Menikah Kontrak 100 Hari

Menikah Kontrak 100 Hari
Mari kencan ganda


Caca dan Vino saling menatap satu sama lain.


"Pacaran?!" Cetus Caca dan Vino secara bersamaan.


Kinan tertawa kecil. "Kalian begitu kompak," cetus Kinan dan di anggukin oleh suaminya.


"Sudahlah, kalian jadian saja!" Aftar terus memojokkan Caca dan Vino.


"Pak Vino, aku sampai lupa memesan makanan." Caca berusaha mengalihkan pembicaraan yang ada saat ini.


Caca buru-buru beranjak dari tempat duduknya untuk memesan makanan, selain itu Caca juga merasa deg-deggan jadi sedikit salah tingkah.


Setelah memesan makanan, Caca berdiri dia tidak bergeming berharap perasaan gugupnya hilang.


"Caca, kamu ini kenapa? Kenapa tiba-tiba aku merasa deg-deggan? Bahkan aku juga tiba-tiba merasa gugup," batin Caca dalam hatinya.


Setelah agak sedikit rilex akhirnya Caca kembali ke tempat duduknya.


"Kak Caca, bukankah kami sedang dekat dengan laki-laki yang bernama Ronal? Yang waktu itu kamu ceritakan di chat," tanya Kinan penuh selidik.


"Sudah tidak Kin, nanti aku ceritakan padamu," jawab Caca. Matanya diam-diam melirik Vino lalu tersenyum kecil.


"Untung saja ada Pak Vino, coba kalau tidak ada mungkin masa depanku sudah hancur karena perbuatan b*jat laki-laki itu!" Tutur Caca dalam hatinya.


"Dia laki-laki br*ngsek Nona, makanya gadis sapu ini melepaskannya," ujar Vino tanpa expresi. Tapi dalam hatinya masih sangat marah jika mengingat sih Ronal yang begitu br*ngsek itu, hampir saja gadis incarannya di nodai oleh Ronal.


"Cie, lihat sayang Vino saja begitu mengerti masalah sahabatmu itu," goda Aftar yang saat ini sudah tertawa.


"Vin, aku harap kamu bisa kembali membuka hatimu untuk wanita lain!" Gumam Aftar dalam hatinya.


"Sudah-sudah makanan kita sudah datang, ayo kita makan dulu!" Lagi-lagi Caca berusaha mengalihkan pembicaraan mereka. Jika tidak seperti ini mungkin jantung Caca bisa copot karena terus merasa deg-deggan tidak jelas.


Kini mereka berempat menikmati makan siang bersama dengan begitu nikmat, setelah selesai makan siang Aftar dan Vino tidak langsung kembali ke ruangan kerja mereka, kini mereka masih duduk saling berdiam-diaman saja. Keadaan hening terjadi di antara mereka, membuat Caca merasa canggung tiba-tiba dengan keadaan yang ada saat ini.


"Pak Vino, Pak Aftar, Kinan, saya permisi dulu ya!" Caca hendak beranjak dari tempat dirinya duduk.


"Cegah dia Vino, cegah dia!" Hati Vino meronta-ronta.


Vino ingin mencegahnya tapi mulutnya seketika menjadi berat dan tidak bisa bicara. Aftar geleng-geleng kepala, dia tahu kalau Vino tidak punya keberanian untuk mencegah Caca agar tidak pergi dari tempat duduknya.


"Tunggu!!" Cegah Aftar.


Kinan terkejut, lalu dia melihat ke arah suaminya matanya penuh dengan tanda tanya? Sedangkan Caca tidak jadi beranjak dari tempat duduknya kini Caca juga sama bingungnya dengan Kinan.


"Ada apa Pak Aftar?" Tanya Caca dengan sopan.


"Giliran dengan Pak Aftar dia begitu sopan, nada bicara begitu lembut. Tapi saat bicara denganku dia selalu menyebalkan!" Vino menggerutu dalam hatinya.


"Mari kencan ganda!" Kata Aftar.


Seketika Vino dan Caca kembali saling menatap satu sama lain. "Apa pak? Tapikan saya tidak pacaran dengan Pak Vino," dengan wajah terkejut Caca geleng-geleng kepala pertanda menolak.


"Bagus Pak Aftar, desak terus gadis sapu ini. Terimakasih bosku." Batin Vino dalam hatinya.


"Kencan tidak harus dengan pacar, anggap saja ini awal mula buat kalian. Siapa tahu kalian akan menemukan kecocokan nanti," jelas Aftar dan di anggukin oleh Vino.


"Iya Kak Caca, suamiku benar. Lagian kakak juga kan jomblo." Kinan tersenyum simpul.


Kali ini Caca tidak bergeming, karena menurut Caca. Aftar dan Kinan juga tidak ada salahnya apalagi saat ini dirinya memang benar masih jomblo, jadi apa salahnya mencoba untuk dekat dengan laki-laki lain? Ya biarpun laki-laki itu sangat Caca benci karena selalu bersikap menyebalkan saat bertemu dengannya.


"Aku terserah Pak Vino saja," jawab Caca. Saat ini wajahnya sudah merah karena merasa malu-malu kucing.


Akhirnya mereka langsung pergi menuju ke parkiran mobil dan kali ini mereka pergi dengan mobil Aftar. Vino yang menyetir, Caca duduk di sebalah Vino, Sedangkan Aftar dan Kinan duduk di jok belakang.


Di dalam mobil Caca dan Vino hanya saling diam. Sedangkan Aftar sedang mengelus-elus perut Kinan seolah-olah menyapa bayi mereka yang masih ada di dalam perut Kinan.


"Capek tidak?" Tanya Aftar dengan nada lembut, tangannya terus mengelus-elus perut Kinan dengan lembut.


"Tidak mas, anak kamu kuat kok. Lagian jenuh juga mas hanya di rumah setiap hari," jawab Kinan. Senyumnya terlihat bahagia.


Aftar tersenyum, dia sadar kalau dirinya ini jarang sekali mengajak Kinan jalan-jalan apalagi Aftar sibuk dengan pekerjaannya jadi buat jalan-jalan dengan istrinya sangatlah jarang. Mereka lebih sering menghabiskan waktu berdua di rumah saja.


Diam-diam Caca tersenyum melihat kemesraan Kinan dan Aftar.


"Apa, Pak Vino kelak bisa menjadi lemah lembut seperti Pak Aftar saat ini? Aku yakin Kinan pasti sangat bahagia," batin Caca dalam hatinya.


Buru-buru Caca membuang pikirannya yang semakin tidak jelas ini.


"Apasih Ca, sepertinya kamu sudah gila di buat oleh Vino yang menyebalkan itu." Hati Caca berbicara.


Lagi-lagi Caca buru-buru menepis apa yang ada di hatinya. Sungguh dia tidak mau memikirkan Vino. Dan kini dia kembali fokus melihat jalanan yang terlihat agak macet.


Sambil menyetir Vino senyam-senyum dalam hatinya.


"Sungguh Pak Aftar, kemesraanmu membuat aku ngiler." Vino tertawa dalam hatinya.


****


Setelah menempuh perjalanan yang tidak terlalu jauh dari kantornya. Akhirnya mereka sampai di sebuah mall elit yang tentunya hanya kalangan orang-orang kaya yang sering masuk ke mall ini.


Caca yang tidak biasa masuk ke dalam mall seelit ini dia tampak canggung.


"Ayo kak," ajak Kinan.


"Kinan, sungguh aku belum pernah masuk ke tempat seelit ini. Pasti yang masuk ke dalam sini hanya orang-orang berduit," kata Caca. Kakinya tampak ragu untuk melangkah masuk ke dalam.


"Kamu juga bisa masuk, tidak usah kawatir ada aku!" Vino meyakinkan Caca, lalu tanpa sadar Vino mengandeng tangan Caca masuk ke dalam mall.


Aftar juga mengandeng tangan Kinan. "Biarkan mereka dekat! Percayalah padaku, Vino adalah laki-laki baik!" Aftar kembali meyakinkan Kinan dan Kinan mengangguk.


Kini mereka berempat masuk ke dalam mall itu.


"Kita mau kemana?" Tanya Aftar, matanya melihat ke arah Vino.


"Bagaimana, kalau kita main game? Setelah main game kita pergi nonton, lalu kita makan bersama sebelum pulang." Jawab Vino, yang membuat Aftar tertawa kecil.


"Sejak kapan Vino suka semua ini? Bukankah dia paling malas kalau pergi menonton." Aftar tertawa dalam hatinya.


"Vino, apa kamu sudah gila? Tapi sudahlah biasanya kan perempuan memang sukanya hal-hal seperti itu, apalagi kalau flimnya romantis pasti akan seru dan tentunya banyak adegan yang bikin ngeces," pikiran Vino mulai traveling. Kini dia senyam-senyum dalam hatinya.


Caca dan Kinan saling menatap satu sama lain. Lalu mereka sama-sama menganggukan kepalanya pertanda setuju.


"Boleh," jawab Kinan dan Caca secara bersamaan.


Akan seperti apa kencan mereka nanti?


BERSAMBUNG 😊


Terimakasih para pembaca setia 🤗