Menikah Kontrak 100 Hari

Menikah Kontrak 100 Hari
Kenzo Putra Sanjaya


"Ahhchh mas, sakit mas...." Kinan terus merintih sambil memegangi perutnya.


Raut wajah Aftar terlihat panik, rasanya pingin cepat-cepat sampai di rumah sakit. Setelah beberapa lama, akhirnya Aftar sampai di rumah sakit dan dua suster langsung membawa ranjang pasien untuk membawa Kinan ke dalam ruang persalinan.


Aftar terus memegangi tangan Kinan, rasanya tidak tega melihat Kinan terus merintih-rintih kesakitan dari tadi.


"Tahan ya sayang! Kamu harus kuat," tutur Aftar dan air matanya sudah menetes di pipi mulusnya.


"Pak, mohon keluar dulu ya," pinta salah satu suster. Aftar sebenarnya tidak mau keluar dari dalam ruang persalinan tapi mau bagaimana lagi?


Aftar melangkahkan kakinya keluar, kini dia berdiri di depan pintu sambil terus berdoa.


Setengah jam telah berlalu, tapi suara tangisan bayi belum terdengar dan tiba-tiba pintu ruang persalinan terbuka.


"Ada apa dok? Bagaimana keadaan istri saya?" Tanya Aftar dengan perasaan panik.


"Kita harus melakukan operasi pak, mohon tanda tangani ini pak! Agar kita bisa...." kata dokter, belum selesai dokter bicara Aftar langsung menandatangani berkas yang di berikan oleh sang dokter.


Dokter kembali ke dalam ruangan persalinan, kini mereka sedang bekerja sama melakukan operasi.


"Sayang kamu harus kuat demi anak kita!"


"Mas mencintaimu Kinan."


"Anak papa, kamu juga harus kuat ya nak sudah lama papa menantikan kehadiran kamu di dunia ini."


Aftar terus berdoa, matanya juga tidak berhenti menangis perasaan takut kali ini menyelimuti hatinya. Mengingat istrinya belum saatnya melahirkan, tapi air ketubannya sudah pecah dan itu membuat air ketubannya tinggal sedikit jadi harus melakukan operasi.


"Kinan, kamu harus baik-baik saja berjuang demi anak kita. Mas masih butuh kamu sayang," batin Aftar dalam hatinya.


Setelah beberapa lama akhirnya tangisan bayi terdengar membuat Aftar merasa lega, tangis nya tiba-tiba menjadi senyum bahagia.


Rasanya tidak sabar ingin bertemu dengan anak dan istrinya.


Dokter juga sudah keluar dari ruang operasi.


"Bagaimana Dok?" Tanya Aftar.


"Semuanya lancar, tunggulah pak pasien akan segera di pindahkan ke ruang perawatan." jawab sang Dokter, membuat Aftar merasa lega dan perasannya begitu bahagia.


"Baik dok, terimkasih."


Dokter berlalu pergi, Aftar kembali duduk sambil menunggu Kinan di pindahkan ke ruang rawat.


Setelah beberapa lama akhirnya Kinan sudah di pindahkan di ruang VIP. Kini Kinan berbaring dan Aftar mengendong anak mereka yang telah lahir ke dunia ini.


Aftar memberikan anaknya pada Kinan, dan bayi yang masih merah itu terlihat lucu mencari p*t*ng sang mama.


"Terimakasih istriku," Aftar menghujani Kinan dengan banyak ciuman.


"Sama-sama mas, mas anak kita mau mau kasih nama siapa?" Tanya Kinan, matanya menatap bayi kecil yang saat ini sedang nyusu dengan begitu lucu.


Tidak lama kemudian, Sanjaya datang karena Aftar sudah mengabarinya.


"Kinan, cicitku...." Sanjaya begitu antusias, dia berjalan menggunakan tongkatnya.


"Kakek, pelan-pelan nanti jatuh!" Pinta Aftar dan langsung memapah Sanjaya menuju ke tempat istrinya berbaring.


Kinan tersenyum begitu bahagia, Sanjaya juga tersenyum bahagia.


"Akhirnya, calon pewarisku lahir ke dunia ini." Kata Sanajaya, terlihat wajahnya bersinar bahagia.


"Sudah kalian berikan nama?" Tanya Sanjaya, Kinan dan Aftar sama-sama menggelengkan kepalanya secara bersamaan.


"Namanya Kenzo Putra Sanjaya," kata Aftar membuat semuanya tersenyum bahagia.


Akhirnya setelah penantian yang begitu lama, Kinan melahirkan anak pertamanya yang di beri nama Kenzo Putra Sanjaya.


Kini di ruangan itu hanya ada kebahagiaan, Vino dan Caca juga langsung pergi ke rumah sakit mendengar kabar bahagia ini.


"Kinan, selamat ya sudah menjadi ibu." Caca memberikan selamat pada Kinan.


"Terimakasih kak, kamu segeralah menyusul!" Kinan tersenyum pada Vino dan Caca, dalam hati Vino aku akan segera menikahinya!


Vino dan Aftar duduk di sofa sedangkan Sanjaya dan Caca sibuk mengajak Kenzo bercanda, entah apa yang mereka candakan bersama bayi yang masih merah itu hanya mereka yang tahu.


"Bos, bukannya ini saat yang tepat bos mempertemukan Nona dan ibunya Nona?" Vino berbisik di telinga Aftar.


"Kamu jaga Kinan ya, aku urus semuanya dulu. Aku mau ke butik Bu Herlin," Aftar berbalas berbisik.


Aftar beranjak dari tempat duduknya, lalu tersenyum pada Kinan.


"Mas, mau kemana?" Tanya Kinan dengan nada lembut.


"Sayang, mas ada urusan penting sebentar mas tinggal dulu ya. Kakek, Aftar titip Kina." Aftar berlalu pergi keluar dari ruangan rawat Kinan.


"Mau kemana Mas Aftar itu?" Batin Kinan dalam hatinya.


"Sekertaris Vino, Mas Aftar mau kemana?" Tanya Kinan, dia tahu pasti Vino tahu mau kemana?


"Ada klien penting Nona, jadi harus bertemu dengannya." Jawab Vino, yang terpaksa berbohong pada Kinan.


Kinan mengangguk pertanda mengerti, kini dia kembali asik dengan Kenzo. Sanjaya juga tidak henti-hentinya tersenyum karena cicit kesayangan telah lahir ke dunia ini.


*****


Di Butik Bu Herlin, Bu Herlin sedang mengecek gaun-gaun baru keluarannya.


Aftar berjalan masuk ke dalam butik, di tangannya sudah membawa kotak kecil yang berisi kalung milik Kinan. Dan dia tadi pulang dulu mengambil kalung itu di laci meja rias Kinan.


"Pak Aftar, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Herlin, yang kebetulan melihat Aftar datang.


"Bu, saya mau bicara sama ibu. Apakah boleh saya meminta waktu ibu sebentar," tanya Aftar dengan begitu sopan.


"Tentu pak, mari ke ruangan saya saja!" Jawab Herlin, dan dia langsung mengajak Aftar masuk ke dalam ruangan kerjanya.


Kini mereka duduk di sofa, Herlin sebenarnya bingung tumben Aftar datang menemui dia tiba-tiba?


Aftar memberikan kotak yang ada di tangannya pada Herlin. "Ini apa pak?" Tanya Herlin bingung.


"Ibu, buka saja dulu!" Pinta Aftar dengan sopan.


Herlin membuka kotak kecil itu dan melihat di dalamnya ada sebuah kalung, lalu Herlin mengambilnya.


Herlin mengamati kalung itu dengan teliti. "Maaf, Pak Aftar mendapatkan kalung ini darimana?" Tanya Herlin penasaran.


"Itu milik istri saya Bu, apa ibu tahu tentang kalung itu?" Jawab Aftar, dan balik bertanya pada Herlin.


"Saya tahu," Herlin membuka tasnya lalu dia mengeluarkan foto dirinya di masa lalu, di foto itu ada foto Kinan, Herlin, ayahnya dan neneknya.


Flashback


Beberapa tahun yang lalu, waktu itu Kinan masih bayi dan saat itu juga ayah nya Kinan meninggal.


Herlin yang hanya orang susah dan dia tidak bekerja, sungguh kuwalahan membiayai hidup untuk anaknya dan ibunya.


Malam itu Herlin putuskan untuk pergi meninggalkan rumah dan menitipkan Kinan pada neneknya. Tapi dari malam itu juga Herlin tidak pernah pulang sampai sekarang, bahkan Herlin tidak pernah tahu keadaan Kinan dan neneknya. Neneknya meninggal saja Herlin tidak datang ke pemakamannya.


Setelah beberapa lama Herlin pergi dan bekerja di kota menjadi tukang jahit, akhirnya Herlin bertemu dengan laki-laki kaya yang mau menikah dengan dia tapi dia tidak pernah memberitahu pada suaminya yang sekarang kalau dia punya anak dari pernikahan pertamanya.


Setelah beberapa tahun menikah, suami Herlin terkena serangan jantung dan akhirnya meninggal. Herlin kembali menjadi janda hanya saja dia tidak punya anak dari suami yang sekarang.


Herlin selama ini pernah beberapa kali mencari anaknya, tapi dia berhenti karena tidak menemukan pentujuk apapun.


Herlin juga pernah beberapa kali pergi ke rumah ibunya, tapi setiap kali kesana sepi tidak ada orang.


Tapi Herlin memberikan kalung yang di berikan oleh almarhum suaminya untuk Kinan, dan Herlin berharap kalung itu akan mempertemukan dia dan anaknya kembali.


Of flashback


"Apa, nama istri kamu Kinanti Alisya?" Tanya Herlin, matanya terlihat berkaca-kaca.


"Iya bu benar," jawab Aftar.


"Ali adalah nama bapaknya," kata Herlin air matanya menetes di pipinya.


Herlin terus menangis, dia merasa bersalah selama ini sudah meninggalkan Kinan begitu saja.


"Apakah, aku boleh bertemu dengan Kinan Pak?" Tanya Herlin, dengan suara tersedu-sedu.


"Panggil saya Aftar bu, tentu saja boleh. Ayo kita ke rumah sakit bu!" jawab Aftar dan mereka langsung pergi menuju ke rumah sakit.


Di perjalanan menuju ke rumah sakit, Herlin terus menangis. Dalam hatinya terus berpikir akankah Kinan memaafkan kesalahannya di masa lalu?


Sesampainya di rumah sakit.


BERSAMBUNG 🤗


Terimakasih para pembaca setia 😊


Baca yuk karya Author yang lain.


"Perjodohan Karena Hutang 2"


"Terpaksa Menikahi Suami Majikanku"


"Suamiku Duda Kaya Tajir Melintir"


Ceritanya, insyallah tidak kalah seru 🤗🙏