Lady Sherlock : First Unofficial Case

Lady Sherlock : First Unofficial Case
79 : Filsafat


#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!


"Yang penting kau tidak berakhir lagi pada suasana buruk setelah bertelepon dengan Jelkesya. Aku tidak begitu suka melihat wajah sedih mu itu. Jika dia masih saja membuatmu bersedih, aku akan benar-benar akan mendatanginya langsung. Bersama dengan pacarnya tentu saja," ancam Zenneth.


"Terima kasih atas perhatianmu Zenneth ... tapi aku benar-benar tidak membutuhkan bantuan orang lain. Aku hanya membutuhkan waktu untuk memulihkan kembali perasaanku yang sedang kacau. Apalagi sampai mendatangi Jelkesya, sungguh itu tidak perlu dilakukan. Itu hanya akan membuang-buang waktumu yang berharga," kata Haz.


"Kamu itu sangat keras kepala, Hazelia. Kamu selalu disakiti oleh orang lain, tapi kamu juga yang selalu mengalah walaupun tahu bahwa orang itu yang salah. Bukan dirimu. Kamu terlalu baik dan aku membenci hal itu," ujar Zenneth. Dia kesal dengan sikap Haz yang selalu mengutamakan orang lain dan berakhir pada menyakiti dirinya sendiri.


"Tidak selamanya aku baik, Zen." Haz tersenyum sambil menatap layar ponsel yang menghitam. "Koin memiliki dua sisi. Terkadang dia bisa saja angka, terkadang dia bisa saja gambar. Koin itu bagai kepribadian seseorang dengan topengnya. Begitu pula dengan manusia. Terkadang dia menunjukkan sifat aslinya, terkadang dia harus memakai topeng untuk mencerminkan kepribadian lain yang ada di dalam dirinya ... dan aku adalah salah satunya. Aku itu bagai dua sisi mata uang logam. Kadang bisa begini, kadang bisa begitu. Itu semua tergantung pada siapa yang sedang bersama denganku dan bagaimana aku harus menyesuaikan diri dengan lingkungan ku."


Haz menghela napas panjang, kemudian melanjutkan, "Kita ini bagaikan hewan yang terlepas bebas di alam liar. Kita adalah hewannya dan lingkungan kita adalah alam liar. Maaf ini terkesan agak kasar, walau aku tahu kita bukan hewan, tapi banyak sekali orang-orang di luar sana yang bersikap lebih buruk dari hewan. Jadi, anggap saja begitu. Kita tidak selamanya berada di urutan terbawah dalam sistem rimba. Ada saatnya kita akan berada di atas dan menguasai segalanya, segalanya ... sampai akhirnya kita jatuh lagi ke urutan paling bawah. Tergeser oleh hewan lain yang semakin buas. Itu siklus hidup ... dan ... terkadang manusia suka lupa akan hal itu. Hidup itu keras. Keras adalah wujud nyata bahwa seseorang itu hidup. Bahkan yang katanya negara terbahagia di dunia, seperti Bhutan pun tetap saja ada yang merasa sangat menderita hidup di tempat seperti itu. Apa pun yang terjadi, seberapa berat pun cobaan yang akan dihadapi, tetap saja tidak akan menghapuskan kenyataan bahwa: "Hidup adalah sebuah panggung komedi bagi yang memikirkannya, dan akan berubah menjadi sebuah tragedi bagi yang merasakannya." Begitu kata W. S. Gilbert yang akhirnya ku pahami setelah bertahun-tahun memikirkan dan merasakan apa itu hidup dan apa makna dari hidup."


Semua orang terdiam ketika mendengarkan penjelasan Haz. Whisk tentu saja sedang memahami perkataan Haz, sedangkan Cyan dan Zenneth berusaha mencerna mentah-mentah apa yang sudah dikatakan oleh wanita berambut panjang gelombang. Yang paling mudah memahami di antara mereka bertiga tentu saja adalah Whisk. Namun tetap saja, pria itu juga tidak bisa langsung memahami apa yang ingin disampaikan oleh Haz.


Haz menatap layar ponselnya yang bergetar, ada sebuah pesan yang masuk dari Riko. Dia segera membuka layar kunci, membuka pesan yang dikirim oleh Riko dan membacanya.


~


Riko: Waktu bersantai sudah selesai ... kami merasa ada yang memperhatikan gerak-gerik kami. Apa yang harus kami lakukan setelah ini?


~


Ini jam ... tujuh lewat lima menit. Ternyata kami sudah menghabiskan waktu cukup lama untuk bersantai. Sekarang saatnya merencanakan dan merenungkan aksi selanjutnya. Tapi, lebih baik mengurangi jadwal pertemuan dengan kak Rika dan kak Riko sebelum pihak ketiga curiga bahwa kami dan kelompok Vinzeliulaika bekerjasama. Mereka bisa mempersempit ruang mereka hingga akhirnya menghilang sama sekali dari radar, pikir Haz.


Sebuah pesan masuk kembali ke ponsel Haz. Masih dari Riko.


~


Riko: Kenapa kamu cuma membaca pesan yang ku kirimkan?


Riko: Cepat balas.


~


Kak Riko benar-benar tidak sabar ya. Aku hanya sedang memikirkan jadwal pertemuan yang bagus. Jika saja sampai ketahuan bahwa kami dan kalian bekerjasama, tidak hanya kami, tapi juga kelompok kalian akan terkena masalah yang cukup serius, batin Haz.


Haz segera menarikan kedua jari jempolnya di atas keypad ponselnya.


~


Haz: Aku hanya sedang memikirkan sesuatu ....


Haz: Akan lebih baik jika kita mengurangi jadwal pertemuan yang akan diadakan.


Haz: Demi menjaga keamanan kerjasama kelompok.


Haz: Aku juga merasa ada seseorang yang sedang memperhatikan kami dari luar mobil, dari kejauhan.


Haz: Lebih baik kak Rika dan kak Riko segera menjenguk Ric di rumah sakit.


Haz: Aku takut terjadi sesuatu yang buruk kepadanya dan masalah akan bertambah rumit.


Haz: Meskipun aku tahu kalau banyak bodyguard yang berjaga di beberapa titik dekat kamar yang ditempatinya.


Haz: Tapi, itu tetap saja tidak menurunkan kemungkinan bahwa akan ada orang yang nekad menerobos.


~


Aku rasa begini sudah cukup. Aku yakin sekali kak Rika dan kak Riko pasti memahami maksudku. Lagipula, sangat berbahaya jika benar-benar meninggalkan Ric seorang diri tanpa dijaga seperti itu. Bisa saja terjadi sesuatu dan urusannya semakin rumit. Fokus kak Rika dan kak Riko juga sudah terbagi menjadi dua, antara menjaga Ric dan mencari tahu siapa yang meracuninya. Kasus ini sampai sekarang masih saja abu-abu ....


Haz menghela napas panjang dan menatap kembali ke layar ponsel yang bergetar.


~


Riko: Baiklah.


Riko: Lakukan saja seperti perkataan mu.


Riko: [Lebih baik kak Rika dan kak Riko segera menjenguk Ric di rumah sakit.] Kami akan melakukan hal ini.


Riko: Terima kasih sudah mengingatkan.


Riko: Sampai jumpa.


Riko: Tolong susun jadwal pertemuannya.


~


Haz menyeringai manis. Dia membalas pesan itu.


~


Haz: [Tolong susun jadwal pertemuannya.] Tentu saja aku akan melakukan hal ini.


Haz: Semoga harimu menyenangkan, kak. ^^


~


Haz tak lagi membaca pesan yang masuk ke dalam ponselnya. Dia tahu pesan yang baru saja masuk adalah pesan dari Jel. Dia sedang tidak memiliki mood untuk berdebat dengan Jel. Jadi, dia lebih memilih untuk mengabaikan pesan dan telepon dari wanita itu. Setelah badai di antara mereka berdua reda, dia baru akan menelepon balik. Dia sedang tidak ingin mendengar ocehan orang lain. Dia sudah cukup mendengar ocehan dari Zenneth. Tidak ingin lebih.


Maafkan aku Jel ... jika suasana hatiku membaik, aku akan menelepon mu balik. Mungkin dalam beberapa hari. Paling lama satu minggu setelah ini.