Menikah Kontrak 100 Hari

Menikah Kontrak 100 Hari
Harganya puluhan juta


"Itu, burung peliharaan milik mas...." jawab Vira, terlihat begitu takut.


"Kamu bilang apa sayang?" Arga kembali bertanya.


Vira menatap Arga dengan tatapan sulit di artikan, karena takut suaminya akan marah pada dirinya.


"Massss....itu daging sambal balado itu, sebenarnya daging burung peliharaan kamu." Vira memperjelas perkataannya, tapi dalam hatinya menyimpan rasa takut yang begitu dalam."Aku yakin Mas Arga akan marah, tapi biarkan sajalah, lagian burung dielus-elus setiap hari," batin Vira dalam hatinya.


"Vira, apa kamu bilang?" tanya Arga, tatapannya begitu garang pada Vira.


"Kamu tahu, berapa harga burung itu sayangku, istriku?" tanya Arga dengan suara akan menekan.


"Sungguh istriku, rasanya ingin sekali aku marah padanya tapi kasian," batin Arga dalam hatinya.


"Memang harga burung itu berapa mas? Lagian itu burung juga cuma beli di pasar," celoteh Vira raut wajahnya begitu polos tanpa merasa berdosa.


"Paling harganya tidak sampai 500 ribu," pikir Vira dalam hatinya.


Arga hanya bisa garuk-garuk kepala, sungguh istrinya ini memang tidak tahu menahu akan hal-hal tentang burung, burung peliharaan yang Arga beli Vira juga tidak tahu harganya karena Arga tidak mau memberitahukan pada istrinya, takut sang istri akan mengamuk dan akhirnya menjadi masalah.


Padahal jika Vira membeli barang-barang branded yang harganya ratusan juta hingga miliaran rupiah Arga tidak apa-apa, tapi jika tahu harga burung peliharaan Arga harganya puluhan juta pasti Vira akan mengamuk.


"Sayang, itu bukan burung sembarangan, mas juga tidak membelinya di pasar, harganya burung itu 78 juta sayangku," terang Arga membuat Vira menganga tidak percaya.


"78 juta, mas gunakan untuk membeli burung, sungguh mas ini keterlaluan," gumam Vira yang tentu saja di dengar oleh Arga.


Arga kembali menggaruk-garuk kepalanya, sungguh dia tidak mengerti lagi dengan istri tercinta itu.


"Sayang, mas beli burung cuma satu, kamu beli barang branded begitu banyak," celoteh Arga tidak terima.


Arga menatap kembali piring makannya, rasanya ingin muntah sekali sudah memakan burung peliharaannya istrinya sendiri.


"Tapi gara-gara burung, mas tidak perhatian sama aku lagi."


"Mas lebih sayang burung itu."


"Setiap pagi mas elus-elus itu burung, bahkan mas mandiin."


"Tapi mas semakin cuek sama aku, mungkin kita saling menua mas, tapi kasih sayang dan saling perhatian itu penting!"


"Karena aku cemburu dengan burung itu, makanya aku goreng saja burung itu."


Vira malah pada Arga, aturan Arga yang harusnya marah, tapi belum sempat berbicara pada Arga, Vira juga meninggalkan Arga masuk ke dalam kamar.


Sungguh Arga hanya bisa duduk, sambil memandangi daging sambal balado yang dia makan tadi, mengingat dia makan begitu lahap rasanya ingin menangis sekali.


"Istri kalau sudah marah serem, burung harganya 78 juta saja bisa dia goreng karena rasa cemburu, maafkan aku tidak bisa menjaga kamu dengan baik," batin Arga dalam hatinya.


Vira duduk di tepi ranjang, dia menangis karena sudah menggoreng burung yang harganya hampir 100 juta itu.


"Sudahlah Vira, untuk apa kamu menangis? Baguslah jadi suami kamu tidak bermain burung lagi," kata hati Vira berbicara.


"Iya, lagian buat apa juga aku sedih? Yang penting Mas Arga tidak elus-elus burung setiap hari, sungguh aku kesal sekali." Vira menyahuti kata hatinya sendiri.


Hanya karena burung kini Vira dan Arga saling marahan, entahlah siapa yang salah disini?


******


Kini setelah selesai sarapan pagi Aftar langsung menuju ke halaman belakang, Karena mau menemui burung peliharaan kesayangannya itu.


Kinan hanya senyam-senyum, dia bahkan terlihat santai di depan semuanya.


"Mas Aftar percuma burung kesayangan kamu itu sudah tidak ada." Kinan tertawa dalam hatinya.


Kimmy dan Melly menghampiri mama mertua mereka, mereka tahu kenapa mamanya dari tadi senyam-senyum sendiri.


"Bagaimana ma?" tanya Melly, Kenzo kebingungan dan hanya diam duduk di sebelah Melly.


"Beres semuanya," jawab Kinan yang diiringi dengan tawa kecil.


"Bagus mama." Kimmy langsung mengacungkan jempolnya.


Kalandra melihat Kimmy, dia juga menatap Kimmy dengan tatapan bingung.


"Ada apa sayang?" tanya Kalandra pada Kimmy karena merasa penasaran.


"Nanti mas juga akan tahu," sahut Kimmy dan dia memilih tidak menjawab pertanyaan sang suami dengan benar.


"Lohhh....burung aku kemana?" tanya Vino, dia kaget melihat burungnya tidak ada di dalam sangkarnya.


Aftar menoleh ke arah Vino, dia juga belum mengambil sangkar burung miliknya..


"Aish, Vin tentu saja burung kamu itu ada di dalam sangkarnya situ, makanya buka biar kelihatan," sahut Aftar dengan pikirannya yang begitu nyeleh, karena mengira Vino bercanda.


Vino geleng-geleng kepala, kali ini dia melihat ke arah Aftar dengan tatapan serius.


"Serius, burung aku tidak ada di dalam sangkarnya," jelas Vino dan akhirnya Aftar juga melihat sangkar burung miliknya, dia juga kaget karena burung miliknya juga tidak ada di dalam sangkarnya itu.


"Vinnnn, burung aku juga tidak ada," kata Aftar sambil membuka sangkar burungnya dan burungnya memang sudah entah kemana?


"Mereka kemana?" tanya Aftar dan Vino secara bersamaan.


"Mama.....!!!


"Kenzo.....!!!


"Kalandra....!!!


"Kimmy, Melly, kalian kesini lah! Burung peliharaan papa tidak ada di dalam sangkarnya."


Aftar berteriak sekeras mungkin, kini Kinan dan yang lainnya langsung pergi ke halaman belakang rumah mereka.


"Caaaa..caaaa....!!"


Teriakan Vino membuat telinga Caca hampir saja pecah, Caca langsung beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke halaman belakang rumahnya untuk bertemu dengan suaminya.


"Ada apa sih pa?" tanya Kinan, dia pura-pura tidak tahu tapi dia juga menaha tawanya.


"Kenapa sih mas teriak-teriak masih pagi?" tanya Caca, dia tertawa kecil di sudut bibir mungilnya.


"Emang enak, bangun tidur burung peliharaan kesayangannya sudah entah kemana?" batin Caca dalam hatinya.


"Burung papa hilang, ma." Kata Aftar, terlihat raut wajahnya begitu sedih.


"Burung aku juga hilang ma," sambung Vino dan Caca malah ketawa-ketawa.


Kimmy dan Melly juga ikut tertawa karena mereka tahu semuanya.


"Papa, hanya masalah burung, papa teriak-teriak di pagi hari," Kenzo geleng-geleng kepala.


"Papa mertua juga, sudah sih pa tinggal beli lagi saja!" ceteluk Kalandra, membuat Vino langsung menatapnya dengan garang.


"Diam kalian....!!" kata Aftar dan Vino secara bersamaan, membuat Kenzo dan Kalandra sama-sama dian.


Kinan dan Caca diam-diam melempar senyum begitu bahagia.


"Mas, burung kamu sudah aku lepaskan dari dalam sangkarnya," jawab Kinan dan matanya Aftar langsung membulat sempurna.


"Kamu bilang apa sayang?" tanya Aftar, sungguh ingin sekali memarahi istrinya tapi ada anak-anaknya dan kedua menantunya.


"Mas, aku lepaskan burung yang ada di dalam sangkarnya itu," jelas Kinan sambil tersenyum begitu manis.


Caca melihat ke arah Vino, Vino menatap Caca meminta jawaban pada Caca.


"Aku juga melepaskan burung peliharaan mas itu," sambung Caca membuat mata Vino seketika berkaca-kaca ingin sekali menangis.


"Caca aku membeli burung itu dengan harga 50 juta, tapi malah di lepaskan begitu saja oleh Caca," batin Vino dalam hatinya.


Aftar hanya terdiam, sungguh sangat di sayangkan dia juga membeli burung itu harganya juga cukup mahal, tapi di lepaskan begitu saja oleh istrinya dari dalam sangkarnya itu.


"Tega kamu sayang...." Aftar langsung menaruh sangkar burung itu di atas tanah, lalu dia langsung masuk ke dalam rumah.


Vino juga melakukan hal yang sama, kali ini dirinya begitu marah pada Caca yang tidak lain adalah istrinya sendiri, tapi Vino juga tidak bisa marah-marah di hadapan anak dan menantunya itu.


"Mas....!!" seru Caca, tapi Vino tidak menoleh sedikitpun pada Caca.


Vino langsung masuk ke dalam kamar, Caca menghela nafas panjang, lalu dia langsung menyusul Vino masuk ke dalam kamar.


Sedangkan Aftar hanya duduk di ruang tengah, kini Kinan, anak-anaknya dan kedua menantunya juga semuanya sudah berada di ruang tengah.


BERSAMBUNG


Terimakasih para pembaca setia