
#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!
"Tidak punya pilihan lain ya?" tanya Whisk sembari menampakkan wajah kecewanya secara terang-terangan terhadap Haz.
Karena sikap Whisk yang seperti itu, Haz jadi menyadari satu hal: Pria bersurai kemerahan sangat cemburu dengan sikap Haz kepada Nich. Padahal wanita itu menganggap perlakuannya biasa saja.
"Kamu sudah tahu jawabannya, Haz ...," kata Whisk. Dia memalingkan wajahnya dari Haz.
Haz sebenarnya merasa kasihan kepada Whisk. Dia ingin mengajak pria itu berkencan. Dalam pembahasan yang lebih ringan, dia ingin melakukan PDKT dengan Whisk. Barangkali jika mereka cocok, wanita berambut panjang gelombang akan berpikir kembali, apakah dia harus menerima atau menolak perasaan Whisk.
"Kita tidak memiliki waktu untuk membahas soal perasaan, Whisk. Atau, lebih tepatnya, aku yang tidak memiliki waktu untuk membahas soal perasaan. Tidak untuk sekarang."
Haz tahu dan sangat paham kalau dia sudah mengecewakan Whisk dan hati kecil pria itu berkali-kali. Dia tidak memiliki pilihan lain.
"Aku tahu." Whisk memasang ekspresi itu lagi. Ekspresi yang ditampakkannya di Gramedia beberapa saat yang lalu. Ekspresi itu juga yang membuat Haz merasa sangat bersalah kepadanya.
"Maafkan aku ...." Haz juga ikut sedih karena Whisk menampakkan ekspresi itu lagi. Dia tidak tega. Di saat bersamaan, dia tidak bisa melakukan apa-apa.
Di saat yang bersamaan, di luar kamar pasien yang ditempati Zenneth ....
Kamu terlalu terburu-buru, Detective Whisky Woods. Tapi, jika aku ada di posisinya, mungkin aku akan begitu juga, batin Nich.
Nich segera mengalihkan pandangannya saat rekannya menghampirinya. Dia tersenyum tipis dan mengangguk pelan. "Di sini. Tolong dijaga. Wanita yang terbaring di atas hospital bed adalah korban percobaan pembunuhan. Jika dia sadar, tolong jangan membebani pikirannya. Wanita di samping itu akan melakukan interogasi untuk kita." Dia memberitahu rekannya tentang tugas yang harus dia kerjakan.
Rekan Nich mengangguk paham tanpa mengatakan sepatah kata pun. Dia mulai berjaga di depan kamar pasien.
Nich juga menyuruh mereka mengganti shift. Sepertinya polisi itu bisa dipercaya.
Nich kembali ke mobilnya yang terparkir di parkiran rumah sakit. Dia akan memantau jika saja ada orang mencurigakan yang keluar-masuk dari rumah sakit.
"Aku harus memberitahu Cyan tentang hal ini." Haz menyela kesedihan Whisk dan merogoh saku untuk mengambil ponselnya.
Haz langsung menekan tombol telepon ketika sudah mendapatkan kontak orang yang dicarinya.
Tak lama kemudian, telepon pun tersambung.
"Halo?" Suara Cyan sangat berat. Pertanda dia dipaksa bangun oleh dering telepon dari Haz.
Haz menghela napas panjang dan memutar bola mata malas. "Tidak ada waktu untuk bersantai. Keadaan sangat serius."
"Hoam." Bahkan ketika Haz berkata keadaan sangat serius pun, Cyan masih bisa menguap.
"Cyan Vilmasyah!" bentak Haz.
"Siap, Nona Hazelia Lify!" Cyan pasti sedang memposekan hal memalukan di seberang sana, yang Haz tidak ingin tahu apa yang sedang diposekan pria itu.
"Dengar baik-baik, babii malas. I-"
"Hei! Aku bukan babii malas!" sanggah Cyan tidak terima.
"Zenneth dalam bahaya." Perkataan itu sukses membuat Cyan terdiam selama beberapa saat sebelum gendang telinga Haz terasa ingin pecah karena teriakan pria itu.
"Apa? Apa kamu bilang? Zenneth dalam bahaya? Bagaimana bisa? Apa yang sudah kalian lakukan? Astaga! Aku bisa gila!" Cyan terdengar sangat buru-buru di telepon.
"Rumah sakit depan rumah Zenneth." Haz hanya berkata seperti itu sebagai penutup dan langsung menutup telepon.
"Kamu makhluk berdarah dingin, sungguh, Hazelia Lify."