Menikah Kontrak 100 Hari

Menikah Kontrak 100 Hari
Kopi rasa garam


"Oh iya, bagaimana menurutmu tentang gadis yang kemarin makan siang bersamamu? Aku rasa dia cocok untukmu," Aftar tersenyum jail.


"Maksudnya?"


Vino menatap Aftar dengan tatapan penuh tanda tanya? Tapi Aftar malah mendengus kesal.


"Dasar pura-pura lupa padahal baru kemarin makan siang berdua," batin Aftar dalam hatinya.


Aftar tiba-tiba tersenyum, dia melihat Caca yang sedang berjalan sambil membawa sapu.


"Itu gadis yang membawa sapu, cantik juga ternyata." Aftar melihat Caca dan sorot mata Vino juga mengikuti sorot mata Aftar.


"Dasar gadis sapu buat apa juga kamu lewat tiba-tiba," batin Vino dalam hatinya.


"Pak Aftar apaan sih? Sudahlah saya mau melanjutkan pekerjaan saya," Vino berlalu pergi sambil melirik Caca diam-diam.


"Dia memang cantik, tapi sayangnya aku sangat kesal padanya," batin Vino dalam hatinya.


Setelah vino berlalu pergi Aftar hanya menggelengkan kepalanya.


"Sampai kapan kamu akan menutup hatimu Vin? Nana juga bakalan sedih jika kamu terus seperti ini," batin Aftar dalam hatinya.


Vira dan Arga.


Arga baru saja selesai sarapan, Vira yang sedang duduk tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya dan dia pergi menuju ke kamar mandi.


"Sayang, mau kemana?" Tanya Arga tapi Vira tidak memperdulikan pertanyaan Arga.


Di dalam kamar mandi, Vira tiba-tiba muntah-muntah. "Hoek...hoek...hoek."


Arga berlari menuju ke kamar mandi dia terlihat panik karena istrinya muntah-muntah di dalam kamar sana.


Sesampainya di kamar mandi, Arga terlihat panik karena Vira terus muntah-muntah.


"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Arga dengan nada panik.


Vira terus memuntahkan isi perutnya, kini cairan kental itu keluar dari dalam mulutnya dan itu membuat Arga semakin panik.


Arga memegang tekuk leher Vira lalu memijatnya dengan pelan. "Kamu kenapa? Kita ke Dokter saja ya!" Kata Arga, dia sangat panik.


Vira menyandarkan tubuhnya di tembok, wajahnya terlihat pucat dan tubuhnya rasanya sangat lemas sekali.


"Ayo kita ke Dokter saja!" Ajak Arga untuk kesekian kalinya.


Vira menggelengang kepalanya, lalu Arga memapah Vira berjalan keluar dari dalam kamar mandi. Kini mereka sudah duduk di sofa, dengan raut wajah yang begitu pucat dan Arga juga sangat kawatir, Arga terus memijat-mijat tekuk leher Vira.


"Bagaimana sudah enakan?" Tanya Arga dengan nada lembut.


"Kepala aku pusing sayang, rasanya sangat mual sekali," jawab Vira dengan suara lemas.


Arga tidak tahu Vira kenapa? Karena dia tidak biasanya muntah-muntah seperti pagi ini.


"Sayang, bantu aku masuk ke kamar ya kepalaku pusing sekali," lirih Vira dengan nada lembut.


Arga memapah Vira masuk ke dalam kamar lalu sesampainya di kamar Arga membaringkan Vira di atas ranjang tempat tidur.


Vira hanya memejamkan matanya wajahnya sangat pucat. "Kita ke rumah sakit ya," tutur Arga dengan nada lembut tapi Vira menggelengang kepalanya seolah-olah menolak di ajak ke Dokter.


___


Kinan


Jam menunjukkan pukul 10 pagi Kinan baru bangun dari tidurnya, maklum hari ini dia di buat kelelahan oleh suaminya.


Kinan langsung masuk ke dalam kamar mandi dia berendam bathtub untuk membersihkan tubuhnya.


"Badanku sakit semua dasar Mas Aftar dia itu ganas sekali. Sekalinya ngajak main berulang kali," keluh Kinan dia memijat punggungnya dengan tangannya.


Setelah selesai berendam Kinan langsung berganti pakaian, setelah selesai berganti pakaian, Kinan keluar dari kamarnya dia pergi menuju ke dapur untuk membuat makanan.


Sesampainya di dapur Kinan membuat mie instan dan setelah matang dia memakannya.


Kinan merasa kesepian karena harus makan sendirian Sanjaya juga belum pulang.


__


Di kantor Aftar


Caca yang sedang di dapur buru-buru pergi karena melihat sosok Vino.


"Ada Pak Vino, dasar laki-laki menyebalkan pasti dia akan marah-marah lagi," batin Caca dalam hatinya.


"Mau kemana kamu? Buatkan aku kopi!" Suruh Vino dengan seenaknya sendiri.


"Kapan pak?" Tanya Caca, raut wajahnya tampak kesal saat melihat Vino begitu tengil.


"Dasar sukanya seenaknya sendiri," batin Caca dalam hatinya.


Dalam hati Vino, apa dia ini b*doh? Dasar gadis sapu menyebalkan. Bisa-bisanya dia bersikap menggemaskan seperti ini, menurut Vino Caca itu begitu menggemaskan.


"Tahun depan, ya sekaranglah!" Suruh Vino dengan raut wajah begitu jutek.


Caca mengerti dan dia langsung pergi membuatkan kopi untuk Vino. Sebenarnya Caca merasa kesal tapi mau bagaimana lagi? Vino juga atasannya jika dia menolak untuk membuatkan kopi pasti Vino juga akan marah.


"Antarkan ke ruanganku!" Suruh Vino, dia berlalu pergi dari dapur.


Caca membuat kopi setelah selesai membuat kopi, Caca langsung membawa kopi yang di buatnya ke ruangan Vino.


Sesampainya di ruangan Vino Caca mengetuk pintu ruangan Vino. "Tok..tok..tok," suara ketukan pintu.


"Masuklah!" Jawab Vino dari dalam ruangannya.


"Ceklek..." Suara gagang pintu.


Caca melangkahkan kakinya menuju ke dalam ruangan Vino, rasanya sangat males tapi mau bagaimana lagi?


"Pak, ini kopinya." Caca menaruh kopi di atas meja kerja Vino.


Sekilas Vino diam-diam melirik Caca dengan lirikan begitu lembut.


"Dia ternyata cantik juga," diam-diam Vino memuji Caca dalam hatinya.


Vino mengambil cangkir kopi yang ada di atas meja kerjanya lalu dia mencoba buatan Caca.


"Ini kopi rasanya asin sekali," gumam Vino dalam hatinya.


Caca cengar-cengir, dia tahu pasti Vino merasakan asin pada kopinya.


"Rasain nikmati kopi rasa garam," batin Caca dalam hatinya.


Caca sengaja menganti gula dengan garam karena dia merasa sangat kesal pada Vino. gara-gara Vino menyebalkan dan dia juga sangat tengil sekali.


"Kenapa, kopi ini rasanya asin sekali?" Vino melirik Caca dengan tatapan penuh kesal.


Caca hanya tersenyum kecil. "Masa sih pak," jawab Caca pura-pura tidak tahu.


Dalam hati Vino, aku yakin pasti kopi ini sudah di kasih racun oleh gadis sapu. Dasar awas saja aku pasti akan membalasnya nanti.


"Kamu rasakan saja sendiri," cetus Vino dengan begitu kesal.


"Maaf pak, saya rasa jika saya meminum kopi bapak itu rasanya tidak sopan sekali," jawab Caca dengan nada lembut.


"Iyalah tidak mau, kamu pasti tahu kalau kopi ini kopi rasa garam," batin Vino dalam hatinya.


Vino mendengus kesal. "Kamu duduklah!" Suruh Vino dengan ketus.


Caca duduk di kursi yang terbatas oleh meja kerja Vino. "Tapi, saya mau melanjutkan pekerjaan saya pak." Lirih Caca, dia hanya menundukkan kepalanya.


"Hanya 5 menit, aku mau kamu menjawab pertanyaanku!" Vino menatap Caca dengan tatapan penuh tanda tanya?


"Bapak mau tanya apa?" Tanya Caca bingung.


"Apa, kamu sudah punya kekasih?" Tanya Vino tanpa basa-basi.


"Saya...."


BERSAMBUNG 🙏


Terimakasih para pembaca setia 😊


Baru sempat up, maaf ya kakak-kakak semuanya 🤗