Menikah Kontrak 100 Hari

Menikah Kontrak 100 Hari
Panggil aku Mas Aftar


Seketika Aftar hanya diam saja dan dalam hatinya di penuhi dengan kesalahan yang telah dia lakukan.


Tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, Aftar berpamitan pada kakeknya untuk mengantarkan Kinan pulang ke rumahnya.


"Kakek, sudah malam aku antar Kinan pulang dulu ya. Kakek juga istirahat!" Pamit Aftar pada Sanjaya.


"Iya nak, oh iya untuk acara pernikahanmu semuanya sudah siap?" Tanya Sanjaya sebelum Aftar dan Kinan keluar dari dalam kamarnya.


"Sudah kek, Vino sudah mengurus semuanya dengan baik." Jawab Aftar sambil melihat wajah cantik Kinan.


"Ternyata dia sangat cantik." Puji Aftar dalam hatinya.


"Baguslah, Kinan sayang kamu jaga dirimu baik-baik ya nak. Oh Iya, Aftar kamu bawakan Beberapa pengawal untuk menjaga Kinan!" Kata Sanjaya, yang takut Kinan kenapa-kenapa.


"Kakek, tidak usah. Kinan tidak akan nyaman jika harus ada pengawal di rumah Kinan." Tolak Kinan begitu halus.


"Kakek tidak usah kawatir, jika kakek takut terjadi sesuatu pada calon cucu menantu kakek, Aftar siap kek untuk menjaganya." Tawar Aftar dengan begitu jail.


Wajah cantik Kinan seketika berubah menjadi garang, sungguh menurut dia Aftar itu sengaja mencari-cari kesempatan untuk bisa dekat dengan dirinya.


"Boleh itu nak, lagian kalian kan sudah akan menikah ini." Sanjaya setuju dengan ide Aftar.


"Kalaupun terjadi sesuatu, yang penting aku cepat punya cicit." Sanjaya tertawa dalam hatinya.


"Tidak usah kek, tidak baik kek kan sebentar lagi aku dan Aftar akan menikah jadi tidak baik jika Aftar menginap di rumahku kek." Jawab Kinan dengan nada malu-malu.


"Baik-baiklah, Aftar kamu antarkan calon cucu menantu kakek dengan selamat, ingat jangan sampai ada yang lecet!" Tegas Sanjaya pada Aftar.


"Siap kek, kita pamit dulu kek." Aftar menyalami tangan kakeknya, Kinan juga melakukan hal yang sama.


"Lecet sedikit tidak apa-apa kali kek." Batin Aftar dalam hatinya.


Setelah berpamitan dengan kakeknya, Aftar langsung pergi mengantarkan Kinan pulang ke rumahnya.


_____


Di rumah Arga dan Vira.


Seperti malam-malam biasanya, Arga selalu keluyuran di luar rumah. Vira yang dari tadi menunggu suaminya pulang, sebenarnya dia juga merasa sangat kesal. Apalagi sebagai seorang istri Vira sama sekali tidak pernah di hargai oleh Arga.


Vira bertahan dengan pernikahannya, karena dia tidak mungkin meminta cerai di saat usia pernikahan mereka yang baru menghitung hari.


Sambil menonton televisi, Vira merasa gelisah karena Arga pergi dari sore sampai sekarang belum pulang juga.


"Sudah mau jam 11 malam, tapi Arga belum pulang juga. Sungguh keterlaluan sekali, dia anggap aku ini satpamnya yang harus setiap hari menunggunya hanya untuk membukakan pintu rumah?" Kata Vira, raut wajah tampak marah.


Biarpun Vira merasa marah, tapi dia tetap menunggu suaminya pulang. Dia tidak mau kalau sampai malam-malam bertengkar dengan Arga hanya karena dirinya tidak menunggunya sampai pulang.


Arga itu aneh, dia tidak mencintai Vira, dia juga tidak menginginkan Vira, tapi dia ingin setiap hari Vira menyambutnya pulang setiap malam, jika Vira sampai ketiduran atau waktu Arga pulang dia tidak menunggunya pasti Arga akan terus mengomelinya, ntahlah apa mau Arga dari Vira sebenarnya?


_____


Di sebuah club malam, Arga sedang bersenang-senang dengan banyak wanita nakal bahkan Arga juga mabuk-mabukan.


"Ar, kamu tidak pulang kasian Vira di rumah sendirian!" Tanya Pras, yang tidak lain adalah teman Arga.


"Sudahlah Pras, biarkan saja dia di rumah sendirian. Kalau aku belum pulang pasti dia tidak akan tidur," Jawab Arga sambil menikmati minumannya, Arga sudah sangat mabuk tapi belum mau pulang juga.


"Ar, jangan egois! Vira itu wanita yang baik jangan kamu sakiti hatinya!" Kata Pras, yang mengenal Vira waktu satu sekolah dengan dirinya.


Pras dan Vira dulu satu sekolah, makanya Pras tahu betul seperti apa Vira? Dan Pras kenal dengan Arga ya di club malam ini karena Pras juga suka nongkrong di situ tapi dia tidak mabuk-mabukan, hanya suka saja ke club malam melihat wanita-wanita cantik yang berpakaian kurang bahan.


"Biarkan saja, aku tidak mencintai Vira yang aku cintai adalah Kinan." Tegas Arga, dalam keadaan mabuk pun Arga masih terus ingat dengan Kinan.


Pras tersenyum miris, Pras tahu kalau Kinan adalah mantan kekasih Arga. Tapi Arga sungguh keterlaluan padahal sudah menikah tapi masih saja mengingat Kinan.


"Terserah kamu, sekarang ayo kita pulang! Ini sudah malam," Pras memapah Arga keluar dari club malam itu.


Dalam hati Arga, Vira kamu kasian sekali wanita secantik kamu tapi mendapatkan suami egois seperti Arga.


Pras langsung memasukkan Arga ke dalam mobilnya, lalu mengatarkan Arga pulang ke rumahnya.


____


Aftar sudah sampai di rumah Kinan, Kinan dan Aftar sedang duduk di depan teras depan rumah Kinan.


"Terimakasih untuk hari ini." Kata Aftar, dia mulai membuka obrolan.


"Setelah menikah, kita akan tinggal di rumah kakek jadi jangan biasakan panggil aku pak!" Kata Aftar pada Kinan, membuat Kinan bingung harus memanggil Aftar dengan sebutan apa?


Kinan berpikir sejenak "Apa, aku panggil Aftar saja?" Tanya Kinan ragu-ragu.


Aftar menggelengang kepalanya "Kinan, kita itu akan menikah dan kamu akan menjadi istriku, jika kamu hanya memanggilku dengan sebutan nama pasti kakek akan prostes." Jawab Aftar panjang lebar.


Sungguh Kinan ingin sekali menjewer telinga Aftar "Lalu, aku harus memanggil Pak Aftar dengan sebutan apa?" Tanya Kinan dengan begitu lembut, tapi raut wajahnya tampak kesal.


Aftar tersenyum jail, membuat Kinan menatapnya dengan tatapan bingung "Kenapa pak?" Tanya Kinan sambil melirik Aftar dengan kesal.


"Mulai sekarang, panggil aku Mas Aftar!" Jawab Aftar dengan tawa kecil di sudut bibirnya.


Kinan akhirnya mengeluarkan tawanya sejadi-jadinya, sungguh lidahnya bisa keseleo kalau dia harus memanggil Aftar dengan sebutan Mas Aftar.


"Panggil Mas Aftar?" Kinan memastikan.


"Iya Mas Aftar, biar mesra di depan kakek, biar akting kita lebih meyakinkan!" Aftar tertawa kecil, dalam hatinya terasa begitu bahagia.


"Ntahlah, tiba-tiba hatiku terasa begitu bahagia." Batin Aftar dalam hatinya.


"Tadi minta di panggil sayang, sekarang minta di panggil mas. Bagaimana, kalau aku panggil bapak dengan sebutan manusia es saja?" Tawar Kinan, dia mencoba bernegosiasi pada Aftar.


"Kinan, jangan bergurau! Aku serius," Aftar menatap Kinan dengan tatapan serius.


"Selain mas?" Tanya Kinan.


"Panggil mas saja, biar romantis!" Lagi-lagi Aftar mengambil kesempatan dalam kesempitan.


Akhirnya Kinan menganggukkan kepalanya pertanda setuju.


"Sudahlah, ini demi kesembuhan Kakek Sanjaya." Batin Kinan dalam hatinya.


"Baiklah, aku panggil Mas Aftar." Kinan tersenyum terpaksa.


"Coba lakukan!" Pinta Aftar sambil tertawa penuh kemenangan.


"Mas Aftar." Panggil Kinan dengan nada lembut.


"Bagus, lakukan seperti ini setiap di depan kakek ya!" Aftar tersenyum bahagia.


"Kinan, kamu begitu menggemaskan." Hati Aftar terus berbicara.


"Sudah malam, aku pulang dulu ya. Kamu tidurlah, ingat besok pagi tidak usah masuk kerja dan kamu cukup diam di rumah, nanti supirku akan menjemputmu untuk melakukan perawatan sebelum kita menikah." Kata Aftar, dia beranjak dari tempat duduknya lalu mengulurkan tangannya kepada Kinan, membuat Kinan bingung.


"Kenapa?" Tanya Kinan.


"Aku pamit pulang, biasakan cium tanganku setiap kali aku berpamitan kemana-mana!" Tutur Aftar, dalam hati Aftar tertawa bahagia.


Kinan menuruti apa kata Aftar, dia mencium tangan Aftar sebelum Aftar pulang.


Lagi-lagi Aftar mengambil kesempatan tapi Kinan tidak sadar, Kinan hanya menuruti apa yang Aftar suruh.


Setelah berpamitan dengan Kinan dan malam ini Aftar menang banyak, Aftar langsung menaiki mobilnya menuju ke rumahnya. Setelah mobil Aftar tidak kelihatan Kinan juga langsung masuk ke dalam rumahnya.


____


Arga sudah sampai rumah, Vira merasa sangat kesal sekali karena Arga pulang dalam keadaan mabuk berat seperti saat ini.


"Sampai kapan, kamu akan menyiksa dirimu sendiri hanya karena satu wanita?" Tanya Vira sambil melepas pakaian Arga karena Arga muntah.


Dengan sabar Vira membersihkan tubuh suaminya, setelah selesai Vira menyelimuti Arga lalu dirinya membaringkan tubuhnya di samping Arga.


"Kinan....?!" Lirih Arga yang masih memejamkan matanya.


"Saat tidur pun, dia masih bisa menyebut namanya." Vira membalikkan tubuhnya, sekarang posisi tidurnya membelakangi Arga.


Arga terus mengigau sambil menyebut nama Kinan, Vira hanya diam dan memejamkan matanya tanpa memperdulikan Arga.


Berat menjadi Vira, apalagi suaminya sendiri masih selalu mengingat mantan kekasihnya.


BERSAMBUNG 🤧


Terimakasih para pembaca setia 😊