Menikah Kontrak 100 Hari

Menikah Kontrak 100 Hari
Istriku sepolos toples


"Sebelum kita melakukan lebih lanjut, aku mau bertanya padamu apa kamu masih mencintai mantanmu yang bernama Kinan?" Tanya Vira dengan tegas, Vira juga tidak mau di apa-apain sama Arga kalau Arga masih mencintai Kinan.


"Akuuu....."


"Aku tahu kamu pasti mencintai Kinan." Vira memotong kata-kata Arga.


Arga menatap Vira dengan tatapan penuh arti. "Vira, mulai sekarang aku akan berusaha melupakan Kinan dan kalau kamu tidak ke beratan mari kita mulai dari awal!" Tatapan mata Arga semakin dalam.


Vira terdiam, dia mencerna perkataan Arga dengan baik.


"Mulai dari awal, maksudnya?" Batin Vira dalam hatinya.


"Vir, kenapa kamu diam saja?" Tanya Arga tampak ragu-ragu, dalam pikirannya dia takut kalau dirinya salah bicara.


"Tidak apa-apa, baiklah mari kita mulai dari awal!" Jawab Vira, menurut Vira tidak ada salahnya menerima apa yang dikatakan oleh Arga.


Arga tampak bahagia dan dia langsung mendaratkan bibirnya di bibir Vira, kini mereka saling berciuman dengan lembut dan masih sangat kagok, Vira saja masih malu-malu menerima ciuman dari Arga.


Setelah beberapa lama mereka berciuman, Arga melepaskan bibirnya dari bibir Vira. Kini mereka sama-sama tersenyum dan Arga langsung mengandeng tangan Vira masuk ke dalam rumahnya.


Aftar dan Kinan.


Malam menunjukkan pukul 9 malam lewat Aftar dan Kinan baru saja selesai makan bersama Sanjaya.


Setelah selesai makan malam, Aftar dan Kinan tidak langsung tidur karena Sanjaya mengajak mereka menonton televisi bersama.


Kini mereka sudah duduk di ruang keluarga, cemilan dan teh hangat juga di siapkan oleh Kinan untuk suaminya dan kakeknya.


Kinan dan Aftar duduk agak berjauhan membuat Sanjaya bingung.


"Biasanya lengket seperti amplop dan prangko, tapi malam ini sepertinya mereka sedang bertengkar." Batin Sanjaya dalam hatinya.


"Apa, duduk kalian jaraknya tidak terlalu jauh?" Cetus Sanjaya tiba-tiba, membuat Aftar menjadi gugup dan buru-buru menggeser duduknya ke dekat Kinan.


Diam-diam Kinan menahan tawanya, sungguh wajah gugup Aftar menurut Kinan itu sangat lucu sekali.


"Kakek tidak tahu saja, kalau cucu kesayangannya itu habis kesambet setan di danau." Kinan tertawa dalam hatinya.


"Kinan, Aftar, kalian baik-baik sajakan?" Tanya Sanjaya matanya melihat Kinan dan Aftar.


"Kakek, kita baik-baik saja. Iyakan sayang." Jawab Aftar sambil meyingkut lengan tangan Kinan. "Emm iya kek, kita baik-baik saja," Kinan tersenyum pada Sanjaya.


"Syukurlah, kalau ada masalah apa-apa dalam rumah tangga kalian harus bicarakan baik-baik. Ingat jangan pakai emosi, karena itu semua tidak akan menyelesaikan masalah yang ada." Tutur Sanjaya dengan senyum hangat seperti biasanya.


"Kakek, boleh Aftar boleh bertanya sesuatu?" Tanya Aftar tiba-tiba dan dia anggukin oleh Sanjaya. "Katakan nak, mau tanya apa?" Tanya Sanajaya dengan nada lembut.


"Jika seorang wanita yang sudah bersuami, bolehkah dia menerima telpon dari laki-laki lain? Dan saat menerima telpon itu, dia tidak di hadapan suaminya?" Tanya Aftar, membuat Kinan ternganga.


"Apa, Mas Aftar sedang menyindirku?" Batin Kinan dalam hatinya.


Sanjaya paham apa maksud cucunya itu, Sanjaya terus memperhatikan wajah tampan Aftar.


"Sepertinya Aftar sedang cemburu." Sanjaya tersenyum dalam hatinya.


"Jika memang hanya seorang teman biarkan saja dia menerima telponnya. Tapi jika dia menerima di belakangmu, kamu harus hati-hati dalam menjaga istrimu." Jawab Sanajaya dengan nada meledek.


"Kakek, itu hanya telpon dari teman SMA dan aku juga mengangkat telpon tidak di hadapan Mas Aftar, aku juga sudah meminta izin pada dia kek." Cetus Kinan tiba-tiba, membuat Sanajaya tertawa kecil.


"Kalian itu begitu lucu, Aftar di mata terlihat kamu sedang cemburu pada istrimu." Sanjaya melihat ke arah Aftar.


"Kakek, aku tidak cemburu." Elak Aftar dengan gugup.


Kinan menatap Aftar dengan tatapan kesal, Kinan merasa heran saja dengan sikap Aftar semenjak pulang dari danau tadi.


"Kalian selesaikan masalah kalian dengan baik, ketika suami istri punya masalah selesai kan sebelum tidur!" Tutur Sanjaya pada cucu dan cucu menantunya.


Kinan dan Aftar sama-sama menganggukan kepalanya.


Aftar dan Kinan juga sama-sama beranjak dari tempat duduknya. Mereka berjalan ke kamar berdampingan.


"Dasar tukang ngadu." Cetus Kinan kesal.


"Dasar kepedean," Aftar berjalan mendahului Kinan.


Kini mereka sudah sama-sama berada di kamar, Kinan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur dan Aftar juga melakukan hal yang sama.


"Mas, kamu tidur di sofa!" Kinan mendorong Aftar hingga jatuh. "Brukkkkk...." Aftar merintih kesakitan.


"Kinan, apa salahnya berbagi tempat tidur? Bukankah dalam kontrak kamu yang tidur di bawa dan aku yang di atas." Aftar bangun dari tempatnya terjatuh sambil memegangi pinggangnya yang sakit.


"Aku tidak mau! Mas, aku ini perempuan apa salahnya mas mengalah?" Kinan memasang wajah memelas.


Aftar duduk di tepi ranjang, "Pijat dulu pinggangku, nanti aku tidur di sofa." Kata Aftar dan Kinan menuruti perintah dari Aftar.


Kini kini sedang memijat pinggang Aftar, "Kinan, pelan-pelan!" Omel Aftar dengan kesal.


"Mas, ini sudah paling pelan." Jawab Kinan yang tidak kalah kesal.


"Sudahlah, aku tidak mau tidur di sofa lebih baik kita berbagi tempat tidur saja!" Aftar membaringkan tubuhnya di atas kasur, Kinan mendengus kesal rasanya ingin menendang Aftar agar jatuh tapi Kinan kasian.


Kinan duduk sambil diam sedangkan Aftar sudah masuk ke dalam selimut.


"Kenapa? Tidurlah!" Pinta Aftar sambil melihat Kinan yang sedang manyun karena rasa kesalnya.


"Haruskah, aku mencium bibirmu agar kamu tidak manyun lagi?" Batin Aftar dalam hatinya.


"Mas, bukankah dalam perjanjian kontrak kita tidak boleh tidur satu ranjang." Kinan mengingatkan perjanjian dalam kontrak pada Aftar.


"Aku bisa merobek surat kontrak itu kapan saja." Jawab Aftar dengan cepat.


Dalam hati Kinan, dasar semuanya sendiri aku malas sekali tidur di sofa apalagi di bawa semua badanku terasa sakit.


"Jika kita tidur berdua, lalu aku hamil bagaimana mas?" Tanya Kinan dengan begitu polosnya.


Aftar tertawa kecil, menurutnya Kinan begitu lucu." Kinanti, jika kita hanya tidur berdua dan tidak melakukan sesuatu makan semuanya akan baik-baik saja dan kamu juga tidak akan hamil." Tutur Aftar, dia berusaha memberikan pengertian kepada istrinya yang sepolos toples itu.


"Sungguh?" Kinan memastikan.


"Istriku, untuk membuat seorang perempuan agar hamil itu juga ada prosesnya. Apa kamu mau aku ajarin?" Tanya Aftar dengan nada menggoda.


"Tidak mau, sudahlah kita tidur dan jadikan bantal guling ini sebagai pembatas di antara kita!" Tolak Kinan sambil menaruh bantal guling di tengah-tengah mereka tidur.


Aftar hanya diam dan membiarkan istrinya melakukan apa yang dirinya mau.


"Kinan, jika di antara kita terjadi sesuatu bukankah itu bagus." Batin Aftar dalam hatinya.


Setelah menaruh bantal guling di tengah-tengah mereka, Kinan membantingkan tubuhnya lalu menyelimuti tubuh mungilnya.


"Mas...." Panggil Kinan.


"Iya kenapa?" Tanya Aftar.


"Awas jangan macam-macam!" Ancam Kinan.


"Aku tidak tahu, apa yang akan terjadi nanti saat kita tidur." Jawab Aftar dengan tegas.


BERSAMBUNG ๐Ÿ˜Š


Terimakasih para pembaca setia๐Ÿ™


Cerita ini hanya sebuah hiburan, mudah-mudahan bisa menghibur kakak-kakak semuanya ๐Ÿค—