Menikah Kontrak 100 Hari

Menikah Kontrak 100 Hari
Ternyata suamiku lebih pintar


Setelah beberapa lama, akhirnya Aftar selesai memasak dan mereka menikmati masakan Aftar berdua di atas meja makan.


Setelah selesai makan, Aftar mengajak Kinan ke halaman rumahnya mereka duduk di kursi taman yang ada di belakang rumah.


Sambil melihat indahnya pemandangan langit malam ini, Aftar tampak bahagia, Kinan juga terlihat begitu nyaman duduk di sebelah Aftar.


Tiba-tiba Aftar meraih tangan Kinan, lalu menggenggam tangan Kinan dengan erat. "Sayang, tadi sebenarnya perut kamu tidak sakitkan?" Tanya Aftar tiba-tiba.


Kinan agak terkejut, tapi Kinan juga tidak mau bohong. "Iya mas, aku hanya berbohong pada mas. Aku tidak mau mas mengurusin Karin dia kan cuma mantan kekasih mas," jawab Kinan jujur dengan raut wajah kesal.


"Tapi kok mas tahu kalau aku sebenarnya tidak sakit perut?" Tanya Kinan malu-malu.


"Akting kamu kurang meyakinkan," jawab Aftar sambil tertawa kecil.


Waktu Kinan bilang dia tiba-tiba sakit perut, Aftar sebenarnya tidak percaya dan waktu Aftar sedang terdiam sambil berpikir, dia juga sebenarnya sudah berpikir lebih baik yang menjemput Karin itu Vino. Karena Aftar juga tidak mau kalau sampai Kinan marah pada dirinya, tapi belum sempat mengatakan semua itu Kinan malah tiba-tiba perutnya sakit, jadi Aftar ladenin saja akting istrinya itu. Lagian karena Kinan sakit perut, Aftar juga menang banyak karena bisa tidur memeluk Kinan dengan nyenyak.


"Sungguh, tapi mas terlihat begitu kawatir?" Tanya Kinan, matanya menatap mata Aftar dengan penuh arti.


"Hanya akting, sebenarnya mas juga malas ngurusin dia sayang tapi belum sempat mas katakan apapun, kamu sudah bilang sakit perut lebih dulu," jawab Aftar sambil tertawa, membuat Kinan juga tertawa malu.


"Ternyata suamiku lebih pintar dariku," batin Kinan dalam hatinya.


"Mas masih punya perasaan dengan Karin?" Tanya Kinan, tatapan matanya sangat ingin tahu.


"Waktu mas tahu, dia tidak sepolos dulu entahlah perasaan itu memudar begitu saja," jawab Aftar dengan begitu yakin.


Aftar menggeser duduknya lalu membawa Kinan masuk ke dalam pelukannya. "Lain kali kamu jangan berbohong lagi ya, jika kamu tidak ingin aku pergi kamu katakan saja dengan jujur istriku," pinta Aftar dengan nada lembut.


Kinan menganggukan kepalanya dalam hatinya dia sangat bahagia, karena suaminya ternyata sudah tidak memiliki perasaan pada mantan kekasihnya itu.


"Kamu sendiri, kamu masih mencintai Arga?" Tanya Aftar dengan nada serius sambil melepaskan tubuh Kinan dari dalam pelukannya.


"Tidak mas, Arga sudah bahagia dengan wanita pilihan mamanya," jawab Kinan sambil tersenyum.


Mungkin dulu Kinan pernah merasakan sangat berat untuk melepaskan Arga, tapi Kinan juga tidak bisa terus bertahan dengan Arga karena orang tua Arga yang sangat tidak setuju jika Arga bersama Kinan.


"Kenapa, kamu dulu berpisah dengan Arga?" Tanya Aftar dengan tatapan mata ingin tahu.


Kinan menarik nafasnya, lalu menghembuskan dengan pelan. "Karena Nyonya Rosa yang menyuruhku berpisah dengan Arga, jika tidak makan Nyonya Rosa akan mencekai Arga." Jawab Kinan.


Kinan ingat sekali dengan ancaman Rosa waktu itu yang tidak lain adalah mamanya Arga.


"Sekejam itukah orang tua Arga?" Aftar tidak percaya, kok bisa ada orang tua yang berbuat seperti itu.


Kinan tersenyum. "Mas, setiap orang tua ingin anaknya bahagia. Ya contohnya seperti orang tua Arga, beliau tidak mau aku bersama dengan Arga karena aku ini hanya gadis yatim piatu yang miskin mas." Tutur Kinan dengan nada lembut.


Aftar mengerti bagaimana perasaan Kinan saat ini.


"Kinan, aku janji aku akan membuatmu bahagia dan jika ada orang yang berani menyakitimu, maka aku akan menghajar orang itu dengan kedua tanganku sendiri," batin Aftar dalam hatinya.


"Hush.. sudahlah jangan di bahas! Sekarang, kamu sudah punya mas yang tulus sayang dan mencintaimu apa adanya," Aftar menatap Kinan dengan tatapan yang begitu lekat.


Di mata mereka, kini sama-sama memancarkan perasaan cinta mereka. Biarpun Kinan belum mengatakan kalau dia mencintai Aftar. Tapi mata Kinan tidak bisa bohong kalau dirinya begitu bahagia dan nyaman di samping Aftar.


Kini mereka berdua sudah berada di dalam kamar, Aftar membaringkan tubuhnya di atas ranjang tempat tidur dan Kinan tidur di pelukan Aftar dengan begitu nyaman.


Vino.


Vino baru saja pulang dari kantor. Dia langsung membaringkan tubuhnya di atas sofa rasanya kesepian sekali karena setiap hari hanya tinggal sendirian.


"Dulu waktu belum punya istri sih bos sering main ke rumah, kalau sekarang jangan harap Vin. Bos mu akan datang dan mengajakmu makan malam berdua, membicarakan hal tidak penting tentang cinta padahal Aftar juga tidak mengerti tentang cinta," Vino berdecak kesal rasa kesepian setiap malam menyelimuti hatinya.


Dulu waktu Aftar dan Vino masih sama-sama lajang Aftar sering menghabiskan waktu bersama dengan Vino ya biarpun mereka hanya main ps berdua, mengobrolkan hal tidak penting dan tentunya membicarakan tentang Karin karena waktu itu Aftar masih berpacaran dengan Karin. Tapi setelah menikah, seketika Aftar lebih suka menghabiskan waktu dengan istrinya setiap hari.


"Apa, aku juga harus menikah? Tapi pacar saja aku tidak punya," Vino senyam-senyum. Dasar jomblo tidak ada ahlak.


"Sepertinya aku harus segera mencari seorang istri, tapi siapa yang mau jadi istriku?" Vino terus berbicara sendiri sangking kesepiannya.


Vino beranjak dari sofa dan berjalan menuju ke kamarnya, entah apa yang harus dia lakukan? Dia sendiri saja tidak tahu.


Akhirnya Vino memilih berbaring di tempat tidurnya hingga tertidur dan Vino tidak mandi lebih dulu.


Arga dan Vira.


Malam semakin larut Vira duduk di atas ranjang tempat tidur. Sedangkan Arga baru saja selesai mandi.


"Kamu kok belum tidur? Sudah malam, tidurlah nonton dramanya bisa besok lagi!" Omel Arga yang melihat Vira masih sibuk dengan ponselnya karena sedang menonton Film drama kesukaannya.


"Aku belum mengantuk," jawab Vira dengan nada lembut.


Arga berjalan menuju ke tempat tidur, lalu dia duduk di tepi ranjang. Matanya terus menatap mata Vira dengan tatapan penuh arti.


"Mas, kenapa menatapku seperti itu?" Tanya Vira raut wajahnya tampak merah merona.


Arga tersenyum. "Kenapa? Aku hanya ingin melihat wajah cantik istriku," Arga membelai rambut Vira dengan lembut.


Kali ini desiran darah Vira mengalir begitu cepat, jantungnya juga berdebar kencang karena merasa belaian dari suaminya.


"Mas, sudah malam ayo kita tidur!" Ajak Vira dia berusaha mengalihkan rasa gugupnya saat ini.


"Sayang, bolehkah aku meminta hakku sebagai seorang suami?" Tanya Arga dengan tatapan penuh harap.


Vira ternganga tidak percaya, apakah ini mimpi atau nyata?


"Mas, apa kamu serius?" Tanya Vira memastikan.


"Sayang...."


BERSAMBUNG 😊


Terimakasih para pembaca setia 🤗


Promo karya ini ah biar rame juga 😁