
"Kinan, kamu dengar aku bicara tidak?" Tatapan mata Aftar semakin tajam.
"Baiklah, katakan syaratnya apa?" Tanya Kinan dengan begitu malas.
"Kamu boleh masak di dapur, tapi harus aku yang menemanimu." Jawab Dafa dengan senyum liciknya.
Kinan tidak percaya dengan apa yang dia dengar, sungguh ini sebuah syarat atau akal-akalan bosnya saja agar bisa lebih dekat dengan dirinya dan tentunya memanfaatkan kesempatan yang ada.
"Mending, aku tidak usah masak saja mas!" Jawab Kinan dengan begitu yakin, Kinan mengeluarkan tangannya dari dalam baskom.
Aftar mengambil handuk kecil, lalu mengelap tangan Kinan dengan handuk. "Kamu, tidak mau masak berdua denganku?" Tanya Aftar dan Kinan menggelengang kepalanya.
"Aku tidak mau sampai jatuh cinta denganmu Pak Aftar atau aku yang akan terluka saat wanita yang kamu tunggu itu datang kembali." Batin Kinan dalam hatinya.
Kinan sadar cinta itu bisa datang kapan saja apalagi dirinya selalu berdua dengan Aftar, jadi untuk menghindari agar tidak jatuh cinta pada Aftar. Kinan saat ini tidak memakai hatinya tapi ntah suatu hari nanti apa yang akan terjadi?
"Tanganmu masih sakit?" Tanya Aftar kini tangannya memegang tangan Kinan sambil mengusap-usap tangan Kinan.
Kinan melepaskan tangannya dari tangan Aftar. "Takut hilaf, mas!" Kinan tersenyum jail dan beranjak dari tempat duduknya.
Kinan berjalan menuju ke ruang tengah, kini dirinya duduk sambil menonton televisi sedangkan Aftar masih terdiam sambil senyam-senyum sendiri seperti orang kesambet.
"Pak Aftar, kenapa?" Tanya Bi Ijah, Aftar menggelengang kepalanya kini dia merasa malu dan langsung pergi menyusul Kinan yang sedang duduk di sofa ruang tengah.
Aftar duduk di sebelah Kinan, lalu Kinan menggeser duduknya. "Jangan dekat-dekat, itukan masih luas." Kinan memayunkan bibirnya tapi Aftar malah tersenyum. "Diamlah! Ada kakek sedang berjalan menuju kesini," Aftar mengedipkan matanya memberikan isyarat pada Kinan.
Aftar kembali menggeser duduknya, kini dia sudah duduk di sebelah Kinan. Kinan juga tidak bisa berkutik karena Sanjaya sudah duduk di sofa juga.
Sanjaya melihat Aftar dan Kinan yang kini duduk berdempetan tanpa jarak. "Kalian lengket ya seperti amplop dan prangko," ledek Sanjaya sambil tertawa.
Seketika wajah Kinan berubah menjadi merah merona. "Kek, Kinan bantu bibi di dapur dulu untuk menyiapkan makan malam." Kinan beranjak dari tempat duduknya, berniat jalan ke dapur tapi tangan Aftar sudah menahan tangan Kinan. "Apa, kamu tidak mendengar apa yang dikatakan oleh suamimu? Perlukah aku mengulanginya lagi?" Tanya Aftar dengan lirikan penuh rasa kesal.
Buru-buru Kinan kembali duduk dan tidak jadi pergi ke dapur, Sanjaya melirik Aftar. "Aftar, bicaralah yang lembut pada istrimu!" Omel Sanjaya pada Aftar.
"Habisan dia bandel kek, di bilangin sekali tidak mau ngerti." Jawab Aftar, Kinan hanya diam saja.
"Nak, menurutlah pada suamimu! Dia memang seperti itu tidak suka di bantah oleh siapapun," Sanjaya tersenyum pada Kinan dan Kinan menganggukkan kepalanya pertanda mengerti.
Setelah beberapa lama, akhirnya masakan untuk makan malam semuanya sudah siap.
Kinan Sanjaya, Aftar dan Kinan menuju ke tempat makan untuk makan malam bersama. Mereka makan malam dengan tenang, Kinan juga tampak bahagia karena akhirnya dia punya keluarga dan tidak makan sendirian lagi seperti hari-hari biasanya.
Setelah selesai makan malam, Aftar dan Kinan berpamitan pada Sanjaya untuk masuk ke dalam kamar mereka.
Setelah cucu-cucunya masuk Sanjaya kembali duduk di ruang tengah bersama Bi Ijah dan Bi Inah. Mereka biasa menonton televisi bersama agar Sanjaya tidak merasa kesepian juga.
"Kalian lihat, akhirnya cucuku menikah." Sanjaya begitu bahagia membuat Ijah dan Inah juga bahagia.
"Iya pak, semenjak Pak Aftar menikah juga dia banyak perubahan pak. Sekarang Pak Aftar terlihat bahagia dan ada saja yang di ributkan dengan Nona Kinan." Cerita Ijah, "Iya pak, saya lihat mereka sangat serasi pak." Sambung Inah.
Sanjaya terus tersenyum bahagia. "Kita, nguping yuk kira-kira Kinan dan Aftar sedang apa di kamar mereka?" Sanjaya tersenyum licik, sungguh jail sekali kakek satu ini.
Inah dan Ijah menganggukkan kepalanya secara bersamaan, mereka setuju dengan ide Sanjaya. Lagian mereka juga penasaran dengan kegiatan Aftar dan Kinan di dalam kamar mereka.
Kini Sanjaya, Ijah dan Inah sudah berada di depan pintu kamar Kinan dan Aftar yang tertutup rapat dan terkunci dari dalam sana.
Sanjaya menempel kupingnya tepat di pintu, Ijah juga melakukan hal yang sama sedangkan Inah berada di belakang mereka. Kini mereka bertiga serius menguping agar tahu Kinan dan Aftar sedang apa di dalam kamarnya sana?
"Auhh, mas pelan-pelan sakit!" Kinan agak sedikit betriak karena merasa kesakitan.
"Ini, aku udah pelan-pelan. Kamu nya saja tidak bisa diam. Diamlah semakin banyak gerak maka akan semakin sakit!" Jawab Aftar, sambil menahan senyumnya.
"Kamu bisa diam tidak sih! Hanya sebentar, kalau sakit kamu tahan saja!" Aftar malah mengomeli Kinan, padahal Kinan sudah merintih kesakitan tapi Aftar tidak perduli.
Samar-samar suara Kinan dan Aftar terdengar, Sanjaya tertawa kecil sambil menutup mulutnya.
"Yes, akhirnya keturunan Sanjaya bakal lahir ke dunia ini." Sanjaya sangat bahagia, padahal dia tidak tahu apa yang sebenarnya Kinan dan Aftar lakukan di dalam kamar berdua?
"Ayo pak, kita pergi dari sini! Nanti kita ketahuan," ajak Ijah dan Inah.
Mereka bertiga pergi dari pintu kamar Aftar dan Kinan. Sanjaya terus tersenyum bahagia, sungguh dia tidak sabar ingin mengendong cicit dari cucu satu-satunya itu.
"Auhh, sakit mas!!" Kinan memegangi kakinya yang dari tadi di pijat oleh Aftar.
"Bagaimana, sudah enakan? Coba gerakan sakit tidak?" Tanya Aftar dengan raut wajah kesal.
Kinan mencoba menggerak-gerakkan kakinya lalu dia tersenyum. "Sudah mendingan mas, tidak sesakit tadi," Kinan tampak bahagia sambil memegangi kakinya.
"Besok kita cek ke rumah sakit, aku takut ada tulang yang patah." Kata Aftar dengan wajah menyebalkannya.
"Tidak perlu! Nanti setelah istirahat pasti akan sembuh. Lagian tadi jatuhnya juga tidak terlalu keras mas," Kinan mencoba memberikan pengertian pada Aftar.
"Apa, sungguh tidak apa-apa?" Aftar memastikan.
Kinan menganggukkan kepalanya untuk meyakinkan Aftar.
"Kamu, istirahatlah! Malam ini kamu tidur di kasur, aku akan tidur di sofa." Aftar mengambil selimut dan bantal lalu pergi menuju ke sofa.
Kinan tersenyum, melihat Aftar yang mau mengalah dengan suka rela padahal biasanya apa-apa harus di ributkan dulu termasuk masalah tempat tidur.
Aftar membaringkan tubuhnya di atas Sofa, Kinan juga membaringkan tubuhnya di atas kasur yang empuk.
Jadi tadi itu Kinan tidak sengaja terpeleset di dalam kamar mandi dan mungkin kakinya keseleo gara-gara jatuh. Dan Aftar memijat kaki Kinan agar tidak sampai bengkak, ehh Sanjaya malah berpikiran yang tidak-tidak.
Aftar hendak memejamkan matanya, tapi tiba-tiba ponsel miliknya berbunyi dan itu ternyata telpon dari Karin.
"Sudah malam, ada apa kamu menelponku?" Tanya Aftar dengan ketus.
"Sayang, aku akan pulang. Apa kamu tidak merindukanku?" Tanya Karin dengan sok imut.
"Kapan, kamu pulang?" Tanya Aftar.
"Besok pagi, mungkin sore aku sudah sampai di kota kelahiran aku." Jawab Karin dengan begitu bahagia.
"Baiklah," jawab Aftar singkat.
Karin terdiam sejenak, dia berpikir sepertinya Aftar berubah.
"Mungkin, karena terlalu sibuk jadi Aftar begitu cuek dan ketus padaku." Batin Karin dalam hatinya.
"Nanti jemput aku ya di bandara!" Pinta Karin.
"Iya baiklah," jawab Aftar singkat dan langsung mematikan saluran teleponnya.
Karin semakin bingung di buatnya, tapi lagi-lagi Karin menepis pikiran buruk yang ada di otaknya saat ini.
BERSAMBUNG ๐
Terimakasih para pembaca setia๐