
Setelah beberapa hari berbulan madu akhirnya Caca dan Vino pulang dari bulan madu mereka.
Vino juga langsung mengajak Caca untuk pindah rumah ke sebelah Aftar. Iya itu adalah rumah hadiah pernikahan dari Sanjaya.
Rumah itu terletak di sebelah tepat rumah Aftar dan Vino, kini mereka akhirnya saling tetanggaan.
Caca berbaring di atas kasur yang empuk, Vino juga melakukan hal yang sama.
"Sayang, bagaimana kalau kita undang Pak Aftar dan Nona Kinan, Arga dan Vira untuk berkumpul di rumah baru kita?" Kata Vino, dan di anggukin oleh Caca.
"Senang ya menjadi orang kaya, tidur saja kasurnya sangat empuk." Caca bergulang-guling dengan bahagia.
"Dasar kamu ini, mulai sekarang kamu cukup menjadi ratuku saja dirumah, aku melarang kamu kerja!" Vino memeluk Caca seperti bantal guling, Caca hanya tersenyum dia menganggukkan kepalanya.
Karena status Caca sekarang adalah istrinya Vino, jadi Caca harus menuruti apa kata sang suami termasuk berhenti bekerja.
"Oh ya, jam berapa mereka nanti datang mas?" Tanya Caca, dia berpikir untuk masak yang enak-enak buat nanti.
"Jam 7 malam, aku kabari mereka." Vino mengambil ponselnya lalu mengirim pesan pada Vino dan Arga.
*Pesan untuk Aftar.
"Bos, datanglah ke rumah baruku. Sekarang kita tetanggaan."
*Pesan buat Arga.
"Ar, datanglah ke rumah baruku mari kita berkumpul, alamatnya di komplek xx.
Aftar yang sedang sarapan menghentikan makannya, dia mengambil ponselnya lalu menggeser layar ponselnya.
"Siapa mas?" Tanya Kinan penasaran.
"Vino, dia menyuruh kita datang ke rumahnya dan dia juga bilang kalau kita tetanggaan," jawab Aftar. Masih bingung, kapan Vino membeli rumah baru?
Sanjaya yang paham dengan omongan Aftar, dia menatap Aftar dan Kinan secara gantian.
"Cucuku, kalian pasti bingung kenapa Vino bisa tetanggaan dengan kalian? Kakek yang memberikan hadiah rumah untuk pernikahan Vino dan istrinya," terang Sanjaya dan tentu saja itu membuat Kinan dan Aftar sama-sama mengerti.
"Kalian tidak apa-apa kan?" Tanya Sanjaya, dia kawatir Kinan dan Aftar akan iri.
Aftar tersenyum bahagia, baginya Vino sudah seperti kandung sendiri. Sanjaya juga sudah menganggap Vino sebagai cucunya sendiri selama ini.
"Kakek, kakek bicara apa? Tentu saja Aftar tidak apa-apa." Jawab Aftar, membuat Sanjaya terlihat bahagia.
"Iya kek, Kinan malah senang jadi Kinan tidak kesepian lagi. Karena dekat dengan Kak Caca," sambung Kinan. Terlihat senyum tulus di sudut bibirnya.
Kini mereka sama-sama melanjutkan sarapan bersama mereka.
Di rumah Arga, Vira sedang menyusui anaknya sedangkan Arga baru saja selesai mandi.
"Mas, itu di ponsel mas ada pesan dari Vino." Kata Vira dan Arga mengambil ponselnya, lalu menggeser layar ponselnya.
"Vino mengundang kita ke rumah barunya sayang." Kata Arga, tapi wajahnya terlihat tidak senang.
"Pasti ada Aftar yang cemburuannya tingkat dewa itu." Batin Arga dalam hatinya.
"Iya mas, nanti kita datang ya. Biar ketemu sama calon mantu dan besan kita," Vira begitu antusias. Tapi Arga menatap Vira dengan tatapan agak kesal.
"Siapa juga yang mau besanan dengan dengan manusia es itu sayang," bantah Vino sungguh dalam hatinya menolak berbesanan dengan Aftar Sanjaya.
Vira hanya bisa tertawa kecil, biasalah suaminya dan suaminya Kinan ini mereka berdua selalu saja perang dingin.
"Kimmy, nanti kalau sudah besar kamu pacaran sama Kenzo ya nak!" Vira terlihat jail, membuat Arga mendengus kesal.
"Dasar istriku, anak masih bayi sudah di ajak ngomongin pacaran." Arga menggerutu dalam hatinya.
*****
Jam menunjukkan pukul 7 malam, sesuai undangan dari Vino dan Caca. Kini Aftar dan Kinan sudah berada di rumah Vino.
Sekarang mereka saling bertetangga dan tentunya tidak butuh waktu lama buat Aftar dan Kinan sampai di rumah Vino.
"Kin, Kenzo sangat tampan." Caca terlihat gemas melihat Kenzo, dia mengambil alih Kenzo dari pangkuan Kinan.
"Iya kak, lihat saja papanya saja sangat tampan." Sahut Kinan, membuat Caca tertawa kecil.
"Ken, ini Tante cantik. Doain ya nak, biar tante cepat punya momongan." Caca berbicara pada Kenzo, padahal Kenzo saja belum tahu apa-apa.
Kinan tersenyum simpul, wajarlah setiap wanita setelah menikah pasti mengharapkan agar cepat-cepat punya momongan.
"Tante Caca, rajin-rajin produksi adonan bersama Om Vino. Di jamin pasti cepat jadi," jawab Kinan yang seolah-olah menjadi Kenzo.
Caca tertawa, dasar Kinan dulu dia begitu polos tapi sekarang kepolosannya itu sudah di renggut oleh Aftar.
"Kin, aku sudah melakukan itu beberapa kali cuma masih negatif," kata Caca dengan suara pelan.
Kinan ingin sekali tertawa, apakah Caca ini begitu polos seperti dirinya dulu? Jadi selama beberapa hari pernikahannya ini, Setiap habis melakukan ehem-ehem Caca pagi-paginya melakukan test kehamilan tanpa sepengetahuan Vino. Caca sengaja membeli banyak alat test kehamilan sebelum hari H pernikahannya dengan Vino.
"Memang kakak, sudah melakukannya berapa kali?" Tanya Kinan dengan jail, dan begitu polosnya Caca tampak berpikir.
"Entahlah Kin, aku lupa sudah berapa kali. Lagian Vino kadang setiap kali melakukannya bisa lebih dari sekali," cerita Caca dengan raut wajah yang begitu polos.
"Sekuat itukah kamu kak?" Kinan tertawa, sungguh Kinan saja kalau sama Aftar hanya sekali itu saja sudah capek banget.
"Sudahlah Kin, mungkin Vino salah minum obat. Dia begitulah kalau di atas ranjang," kata Caca dengan pasrah.
Arga dan Vira baru saja sampai, mereka sama-sama mengetuk pintu rumah Caca dan Vino.
Tapi karena pintu rumahnya terbuka lebar akhirnya Arga dan Vira langsung masuk saja.
"Ar, Vir....." sapa Vino dan Caca.
Vira bergabung dengan Caca dan Kinan, dia mengendong Kimmy. Sedangkan Arga ikut bergabung dengan Arga dan Aftar.
"Aish pengantin baru, bagaimana resep dariku?" Tanya Arga, dia duduk di sebelah Vino.
"Oh iya Vin, kalau yang dariku bagaimana?" Sambung Aftar, dia tidak kalah antusias.
Vino mendengus kesal, ingin sekali menjitak kepala Arga dan Aftar. Karena gara-gara mereka Vino harus berkerja sendirian di dalam kamar mandi.
"Dasar kalian, aku berakhir di kamar mandi." Jawab Vino, membuat Aftar dan Arga tos penuh kemenangan. Bahkan mereka berdua tertawa sejadi-jadinya.
Malam ini Arga dan Aftar yang biasanya perang dingin, mereka begitu kompak karena kejailannya pada Vino.
"Tapi mantapkan?" Arga cengar-cengir.
"Mantaplah, buat aku yang masih anget ini sangat cocok." Sahut Vino, dia juga cengar-cengir mengingat Caca begitu kelimpungan pada malam itu.
Arga, Aftar dan Vino, asik dengan obrolan mereka.
Kinan, Caca dan Vira juga asik dengan obrolan mereka.
"Kimmy, kamu cantik sekali nak." Kinan mengambil alih Kimmy dari pangkuan Vira.
"Kin, lihat suami-suami kita. Malam ini mereka terlihat akur," pinta Vira dan Kinan melihat ke arah Aftar.
Dan ternyata benar, bahkan Arga dan Aftar terlihat begitu lebih hangat tidak saling perang dingin seperti biasanya.
"Tanda-tanda baik buat besanan," kata Vira dan Kinan secara bersamaan.
Caca tertawa, dasar dua keluarga koplak istri-istrinya ngebet banget pingin besanan tapi suami-suami mereka malah saling menentang satu sama lain.
Malam menunjukkan pukul 9, akhirnya mereka makan malam bersama untuk selamatan rumah baru Vino dan Caca.
Di meja makan tidak ada rasa canggung di antara mereka, sekali-kali mereka saling bercanda dan tertawa bersama.
Akhirnya acara selamatan rumah baru Vino dan Caca selesai.
BERSAMBUNG 🤗
Terimakasih para pembaca setia 😊