
"Mas, apa kamu serius?" Tanya Vira memastikan.
"Sayang...." Arga memegang kedua pipi Vira dengan lembut, Vira menatap Arga dengan tatapan penuh arti. "Apa, kamu yakin mas?" Vira memastikan.
Arga merasa kesal tapi dia menahannya.
"Vira kita itu suami-istri, apa perlu kamu bertanya seperti itu pada suamimu?" Tanya Arga dalam hatinya.
"Apa kamu tidak mau melakukannya? Ya sudah tidak apa-apa, sudah malam kita tidur saja!" Arga melepaskan tangannya dari kedua pipi Vira, raut wajahnya tampak kesal.
Vira hanya bisa bersabar Vira sangat paham sekali, kalau suaminya ini gampang sekali marah bahkan tiba-tiba bersikap sedingin es.
Arga membaringkan tubuhnya di samping Vira, dia tidur dengan posisi membelakangi Vira.
Vira merubah posisinya menjadi miring, kini dia tidur sambil melihat punggung kekar sang suami. "Mas, apa kamu marah?" Tanya Vira, jari-jarinya dengan lentik memainkan punggung suaminya.
Arga hanya diam dan itu membuat Vira tahu kalau suaminya ini pasti sedang merajuk.
"Suamiku, jangan marah lagi!" Vira mendekatkan tubuhnya lalu memeluk Arga dari belakang. "Aku siap mas buat melakukan tugasku sebagai istri," bisiknya di telinga Arga.
Arga masih tetap tidak berkutik, tapi Vira malah senyam-senyum. "Yakin tidak mau, aku tinggal tidur ya." Tanya Vira dia melepaskan pelukannya dari tubuh Arga, tapi belum sempat lepas Arga sudah menahan tangannya dengan kuat.
Arga membalikkan tubuhnya kini mereka sudah saling berhadapan. "Kamu yang bilang ya, awas saja jika di tengah permainan kamu meminta aku berhenti," mata Arga penuh dengan ancaman.
Vira tersenyum lalu menggelengkan kepalanya. "Tidak mas, semuanya akan lancar sampai akhir," Vira tersenyum mesum.
Tanpa menunggu lama, Arga langsung menindih tubuh mungil Vira dan langsung mendaratkan bibirnya tepat di bibir Vira, kini mereka saling berciuman dan memadukan cinta mereka di atas ranjang tempat tidur.
Angin malam terasa begitu dingin, pergulatan mereka juga semakin panas, erangan dan desahan penuh nikmat terdengar jelas dari mulut mereka.
"Mas, lakukan dengan pelan! Aku takut sakit," lirih Vira jantungnya berdebar kencang karena merasa agak takut dan deg-deggan.
Aftar menghentikan aktivitasnya. "Iya aku akan melakukannya dengan pelan, kamu tahan ya!" Jawab Arga dan Vira hanya mengangguk pasrah.
Arga membenarkan posisinya lalu dia mengarahkan benda tumpul miliknya ke dalam milik Vira.
Vira merasa takut dia menggenggam sprei dengan kedua tangannya dengan kuat.
"Achh.." desah Vira yang merasakan milik Arga sedang berusaha membobol masuk ke dalam gawangnya.
"Tahan sayang, kalau sakit kamu teriak saja!" Arga masih berusaha keras agar miliknya masuk ke dalam gawang Vira. Dan setelah beberapa lama, akhirnya pertahanan Vira jebol juga karena bola Arga sudah masuk dengan sempurna.
Vira berteriak agak kencang karena merasakan sakit tapi lama kelamaan Vira juga merasakan nikmat. Arga mulai menggoyangkan pinggulnya dengan pelan, Vira juga tampak menikmati goyangan Arga.
Akhirnya setelah beberapa lama keduanya sama-sama mencapai puncaknya dan bercak merah yang ada di sprei itu menjadi tanda cinta mereka.
Setelah puas Arga menjatuhkan tubuhnya di samping Vira, Arga tersenyum lalu membawa Vira masuk ke dalam pelukannya.
"Aku mencintaimu, sayang." Arga mencium kening Vira dengan penuh kehangatan.
Sungguh bahagia sekali Vira malam ini, karena akhirnya Vira bisa mendapatkan hati Arga dan cinta Arga sepenuhnya.
Malam ini Vira tidur di pelukan Arga dengan begitu nyaman dan rasanya sangat hangat.
____
Jam menunjukkan pukul 7 pagi, Aftar sudah rapi dengan setelan jas warna abu-abunya. Kinan juga sudah menyiapkan sarapan untuk suaminya dan kini dia sedang duduk di kursi meja makan sambil menunggu suaminya keluar dari dalam kamar.
"Selamat pagi istriku," sapa Aftar dengan begitu manis sambil mencium kening Kinan.
"Selamat pagi mas, mas sarapan dulu ya!" Kata Kinan dan dia langsung mengabulkan nasi dan berbagai lauk untuk suaminya.
Aftar menikmati sarapan dengan begitu bahagia, ini pertama kalinya dia benar-benar merasakan punya seorang istri yang sesungguhnya bukan hanya sekedar kontrak.
"Ternyata enak punya istri apa-apa yang ngurusi, tidur ada yang nemenin. Aku rasa Vino juga harus segera menikah, kasian dia di rumah hanya sendirian saja," Aftar tertawa dalam hatinya.
"Nanti saja mas, oh iya mas kakek kapan pulang?" Tanya Kinan pada Aftar.
"Belum tahu sayang, kadang kakek suka mulur seperti permen karet katanya satu minggu ya bisa bulan depan dia pulang," Jawab Aftar sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
Sanjaya pergi berlibur ke Villa yang biasanya dia datangin waktu istrinya masih hidup, tentu saja Sanjaya sangat betah di Villa itu karena di tempat itu sangat banyak kenangan indah saat bersama istrinya dulu.
"Aku merindukan kakek," kata Kinan rasanya ingin sekali bertemu dengan Kakek Sanjaya.
"Biarkan kakek berlibur, jadi aku bisa cepat-cepat buat Dede bayi." Kata Aftar sambil tersenyum penuh arti, Aftar selalu saja memang banyak.
Kinan hanya diam, dia membayangkan jika dirinya hamil nanti. Akan seperti apa sikap suaminya pada dirinya?
"Dasar mesum," ledek Kinan sambil tertawa.
"Sama istri sendiri ini mesum juga tidak masalah wlek," jawab Aftar sambil menjulurkan lidahnya dengan jail.
Kinan hanya tertawa, ternyata suaminya yang suka galak dan sedingin es bisa juga di ajak bercanda.
Setelah beberapa lama akhirnya Aftar selesai sarapan dan dia langsung berpamitan untuk pergi ke kantor.
"Aku berangkat dulu ya, ingat kalau ada apa-apa langsung telpon aku!" Aftar mencium kening Kinan, lalu Kinan mencium tangan suaminya sebelum pergi ke kantor.
Kinan mengantarkan suaminya sampai ke depan untuk, setelah suaminya menaiki mobilnya dan mobilnya sudah berlalu Kinan kembali masuk ke dalam rumah.
Di rumah sendirian Kinan merasa kesepian, kini dirinya membereskan meja makan dan setelah selesai Kinan hanya duduk sambil menonton televisi.
Sesampainya di kantor raut wajah Aftar tampak begitu bahagia, bahkan pagi ini Aftar juga menjawab semua sapaan dari para pegawai kantornya. Padahal biasanya tidak pernah, ternyata gara-gara bucin dengan Kinan suasana hati Aftar menjadi senang dan wajahnya juga tampak berseri-seri.
Sesampainya di dalam ruangan, ternyata Vino sudah berada di ruangannya dan Vino sedang sibuk dengan laptopnya.
Aftar melihat Vino yang sedang sibuk dengan laptopnya. "Vin, ada apa?" Tanya Aftar dia duduk di sebelah Vino.
"Tidak apa-apa, hanya ingin mengerjakan ini di ruangan bapak saja. Wihh tapi aku lihat pagi ini wajah bapak terlihat bahagia," Vino menghentikan megetiknya dan kini matanya melihat ke arah Aftar.
Aftar senyum-senyum, sungguh kali ini Aftar seperti orang tidak waras. "Bagaimana tidak senang, semalaman tidur ada yang nemenin, sarapan pagi ada yang nyiapin, bahkan saat ke dinginan ada yang di peluk." Tutur Aftar, yang membuat Vino menatapnya jijik.
"Dih dasar sih bos bucinnya sungguh terlalu, entahlah vitamin apa yang sudah di berikan oleh Nona Kinan pada bos ini," batin Vino dalam hatinya.
"Bos, aku juga kalau tidur ada yang di peluk," jawab Vino dan itu membuat Aftar tertawa meledek.
"Dasar Vino, siapa yang dia peluk? Dasar jomblo halu," batin Aftar dalam hatinya.
Vino terdiam hatinya begitu miris, lagian siapa yang di peluk?
"Maksud kamu siapa yang kamu peluk? Vin, menikahlah biar ada yang menemani bobok!" Aftar tertawa dan tawanya semakin menjadi.
Sungguh Vino merasa kesal pada bos nya ini, dulu saja sok-sokan tidak mau dengan Kinan, tapi dia malah bucin separah ini.
"Bantal guling yang aku peluk setiap malam," jawab Vino dengan nada sedih.
Aftar tertawa semakin kencang, kasian sekali nasib Vino sungguh terlalu hanya bantal guling yang bisa dia peluk.
"Bantal gulingnya kasian Vin, di peluk setiap malam nanti dia sesak nafas." Aftar terus tertawa, sungguh Vino merasa kesal pada bos nya ini.
"Berhentilah tertawa pak!" Kesal Vino pada Aftar.
Bos dan bawaan sama-sama koplak satunya jomblo halu, satunya sedang bucin dengan mantan istri kontraknya.
BERSAMBUNG 🙏
Terimakasih para pembaca setia 😊
Maaf ya update-nya suka lama, soalnya sudah mulai sibuk lagi 🙏