Menikah Kontrak 100 Hari

Menikah Kontrak 100 Hari
Mas cuma pingin dimanja


"Apa, kamu sudah punya kekasih?" Tanya Vino tanpa basa-basi.


"Saya...." cetus Caca sorot matanya penuh dengan tanda tanya.


Dia ragu-ragu ingin menjawab pertanyaan dari Vino itu, apalagi ini juga masalah pribadi jadi Caca merasa kaget waktu Vino bertanya seperti itu.


Dalam hati Vino, apa gadis ini sungguh menyebalkan.


"Iya kamu!" Tegas Vino dengan begitu entengnya.


"Saya belum punya kekasih pak." Jawab Caca dengan raut wajah gugup, jantungnya juga berdebar kencang.


Ini pertama kalinya Caca di tanya seperti itu oleh atasannya secara langsung. Sebelumnya Caca tidak pernah di tanya hal seperti ini selama bekerja di kantor Aftar.


Diam-diam Vino tersenyum, entahlah apa yang membuat dirinya tersenyum tiba-tiba.


"Baiklah, kamu boleh keluar!" Kata Vino dengan begitu datar, raut wajahnya tampak dingin seperti es.


Caca menganggukan kepalanya, lalu dia beranjak keluar dari dalam ruangan Vino. Dia hendak membuka pintu tapi tiba-tiba Vino mencegahnya.


"Tunggu gadis sapu!" Cegah Vino dan Caca menghentikan langkah kakinya lalu menoleh ke arah Vino. "Iya pak, ada apa?" Tanya Caca dengan lembut.


"Bawalah kopi rasa garam ini, ini buat kamu saja," Vino melihat Caca dengan sorot mata kesal.


Caca melangkahkan kakinya menuju ke meja kerjanya Vino, lalu dia mengambil kopi yang ada di atas meja kerja Vino. Setelah mengambil kopi itu Caca buru-buru keluar dari ruangan Vino.


Setelah Caca keluar dari dalam ruangan Vino, tanpa sadar saat ini Vino sedang senyam-senyum. Entahlah apa yang membuat dia tersenyum begitu manis seperti saat ini?


___


Jam menunjukkan pukul 5 sore Aftar bergegas untuk segera pulang karena dia sudah sangat merindukan istri tercintanya.


Aftar langsung menuju ke tempat parkiran mobil. Di tempat parkiran mobil Aftar melihat Vino yang sedang berjalan menuju ke mobilnya.


"Vin, mau pulang." Cetus Aftar.


"Iya pak, saya mau pulang. Bapak mau ikut, ayo kita main ps berdua! Kita main balapan mobil," jawab Vino sambil tersenyum.


Aftar cengar-cengir membuat Vino menatapnya dengan tatapan ilfil.


"Semenjak pernikahan kontraknya sudah di batalkan, sekarang Pak Aftar semakin tidak waras." Batin Vino dalam hatinya.


"Bagaimana pak?" Tanya Vino memastikan.


"Vin, ps itu sudah bukan mainanku. Sekarang aku sudah punya mainan yang nyata yang bisa aku ajak main setiap malam," jawab Aftar sambil cengar-cengir.


Seketika Vino menyesal sudah bertanya hal seperti itu pada bosnya itu. Mengingat bos nya yang begitu bucin pasti apa-apa akan di kaitkan dengan istrinya.


"Baiklah pak, saya permisi dulu." Vino membungkuk lalu pergi menuju ke mobilnya.


Aftar langsung masuk ke dalam mobil dan langsung menyalakan mesin mobilnya lalu berlalu pergi dari parkiran mobilnya.


"Mainan, iya pasti kalau aku juga punya istri pasti aku juga akan punya boneka hidup dan tentunya setiap hari aku akan mengajaknya bermain," Vino tertawa dalam hatinya.


Aftar menaiki mobilnya lalu dia menyalakan mesin mobilnya dan langsung pergi menuju ke rumahnya. Sebelum sampai rumah Aftar juga membeli makanan untuk dirinya dan Kinan.


___


Caca pulang berjalan kaki, dia menelusuri tepi jalan sambil melihat indahnya pemandangan jalan-jalan saat ini.


Caca berjalan di tepi jalan dan tiba-tiba ada mobil yang terus mengklaksoni dirinya. Caca tidak bergeming dia terus berjalan, lagian menurut Caca dia sudah berjalan di jalan yang benar.


"Tit....tittt....." anggap saja suara klakson mobil.


Caca berdecak kesal. "Siapa sih? Sungguh menyebalkan sekali," gerutu Caca sambil terus berjalan.


Vino menghentikan mobilnya, lalu dia keluar dari dalam mobilnya.


"Gadis sapu, kalau jalan itu jangan di tengah jalan. Kamu sudah bosan hidup," kata Vino membuat Caca berdecak kesal.


"Di tengah jalan, jelas-jelas aku sudah benar jalan di tepi jalan. Dia saja yang tidak jelas ada orang jalan di klakson mulu," batin Caca dalam hatinya.


"Dih, apa mata bapak ini sudah rabun? Jelas-jelas saya berjalan di jalan yang benar," Caca menatap Vino dengan tatapan sengit.


Vino tersenyum, sebenarnya dia sengaja membuat Caca kesal agar bisa mengajaknya berdebat.


"Dasar sudah salah jalan nyolot lagi," jawab Vino dia tidak mau di salahkan oleh Caca.


"Terserah bapak, saya permisi dulu." Caca hendak berlalu pergi tapi tiba-tiba tangan kekar Vino menarik tangannya. "Ada apa pak?" Tanya Caca malas.


"Aku antar pulang, sekalian temanin aku makan!" Paksa Vino dan dia langsung menarik tangan Caca, lalu menyuruh Caca masuk ke dalam mobilnya.


Caca semakin berdecak kesal apa-apaan Vino ini? Tapi ketika Caca hendak turun dari dalam mobil Vino. Ternyata Vino sudah mengunci pintu mobilnya dengan rapat, sungguh Caca hanya bisa menahan rasa kesalnya di dalam mobil Caca juga hanya diam saja.


"Rasanya seperti di culik, dia itu menyebalkan seenaknya saja memaksa orang." Gerutu Caca dalam hatinya.


Akhirnya sore ini Caca menemani Vino makan berdua dan setelah selesai makan, Vino juga mengantarkan Caca pulang ke rumahnya.


----


Jam menunjukkan pukul setengah 7 malam


Aftar sudah sampai di rumah, sekarang dia sudah mandi dan setelah selesai mandi dia hanya diam di kamar. Dia juga melarang Kinan keluar dari dalam kamar.


Aftar juga menyuruh Kinan makan di dalam kamar dengan makanan yang tadi dia beli waktu jalan pulang menuju ke rumahnya.


Entahlah hari ini Aftar sedang kenapa? Kinan juga bingung karena tidak biasanya suaminya bersikap seperti ini.


"Mas, ayo makan di luar!" Rengkek Kinan, dia merasa jenuh kalau harus terkurung di dalam kamar.


"Tidak mau, pokoknya kamu juga tidak boleh keluar dari dalam kamar." Jawab Aftar dengan begitu manja.


Kinan mendengus kesal, rasanya terdiam di atas ranjang tempat tidur itu tidak sangat tidak enak.


"Mas, kita mau ngapain?" Tanya Kinan, tapi Aftar malah membaringkan kepalanya di pangkuan Kinan.


"Usap-usap kepala mas sampai tidur!" Pinta Aftar dengan begitu manja.


Kinan menuruti apa kata suaminya, dia mengusap-usap rambut suaminya dengan pelan dan lembut.


"Mas, kamu ini kenapa?" Tanya Kinan yang merasa bingung.


"Mas cuma pingin di manja sama istri mas," jawab Aftar, dia meraih tangan Kinan yang ada di atas kepalanya lalu dia menciumi tangan Kinan berulang kali.


Kinan semakin bingung di buatnya, suaminya yang dulu sedingin es sekarang begitu manja pada dirinya.


"Baiklah mas," jawab Kinan pasrah.


"Lebih baik seperti ini daripada dia minta di manja sama wanita lain," Kinan tertawa dalam hatinya.


Aftar tiba-tiba mengelus-elus perut Kinan lalu menciumnya dengan lembut.


"Apa di dalam sini sudah ada dede bayi?" Tanya Aftar tiba-tiba, membuat Kinan tertawa kecil.


"Mass...."


BERSAMBUNG 🙏


Terimakasih para pembaca setia 😊