedang duduk tidak jauh dari meja Caca dan Ronal duduk, Vino sengaja mengikuti Caca dan Ronal dan dari tadi Vino terus memantau Caca di depan rumah Caca sampai saat ini Caca sudah sampai di restoran.


Melihat Ronal pergi dari mejanya, Vino merasa curiga. Lalu mengikuti langkah kaki Ronal. Vino diam-diam mengikuti Ronal, dia melihat Ronal sedang berbincang dengan salah satu pelayan restoran dan memberikan sesuatu pada pelayan itu.


"Apa yang di berikan Ronal pada pelayan itu??" Tanya Vino, dia merasa penasaran.


Setelah memberikan sesuatu dan memberikan perintah pada pelayan itu, Ronal berlalu pergi begitu saja.


Karena merasa penasaran akhirnya Vino menghampiri pelayan yang tadi di temui oleh Ronal.


Entah apa yang di berikan oleh Ronal, pada pelayan itu?


BERSAMBUNG 😁


Terimakasih para pembaca setia 😊