Menikah Kontrak 100 Hari

Menikah Kontrak 100 Hari
Keluarga bahagia yang nyata


Malam menunjukkan pukul 7 malam, Kinan baru saja selesai menyiapkan makan malam yang di bantu oleh para Art.


Setelah selesai menyiapkan makan malam, Kinan bergegas masuk ke dalam kamar untuk segera mandi dan berganti pakaian, iya malam ini akan akan ada acara makan malam.


Aftar yang baru saja pulang, dia masuk ke dalam rumah melihat ada mama mertuanya yang sedang bermain dengan anaknya dia langsung menghampiri mama mertuanya, untuk mengucapkan salam pada sang mama.


"Mama, gimana kabarnya?" Tanya Aftar, dengan sopan Aftar mencium tangan sang mama mertua.


Herlin tersenyum, inilah menantu kesayangan yang sudah membuat putri hidup bahagia selama ini. "Mama sehat nak, kamu baru pulang. Oh iya, Kinan ada di kamar," jawab Herlin sambil tersenyum.


"Iya ma, Aftar ke kamar dulu ya ma." Pamit Aftar dengan sopan.


Kenzo asik bermain dengan mainan barunya, papanya pulang saja dia cuek. Tapi Aftar tidak apa-apa yang penting anaknya tidak rewel dan tidak membuat neneknya repot.


Aftar berjalan menuju ke kamar, sesampainya di kamar dia langsung masuk karena Kinan tidak mengunci pintu kamarnya.


"Mas... bukannya ketuk pintu dulu!" Omel Kinan, dia baru saja selesai mandi dan saat ini dia sedang berganti pakaian.


"Apasih sayang, orang semuanya sudah jadi milik mas. Apa kamu masih malu-malu," kata Aftar dan dia langsung memeluk Kinan dari belakang.


"Mandilah, mama nungguin mau makan malam bersama." Kata Kinan, tapi biasalah Aftar main manja-manjaan dulu.


Bukannya mandi Aftar malah menjaili Kinan, kini Kinan merasa kegelian karena l*d*h Aftar malah asik main di leher jenjang Kinan. "Mas, geli ih." Lirih Kinan, "Lagian kamu wangi sekali sayang, buat mas jadi pingin." Goda Aftar, kini dia meng*g*t pelan telinga Kinan.


"Mas jangan jail, mandi dulu ih!" Kinan agak sedikit mendorong Aftar agar dia tidak sampai melakukan lebih.


Aftar menghentikan aktivitasnya, dia menuruti apa kata istrinya.


"Sayang, kamu tahu Arga mengirim pesan padaku. Dan kamu tahu, isi pesannya dia menanyakan kabar kamu, kan br*ng*k dia." Kata Aftar, membuat Kinan agak terkejut.


"Mungkin Arga, hanya salah ketik mas atau mungkin Vira mengunakan ponsel Arga," jawab Kinan dia tidak mau ambil pusing, atau suami nya yang cemburuan tingkat dewa ini akan kembali berulah.


Aftar juga tidak tahu, sebenarnya yang mengirim pesan itu Arga atau Vira? Karena di pesan itu hanya menanyakan kabar Kinan dan lagi, itu yang mengirim no ponsel Arga.


"Kamu balas apa mas?" Tanya Kinan.


"Aku lupa, mungkin tidak aku bales." Jawab Aftar cuek, dia berlalu masuk ke dalam kamar mandi.


"Setelah mandi, langsung ke meja makan ya mas." Kata Kinan, sebelum dia pergi keluar dari dalam kamarnya.


"Iya sayang," jawab Aftar.


Setelah berganti pakaian dan berdandan, Kinan langsung pergi menuju meja makan dan di ruang tengah, sudah ada Caca, Vino dan Melly.


"Aftar mana, nak?" Tanya Sanjaya.


"Sedang mandi kek," jawab Kinan.


Kini mereka duduk di sofa ruang keluarga sambil berbincang dengan bahagia sambil menunggu Aftar yang sedang mandi.


"Kin, kehamilan yang sekarang kamu bagaimana nak?" Tanya Herlin, pada Kinan.


"Bersyukur kamulah nak, kamu mendapatkan suami yang begitu baik dan perhatian, sama seperti papa kamu dulu, hanya saja papa kamu dulu orang yang tidak punya, waktu mama hamil kamu saja, pingin apa-apa cuma bisa ngiler," batin Herlin dalam hatinya. Dia mengingat masa lalunya yang begitu tidak bahagia dalam ekonomi, tapi papanya Kinan dulu begitu mencintai Herlin.


"Kin, asalkan jangan ngidam ketemu sama mantan. Nanti suami kamu bisa ngamuk," goda Caca membuat akhirnya semua tertawa.


Aftar yang baru saja keluar dari dalam kamar, dia terlihat kebingungan.


"Sepertinya sangat bahagia sekali, aku tahu pasti kalian sedang membicarakan aku kan?" Kata Aftar, dia duduk di sebelah Kinan.


"Bukan mas, ayo kita mulai makan malamnya!" Ajak Kinan, dia sengaja agar Aftar tidak sampai ikutan membahas mantan.


Kini mereka semua pindah ke meja makan, Kinan dengan penuh perhatian mengambilkan makanan untuk suaminya, mamanya dan sang kakek, Caca juga mengambilkan makanan untuk Vino.


Setelah selesai, Caca dan Kinan mengambilkan makanan untuk anak-anak mereka.


Malam ini mereka makan dengan penuh kehangatan, Caca dan Vino yang sudah yatim piatu mereka merasakan kehadiran keluarga yang sesungguhnya.


Setelah selesai makan malam, Herlin langsung pamitan untuk pulang, Caca dan Vino juga langsung pulang, karena Melly merengek minta pulang karena sudah mengantuk.


Setelah semuanya pulang, Aftar dan Kinan mengantarkan Kenzo masuk ke dalam kamarnya, mereka menemani Kenzo sambil mengobrol.


"Papa, mama, Ken pingin punya adik laki-laki. Biar Ken ada teman bermain, kalau mainnya dengan Melly terus, Ken suka kesal lagian dia sukanya main boneka, sudah gitu dia cengeng sekali," tutur Kenzo dengan begitu lucunya.


"Papa maunya anak perempuan," jawab Aftar dia kekeh ingin punya anak perempuan.


"Papa, adik Ken harus laki-laki! Ken tidak mau tahu, kalau tidak laki-laki papa dan papa harus buatkan lagi," Ken merajuk manja. Kali ini dia begitu lucu.


Kinan tertawa, entahlah anaknya ini di ajarkan oleh siapa? Bisa-bisanya berkata seperti itu? Sedangkan Aftar senyam-senyum tidak jelas.


"Ken, papa mah semangat kalau di suruh buat adonan," batin Aftar dalam hatinya.


"Ken, sudah malam tidurlah. Laki-laki atau perempuan, itu nanti akan jadi adiknya Ken." Tutur Kinan, dia mengusap rambut Kenzo dengan penuh kasih sayang.


Ken memalingkan wajahnya, kini dia menghadap ke papanya.


"Papa, berjanjilah pada Ken. Jika adik Ken tidak laki-laki, papa harus buatkan lagi!" Pinta Kenzo, pada Aftar, membuat Aftar tidak tega.


"Anak papa....."


"Papa berjanjilah dulu!" Ken membenarkan posisinya menjadi duduk, lalu dia mengulurkan jari kelingking ke Aftar dan Aftar juga melakukan hal yang sama, kini mereka mengaitkan jari kelingking mereka. "Kita sudah berjanji, jadi papa tidak boleh ingkari!" Pinta Kenzo dan Aftar hanya mengangguk.


Kini tersenyum bahagia, Kinan juga hanya bisa tersenyum. Inilah anak dan papanya, ada saja yang mereka lakukan saat bersama.


Kenzo kembali membaringkan tubuhnya di tengah-tengah mama dan papanya, kini dia juga meminta mama dan papanya tidur di kamarnya. Kinan dan Aftar juga tidak menolak, karena sudah lama juga mereka tidak tidur bertiga.


Kinan yang dulu hidupnya begitu sengsara, sampai-sampai dia dulu harus berjualan koran demi untuk membeli obat untuk sang nenek dan menyambung hidupnya, kini Kinan sudah hidup bahagia dengan keluarganya yang sekarang, dia juga sudah bertemu dengan ibunya yang selama ini dia rindukan. Hidupnya yang penuh liku-liku, akhirnya menjadi sebuah kebahagiaan yang begitu nyata.


BERSAMBUNG 🤗


Terimakasih para pembaca setia 🙏