
"Apa di dalam sini sudah ada dede bayi?" Tanya Aftar tiba-tiba, membuat Kinan tertawa kecil.
"Mass...." panggil Kinan dengan nada begitu lembut.
Aftar menoleh dia melihat wajah cantik sang istri yang kini sedang tersenyum malu-malu, pipinya tampak merah merona.
"Kenapa?" Tanya Aftar dengan nada lembut juga.
"Sepertinya di dalam sini belum ada dede bayinya. Aku saja belum merasakan tanda-tanda kehamilan," tutur Kinan. Raut wajah Aftar tampak kecewa, tapi mungkin saat ini memang belum berhasil membuat adonannya.
"Kita harus usaha lebih semangat lagi sayang!" Jawab Dafa, memberikan semangat pada dirinya sendiri.
Kinan menganggukan kepalanya, dia tahu mungkin suaminya sudah ingin punya anak tapi adonannya belum jadi.
"Tidurlah sudah malam, besokan kamu harus berangkat ke kantor." Kata Kinan, dia menatap suaminya dengan tatapan penuh cinta.
Aftar membenarkan posisi, kini keduanya sudah sama-sama berbaring dan Aftar terus memeluk Kinan dengan hangat. Kinan ingin bergeser saja Aftar terus menahannya seolah-olah dia tidak rela kalau Kinan jauh-jauh dari dirinya.
"Sayang, besok ikut aku ke kantor ya! Aku mau kamu nemenin aku kerja, aku juga mau terus melihat wajah cantikmu," bisik Aftar di telinga Kinan.
Lagi-lagi Kinan hanya menganggukkan kepalanya, matanya yang sudah mulai mengantuk tapi suaminya terus bersikap begitu manja. Entahlah suaminya ini sedang ke sambet dedemit mana?
Malam semakin larut, akhirnya keduanya sama-sama tertidur pulas. Aftar juga terus memeluk Kinan dengan begitu hangat, bagi Aftar Kinan adalah bantal guling bernyawa yang akan dia miliki selamanya.
____
Pagi yang begitu cerah, Arga masih lelap tertidur di dalam selimut. Vira yang tiba-tiba merasakan mual dia buru-buru beranjak dari tempat tidurnya, dia berlari ke kamar mandi.
Sesampainya di kamar mandi. "Hoek..hoek..hoek..." Vira muntah-muntah.
"Aku ini kenapa? Dari kemarin kepalanya pusing terus, badan aku juga lemas bahkan aku terus muntah-muntah," batin Vira dalam hatinya.
Vira menyandarkan tubuhnya di tembok, raut wajahnya terlihat begitu pucat.
Arga yang mendengar suara Vira muntah-muntah, dia buru-buru beranjak dari tempat tidurnya lalu segera menuju ke dalam kamar mandi.
"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Arga, dia terlihat begitu panik.
"Aku mual-mual terus, kepalaku pusing." Jawab Vira, tiba-tiba Vira terjatuh dan ternyata dia pingsan. "Brukkk," anggap saja suara Vira terjatuh.
"Sayang, bangunlah!" Arga sangat panik dan dia terus menepuk-nepuk pipi Vira dengan tangannya.
Tanpa menunggu lama dan masih memakai baju tidur, Arga langsung mengangkat tubuh Vira ke mobil dan langsung membawa Vira ke Klinik dekat rumahnya.
Setelah Vira di masukkan ke dalam mobil, Arga langsung menyalakan mesin mobilnya lalu segera menuju ke Klinik dekat rumahnya.
Setelah menempuh perjalanan yang tidak terlalu lama, akhirnya Arga sampai di Klinik dekat rumahnya, Arga langsung mengangkat tubuh Vira masuk ke dalam Klinik.
Kini Vira sudah di baringkan di atas ranjang pasien dan Dokter sedang memeriksa Vira yang masih pingsan.
Setelah beberapa lama akhirnya Dokter sudah selesai memeriksa Vira.
"Dok, bagaimana keadaan istri saya?" Tanya Arga merasa kawatir.
"Istri bapak baik-baik saja, dia sedang hamil dan usia kehamilannya sudah menginjak satu bulan," jawab sang Dokter dengan begitu santun.
Seketika raut wajah Arga menjadi ceria dan terlihat begitu bahagia, Vira yang sedang berjalan menuju ke tempat Arga duduk dia langsung berjalan menghampiri Vira lalu memeluknya dengan penuh cinta.
"Sayang, kamu sudah sadar? Jangan jalan-jalan nanti kamu kecapean," tutur Arga dia tidak rela kalau Vira sampai kecapean.
"Aku kenapa mas?" Tanya Vira dengan tatapan begitu bingung.
"Sayang, kita akan punya anak." Kata Arga di sela-sela pelukannya.
"Aku hamil mas?" Tanya Vira memastikan.
"Iya kamu hamil, kamu harus jaga kandungan kamu dengan baik ya!" Arga mencium kening Vira dengan begitu lembut.
Betapa bahagianya Vira mendengar kabar tentang kehamilannya, sungguh dia tidak menyangka kalau dirinya akan hamil secepat ini. Dalam hatinya terus mengucap rasa syukur.
"Terimakasih, mudah-mudahan Mas Arga semakin mencintai dan menyayangi aku." Batin Vira dalam hatinya.
Setelah selesai pemeriksaan dan Dokter memberikan resep obat untuk Vira, Arga dan Vira langsung pulang dari klinik.
Di dalam mobil tiba-tiba Vira meneteskan air matanya, sungguh ini membuat Arga tampak kebingungan. "Sayang, kamu kenapa? Apa ada yang sakit? Bagian mana yang sakit?" Tanya Arga dengan begitu bawel.
Vira menggelengang kepalanya, dia juga tidak tahu kenapa dirinya tiba-tiba menangis.
Arga tersenyum, dalam hatinya mungkin ini bawaan wanita hamil perasaannya begitu berubah-ubah.
Sesampainya di rumah, Arga langsung menyuruh Vira untuk istirahat dan dia melarang Vira turun dari tempat tidurnya.
____
Jam menunjukkan pukul 9 pagi, sesuai permintaan Aftar hari ini Kinan ikut ke kantornya karena Aftar ingin terus melihat wajah cantik istrinya.
Aftar terus sibuk dengan pekerjaannya, membuat Kinan merasa jenuh karena hanya diam dan duduk saja.
"Dulu waktu aku masih kerja di sini, aku setiap hari membawa sapu dan pel-pelan. Siapa sangka kalau akhirnya aku menjadi istri bos dari perusahaan ini," Kinan berbicara sendiri dengan suara pelan.
Kadang-kadang dia masih merindukan saat-saat menjadi cleaning servis waktu dulu. Kalau sekarang mah boro-boro Aftar hanya menyuruhnya duduk saja setiap hari, kerjaan Kinan hanya melayani suaminya dengan baik saja.
"Sayang, kamu kok diam saja?" Tanya Aftar yang melihat Kinan hanya duduk dan tidak bicara.
"Mas kan sedang kerja, jadi aku tidak mau bicara takut menganggu." Jawab Kinan, Aftar tersenyum sungguh istrinya ini ada-ada saja.
"Tidak ada yang merasa terganggu, kemarilah!" Jawab Aftar dan Kinan langsung beranjak dari tempat duduknya menghampiri Aftar yang sedang duduk di kursi kerjanya.
Aftar langsung menarik tangan Kinan hingga Kinan terjatuh tepat di pangkuannya. "Mas, kenapa manja sekali?" Tanya Kinan sambil mengalungkan tangannya ke leher Aftar.
Kini wajah mereka saling bertatapan, sungguh keduanya sama-sama tersenyum bahagia. "Memang kenapa? Mas manja dengan istri mas sendiri," jawab Aftar sambil mengecup pipi Kinan dengan pelan.
Kinan tersenyum simpul, sungguh suaminya ini begitu nakal dia suka sekali main nyosor tanpa meminta izin terlebih dahulu.
"Tidak biasanya mas manja, dulukan mas sedingin es batu." Kinan menempelkan hidungnya di hidung Aftar.
"Kamu sudah berani nakal ya," Aftar membenarkan posisi wajahnya lalu dia mengarahkan bibirnya ke bibir Kinan.
Kini bibir Kinan dan bibir Aftar berjarak beberapa centi hampir saja mereka berciuman.
"Ceklek....." Vino ternganga melihat pemandangan yang indah di hadapannya.
Buru-buru Aftar menjauhkan wajahnya dari wajah Kinan.
"Lain kali ketuk pintu dulu!" Aftar menatapnya dengan kesal.
BERSAMBUNG 🤣
Terimakasih para pembaca setia 😊