Menikah Kontrak 100 Hari

Menikah Kontrak 100 Hari
Vino dan Caca


Pagi hari menujukan pukul 6, Kinan masih terlelap tidur karena masih mengantuk. Aftar yang sudah bangun buru-buru berlari masuk ke dalam kamar mandi karena tiba-tiba rasanya mual sekali.


Sesampainya di kamar mandi Aftar muntah-muntah. "Hoek...hoek...hoek..."


"Mual sekali rasanya," keluh Aftar. Dia mengelap sudut bibirnya dengan tisu.


"Mas Aftar...." panggil Kinan dengan suara agak berteriak.


Pintu kamar mandi yang tidak di tutup membuat Aftar mendengar suara istrinya. "Mas di kamar mandi sayang," jawab Aftar sambil melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamar mandi.


Kinan sudah duduk dan Aftar juga sudah duduk di tepi ranjang.


"Mas kenapa?" Tanya Kinan dengan nada lembut.


"Mas mual-mual sayang, kamu sudah bangun." Jawab Aftar, tangan kekarnya membelai mesra rambut sang istri dengan lembut.


"Sudah mas, kan Kinan mau masak buat sarapan mas. Oh iya mas mau sarapan apa?" Tanya Kinan sambil tersenyum manis.


Aftar hanya menggelengkan kepalanya, karena rasa mual-mual itu membuat Aftar tidak berselera untuk makan apapun.


"Mas tidak mau makan, kamu ikut ke kantor ya! Mas bawaannya pingin dekat terus sama kamu sayang," Pinta Aftar dan Kinan dengan tatapan lembut menganggukan kepalanya.


"Suamiku semakin manja, aku yang hamil tapi Mas Aftar yang kuwalahan." Kinan tertawa bahagia dalam hatinya.


Kini mereka berdua siap-siap untuk pergi ke kantor Aftar. Bahkan pagi ini juga Aftar minta mandi berdua dengan Kinan, Kinan yang hamil tapi Aftar yang banyak mau dan sangat manja sekali.


Setelah selesai mandi dan sudah bersiap-siap dengan rapi. Kinan dan Aftar langsung pergi ke kantor Aftar tanpa sarapan terlebih dahulu karena Aftar juga tidak mau sarapan jadi Kinan juga tidak sarapan.


Di kantor Aftar


Pagi ini Vino mondar-mandir sendirian di dalam ruangannya, dia berpikir bagaimana cara dirinya untuk menemui Caca?


"Apa aku menyuruh dia mengantarkan kopi ke ruanganku saja?"


"Apa aku langsung pergi ke dapur, lalu menarik dia ke tempat yang sepi untuk bicara berdua dengan dirinya?"


"Aish, Vino apa kamu sudah gila pasti Caca akan berteriak dan dia berpikir kamu akan mempek*sa dirinya."


"Cari cara lain untuk bertemu dengan dia!"


Vino yang dari tadi tadi terus mondar-mandir tidak jelas kini dia terdiam sejenak sambil memikirkan ide bertemu dengan Caca.


"Emm mending aku minta dia membuat kopi untuk aku, lalu saat dia sudah berada di ruanganku aku akan mengunci pintu ruangan aku," Vino tersenyum jahat. Tentu saja dia sudah punya ide bagus agar Caca menjawab pertanyaannya dengan benar.


Vino langsung duduk di kursi kerjanya, lalu dia menelpon Caca melalui telepon kantor. Ketika telpon sudah di tekan tombolnya, Vino hanya terdiam lalu segera menutup telponnya.


"Mending aku ke dapur sajalah." Kata Vino dia mengumpulkan keberanian dan langsung pergi menuju ke dapur.


Vino berjalan dengan gaya tengilnya dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya, tapi tetap dia terus bersikap ramah pada siapapun yang menyapanya.


Sesampainya di dapur Vino melihat Caca sedang mengelap meja di dapur, Vino diam-diam tersenyum. "Dia terlihat cantik saat sedang bekerja," Vino terus tersenyum.


"Pak Vino, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Lena salah satu cleaning servis yang melewati Vino sedang berdiri.


"Bisa tolong panggilkan Caca!" Jawab Vino dengan begitu sopan.


"Bisa pak, tunggu sebentar ya!" Lena berlalu pergi dari hadapan Vino.


Vino menganggukan kepalanya, lalu Lena memanggil Caca yang sedang sibuk di dapur.


"Caca, kamu di panggil sama Pak Vio," kata Lena dan Caca menganggukan kepalanya.


"Ada apa Pak Vino memanggilku?" Tanyanya dalam hatinya.


Caca menghentikan pekerjaannya, lalu dia berjalan berniat menuju ke ruangan Vino tapi ternyata Vino sudah berdiri tidak jauh dari dapur sambil tersenyum begitu tengil.


"Emm...." Caca menatap Vino dengan tatapan kesal.


"Kemarilah gadis sapu!" Vino tersenyum licik, Membuat Caca harus berhati-hati.


Caca melangkahkan kakinya menuju ke tempat Vino berdiri dengan langkah kaki begitu malas.


"Pak, kita mau kemana?" Tanya Caca.


"Nanti kamu akan tahu," jawab Vino cuek.


Di ruangan Aftar


Aftar sudah sampai di kantor dari tadi bersama Kinan. Kini Aftar sedang sibuk dengan pekerjaannya dan Kinan hanya diam duduk sambil membaca novel.


"Mas, kamu mau sarapan dulu?" Tanya Kinan, mengingat suaminya tadi tidak mau sarapan tadi pagi.


"Tidak sayang, mas kalau bau apa-apa rasanya mual. Kamu mau sarapan? Biar mas pesankan," jawab Aftar sambil melihat ke arah Kinan sedang duduk.


"Iya mas, aku pingin makan roti bakar sama susu." Jawab Kinan dan dengan cepat Aftar memesan apa yang istrinya mau dari kantin kantor.


Setelah memesan apa yang di inginkan oleh istrinya Aftar melanjutkan pekerjaannya. Dan setelah beberapa lama akhirnya pesanan Aftar roti bakar dan susu sampai juga di ruangannya. Kini Kinan langsung menikmati roti bakar dan susu itu, Aftar hanya bisa tersenyum dia bahagia tidak apa-apa kalau dirinya yang harus mengalami mual-mual dan yang lain-lain yang penting istrinya sehat dan makan banyak itu cukup membuat Aftar begitu bahagia.


Caca dan Vino.


Vino membawa Caca ke taman kantor, Caca tampak kebingungan dengan sikap Vino yang menurut dirinya sangat aneh.


Vino memepetkan Caca ke pohon, lalu mengunci Caca dengan tubuhnya agar Caca tidak bisa pergi kemana-mana.


"Pak, minggir! Aku takut pegawai lain melihat kita dan mereka akan salah paham." Caca berusaha melepaskan dirinya dari Vino.


Vino tersenyum, kali ini senyumnya begitu penuh dengan arti.


"Tidak ada siapa-siapa di sini," jawab Vino dengan begitu santai.


Caca mendengus kesal, rasanya ingin sekali mencakar-cakar Vino tapi Caca tidak punya keberanian untuk hal itu.


"Setidaknya jagalah sikap bapak!" Tegas Caca dengan tatapan tajam.


Vino lagi-lagi tersenyum, menurut Vino Caca begitu menarik perhatiannya.


Caca semakin kesal pada Vino, bisa-bisanya atasannya ini bersikap tidak sopan pada dirinya. Bagaimana jika ada yang melihatnya? Pasti mereka akan berpikir yang tidak-tidak tentang Vino dan dirinya.


"Tenanglah, aku tidak akan macam-macam!" Kata Vino dengan tegas, Caca hanya diam karena terlalu males meladeni Vino.


Vino mendekatkan wajahnya membuat Caca memalingkan wajahnya.


"Pak Vino mau apa? Dasar sekretaris tidak ada ahlak," batin Caca dalam hatinya.


"Pak, menjauhlah!" Pinta Caca dengan suara lirih.


"Baiklah, tapi kamu jawab jujur dulu pertanyaan dariku!" Jawab Vino, kini wajah mereka hanya berjarak beberapa centi saja.


Caca tidak bisa bergeming karena wajah Vino sudah terlalu dekat dengan wajah dirinya.


"Bapak, mau tanya apa?" Tanya Caca dengan suara lirih.


"Katakan siapa laki-laki yang bersama waktu itu?" Tanya Vino tanpa basa-basi.


"Haaa.... maksud bapak?" Caca ternganga dan reflek wajahnya menghadap ke Vino bahkan bibir mereka sudah hampir menempel ke bibir Vino.


"Jangan pura-pura bodoh, yang kemarin makan berdua denganmu." Vino memperjelas semuanya.


Caca terdiam, dia berpikir kenapa Vino bertanya tentang laki-laki yang bersamanya waktu di restoran kemarin?


"Apa maksud bapak itu adalah Ronal?" Jawab Caca dengan nada lembut.


"Iya mungkin, katakan Ronal itu siapa?" Vino menatap Caca dengan tatapan tegas.


"Dia adalah.....!"


BERSAMBUNG 🤣


Terimakasih para pembaca setia 😊


Maaf ya baru up, sibuk banget hari ini teman-teman pada ngajakin main 🙏