
Beberapa hari telah berlalu, Aftar sedang sibuk dengan pekerjaannya di kantornya dia terus sibuk dengan laptopnya.
Vino yang dari tadi juga sedang sibuk dengan pekerjaannya, kini dia telah selesai lalu Vino membawa semua berkas-berkas yang sudah tertata rapi ke ruangan Aftar untuk minta di tanda tangani.
Di perjalanan menuju ke ruangan Aftar, Vino melihat Caca sedang sibuk dengan sapu dan kain lap di pundaknya. Seketika hati Vino merasa ibah, dengan gaji dia yang cukup besar apakah dia rela melihat Caca menjadi cleaning servis? Tapi Vino juga tahu ini adalah pekerjaan Caca jadi ya Vino harus menghargainya.
"Selamat pagi Pak Vino," sapa Caca dengan lembut. Biarpun mereka pacaran tapi kalau di kantor mereka tetap atas dan bawaan.
"Selamat pagi juga," jawab Vino. Kali ini senyumnya begitu manis.
Vino berjalan mendekati Caca lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Caca.
"Pak Vino, mau apa? Aduh aku takut dia macam-macam," batin Caca dalam hatinya.
"Jangan lupa sarapan! Jangan terlalu capek, nanti pulang bareng ya, tunggu aku di lobby bawah!" Bisik Vino di telinga Caca dan Caca hanya mengangguk pelan.
Caca berlalu pergi menuju ke ruangan Aftar. Sesampainya di ruangan Aftar, Vino menaruh berkas-berkas yang di bawanya di atas meja kerja Aftar.
"Pak, ini berkas-berkas yang harus di tanda tangani ya!" Kata Vino dan di anggukin oleh Aftar.
Aftar mengalihkan pandangannya kini pandangannya beralih melihat Vino.
"Ada yang bisa saya bantu pak?" Tanya Vino, dia agak risih dengan pandangan bosnya itu.
"Tidak, kamu pagi ini terlihat begitu bahagia tidak seperti biasanya," jawab Aftar dengan nada meledek.
Seketika wajah Vino menjadi merah mengingat pagi ini dia sudah bertemu dengan Caca, ya wajar kalau Vino pagi ini terlihat begitu bahagia.
"Ah Pak Aftar bisa saja, Pak Aftar juga setelah menikah sekarang banyak berubah," jawab Vino dengan nada meledek juga.
Tentu saja Aftar sangat bahagia, punya istri secantik Kinan.
"Sudahlah, ayo kita pergi meeting! Kali ini klien kita pengusaha muda dia sangat cantik," kata Aftar dia tersenyum jail. Dalam hati Vino aku tidak akan tertarik dengan wanita lain.
"Ah dasar Pak Aftar, kalau ada Nona Kinan mana berani dia berkata seperti itu," batin Vino dalam hatinya.
"Hati-hati pak, kalau Nona Kinan tahu pasti dia akan memanyunkan bibirnya." Vino tertawa kecil, seolah-olah meledek bosnya.
"Ehem...ehem.....!!"
Tiba-tiba terdengar suara deheman, jantung Aftar berasa mau copot. Suara yang di dengar sungguh tidak asing, pelan-pelan Aftar mengarahkan matanya ke pintu ruangannya, Vino juga melakukan hal yang sama. Melihat ternyata Kinan yang datang dengan wajah agak manyun membuat Aftar langsung diam. Vino terus senyam-senyum, dia tahu saat ini bos nya sedang dalam bahaya.
"Nah kan Nona Kinan datang, pasti akan terjadi perang." Vino terawa dalam hatinya.
Kinan melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan Aftar.
"Sayang, kok kamu datang tidak bilang dulu?" Tanya Aftar, dia tahu pasti Kinan merasa kesal mendengar pembicaraannya dengan Vino tadi.
"Tidak, aku sengaja tidak bilang," jawab Kinan dengan nada agak jutek.
"Duduklah sayang!" Aftar meraih tangan Kinan lalu mengantarkan Kinan duduk di sofa.
"Aku mau pergi meeting dulu, kamu tunggu disini ya sayang!" Kata Aftar dengan nada lembut, dia melihat Kinan raut wajahnya tampak kesal.
"Hmm, kliennya muda dan sangat cantik." Kinan melirik Aftar dengan tatapan kesal dan Aftar hanya tersenyum simpul. Lalu mencium kening Kinan dengan lembut.
"Susah kalau sudah cemburu, tapi aku juga harus bertemu dengan klien." Batin Aftar dalam hatinya.
Setelah suaminya pergi, Kinan tampak gusar kliennya suaminya itu secantik apa? Rasanya sangat penasaran. Dengan rasa penasaran yang ada di dalam hatinya, Kinan keluar dari ruangan Aftar lalu dia menuju ke ruangan meeting.
Sesampainya di ruang meeting dia mengintip dari dinding kaca, iya biarpun tidak jelas tapi Kinan tetap mengintip. Caca yang melihat Kinan sedang mengendap-endap terlihat bingung lalu berjalan menghampiri Kinan.
"Bukankah itu Kinan, dia sedang apa?" Tanya Caca pada dirinya sendiri.
"Kinan, kamu sedang apa?" Caca menepuk-nepuk pundak Kinan dan Kinan menoleh. "Lihat, katanya klien hari ini sangat cantik. Sungguh aku sangat penasaran sekali, seperti apa wanita itu?" Jawab Kinan dan Caca juga seketika merasa kesal.
"Berati Vino juga sedang bertemu dengan klien cantik, awas saja jika dia sampai main lirik-lirik manja." Batin Caca dalam hatinya.
Sekarang bukan hanya Kinan yang mengendap-endap ingin melihat ke dalam ruang meeting. Karena Caca juga sekarang ikut mengendap-endap berusaha melihat ke dalam ruangan meeting.
"Kinan, ini tidak terlihat sama sekali." Kata Caca, dengan nada kesal.
"Iya kak, ruang meeting ini kedap suara dan kacanya juga tidak tembus pandang. Lalu bagaimana kita bisa melihat ke dalam?" Kinan sejenak berpikir, ada cara lain untuk melihat ke ruangan meeting?
Seketika Kinan punya ide cemerlang, lalu dia tersenyum pada Caca.
"Kamu, kenapa senyam-senyum?" Tanya Caca penasaran.
"Kak, antarkan minuman ke dalam sana!" Suruh Kinan dan Caca menganggukan kepalanya.
Caca pergi ke dapur untuk mengambil minuman, setelah itu Caca kembali ke ruangan meeting sambil membawa minuman.
Di ruangan meeting, kini sedang meeting dan Caca tiba-tiba mengantarkan minuman lalu menaruhnya di atas meja. Aftar diam-diam tersenyum, dia tahu pasti Caca di suruh oleh istrinya.
"Caca, apa kamu juga seperti Nona Kinan penasaran dengan apa terjadi di dalam ruang meeting dan saat sedang meeting kamu malah membawakan minuman kesini." Batin Vino di dalam hatinya.
"Pak Aftar, bagaimana kalau kita nanti malam pergi makan malam bersama?" Tanya Aurel, tatapan matanya begitu dalam pada Aftar.
"Oh iya, sekretaris Vino juga ikut saja! Nanti saya juga akan mengajak Heslin, anggap saja kita...." Kata-kata Aurel terhenti.
Caca komat-kamit, sambil berjalan menuju keluar dari dalam ruangan meeting.
"Awas saja jika Vino sampai genit-genit dengan wanita lain. Aku akan mencabik-cabik dirimu," batin Caca meronta-ronta.
"Aku juga akan mengajak istriku nanti!" Jawab Aftar sebelum Aurel melanjutkan kata-katanya.
Aurel agak terkejut, pengusaha semuda Aftar ternyata dia sudah punya seorang istri.
"Tapi pak, inikan makan malam bersama klien." Secara tidak langsung, Aurel tidak suka jika Aftar mengajak istrinya.
Vino tersenyum, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Aftar.
"Terima saja pak, ajakan makan malam Nona Aurel. Ayo kita test seberapa cemburu Nona Kinan dan Caca pada kita," bisik Vino dengan jail.
Aftar tersenyum jail, benar bapa salahnya? Mengetes rasa cemburu pasangan mereka. Jangan hanya Aftar dan Vino yang terus-terusan merasakan perasaan cemburu.
"Baiklah, mari kita makan malam bersama Nona Aurel dan Nona Heslin," jawab Aftar sambil tersenyum.
Entah apa yang akan terjadi nanti dan apa yang akan di lakukan oleh Kinan dan Caca?
BERSAMBUNG 🙏
Terimakasih para pembaca setia 😊