
Setelah selesai mandi, Aftar berganti pakaian dengan baju tidur. Lalu dia membaringkan tubuhnya di sofa.
Aftar belum bisa tidur dia memikirkan Karin, mungkin dia bahagia Karin pulang tapi yang membuat Aftar tidak bahagia, kelakuan Karin yang sungguh menjijikkan demi meraih impiannya menjadi artis terkenal, Karin lebih memilih melalui jalan kotor.
Padahal jika Karin mengatakan pada Aftar, pasti Aftar akan mengenalkan Karin dengan temannya yang juga salah satu bintang artis besar.
Tiba-tiba ponsel milik Aftar berbunyi dan itu telpon dari Karin.
Aftar menggeser tombol hijau yang ada di ponselnya lalu menaruh ponselnya tepat di telinganya.
"Hallo." Sapa Aftar.
"Sayang, kamu sudah sampai rumah?" Tanya Karin dengan nada lembut.
"Sudah, aku lelah. Aku tidur duluan ya!" Aftar memutuskan saluran teleponnya begitu saja.
Betapa kesalnya Karin belum selesai bicara tapi Aftar sudah memutuskan telpon dari dirinya.
"Aftar, kamu sudah berubah.
"Aku tidak tahu, apa yang terjadi? Tapi sepertinya kamu terus menghindari aku."
"Apa aku ada yang salah? Aku masih cantik, aku juga sekarang semakin sexy tapi kenapa, Aftar malah sepertinya tidak suka padaku?"
"Aku bisa gila, sebenarnya Aftar itu kenapa?"
Sambil bercermin, Karin menggaruk-garuk kepalanya karena merasa frustasi. Sungguh dia tidak tahan dengan sikap Aftar yang seperti sekarang ini.
____
Aftar melihat ponselnya dengan kesal, lalu menaruh di atas meja dengan kasar.
"Jika aku menunggu Karin membongkar aib nya dia, aku yakin dia tidak akan melakukan semua itu. Aku yakin dia pasti akan menyembunyikan semua itu dengan baik," Aftar sibuk dengan pikirannya dia sedang memikirkan bagaimana cara membongkar aib Karin?
Aftar terus berpikir dan tiba-tiba dirinya tersenyum seolah-olah dia sudah menemukan ide.
"Baiklah, jika dia tidak mengakuinya sendiri maka aku yang akan membongkar semuanya tapi tidak untuk saat ini, tunggu waktu yang tepat." Aftar tersenyum simpul, lalu dia memejamkan matanya dan tertidur hingga dirinya tertidur nyenyak.
_____
Jam menunjukkan pukul 6 pagi, Kinan sudah dengan dress warna kuning bunga-bunga yang dia kenakan saat ini.
"Mas Aftar, semalam pulang jam berapa? Apakah aku harus bertanya? Sudahlah, lagian buat apa juga aku bertanya dia hanyalah suami kontrakku." Kinan tersenyum melihat Aftar yang masih terlelap di atas sofa.
Tiba-tiba Aftar membuka matanya, lalu melihat Kinan dengan tatapan lembut.
"Kinan, cantik sekali." Puji Aftar dalam hatinya.
Kinan sedang sibuk membereskan tempat tidur, Aftar sudah merubah posisinya menjadi duduk. "Kenapa, kamu tidak bangunin aku?" Tanya Aftar mengagetkan Kinan.
"Kamu mengagetkan saja mas, maaf mas mau aku bangunin takut salah. Ntar mas marah-marah lagi," Jawab Kinan.
Aftar yang malas berdebat, akhirnya meninggalkan Kinan ke kamar mandi sedangkan Kinan setelah selesai merapikan tempat tidur, dia langsung keluar dari dalam kamarnya.
Kini Kinan sudah duduk di kursi meja makan, tadinya dia mau ke dapur untuk memasak tapi Kinan tidak mau membuat Aftar bersikap berlebihan seperti waktu itu.
"Kinan, suamimu mana nak?" Tanya Sanjaya yang baru datang.
"Kakek, Mas Aftar sedang mandi kek." Jawab Kinan dengan nada lembut.
"Kinan, apa sudah ada tanda-tanda?" Tanya Sanjaya dengan isyarat yang tidak Kinan mengerti sama sekali.
Kinan terdiam sambil berpikir, apa yang di maksud oleh Sanjaya itu?
"Kinan..." Panggil Sanjaya dengan nada khas seperti biasanya.
"Maksud kakek, tanda-tanda apa?" Tanya Kinan dengan senyum simpulnya.
"Tanda-tanda adonan kalian sudah jadi nak?" Jawab Sanjaya, yang lagi-lagi mengunakan isyarat yang tidak Kinan mengerti.
Sanjaya merasa sangat gemas dengan cucu menantunya ini. Sungguh ternyata Kinan begitu polos, akhirnya Sanjaya tertawa dan tangannya mengacak-acak rambut Kinan dengan pelan.
"Maksudnya bayi nak, apa kamu sudah ada tanda-tanda kehamilan?" Tanya Sanjaya dengan begitu semangat.
Kinan tersenyum, dia merasa bingung apa yang harus dikatakan pada Sanjaya? Bagaimana dia bisa hamil jika dirinya dan Aftar tidak pernah melakukan hubungan suami-istri selama ini.
"Belum kek...." Jawab Kinan dengan gugup.
"Tidak apa-apa, mudah-mudahan kamu cepat-cepat hamil ya nak. Kakek sudah pingin gendong cicit," Sanjaya tersenyum membuat Kinan tampak malu-malu dan menganggukan kepalanya.
"Maafin Kinan kek, karena Kinan dan Mas Aftar hanya menikah secara kontrak jadi untuk memenuhi keinginan kakek yang ini pasti itu mustahil." Pikir Kinan dalam hatinya.
Setelah beberapa lama akhirnya semua makanan untuk sarapan sudah siap. Aftar juga sudah duduk di sebelah Kinan.
"Aftar, jangan pulang malam terus. Fokuslah pada istrimu agar dia cepat hamil!" Sanjaya melihat Aftar dengan tatapan penuh harap.
Aftar yang sedang minum hampir saja tersedak dan kembali menaruh gelasnya di atas meja.
"Hati-hati mas!" Pinta Kinan dengan nada lembut.
"Kakek, sabar ya kek kan kita belum lama menikah kek." Jawab Aftar, senyumnya begitu terpaksa.
"Aish kakek, kenapa pagi-pagi membicarakan hal seperti ini sih?" Gumam Aftar dalam hatinya.
"Kakek, makan dulu ya." Kinan mencoba mengalihkan pembicaraan pagi ini.
"Iya nak, kakek juga sudah lapar." Jawab Sanjaya dengan nada lembut.
Kinan mengambilkan makanan untuk Sanjaya, dia juga mengambilkan untuk Aftar dan juga dirinya. Kini mereka menikmati sarapan pagi ini dengan penuh kehangatan.
Setelah selesai sarapan Aftar berpamitan berangkat kerja pada Kinan, seperti pagi biasanya Aftar menyalami tangan kakeknya dan mencium kening Kinan dengan lembut.
Kinan yang sudah terbiasa dengan perlakuan Aftar setiap pagi dia juga tidak menjadikan semua itu masalah. Apalagi di hadapannya saat ini ada Sanjaya jadi Aftar malah menjadikan kesempatan yang bagus untuk dirinya lagian sudah sah ini biarpun hanya pernikahan kontrak.
Setelah berpamitan dengan kakeknya dan istrinya, Aftar langsung berangkat ke kantor.
Setelah Kinan dan Sanjaya selesai sarapan, mereka pergi jalan-jalan pagi seperti pagi-pagi biasanya.
Karin.
Pagi ini Karin sudah cantik, kini dia sedang bercermin sambil senyam-senyum tentu saja dia sedang memikirkan bagaimana cara untuk membuat Aftar, kembali seperti dulu lagi.
Ponsel Karin berbunyi dan ternyata itu telpon dari Jack, yang tidak lain ada produser film yang akan Karin bintangi nanti.
Karin mengangkat telpon dengan cepat.
"Hallo Karin," sapa Jack dengan begitu manis.
"Iya Pak Jack, ada apa tumben menelpon Karin?" Tanya Karin dengan nada lembut.
"Kamu sedang dimana, sekarang?" Tanya Jack.
"Saya sedang cutti dan sekarang saja sedang di kota xx, kota halaman saya pak." Jawab Karin.
"Kapan-kapan temui saya ya, untuk flim yang akan kamu bintangi kamu bisa mendapatkan peran utama yang penting, kamu tahulah." Kaya Jack dengan tawa khasnya.
"Baiklah pak, kamu atur saja pak." Jawab Karin yang tentunya tahu apa maksud Jack.
Jack ada salah satu produser yang sudah berumur kira-kira umur dia 42 tahun, tapi dia terhitung hidung belang dan tentunya banyak artis yang menjadi peran utama dengan cara kotor, asalkan mereka mau memuaskan Jack pasti semuanya akan lancar jaya.
Karin tersenyum setelah mendapatkan telpon dari Jack, biarpun harus dengan cara kotor yang penting dirinya mendapatkan peran utama.
Kini Karin buru-buru keluar dari rumahnya dan buru-buru menaiki mobilnya, ntah mau kemana Karin pagi-pagi seperti ini?
BERSAMBUNG 😊
Terimakasih para pembaca setia 🙏