
Malam hari menujukan pukul 9 malam, akhirnya mereka pulang dari acara kencan mereka. Setelah seharian lelah menghabiskan bersama pasangan mereka masing-masing, kini Vino lebih dulu mengantarkan Aftar dan Kinan pulang ke rumah. Karena hanya membawa satu mobil jadi Vino harus siap jadi supir, setelah mengantarkan pulang Aftar dan Kinan kemudian Vino mengatarkan Caca pulang.
Vino sengaja mengantarkan sang bos dan istrinya lebih dulu. Karena biar bisa lama-lama bersama Caca malam ini, apalagi mereka lagi anget-angetnya kaya apem iya baru jadian jadi pinginnya nempel mulu.
Di dalam mobil terjadi keheningan di antara dua sejoli yang baru jadian ini. Caca juga lebih banyak diam karena masih merasa canggung dan malu-malu.
"Gadis sapu, apa kamu tidak mulut?" Tanya Vino, matanya terlihat penuh cinta tapi selalu saja Vino itu tidak bisa romantis.
Caca mendengus kesal, panggilan macam apa? Yang vino gunakan ini, aku ini pacarnya tapi tetap saja dia memanggilku dengan sebutan gadis sapu. Dasar pacar tidak ada ahlak.
"Haruskah memanggilku dengan sebutan gadis sapu?" Caca terlihat merajuk, bahkan malas sekali melihat wajah sang kekasih yang menyebalkan itu.
"Lalu aku harus memanggilmu, apa?" Tanya Vino raut wajahnya tampak cuek, membuat Caca semakin kesal.
"Aku ini pacarmu, tentu saja Bapak Vino yang terhormat itu harus memanggil saya dengan sebutan sayang!" Tegas Caca, tanpa mau di bantah.
Dasar dua pasangan ini sama-sama koplak, satunya tidak romantis, suka maksa terus ceweknya juga tidak mau kalah.
"Baik-baiklah, aku akan memanggilmu dengan sebutan sayang." Vino mengalah karena tidak mau terus berdebat dengan Caca.
Vino terus melajukan mobilnya, sesampainya di depan rumah Caca. Vino menghentikan mobilnya, lalu dia turun dari mobil lebih dulu lalu membukakan pintu mobil untuk Caca, kini Caca turun dari dalam mobilnya.
"Terimakasih, aku masuk dulu ya." Caca tersenyum malu.
"Katakan dengan benar!" Vino manatap Caca dengan tatapan tajam.
"Itu sudah aku katakan dengan benar." Caca melihat Vino dengan tatapan lembut.
"Panggil aku sayang mulai sekarang!" Vino mengarahkan tangannya ke kedua pipi Caca, dia mendekatkan wajahnya dengan wajah Caca.
Seketika Caca merasa gugup, Caca ingin menjauhkan wajahnya tapi Vino malah semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Caca.
"Kamu mau apa?" Tanya Caca gugup.
"Aku mau kamu, panggil aku sayang!" Vino menatap Caca dengan tatapan penuh arti.
"Sayang, jauhkan wajahmu! Aku merasa tidak nyaman sekali," lirih Caca dengan tatapan penuh rasa gugup.
Vino tersenyum, lalu dengan lembut mengecup pipi Caca dengan lembut. Seketika pipi Caca menjadi merah karena merasa malu.
"Pak Vino mencium pipiku," batin Caca dalam hatinya.
Vino juga merasa malu tiba-tiba dirinya merasa gugup.
"Vino, bibirmu sudah mulai nakal ya." Omel Vino dalam hatinya.
"Aku pulang dulu, kamu masuklah! Udara di luar sangat dingin." Vino tersenyum pada Caca, senyumnya kali ini terlihat begitu tulus.
"Iya kamu hati-hati, sayang! Aku masuk dulu ya." Caca tersenyum malu, dia juga dengan jelas memanggil Vino dengan sebutan sayang dan sudah bukan bapak lagi lagi tapi kamu.
Vino menganggukan kepalanya, lalu Caca berlalu masuk ke dalam rumahnya. Setelah Caca masuk ke dalam rumahnya. Vino naik kembali ke mobil dan langsung berlalu pergi untuk pulang ke rumahnya.
*****
Di kediaman Aftar, malam menunjukkan pukul 11 malam kini Aftar dan Kinan sudah berada di dalam kamar.
Kinan duduk di atas ranjang tempat tidurnya Aftar yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi, dia duduk di sebelah Kinan.
"Kenapa senyam-senyum? Senang ketemu sama mantan?" Tanya Aftar tiba-tiba, dia melihat Kinan tersenyum dan terlihat begitu bahagia.
"Apasih mas? Orang aku tersenyum karena melihat kamu," jawab Kinan seketika senyum itu menjadi kesal.
Selalu saja Aftar, kalau habis bertemu dengan Arga pasti gitu cemburunya meronta-ronta. Padahal jelas-jelas Arga juga sudah punya istri dan saat ini istrinya juga sedang hamil.
"Heran banget sama satu manusia itu selalu saja muncul di saat yang tidak tepat," geretu Aftar, mulutnya terus ngedumel komat-kamit tidak jelas.
"Sayang tidurlah! Kamu itu, orang aku cintanya sama mas. Kalau Arga itukan hanya sebatas mantan saja, pernah sayang tapi itu dulu." Kinan menarik Aftar agar berbaring di sampingnya.
Rasanya gemas sekali pada suaminya, sehingga tidak tahan Kinan pun memeluk suaminya dengan erat agar tidak terus mengoceh seperti burung beo.
"Sayang, kamu tidak mau menjenguk calon anak kita dalam rahimku?" Goda Kinan dengan manja, jari-jarinya memainkan telinga sang suami.
"Kalau tidak seperti ini pasti Mas Aftar akan terus mengoceh sampai entah kapan?" Batin Kinan dalam hatinya.
"Memangnya boleh?" Tanya Aftar, seketika rasa kesalnya menjadi hilang dan tatapannya langsung menjadi lembut.
Kinan menganggukan kepalanya, lalu tanpa menunggu lama. Aftar langsung mencium bibir Kinan dengan lembut, Kinan juga sangat menikmati permainan sang suami.
Kini tangan Aftar sudah mulai bergerilya, bibinya sudah turun ke leher jenjang sang istri. Desahan demi desahan terdengar dari mulut keduanya, Aftar mulai membuka kancing baju tidur yang istrinya kenakan, lalu melepaskannya dan langsung mebuangnya ke sembarang tempat.
Aftar menanggalkan seluruh pakaian Kinan, kini Kinan sudah sepolos toples. Aftar juga menanggalkan seluruh pakaiannya, lalu membuang seluruh pakaiannya ke sembarang tempat.
Kini tanpa menunggu lama Aftar langsung mengarahkan miliknya ke dalam milik sang istri, erangan, desahan penuh kenikmatan membuat malam ini terasa hangat, rasa kesal Aftar juga hilang.
Beberapa menit telah berlalu, pertarungan panas itu akhirnya selesai. Kini keduanya sudah sama-sama berbaring di dalam selimut tebal yang membuat tubuh mereka menjadi hangat.
"Aku sayang kamu." Aftar memberikan kecupan lembut di kening Kinan.
"Aku juga, sayang sama kamu mas. Tapi mas juga tidak boleh cemburuan, kita sebentar lagi mau punya anak loh mas. Masa mas terus cemburuan seperti itu," tangan Kinan membelai pipi Aftar dengan lembut. Tatapannya begitu hangat.
Aftar membenarkan posisinya, lalu menarik Kinan masuk ke dalam pelukannya.
"Mas hanya takut kehilanganmu, mas tidak mau kamu dekat-dekat dengan laki-laki lain!" Kata Aftar di sela-sela pelukannya, Kinan tertawa dalam hatinya. Padahal dari awal menikah Kinan tidak pernah macam-macam, tapi Aftar memang seperti itu cemburunya suka berlebihan.
"Mas, aku tidak punya waktu untuk hal itu. Aku hanya memikirkan kamu dan calon anak kita nanti, masa lalu ya bagiku ya hanya masa lalu." Kinan berusaha memberikan pengertian kepada suaminya.
"Tapi aku kesal kalau melihat Arga," kata Aftar dengan nada merajuk.
"Cup." Satu kecupan mendarat di bibir Aftar, Kinan tersenyum. "Sudahlah, jangan kesal terus mas! Aku capek, habis kamu makan. Ayo sekarang kita tidur." Kinan membenamkan wajahnya di dada bidang Aftar.
Aftar mengecup pucuk rambut Kinan dengan begitu lembut, dalam hatinya Aftar sangat mencintai Kinan dan tidak mau kehilangan Kinan untuk selamanya.
BERSAMBUNG 😊
Terimakasih para pembaca setia 🤗
Maaf ya up-nya Authornya lagi sakit 🙏