Menikah Kontrak 100 Hari

Menikah Kontrak 100 Hari
Dunia terbalik


"Mas, kamu ihhh!! Ada hal yang lain yang mau aku bahas denganmu," kata Kinan agar sang suami tidak berbuat macam-macam di dalam ruangannya.


"Baiklah, katakan!" Pinta Aftar.


Kinan duduk di pangkuan suaminya dengan manja Kinan menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. Aftar semakin bingung tidak biasanya istrinya bersikap manja seperti saat ini, sebenarnya istrinya ini kenapa?


"Ada apa sayang? Bukankah mau ada yang kamu bahas? Tapi malah manja seperti ini," tanya Aftar. Tangannya mengusap-usap rambut panjang istrinya.


"Mas, sebentar lagikan kehamilanku menginjak usia 7 bulan." Kata Kinan dengan nada lembut.


Aftar terdiam sejenak, dia tidak ingat kalau usia kandungan istrinya ini sudah menginjak 7 bulan beberapa hari lagi.


Aftar memeluk Kinan yang berada di pangkuannya saat ini. "Iya sayang, nanti kamu mengadakan acara 7 bulanan dimana? Hotel, Restoran atau..." Kinan menutup mulut Aftar dengan jari telunjuknya membuat Aftar menatapnya dengan gemas.


"Kinan ini kenapa? Aku mau bertanya tapi dia malah menahan mulutku agar tidak bicara," batin Aftar dalam hatinya.


"Aku mau acara 7 bulanannya di rumah saja!" Sambung Kinan, lalu dia meyingkirkan jarinya dari mulut Aftar.


Aftar tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, tangannya mengacak-acak rambut istrinya dengan pelan.


"Dasar kamu ini, baiklah nanti kita bicarakan bersama kakek ya!" kata Aftar dan Kinan menganggukan kepalanya.


"Oh iya mas, aku kemarin bertemu dengan Vira." Kata Kinan matanya terlihat berbinar senang.


Aftar mengangguk. "Sepertinya kalian terlihat senang. Apa yang terjadi pada kalian? Apa kamu bertemu Arga juga?" Tanya Aftar penuh rasa curiga.


Kinan mendengus kesal selalu saja suaminya ini berpikir macam-macam. Haruskah kalau bertemu dengan Vira di situ juga ada Arga?


"Mas buang rasa curigamu itu! Aku bertemu dengan Vira di taman dia sendirian tidak bersama Arga," jelas Kinan sebelum rasa cemburu suaminya semakin kemana-mana.


"Sungguh? Tapi kamu terlihat bahagia." Aftar manatap Kinan dengan tatapan penuh rasa cemburunya.


"Sungguh! kata Vira jika anak kita lahir lalu anak kita perempuan dan laki-laki katanya mau di jodohkan," kata Kinan tawanya terukir di sudut bibirnya. Tapi bibir Aftar seketika berubah menjadi manyun dan tatapan matanya terlihat kesal.


"Tidak boleh! Aku tidak akan mengizinkannya, aku harus berbesanan dengan mantan pacar istriku, bisa-bisa dunia ini terbalik." Tolak Aftar dengan tegas.


Dalam hati Aftar, istriku ini apa-apaan sih? Bisa-bisanya dia mengatakan hal seperti ini padaku? Aku harus berbesanan dengan Arga, yang jelas-jelas dia adalah mantan pacar istriku. Aish Kinan aku tidak habis pikir bagaimana cara kerja otakmu ini?


"Dasar kamu, takdir tidak ada yang tahu mas." Jawab Kinan tidak mau mengalah, rasanya Aftar ingin menyentil jidat istrinya ini.


"Sudahlah, kita tidak usah bicara takdir! Aku juga tidak berharap takdir anakku berjodoh dengan anaknya Arga," kata Aftar yang kembali menolaknya dengan tegas.


Kinan geleng-geleng kepala, jika obrolan ini di lanjutkan pasti nanti masalahnya jadi melebar kemana-mana.


"Cup...." Kinan menutup bibir suaminya agar berhenti bicara.


Kini mereka akhirnya berciuman, setelah beberapa lama akhirnya Kinan melepas ciumannya. "Sudahlah, jangan bawel mas! Sekarang aku lapar, anak dalam perutku ini terus menendang-nendang." Kata Kinan begitu manja.


Aftar yang tadinya merasa kesal, seketika rasa kesal itu hilang. "Boleh, aku mendengar tendangan anak kita di dalam sana?" Tanya Aftar dan Kinan mengangguk lalu dia berdiri dari pangkuan suaminya.


Kinan mendekatkan perutnya pada Aftar, lalu Aftar mendekatkan telinganya pada perut istrinya yang sudah semakin membuncit.


Dengan penuh kehangatan, tangannya mengelus-elus perut istrinya Aftar tersenyum bahagia. Aftar merasakan anaknya terus menendang-nendang perut istrinya.


"Tendangan sangat keras sayang, kira-kira jenis kelamin anak kita apa ya?" Aftar sangat penasaran. "Bagaimana, kalau besok pergi USG?" Tanya Aftar pada Kinan.


Aftar lagi-lagi tersenyum kemanjaan istrinya ini membuat dirinya semakin menyayanginya.


"Ini adalah istri yang aku nikahi secara kontrak tapi akhirnya aku sungguh-sungguh mencintainya dan sekarang dia sudah menjadi istri sah ku." Batin Aftar dalam hati.


"Iya ayo kita makan?" Ajak Aftar dan mereka berdua langsung menuju ke kantin kantor.


Sesampainya di kantin kantor Kinan dan Aftar duduk di salah kursi yang ada di dalam kantin, Aftar menyodorkan buku menu pada Kinan dan mereka memesan makanan dan minuman.


Kini setelah beberapa lama akhirnya makanan datang. Padangan Kinan terus tertuju ke meja lain bahkan sekali-kali bibir Kinan tersenyum simpul.


"Siapa yang Kinan lihat?" Tanya Aftar dalam hatinya.


Aftar mengikuti pandangan mata istrinya, lalu dia baru sadar kalau di meja lain ada Vino dan Caca sedang asik bergurau mesra.


"Dasar, akhirnya mereka berani menunjukkan hubungan mereka di kantor," cetus Aftar yang terlihat bahagia.


"Aku lihat Kak Caca bahagia bersama Sekertaris Vino." Kata Kinan, sambil menikmati makanan yang tadi dia pesan.


"Pasti akan bahagia, Vino adalah laki-laki yang baik. Percayalah, kelak sahabatmu akan menjadi ratu di hatinya," jelas Aftar.


"Sudahlah, orang yang sedang jatuh cinta itu memang seperti itu. " Kata Aftar, seketika dia begitu mengalihkan pandangan matanya.


Kinan sanyam-senyum sendirian mengingat suaminya juga awalnya seperti itu. Tapi ujung-ujungnya ya jatuh cinta juga bucinnya juga sangat berlebihan kalau Aftar.


"Kinan, lanjutkan makannya! Jangan terus melihat mereka!" Kata Aftar, kali ini Kinan begitu baper melihat kemesraan Vino dan Caca.


Di meja lain Vino dan Caca sedang mesra-mesraan, bahkan dengan romantisnya Vino meyuapi Caca.


"Lihat mas, mereka sangat romantis!" Kata Caca sambil senyam-senyum.


Aftar yang merasa kesal, rasanya ingin sekali menganggu Vino yang sedang berduaan dengan Caca, tapi Aftar tidak sampai hati.


"Sayang mereka belum halal, beda dengan kita yang sudah halal, kalau kita tiap malam bisa main tusuk-tusukkan sate." Jawab Aftar dengan begitu jail.


"Mas ihhh...." Kinan merengek manja.


"Mas apa? Nanti malam kita main tusuk-tusukkan sate!" Aftar tersenyum mesum.


Kinan geleng-geleng kepala, sungguh tidak habis pikir dengan suaminya ini. Bisa-bisanya dia berpikir main tusuk-tusukkan sate padahal semalam saja rasa pegal-pegalnya masih terasa.


"Mas, kamu itu ih. Ini sedang di kantor jangan jail! Aku tidak mau jika harus meladenimu di dalam kantor takut ada orang tiba-tiba datang.


"Aku akan mengunci pintu ruanganku nanti, sayang aku juga butuh asupan vitamin kan sudah halal," kata Aftar tahapan matanya terlihat berbinar mesum.


"Mas ih, jangan jail! Ayo lanjutkan makanku!" Jawab Kinan agar suaminya tidak kembali mengajak berdebat.


Kini mereka akhirnya melanjutkan makan siang mereka.


BERSAMBUNG 😊


Terimakasih para pembaca setia 🤗


Maaf ya baru up, hari ini ada acara l 🤗