
Aftar dan Kinan langsung pulang ke rumah mereka dan sesampainya di rumah Aftar langsung membawa Kinan masuk ke dalam kamar.
Kinan tampak gugup, tubuhnya gemetaran padahal sudah suami istri tapi rasa canggung itu masih menyelimuti dirinya.
Kini mereka duduk di tepi ranjang, Kinan duduk sambil memangku kedua tangannya dan Aftar duduk dengan tegak.
"Mas, lain kali kalau mau cium jangan main nyosor saja. Sungguh aku malu tadi di depan Vino," Kata Kinan dengan raut wajah yang begitu polos.
"Siapa yang tahu, Vino akan datang sayang." Bela Aftar tidak mau salah.
Ada benarnya juga apa yang di katakan oleh suaminya, tapi Kinan juga tidak suka dengan Aftar yang suka tiba-tiba nyosor sudah seperti soang saja.
Kinan kembali terdiam. "Kamu kenapa?" Tanya Aftar dengan nada lembut.
"Tidak apa-apa mas, mas ayo kita di luar saja! Di sini sangat panas," Ajak Kinan yang merasa canggung.
"Nyalakan saja AC nya sayang atau buka saja pakaianmu!" Jawab Aftar yang selalu mencari kesempatan dalam kesempitan.
"Mas, aku malu kalau harus buka baju," Wajah cantik Kinan menjadi merah merona.
Kinan geleng-geleng kepala, lalu dia kembali terdiam.
Aftar mendekatkan bibirnya ke telinga Kinan. "Buat apa malu? Kita kan suami istri, apa aku tidak boleh menikmati lekuk tubuh istriku," Bisik Aftar dengan nada menggoda.
Aftar semakin mendekatkan bibirnya dan kini hembusan nafasnya bisa Kinan rasakan bau mint membuat Kinan semakin gerogi. "Mas," Lirih Kinan dan tangannya menahan tubuh suaminya agar tidak terlalu dekat.
Aftar memegang tangan Kinan agar tidak memberontak. "Sayang, kalau menunggu nanti malam aku sudah tidak kuat lagi." Tutur Aftar yang membuat Kinan tampak ke bingunganan.
"Maksudnya mas, mas tidak tahan apa?" Tanya Kinan dengan tubuh yang semakin gemetaran.
"Tidak tahan untuk menyentuh tubuh istriku, apa sebelumnya Arga pernah menyentuhmu?" Tanya Aftar dengan nada penuh gairah.
"Tidak pernah, Arga...." Kata-kata Kinan terhenti karena Aftar sudah mel*mat bibirnya lebih dulu. "Jangan sebut namanya!" Aftar sudah melepas kan bibirnya dari bibir Kinan.
Kinan mengangguk. "Apa ada laki-laki lain yang pernah menyentuh tubuhmu?" Tanya Aftar dengan tatapan penuh cinta.
Kinan menggelengkan kepalanya, membuat Aftar tersenyum bahagia.
"Berati Kinan masih suci." Batin Aftar dalam hatinya.
"Jika aku meminta hakku sebagai seorang suami, apakah boleh?" Tanya Aftar sebelum melakukannya lebih jauh lagi.
"Maksudnya mas?" Kinan tidak paham dengan apa yang Aftar katakan.
"Hubungan suami-istri, sayang." Jelas Aftar.
Kinan terdiam dia tampak ragu, dia tidak tahu harus bagaimana cara melayani suaminya di atas ranjang?
"Tapi mas, aku tidak tahu bagaimana caranya?" Jawab Kinan dengan begitu polosnya, Aftar tertawa kecil lalu melepaskan tangannya dari tangan Kinan dan kini tangannya sudah memegang kedua pipi Kinan.
"Kamu cukup diam, biar mas yang main!" Jawab Aftar yang membuat Kinan semakin tidak mengerti, tapi Kinan menganggukkan kepalanya.
Aftar mendekatkan bibirnya, tiba-tiba Kinan menahan bibir Aftar dengan jari telunjuknya. "Kenapa?" Tanya Aftar dengan nada lembut.
"Mas, apakah setelah ini aku akan hamil?" Tanya Kinan ragu-ragu, raut wajahnya sangat polos membuat Aftar sudah tidak sabar ingin memakannya.
"Sayang, kalau cuma sekali tembakan aku rasa masih kurang dan untuk membuat kamu hamil harus melakukan beberapa kali," Jawab Aftar berharap Kinan tidak bawel lagi.
"Mas..." Kata-kata Kinan terhenti karena Aftar sudah kembali mel*mat bibirnya dengan begitu lembut.
Kinan menikmati ciuman dari suaminya, tangannya sudah mengalungkan di leher Aftar dan Aftar memperdalam ciumannya membuat Kinan membuka sedikit mulutnya agar Aftar bisa menulusuri rongga mulutnya.
Aftar melepaskan ciumannya lalu berpindah ke leher jenjang sang istri Aftar terus menciumi leher Kinan bahkan sekali-kali mengh*s*pnya hingga meninggalkan bekas merah di sana.
"Mas, nanti akan sakit tidak?" Tanya Kinan dengan suara lirih.
Aftar menghentikan aktivitasnya, lalu dia membaringkan Kinan dengan pelan dan kini dia sudah menindih Kinan tepat di atas tubuh Kinan.
Di bawah sana Kinan merasakan ada yang menonjol begitu keras.
"Apa yang menonjol itu milik Mas Aftar?" Batin Kinan dalam hatinya.
Aftar mengarahkan tangan Kinan ke atas lalu memegangnya dengan kuat, ciuman demi ciuman Aftar lakukan membuat Kinan kelimpungan sambil meronta-ronta dengan gusar.
"Emmh.... ach..." Desahnya dengan manja, nafas Aftar mulai memburu dan dia juga ikut mendesah penuh kenikmatan.
Aftar memulai menanggalkan pakaian Kinan satu persatu hingga tidak tersisa sehelai benang apapun, Kinan menutup dua g*n*ng kembarnya dengan kedua tangannya.
Aftar juga menanggalkan pakaiannya lalu membuangnya ke sembarang tempat, kini tangannya menyingkirkan tangan Kinan agar tidak menutupi g*n*ng kembarnya. "Tidak usah di tutup, sekarang ini sudah menjadi milik mas sepenuhnya," Aftar mendaratkan bibirnya tepat di salah satu benda kenyal tersebut, Aftar menciuminya dengan lembut membuat Kinan menggelinjang karena ulah sang suami.
"Emm mas..." Panggil Kinan yang diiringi dengan desahan.
Aftar mengabaikan Kinan dan dia hanya fokus dengan dua benda kenyal milik Kinan. Kini dia mulai mengh*s*pnya lalu meng*l*mnya dengan penuh nikmat.
"Sayang, aku akan membentuk benda kenyal ini menjadi lebih besar." Batin Aftar dalam hatinya.
Aftar terus melanjutkan aksinya, Kinan yang berada di naungan Aftar hanya bisa menikmati permainan Aftar dan mendesah penuh kenikmatan.
Setelah Aftar puas dengan semuanya, kini dia mengarah ke bawa dan langsung menuju ke tempat yang ingin sekali adik kecilnya singgahi saat ini.
Tanpa menunggu lama, karena miliknya sudah sangat tegang, akhirnya Aftar langsung membuka sl*k*ng*n milik Kinan dan mengarah m*l*knya ke dalam m*l*k Kinan.
"Achhh..." Keduanya sama-sama mendesah.
Aftar masih terus berusaha untuk memasukkan m*l*knya ke dalam m*l*k Kinan.
"Mas, pelan-pelan!" Lirih Kinan dan kedua tangannya sudah menggenggam erat sprai warna biru dongker dengan kuat.
Lagi-lagi Aftar tidak mendengarkan Kinan bicara, setelah beberapa lama akhirnya m*l*k Aftar berhasil membobol gawang Kinan.
Aftar menggoyangkan pinggulnya dengan pelan, dan setelah beberapa lama akhirnya kedua sama-sama mencapai puncaknya dan Aftar megel*arkan c*iran hangatnya di dalam rahim Kinan.
Setelah puas, Aftar langsung menjatuhkan tubuhnya di samping Kinan.
Air mata Kinan mengalir begitu saja, rasanya sakit, bahagia dan masih tidak percaya kalau pernikahan kontrak ini menjadi sebuah pernikahan yang nyata.
"Kenapa menangis, apa sangat sakit?" Tanya Aftar sambil menghapus air mata yang membasahi pipi mulus istrinya.
Kinan menggelengkan kepalanya, Aftar tersenyum lalu membawa Kinan masuk ke dalam pelukannya.
"Terimakasih istriku, jangan menangis! Mas mencintaimu sayang," Aftar mencium kening Kinan dengan penuh cinta.
Kinan hanya terdiam, karena merasa sangat nyaman berada di pelukan sang suami.
"Tidurlah!" Aftar mengusap-usap punggung Kinan hingga Kinan terlelap tidur.
Setelah Kinan tertidur, Aftar tersenyum sambil mrmbelai-belai rambut panjang Kinan dengan lembut.
"Siapa yang menyangka berawal dari sebuah perjanjian nikah kontrak 100 hari, akhirnya aku jatuh hati padamu istri kontrakku." Aftar masih tidak percaya, bisa-bisanya dirinya jatuh cinta pada Kinan lebih dulu.
Aftar memeluk Kinan dengan erat, lalu dia ikut memejamkan matanya hingga dia terlelap tidur juga.
BERSAMBUNG 🤗
Terimakasih para pembaca setia 😘
Sengaja updatenya habis buka puasa 🙏