
#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!
"Ini si anak bandel sudah datang," kata Cyan sambil menatap ke arah Haz. Dia tersenyum manis kepada Haz yang merebahkan tubuhnya ke atas sofa, mencari-cari posisi yang nyaman untuk dirinya sendiri duduk.
"Sudah? Kenapa tidak kena ledakan bom saja?" tanya Zenneth dengan nada kesal. Tatapannya tidak lepas dari komputer di hadapannya, tapi Haz bisa menemukan kekesalan dari tatapan tersebut dan wanita itu hanya bisa berdiam diri.
"Sudahlah, Zenneth. Jujur saja, kamu bahkan tidak mau Hazelia kenapa-kenapa. Mungkin dia memang keras kepala dan tidak ingin mendengarkan orang lain, tapi dia bisa menempatkan posisinya di bagian yang baik-baik saja. Kamu seperti tidak tahu seorang Hazelia Lify saja," bujuk Cyan. Dia tidak ingin kedua sahabatnya itu bermarahan.
Whisk berdiri di ambang pintu ruangan dan melipat kedua tangannya di depan dada. "Zenneth, sepertinya kamu harus meretas cctv jalanan yang telah lama rusak di dekat sewer sebelum kepala Hazelia meledak seperti balon yang meletus," katanya sambil menggoda Haz.
Zenneth mengalihkan perhatiannya kepada Whisk dan bertanya, "Cctv jalanan dekat sewer? Memangnya ada apa?"
"Dia bilang tadi ada sebuah mobil hitam yang terpental beberapa meter darinya karena terkena ledakan bom. Ledakan bom itu adalah fakta dan polisi juga pasti akan mengamankan TKP. Tapi, Hazelia bilang bahwa dia melihat sebuah mobil hitam yang bahkan tidak melewati diriku sama sekali berjalan ke depan sana dari arah yang berlawanan dengan Hazelia—yang berarti datang dari arahku. Dia penasaran sampai ingin segera memastikan apakah mobil itu hanya proyeksi visual atau kejadian yang benar-benar terjadi." Whisk menjelaskan kepada Zenneth. Dia tahu Zenneth sedang marah kepada Haz dan tidak akan mendengarkan permintaan wanita itu.
"Sebuah mobil hitam datang dari arahmu, tapi kamu tidak melihatnya sama sekali? Apakah kamu melewatkannya?" tanya Zenneth pada Whisk.
"Tidak. Aku yakin sekali tidak melewatkan apa pun. Tidak ada mobil yang melewati jalan itu sama sekali. Aku bisa menjamin hal itu terjadi," jawab Whisk.
"Jalan yang kalian maksud adalah jalan dua arah menuju tempat ini, kan?" tanya Cyan.
"Benar sekali," jawab Zenneth. Dia terlihat berpikir sejenak. "Aku bisa mencari tahu dan meretas cctv yang sudah rusak. Tapi, apakah kamu sudah menemukan jawabannya, Whisky Woods?"
"Kamu sudah mendapatkannya. Di tempat ini," jawab Whisk. Dia baru menyadari apa yang diinginkan oleh Zenneth saat berpisah dengan Haz tadi: Tempat yang nyaman untuk bekerja, alat yang memadai, terlepas dari jangkauan polisi, dan banyak camilan tentu saja.
"Oke. Deal. Aku akan meretas dalam waktu sesingkat-singkatnya. Meskipun cctv mati, tetap saja bisa merekam aktivitas yang terjadi. Seperti yang otak manusia lakukan." Zenneth mulai mengoceh tentang cctv yang bekerja layaknya otak manusia.
Cyan dan Whisk mendengarkan ocehan Zenneth, sedangkan Haz sendiri sudah pamit untuk mandi.
Haz kembali dengan rambut basah dan sebotol minuman dingin di dalam genggaman. Saat itu, Zenneth sudah menyelesaikan ocehannya dan juga sudah selesai meretas cctv jalan.
Terlihat ledakan bom terjadi dan tidak ada satu mobil pun seperti yang diceritakan oleh Haz kepada Whisk—yang kemudian diceritakan oleh Whisk kepada Zenneth dan Cyan. Itu jelas membuktikan bahwa mobil yang dilihat oleh Haz hanyalah proyeksi visual belaka. Sesuai dengan pernyataan Whisk, tidak ada satu mobil pun yang melewatinya sama sekali.
Haz melihat cuplikan rekaman cctv dari belakang dengan cermat. Dia memang melihat proyeksi visual, tapi itu terlalu nyata untuknya. Maksudnya adalah bagaimana bisa sebuah mobil terpental dua kali saat ledakan di tempat dan posisi yang sangat pas. Itu adalah hal yang sangat tidak mungkin terjadi, kecuali jika ada orang yang berada langsung di TKP.
"Stop!" seru Haz saat cuplikan rekaman diulang untuk kedua kalinya.
Zenneth yang mendengar itu langsung menghentikan rekaman dan menatap layar monitor. Dia sangat penasaran apa yang ditemukan oleh Haz. Dia tidak bisa benar-benar marah dengan wanita itu.
Zenneth melakukan semua hal yang disuruh oleh Haz.
Cyan dan Whisk menatap monitor dengan seksama, akan tetapi mereka tidak bisa menemukan apa yang dimaksud oleh Haz. Mereka pun menunggu hingga Haz menegak minuman dinginnya sampai habis dan memberi tahu apa yang dilihatnya.
Haz menunjuk ke layar monitor yang menyala.
Cyan, Whisk, dan Zenneth memperhatikan sesuatu yang ditunjuk oleh Haz di layar monitor. Setelah mengamati dengan seksama, di sana ada bayangan orang yang bersembunyi di balik kegelapan semak-semak. Mereka bertiga terhenyak dan langsung mengalihkan perhatian mereka kepada Haz.
Bagaimana caranya dia bisa melihat bayangan seburam ini? Whisk bertanya-tanya, terheran-heran.
"Jawabannya adalah menggunakan insting, Tuan Woods." Haz menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Whisk. Dia seenaknya membaca pikiran orang lagi. "Mataku memang tidak terlalu bagus, tapi instingku delapan puluh sampai sembilan puluh persen dapat dipercaya dan selalu tepat sasaran."
"Jangan seenaknya membaca pikiran orang lain," kata Whisk.
"Aku tidak membaca pikiranmu. Memangnya aku cenayang? Sudah kubilang, jika kamu memahami karakteristik seseorang dengan baik dan benar, isi di dalam kepalanya pun sangat mudah ditebak," sanggah Haz. Dia berjalan memutar hingga berhenti di sudut ruangan. Dia membuang botol minuman dingin yang sudah habis ke tempat sampah. "Aku jadi penasaran dengan orang yang membuat proyeksi visual senyata itu."
Beberapa saat setelah Cyan Vilmasyah, Hazelia Lify, Whisky Woods, dan Zenneth berdebat untuk menebak-nebak siapa yang paling mungkin membuat proyeksi visual senyata berdasarkan apa yang telah dilihat oleh Hazelia Lify ....
Tiba-tiba saja telepon Whisk berbunyi nyaring. Dia menatap layar ponselnya dan menatap semua orang yang ada di sana. Tertera nama: ALKAF di sana. Tatapan pria itu berhenti di Haz.
"Jawab saja, mungkin penting," kata Haz sambil mengangkat bahunya. Dia terlalu malas untuk menebak apa yang akan dikatakan oleh Alkaf.
"Aku merasa bahwa ini tentang sahabatmu itu. Paling juga pacarnya yang emosian itu ingin membawanya pulang ke Pematangsiantar," bisik Zenneth pada Haz. Namun bisikan itu masih bisa didengar oleh telinga Cyan dan Whisk. "Kamu kan selalu melakukan hal yang berbahaya. Apalagi apartemen kalian sudah hancur berantakan."
Whisk menerima panggilan telepon dari Alkaf dan hal pertama yang didengarnya adalah sebuah pertanyaan: "Dimana Hazelnut?" dengan nada penuh penekanan dan ketidaksukaan.
Whisk menatap Haz, seolah berkata kepada wanita itu: "****** kita berdua."
Haz mengisyaratkan kepada Whisk untuk tetap tenang dan menjawab pertanyaan Alkaf.
Whisk melakukan seperti yang disuruh oleh Haz, tetap tenang dan menjawab pertanyaan tersebut. "Haz ada di sini bersamaku. Ada apa?"
"Memangnya kemana handphone-nya? Ditelan bumi? Dia tidak tahu dari tadi Jelly meneleponnya?"