
"Maaf Nyonya Herlin, gadis tadi siapa?" Tanya Rosa yang merasa penasaran.
"Dia adalah anakku, Nyonya Rosa." Jawab Herlin sambil tersenyum.
"Anak.....!?"
Rosa memasang wajah terkejut, Kinan hanya tersenyum dengan sopan.
"Nyonya Rosa kok kaget seperti itu? Kinan memang anak saya." Herlin menatap Rosa dengan sorot mata penuh penegasan.
"Tidak Nyonya Herlin, bukannya Nyonya Herlin tidak punya anak?" Tanya Rosa, rasa penasarannya semakin dalam.
"Saya tidak pernah bilang kalau saya tidak punya anak Nyonya Rosa, tapi hari ini saya kenalkan Kinan adalah anak saya dan butik ini saya berikan untuk Kinan," jawab Herlin. Membuat Rosa semakin ternganga tidak percaya.
"Haahh... ini tidak mungkin, aku yakin ini adalah akal-akalan Aftar." Batin Rosa dalam hatinya.
Rosa sungguh tidak percaya, baginya Kinan hanya gadis kampungan yang miskin dan tidak akan pernah cocok bersanding dengan anaknya.
"Para tamu undangan semuanya, hari ini saya mau memberikan pengumuman yang begitu penting!" Herlin sudah berada di tengah-tengah para tamu undangan.
Kini semua tamu sudah berkumpul untuk mendengarkan pengumuman dari Herlin. Sedangkan Rosa masih berdiri dan masih belum percaya dengan kenyataan yang ada.
Herlin mengambil mik lalu dia menatap Kinan dengan tatapan penuh kasih sayang.
"Kinan, Aftar, kemarilah kalian, ajak Kenzo juga ya nak!" Panggil Herlin, Kinan dan Aftar beranjak dari tempat duduk mereka dan Aftar juga mengendong Kenzo di gendongannya.
Kini mereka sudah bergabung dengan Herlin, Kinan melihat mamanya dengan tatapan penuh tanda tanya? "Mama ada apa?" Bisik Kinan di telinga Herlin.
"Mama, ingin semua orang tahu kalau kamu adalah anak mama sayang." Jawab Herlin dengan nada pelan, Kinan tersenyum hampir saja air matanya jatuh. Tapi Aftar langsung mencegahnya. "Hush, tidak boleh menangis!" Tutur Aftar dengan lembut.
"Saya, mau memperkenalkan anak dan menantu saya. Mungkin selama ini kalian semua mengira saya seorang janda yang tidak punya seorang anak, namun kalian salah, karena nyatanya saya punya satu anak yang begitu cantik, yang selama ini saya cari dan akhirnya saya menemukannya dia adalah Kinanti Alisya," kata Herlin. Tangannya terus menggenggam tangan Kinan dengan penuh rasa sayang.
Hati Kinan sungguh bahagia, dia tidak pernah menyangka hidupnya akan seperti ini, dia juga tidak menyangka ternyata mamanya adalah seorang wanita karir yang begitu sukses. Bisa di bilang Herlin ini sultan, karena dia punya banyak butik dan tentunya semuanya sukses.
"Dia adalah putriku, putri satu-satunya yang kelak akan melanjutkan butik-butikku, namun karena suaminya melarang dia untuk terjun menjadi wanita karir, maka butik-butikku kelak akan saya serahkan pada menantuku, dia adalah putra dari keluarga Wijaya yang tidak lain adalah pewaris perusahaan Wijaya yang tersebar di kota ini," sambung Herlin dengan begitu bahagia.
Semua tamu ternganga, apalagi melihat Kinan dan Aftar yang sangat serasi. Semua tamu bertepuk tangan, mereka menyambut kebahagiaan ini dengan begitu senang.
"Nyonya Herlin adalah wanita karir yang hebat."
"Iya biarpun dia seorang janda, tapi dia begitu sukses."
"Anaknya juga sangat cantik."
"Lihat menuntunya juga ternyata bukan kaleng-kaleng."
"Sungguh, Nyonya Herlin aku salut padamu."
Rosa terlihat tidak senang, kali ini dia benar-benar kalau talak dari Kinan yang ternyata anaknya orang kaya raya. Bahkan jika di bandingkan dengan Herlin, Rosa itu tidak ada apa-apanya.
Rosa hanya bisa geleng-geleng kepala, sungguh rasanya masih tidak percaya.
Aftar dan Kinan sama membungkukkan tubuhnya mereka memberikan salam pada semua tamu undangan yang datang.
"Mama, boleh Kinan mengucapkan sepatah kata untuk para tamu undangan disini ma?" Tanya Kinan dengan sopan.
"Tentu saja nak." Herlin memberikan mik yang ada di tangannya pada Kinan.
Tatapan Herlin begitu dalam, sorot matanya memancarkan kebahagiaan yang nyata. Kali ini Herlin hanya bisa terus mengucapkan rasa syukur dalam hatinya.
"Anakku adalah kebahagiaan sesungguhnya, aku kerja keras selama ini hanya demi kamu nak, walaupun mama sempat meninggalkan kamu, tapi mama tidak pernah melupakan kamu Kinan." Batin Herlin dalam hatinya.
"Terimakasih buat semuanya, perkenalkan nama saya Kinanti Alisya. Saya bahagia sekali karena akhirnya saya bertemu dengan mama saya, mungkin sebelum saya bertemu dengan mama saya, saya hanyalah seorang gadis miskin kampungan, bahkan ada orang yang tidak mau menatapku karena dulu saya begitu miskin, bahkan dia menghina saya karena saya sudah mencintai putranya. Saya akui putra beliau begitu baik pada saya, dia Sangat menyayangi saya, hanya saja mama dia tidak pernah memberikan restu gara-gara saya hanya seorang gadis miskin, bagi beliau gadis miskin seperti saya itu tidak pantas untuk putranya," kata Kinan. Buliran air mata itu keluar begitu saja, Kinan ingat dulu waktu Rosa menghina dirinya dengan begitu jahat.
Herlin mendekati Kinan, lalu memeluknya dengan penuh kasih sayang.
"Tapi saya sangat bersyukur, karena perlakuan beliau pada saya waktu itu, itu membawa berkah pada saya, karena akhirnya saya menemukan laki-laki yang begitu mencintai saya dan menyayangi saya, dia adalah laki-laki yang saat ini menjadi suami saya." Kinan terus melanjutkan kata-katanya, Aftar berdiri di sebelah Kinan sambil mengusap punggung Kinan dengan lembut.
"Itu dulu sayang, sekarang tidak akan berani yang menghina kamu lagi. Mereka semua tahu mama kamu adalah anaknya Herlin, dan suami kamu adalah Aftar Sanjaya," tutur Herlin dia meyakinkan Kinan.
Herlin melepaskan pelukannya dari tubuh Kinan, kini Kinan melihat Aftar dengan penuh cinta.
"Kinan hanya mau bilang pada beliau, jangan pernah melihat orang lain dari kemiskinannya karena takdir tidak ada yang tahu dan dunia itu berputar," kata Kinan. Tatapannya begitu dalam pada Aftar.
Aftar tersenyum, lalu Kinan memeluk Aftar dan Kenzo secara bersamaan. Merekalah kebahagiaan terbesar dalam hidupnya untuk saat ini dan salamanya.
"Mas, terimakasih sudah hadir dalam hidupku!" Kata Kinan, dengan senyum manis di sudut bibirnya.
"Sama-sama istriku, kamu harus bahagia Selalu!" Jawab Aftar di sela-sela pelukannya.
Sanjaya, Caca dan Vino, mereka sangat terharu melihat kebahagiaan yang ada di hadapan mereka.
"Kinan, kamu harus bahagia!" Kata Caca, dia terlihat sedih tapi bersemangat.
"Sayang, kamu juga harus bahagia!" Sambung Vino, membuat Sanjaya tersenyum bahagia.
"Vino, Aftar, kalian adalah cucu-cucuku. Teruslah bahagiakan istri-istri kalian selama nya!" Tutur Sanjaya, membuat Vino tersenyum dan tentunya menuruti apa kata Sanjaya pada dirinya.
"Terimakasih, beliau sudah seperti kakekku sendiri." Batin Vino dalam hatinya.
Yang ada di pesta itu semuanya bahagia hanya satu yang tidak bahagia, yaitu Rosa dia terlihat tidak bahagia mendengar dan melihat kenyataan yang ada di hadapannya saat ini.
BERSAMBUNG 😁
Terimakasih para pembaca setia 😊
Mampir yuk ke karya baru Author 🙏