Lady Sherlock : First Unofficial Case

Lady Sherlock : First Unofficial Case
60 : Canggung


#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!


Haz langsung menarik tangannya yang digenggam oleh Whisk. Dia menatap ke arah Whisk bingung.


"Aku benar-benar menyukaimu, Hazelia Lify ... aku tidak sedang membual. Aku tidak bisa memaksamu tentang perasaanku. Aku hanya bisa berharap kamu bisa merasakan hal yang sama terhadap ku," kata Whisk. Dia menarik balik tangannya yang terulur. Dia lupa kalau Haz tidak begitu suka dengan kontak fisik, apalagi dari seorang pria.


"Kita bisa perlahan-lahan memahami satu sama lain. Tidak perlu terburu-buru kan? Lagipula, kita juga sama-sama masih muda," ujar Haz.


Whisk bisa memahami bahwa Haz tidak ingin terburu-buru dalam menjalin hubungan. Dia pun ingin lebih mengenal Haz. Dia tidak ingin Haz merasa tidak nyaman dengan dirinya.


"Baiklah. Aku mengerti maksudmu. Ayo kita pelan-pelan mengenal satu sama lain sebelum memutuskan untuk melanjutkan hubungan pertemanan kita ke jenjang yang lebih serius. Maafkan aku telah membuatmu tidak nyaman," kata Whisk.


Haz tidak membalas perkataan Whisk. Mereka berdua menikmati makan malam bersama dalam diam. Tidak ada topik yang perlu dibicarakan. Whisk pun sadar, hanya dirinya saja yang terlalu terburu-buru. Hanya dia saja yang takut Haz akan menjadi milik orang lain. Padahal sudah jelas Haz tertarik padanya.


Setelah menghabiskan sepiring nasi gorengnya, Haz memanggil Ratih dan melambaikan tangan kepada pelayan wanita itu.


"Ada apa, Nona Hazel?" tanya Ratih ketika sudah sampai di meja Haz dan Whisk.


"Aku pesan satu sorbet ya, sayang. Aku lupa memesan dessert tadi," jawab Haz.


"Siap, Nona. Akan segera disiapkan," kata Ratih dengan semangat.


"Aku juga pesan satu," pinta Whisk sebelum Ratih benar-benar pergi dari sana.


"Siap! Dua gelas sorbet akan diantarkan sebentar lagi." Lalu, Ratih pun benar-benar pergi dari meja Haz dan Whisk.


Hening kembali menyerang kedua insan itu. Baik Haz, maupun Whisk tidak mencoba berbincang satu sama lain tentang apa pun.


Tak sampai lima belas menit, Ratih kembali ke meja mereka sambil membawa pesanan sorbet.


"Ini sorbet stoberi untuk Nona Hazel dan ini sorbet coklat untuk Tuan," kata Ratih sambil meletakkan gelas berisi sorbet di hadapan masing-masing. "Silahkan dinikmati."


Ratih merasakan suasana mencekam di antara Haz dan Whisk. Dia pun segera pergi dari sana sebelum terlibat dalam pertengkaran sepasang kekasih tidak resmi itu.


Haz memasukkan sesendok teh sorbet ke dalam mulutnya. Sebenarnya dia tidak marah ataupun merasa tidak nyaman dengan Whisk. Hanya saja dia terlalu gengsi untuk mengungkapkan apa yang ada di dalam pikirannya. Dia takut dia akan melukai perasaan Whisk secara tidak langsung.


"Aku akan mendengarkan permintaanmu, Hazelia Lify ...." Whisk berkata pada akhirnya, sebagai pembukaan suasana hening nan mencekam yang sedang terjadi di antara mereka berdua. "Apa pun yang kamu inginkan, mau pergi ke sewer untuk memastikan, tanpa persetujuan dari Zenneth, aku akan mengabulkannya."


"Kenapa?" tanya Haz.


"Tidak ada alasan khusus," jawab Whisk. Dia memainkan sorbet coklat dengan sendok teh yang ada dalam genggamannya.


"Ini baru saja hampir pukul delapan malam. Kita akan berangkat tiga puluh menit sebelum Zenneth memberikan kabar." Haz memutuskan. Meskipun sudah dilarang oleh Zenneth, dia tetap akan bersikeras untuk pergi ke sewer sebelum informasi diberikan—Whisk sendiri pun paham dan tidak bisa berkata apa-apa tentang hal itu.


Sekitar hampir dua jam sebelumnya, percakapan antara Whisky Woods dengan Zenneth ....


"Sebenarnya, aku tidak masalah jika kalian pergi tanpa informasi dariku. Tapi, yang aku takutkan hanyalah sinyal yang ku tangkap itu adalah sinyal bom yang dipasang oleh Tyas Reddish. Aku tidak menyangka bahwa kalian akan percaya pada seorang mantan narapidana seperti Tyas. Aku hanya berharap kalian tidak bersikap ceroboh," kata Zenneth panjang lebar.


"Berapa persen kemungkinan bahwa itu adalah sinyal bom yang dipasang oleh Tyas Reddish?" tanya Whisk kepada Zenneth.


"Keyakinan ku adalah delapan puluh persen. Dua puluh persen lagi adalah itu adalah sinyal dari komputer yang terakhir kali digunakan," jawab Zenneth.


"Jika itu adalah sinyal bom, kita akan bertemu di gedung kasino setelah ledakan terjadi. Jika tidak, maka tidak apa-apa," lanjut Zenneth. "Ransel itu berisi laptop, baju ganti, dan beberapa perkakas lainnya. Tolong dibawa ya. Aku tidak mungkin menyuruhmu pergi dengan tangan kosong. Haz sudah sangat mengerti diriku, sehingga aku tidak perlu mengatakan aturan ini padanya."


Whisk hanya bisa mengangguk paham dengan maksud Zenneth. Pantas saja Hazelia mengatakan bahwa Zenneth paling bisa diandalkan olehnya. Dia seperti sudah terlatih untuk menjadi partner detektif yang baik, batinnya.


"Haz yang melatihku. Aku mengenalnya saat kami sama-sama menduduki SMA. Dia pernah mengatakan kepadaku bahwa dia ingin menjadi seorang detektif. Dari sana, aku belajar program-program komputer dengan baik. Aku begitu senang ketika Haz bilang dia mendapatkan beasiswa ke ibukota. Dia itu lulusan S1 Sastra, bersama Liulaika Jelkesya. Aku tidak suka pada Jelkesya, tapi karena dia adalah sahabat Hazelia sedari mereka duduk di bangku Taman Kanak-Kanak, aku tidak bisa berbuat apa-apa tentang hal itu. Haz banyak membantu kasus yang terjadi di ibukota negara. Aku yang menyediakan segala kebutuhan yang diperlukannya di bawah arahannya, dia yang kemudian beraksi."


Whisk mendengarkan cerita Zenneth dengan seksama. Hazelia beruntung karena dikelilingi oleh orang-orang yang peduli dengannya. Baguslah, pikir pria bersurai kemerahan.


Tak lama kemudian wajah Haz tampak dengan kesombongan dan kecantikan khasnya.


"Itu pacarmu sudah selesai ...."


Kembali lagi ke kafe ....


"Apakah kamu merasa tidak nyaman denganku?" tanya Whisk.


Haz memandangi wajah Whisk sesaat, lalu menggelengkan kepalanya. Seharusnya aku yang bertanya begitu kepadamu, batin wanita itu.


"Jika kamu merasa tidak nyaman, jangan sungkan mengatakannya kepadaku. Aku tidak akan berbuat sesuatu yang tidak nyaman lagi kepadamu," kata Whisk.


Tatapan mata Whisk sangat hangat, Haz bisa merasakan ketulusan dari tatapan tersebut. Dia hanya bisa tersenyum dan memainkan jari-jarinya dengan gugup. Dia tidak tahu harus berkata apa kepada pria di hadapannya itu. Seandainya aku memiliki keberanian untuk mengatakan isi hatiku sebenarnya, batinnya.


Whisk memberikan salah satu bagian headset bluetooth kepada Haz. Haz termenung sejenak, lalu menerima benda itu. Pria bersurai kemerahan mengeluarkan ponselnya dan memutar sebuah lagu sedih.


Say something, I'm giving up on you—Katakanlah sesuatu, aku akan berhenti berharap padamu


I'll be the one, if you want me to—Aku akan menjadi satu-satunya, jika itu yang kamu inginkan dariku


Anywhere, I would've followed you—Kemana pun, aku pasti akan mengikuti dirimu


Say something, I'm giving up on you—Katakanlah sesuatu, aku akan berhenti berharap padamu


(Say Something, I'm Giving Up On You - A Great Big World ft Christina Aguilera)