
Kini semuanya menunggu dokter yang memeriksa Herlin keluar dari dalam ruangan nya.
Kinan terlihat tidak tenang, hatinya saat ini gelisah karena takut mamanya kenapa-kenapa.
Aftar sebagai suaminya terus berada di sisi Kinan, dia menggegam tangan Kinan dengan erat, berharap Kinan kuat dalam menghadapi cobaan apapun.
"Mas, aku takut mama...." Kinan tiba-tiba menangis, perasaannya seolah-olah merasa tidak enak.
Aftar langsung memeluk Kinan dengan erat, Aftar tahu di dunia ini Kinan hanya punya Herlin saja, dia adalah mamanya dan Kinan sudah tidak ada keluarga lain lagi.
"Kita berdoa agar mama baik-baik saja!" pinta Aftar dengan nada lembut.
Melly duduk di samping Kinan, dia mengusap-usap punggung Kinan dengan lembut.
"Iya ma, kita berdoa ya ma. Mudah-mudahan nenek baik-baik saja!" sambung Melly dengan harapan baik di dalam hatinya.
Kenzo terus berdoa dalam hatinya, berharap sang nenek akan baik-baik saja, Kenzo juga ingat kalau neneknya ini yang dulu mengajari dirinya untuk berbisnis.
"Nenek, mudah-mudahan kamu baik-baik saja, nenek harus lihat anak aku dengan Kalandra," batin Kenzo dalam hatinya.
Mengingat neneknya selalu meminta untuk segera diberikan cicit oleh dirinya dan adiknya, dalam hati Kenzo, dia hanya bisa menangis.
Setelah menunggu beberapa lama akhirnya Dokter yang memeriksa Herlin keluar dari dalam ruangannya.
"Keluarga pasien?"
Kinan dan Aftar langsung buru-buru menghampiri Dokter itu.
"Saya Dok, saya anaknya."
Dokter itu menatap Kinan dengan tatapan sulit di artikan, membuat Kinan semakin takut.
"Dok, bagaimana keadaan mama saja?" tanya Kinan, dengan harapan mamanya baik-baik saja.
"Maaf Nyonya, saya sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi Tuhan berkehendak lain dan Nyonya Herlin tidak bisa di selamat kan karena penyakit jantungnya sudah parah," jawab sang Dokter dengan nada lembut.
Kinan ternganga tidak percaya, dia tiba-tiba merasa lemas dan jatuh begitu saja. "Mama!!"
Kinan menangis, dia masih belum percaya dengan apa yang Dokter itu katakan. "Mama, Kinan masih butuh mama," kata Kinan tangis pecah begitu saja.
"Sayang, yang sabar ya!" Aftar langsung memeluk Kinan dengan erat.
Tangis Kenzo akhirnya pecah mendengar kabar duka ini. "Nenek, kenapa nenek tinggalin Ken?" tanya Kenzo dan Melly langsung memeluk sang suami dengan erat.
"Sabar ya mas!" Kata Melly disela-sela pelukannya.
"Aku tidak percaya sayang."
"Beberapa hari lalu nenek masih baik-baik saja, bahkan nenek bilang ingin melihat anak kita."
"Nenek, Ken sayang sama nenek."
Kini Kenzo dan Kinan sama-sama menangis, mereka sangat merasa kehilangan Herlin yang tidak lain adalah orang yang sangat di sayangi oleh mereka.
Sedangkan Aftar dan Melly berusaha kuat ya walaupun mereka begitu sedih mendengar kabar duka ini, tapi saat ini Kinan dan Kenzo sangat membutuhkan semangat dari mereka.
"Dok, mohon urus jenazah mertua saya ya! Biar langsung bisa di bawah pulang," pinta Aftar dan sang Dokter mengangguk.
Mereka semua duduk sambil menunggu Jenazah di siapkan untuk dibawah pulang ke rumah Herlin.
Melly meraih ponselnya yang ada di dalam tas kecilnya, lalu dia menelpon Kalandra.
Kalandra yang sedang menikmati cemilan bersama Arga sambil bermain catur, melihat ponselnya berdering dan itu telpon dari kakak iparnya buru-buru Kalandra mengangkatnya.
"Hallo kak?" sapa Kalandra.
"Kalan, kamu ke rumah nenek sekarang ya! Nenek meninggal, ini jenazahnya sedang di siapkan untuk di bawah pulang." Suara Melly terdengar sedih, bahkan butiran air matanya akhirnya keluar membasahi pipi mulusnya.
Kalandra ternganga tidak percaya, sungguh ini benarkan? Itu yang ada di dalam hati Kalandra saat ini.
"Kak, kamu tidak sedang berbohong kak?" tanya Kalandra yang masih belum percaya.
"Nenek, baru kemarin nenek menelponku karena ingin melihat cicit nenek, tapi kenapa nenek pergi meninggalkan aku?" batin Kalandra dalam hatinya.
"Tidak Kalan, ini kita sedang dirumah sakit, kamu ke rumah nenek ya, siapkan semuanya dirumah nenek!" Jawab Melly meyakinkan Kalandra.
Kalandra hanya mengangguk lemas, dia mematikan saluran teleponnya.
"Apa mas?! Nenek meninggal," kata Kimmy, dia sangat terkejut mendengar kabar ini.
Kalandra mengangguk, akhirnya Kalandra, Kimmy, Vira dan Arga langsung menuju ke rumah Herlin.
"Mas kabari mama, bilang kalau Nenek Herlin meninggal," suruh Vira dan Arga langsung memberikan kabar duka ini pada sang mama.
Kini mereka langsung bersiap-siap untuk pergi ke rumah Herlin.
Melly juga langsung memberikan kabar kepada kedua orang tuanya agar kedua orang tuanya langsung pergi ke rumah Herlin.
Setelah beberapa lama akhirnya jenazah Herlin sudah siap untuk di bawah pulang, Aftar juga sudah selesai mengurus semua administrasi rumah sakit.
Kinan dan Aftar ikut dengan ambulan sedangkan Kenzo dan Melly membawa mobil mereka, tapi kali ini yang menyetir Melly karena Kenzo terus menangis.
"Sabar mas, ini semua sudah takdir." Pinta Melly yang berusaha memberikan semangat untuk suaminya.
"Terakhir nenek telpon, nenek ingin melihat anak kita sayang, rasanya masih tidak percaya kalau nenek akan pergi untuk selamanya," kata Kalandra dengan isak tangisnya yang semakin pecah.
Kepergian Herlin ini meninggalkan banyak kenangan indah, terutama untuk Kalandra dan Kenzo yang begitu Herlin sayangi selama ini, Herlin yang begitu menyayangi mereka, itu yang membuat Kenzo dan Kalandra merasa sangat kehilangan.
Setelah beberapa lama menempuh perjalanan dari rumah sakit, akhirnya mereka sampai di rumah Herlin disana juga sudah rame, Kalandra dan yang lainnya juga sudah berada di rumah Herlin.
"Nenek...." teriak Kalandra histeris.
Rasanya begitu sedih melihat jenazah sang nenek di keluarkan dari dalam ambulan yang membawa jenazahnya.
"Mas sabar ya mas!" Pinta Kimmy sambil terus memeluk Kalandra.
Dirumah Herlin saat ini hanya ada tangisan, bukan hanya keluarga yang menangis tapi orang-orang yang pernah di bantu oleh Herlin juga berdatangan untuk mengucapkan turut berdukacita.
Kinan duduk di sebelah jenazah mamanya, bahkan Kinan terus menciumi mamanya yang sudah tidak ada.
"Mama, kenapa mama tinggalin Kinan?" Kinan terus menangis, rasanya belum rela jika mama nya pergi untuk selamanya.
"Kenzo, sayang sama nenek, nenek kenapa nenek pergi tiba-tiba." Tangis Kenzo juga tidak kalah pecah, apalagi selama ini Kenzo begitu dekat dengan neneknya.
Kalandra terus menangis, dia sangat merasa kehilangan nenek kesayangannya.
"Nenek, jika Kalandra bandel siapa yang akan menjewer telinga Kalandra? Nenek, Kalandra sayang nenek." Tangis Kalandra juga begitu pecah, apalagi selama ini Herlin yang selalu memarahinya di saat Kalandra bandel.
"Ma sudah ya, kasian mama, kamu jangan menangis terus! Dokkan biar mama tenang di surga sana," kata Aftar dan dia memeluk Kinan, hanya pelukan yang bisa Aftar berikan untuk istri tercintanya.
Kimmy dan Melly juga terus memberikan semangat untuk suami-suami mereka, tangis Caca dan Vino juga pecah, biar bagaimanapun Herlin sudah seperti orang tua kandung mereka sendiri.
Setelah beberapa lama, akhirnya jenazah siap di makamkan.
Kini Kinan dan seluruh keluarganya, begitu berat mengantarkan jenazah sang mama ke tempat peristirahatan terakhir.
Setiap langkah kaki Kinan, Kinan tidak berhenti menangis, Caca dan Vira kali ini yang berada di dekat Kinan.
Sedangkan suami-suami mereka ikut turun tangan langsung mengangkat keranda jenazah Herlin, Kalandra dan Kenzo juga ikut turun tangan langsung.
Setelah sampai di makam keluarga besar Herlin, Herlin di makam kan di dekat makam suaminya yang sudah lebih dulu pergi meninggalkan Herlin untuk selamanya, mungkin bukan bersama papa kandung Kinan melainkan dengan suami kedua Herlin yang selama ini menjadikan Herlin kuat dan bisa mendapatkan semuanya.
Jenazah di masukkan ke dalam malam itu, kini tangis Kinan dan semua keluarganya semakin pecah.
Rasanya masih belum rela di tinggalkan oleh Herlin, rasanya baru beberapa hari lalu waktu Kinan sebelum berangkat liburan bertemu dengan sang mama.
"Mama, aku belikan sesuatu untuk mama, tapi kenapa mama belum sempat memakainya mama sudah pergi lebih dulu," batin Kinan dalam hatinya.
Proses demi proses di lakukan, Kalandra, Kenzo, Vino, Aftar dan Arga, mereka juga turun langsung memakam kan jenazah Herlin.
Hingga beberapa lama, akhirnya proses pemakaman selesai, mereka yang datang semuanya mendoakan mendiang Herlin, kini setelah semua selesai para pelayat juga pada pulang dan hanya Kinan dan yang lainnya yang masih berada di makam.
Hingga 15 menit berlalu, akhirnya Aftar mengajak istrinya untuk pulang, kini mereka pulang ke rumah Herlin.
Sesampainya di rumah Herlin, mereka semua hanya duduk sambil diam, dalam hati mereka hanya ada kesedihan dan rasanya tidak menyangka kalau Herlin akan meninggalkan mereka padahal beberapa hari lalu Kinan masih bertemu, Herlin juga masih menelpon kedua cucu kesayangannya, tapi yang namanya takdir itu tidak ada yang tahu.
"Mama...."
BERSAMBUNG
Terimakasih para pembaca setia