
Hari ini adalah hari pernikahan Aftar dan Kinan, Kinan sudah di dandani dengan cantik oleh Bu Herlin yang tidak lain ada perancang gaun pengantin Kinan hari ini.
Selain perancang handal, Bu Herlin juga sangat pandai merias orang lain.
Kinan tampak cantik dengan gaun putih dan make-up yang cukup natural. Senyum Kinan terus terpancar di wajah cantiknya.
"Kamu cantik sekali nak." Puji Bu Herlin, sambil mengusap pipi Kinan dengan lembut.
Kinan tersenyum, ntah mengapa belaian tangan Bu Herlin membuat Kinan ingin menangis tapi Kinan menahannya.
"Seandainya mama, papa dan nenek masih hidup pasti mereka akan sangat bahagia dengan pernikahanku saat ini." Batin Kinan dalam hatinya.
"Nak, kenapa kamu bengong? Itu calon suamimu sudah datang!" Herlin tersenyum pada Kinan.
Mata Kinan terus melihat Aftar yang sedang berjalan menuju ke tempat dirinya berdiri.
Kinan dan Bu Herlin.
Kini Kinan dan Aftar sudah berdiri berdampingan, senyum mereka hari ini sangat bahagia tapi beda dengan hati mereka yang hanya menganggap ini semua hanya sebuah sandiwara.
Visual Kinan dan Aftar.
"Bu Herlin, terimakasih ya sudah membuat calon istriku begitu cantik." Aftar tersenyum pada Herlin.
Herlin menganggukkan kepalanya "Ibu permisi dulu ya nak!" Herlin berlalu pergi dari hadapan Aftar dan Kinan.
Setelah Herlin pergi, Aftar terus memperhatikan wajah cantik Kinan tanpa berkedip sedikitpun.
"Ternyata, dia begitu cantik." Gumam Aftar dalam hatinya.
Aftar meraih tangan Kinan "Haruskah, kita saling bergandengan tangan pak?" Tanya Kinan dengan senyum terpaksanya.
"Kinan, jangan mengajakku berdebat kamu cukup menurut saja padaku!" Jawab Aftar yang tidak mau di bantah.
Kinan agak kesal, tapi karena banyak tamu jadi Kinan terus memancarkan senyum cantik di wajahnya.
"Kakek, sudah menunggu kita. Acara pernikahan akan segera di mulai, kamu tenanglah dan jangan tampak gugup!" Bisik Aftar di telinga Kinan, Kinan menganggukkan kepalanya "Seperti sedang main drama," Kinan tersenyum simpul.
Kini mereka berjalan menghampiri Sanjaya yang sudah menunggunya karena acara pernikahan akan segera di mulai.
Kinan dan Aftar sudah sama-sama duduk di kursi dan kini mereka sedang melakukan ritual pernikahan, setelah semuanya mengucapkan kata sah hati Aftar dan Kinan begitu lega. Hari ini Aftar dan Kinan resmi menjadi sepasang suami istri.
Vino yang dari tadi memperhatikan bosnya melangsungkan pernikahan, dia senyam-senyum sendiri.
"Aku kapan ya? Masih menunggu jodohku." Batin Vino dalam hatinya.
Ritual demi ritual akhirnya selesai, malam ini mereka langsung menggelar acara resepsi pernikahan mereka di sebuah taman yang sudah di decor dengan sederhana tapi terlihat begitu indah. Malam ini mereka juga tidak mengundang banyak orang hanya keluarga dan tamu dari karya Author yang lainnya.
Kinan melihat ini semua hampir saja dirinya menangis, tapi lagi-lagi Kinan harus menahan air matanya karena mengingat ini semua hanya sandiwara saja jadi Kinan cukup sedih.
Vino berjalan menghampiri Aftar dan Kinan, dia tersenyum pada mereka.
"Vin, carilah pasangan siapa tahu ada yang cocok!" Kata Aftar dengan nada meledek.
"Sepertinya banyak, itu pak wanita itu sangat cantik." Vino menunjukkan salah satu wanita yang dia lihat.
Aftar mengikuti arah mata Vino dan melihat ternyata yang di lihat Vino adalah Anin yang tidak lain adalah istrinya Danis Putra Kusuma.
"Vin, kamu mau cari mati ya! Dia adalah istri dari Danis Putra Kusuma, kalau kamu sampai melirik istrinya bisa-bisanya dia langsung murka." Aftar menjitak kepala Vino dengan pelan.
Vino tersenyum penuh rasa salah, karena ternyata yang dia lihat adalah istri orang.
"Bagaimana dengan yang itu dan yang itu pak?" Tanya Vino, sambil menunjuk kearah Diana dan Raniah.
Lagi-lagi Aftar menjitak kepala Vino dengan pelan, karena yang di lihat oleh Vino semua istri orang dari para bos besar lagi.
"Vin, itu Diana istrinya Wisnu Wijaya. Dia terlihat cantik dan masih muda karena dia menikah dengan duda tampan seperti Wisnu dan dia juga sudah punya anak tiga." Jelas Aftar pada Vino.
"Kalau itu Raniah, istrinya David Pertama laki-laki yang terkenal playboy mereka sekarang sudah bahagia dengan dua anak kembarnya." Jelas Aftar lagi, membuat Vino mengerti.
"Semuanya istri orang ya pak," Vino memasang wajah sedih.
"Iya Vin, makanya kamu jaga matamu jangan sampai melirik atau melirik istri-istri mereka atau kamu, akan di jadikan debu oleh mereka." Aftar mengandeng tangan Kinan lalu berjalan menemui mereka.
"Apa mereka segarang itu?" Tanya Kinan tiba-tiba.
"Mereka pencemburu berat, mereka juga tidak akan rela jika istri-istri mereka di lirik oleh laki-laki lain." Jawab Aftar sambil terus berjalan.
"Sebentar lagi, Pak Aftar juga akan menjadi seperti mereka Nona." Vino tertawa kecil, membuat Kinan juga ikut tertawa.
Vino juga mengikuti langkah kaki Aftar dan Kinan.
Sesampainya di tempat mereka sedang pada duduk sambil menikmati hidangan yang ada. Mereka semua tersenyum pada Aftar dan Kinan.
"Terimakasih para seniorku, kalian semua sudah menghadiri acara pernikahanku dengan istriku." Aftar dan Kinan duduk di tengah-tengah mereka.
"Jaga istrimu dengan baik!" Sambung Wisnu dengan lirikan penuh makna.
"Sayangi dia, jangan pernah sakiti hati seorang wanita!" Timpal David dengan gaya sok bijaknya.
"Iya pokoknya, terimakasih doa-doanya dan sudah menghadiri acara pernikahanku kakak-kakak seniorku." Kata Aftar dengan senyum bahagianya.
Mereka asik mengobrol, Kinan juga asik mengobrol dengan Niah, Diana dan Anin.
"Itu yang kembar anaknya Kak Niah?" Tanya Kinan pada Niah.
"Iya itu anak-anakku, namanya Khalisa dan Shakila." Jawab Niah sambil tersenyum.
"Kalau itu?" Tanya Kinan yang melihat banyak anak kecil sedang bermain bersama dengan Khalisa dan Shakila.
"Itu anakku, itu yang paling besar Hana, yang no dua Viana dan yang paling kecil namanya Rafka." Jawab Diana sambil tersenyum.
Kinan tersenyum bahagia melihat anak-anak lucu itu.
"Andai saja, ini bukan pernikahan sebuah pernikahan kontrak pasti aku akan minta sama Mas Aftar untuk membuatkan beberapa adonan agar menjadi bayi-bayi lucu." Batin Kinan dalam hatinya.
"Anak-anak kalian sangat lucu, Oh iya kalau Kak Anin sudah..." Kata-kata Kinan terpotong.
"Aku masih pengantin baru, jadi sedang bekerja keras." Jawab Anin dengan malu-malu.
"Kalian semangatlah, mudah-mudahan kalian segera di berikan momong." Diana dan Niah tersenyum pada Anin dan Kinan.
Kini mereka saling tertawa dan mengobrol dengan begitu akrab.
"Aftar, istrimu sangat cantik." Kata David dengan nada jail.
"Dia memang cantik, tapi sayangnya Aftar hanya menikahinya secara kontrak." Cetus Wisnu dengan suara pelan.
"Kak Wisnu, jangan bongkar aib disini ini semua rahasia!" Aftar tertawa penuh makna.
"Lihat saja, nanti Aftar akan sebucin apa dengan gadis yang dia nikahi secara kontrak itu." David begitu serius, dia yakin pasti Aftar akan jadi bucin dengan istrinya.
"Bucinnya pasti melebihi kita Kak David." Sambung Danis yang kini sudah mengeluarkan tawa di sudut bibirnya.
Sungguh di tengah-tengah mereka, Aftar menjadi bahan olok-olokan mereka. Tapi Aftar bahagia karena pernikahannya ini di hadiri oleh mereka semua.
Karena anak-anak mereka sudah rewel, akhirnya semuanya berpamitan untuk pulang pada Aftar dan Kinan.
Kini mereka semua sudah pulang, tiba-tiba Sanjaya datang menghampiri Kinan dan Aftar.
"Kakek," sapa Kinan.
"Cucu kakek, kalian bersenang-senanglah! Kakek mau istirahat dulu." Sanjaya mengusap pucuk rambut Kinan, lalu menaruh sesuatu di saku celana Aftar "Ini untukmu, jangan biarkan malam pertamamu terlewat!' Bisik Sanjaya di telinga Aftar.
Sanjaya berlalu masuk ke dalam kamar hotel untuk segera beristirahat.
Aftar merogoh saku celananya, tapi tidak jadi karena tiba-tiba Arga dan istrinya datang.
"Apa kira-kira yang diberikan oleh kakek?" Tanya Aftar dalam hatinya.
Dengan raut wajah yang tampak sedih, Arga menghadiri acara pernikahan Kinan gadis yang masih sangat dia cintai.
"Kinan, aku...." Kata-kata Arga terpotong.
"Arga, terimakasih sudah datang." Kinan memotong perkataan Arga.
"Kinan, selamat ya atas pernikahanmu dengan Aftar." Vira menjabat tangan Kinan, Kinan tersenyum pada Vira "Terimakasih ya Vir, oh iya ayo nikmati hidangan yang ada!" Ajak Kinan.
Kini Kinan dan Vira sudah duduk berdua sedangkan Aftar dan Arga masih sama-sama berdiri dengan saling menatap tajam.
"Ingat ya, kamu tidak akan bisa memiliki Kinan seutuhnya!" Tegas Arga yang membuat Aftar tertawa "Apa, kamu seyakin itu?" Tanya Aftar dengan nada meremehkan.
"Kinan masih sangat mencintaiku." Jawab Arga dengan begitu yakin.
"Aku tidak perduli, karena aku tidak akan membiarkan Kinan kembali ke pelukanmu lagi. Sepenuhnya Kinan sudah sah menjadi istriku," Aftar mempertegas perkataannya.
Aftar dan Arga saling menatap dengan tatapan penuh amarah, Aftar juga tidak akan rela jika Kinan di ganggu oleh laki-laki lain apalagi itu mantan kekasihnya.
"Kin, apa kamu masih mencintai Arga?" Tanya Vira tiba-tiba.
"Aku...."
BERSAMBUNG 😊
Terimakasih para pembaca setia 🙏
Mereka semua yang datang dari karya-karya Author yang lainnya ya 😊
"Terpaksa Menikahi Suami Majikanku"
"Perjodohan Karena Hutang 2"
"Gadis miskin yang di cintai oleh CEO kaya"
Buat yang sudah baca ceritanya, pasti paham.