Lady Sherlock : First Unofficial Case

Lady Sherlock : First Unofficial Case
122 : Perasaan Bersalah yang Menghantui


#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!


Kembali lagi ke Hazelia Lify dan Whisky Woods ....


Haz dan Whisk baru saja akan melangkah keluar dari Rumah Sakit jika saja televisi yang terpampang di ruang tunggu tidak menyiarkan berita yang menarik untuk didengar oleh wanita berambut panjang gelombang. Indera pendengarannya tajam dan langsung menangkap headline berita.


Haz langsung menyuruh Whisk untuk berhenti dan menunggu, sambil mendengarkan berita itu tentu saja.


"Sebuah kecelakaan terjadi di Jalan xxx, Jakarta. Penumpang dikira mabuk oleh petugas kepolisian. Yang lebih aneh lagi, tidak ditemukan tanda-tanda keberadaan orang yang menyetir di dalamnya. Menurut kesaksian ...."


Haz memicingkan mata agar dapat melihat mobil yang dikemudikan. Dia merasakan perasaan yang sangat buruk. Yang benar saja, saat wanita berambut panjang gelombang melihat plat mobil bermerk Toyota Voxy berwarna hitam, dia langsung mengenali mobil itu sebagai mobil yang biasa dikemudikan oleh Cyan.


"Sial!" umpat Haz. Dia menatap ke arah Whisk yang menatap bingung ke arahnya. "Itu mobil Cyan. Dia pasti keluar dari rumah sakit. Dia akan ke bandar udara. Tapi, dia dengan bodohnya tidak menyadari kalau ada orang di dalam sana!"


Whisk berusaha menenangkan Haz yang panik. "Shttt ... ayo kita pergi ke lokasi. Kamu akan lebih mengetahui kronologinya, bukankah begitu?" katanya sambil memeluk dan membelai lembut kepala Haz.


Haz langsung mendorong Whisk dan menyembunyikan wajahnya di antara kedua telapak tangannya. Dan, pria bersurai kemerahan tahu bahwa wanita itu tengah menangis.


Hazelia Lify pasti menyalahkan dirinya sendiri lagi ..., pikir Whisk. Terkadang aku bertanya-tanya, itu kan tidak sepenuhnya salahnya. Kenapa dia berpikiran sampai harus mengemban beban sebesar itu?


"Haz, ini di Rumah Sakit ... ayo kita ke mobil dulu. Kamu boleh menangis sepuasnya di sana. Bagaimana?" Whisk berusaha untuk membujuk Haz.


Untung saja bujukan pria bersurai kemerahan berhasil, Haz buru-buru menghapus air matanya. Meski ada yang tersisa di sudut matanya, dengan hidung yang memerah, dia mengikuti langkah Whisk yang menggenggam tangannya. Mereka berjalan menuju parkiran.


Haz hanya bisa tertunduk selama Whisk menggiringnya menuju mobil yang dikemudikan oleh pria bersurai kemerahan. Dia merasa bahwa dirinya sangatlah cengeng. Hanya karena hal yang berada di luar tanggungjawabnya, dia malah hampir mempermalukan dirinya sendiri, bahkan hampir menurunkan reputasi seorang Detektif Internasional di depan umum!


Whisk tidak menertawakan sifat Haz yang cengeng itu. Dia cukup mengerti bahwa seorang wanita sebatang kara seperti Haz akan menganggap bahwa semua berada penuh di bawah tanggungjawabnya. Itu insting naluri yang keluar saat ditinggal oleh orang lain. Wanita berambut panjang gelombang merasa sangat kesepian.


Whisk mempersilahkan Haz masuk ke dalam mobil sambil menjaga agar kepala Haz tidak terpentok. Dan, untung saja dia melakukannya. Karena ketidakfokusan Haz, kepalanya hampir menjadi korban.


"Eh? A ... ma- maaf ... apakah itu sakit? Maafkan kecerobohan yang ku perbuat. Maaf aku ... aku tida-"


Whisk meletakkan jari telunjuknya di depan mulut Haz. Wajahnya menjadi begitu dengan dengan wajah wanita berambut panjang gelombang.


"Aku tidak apa-apa. Kamu yang tenang ya? Jangan meminta maaf lagi, ini bukan sepenuhnya salahmu. Aku juga yang ingin melindungi kepalamu dari benturan, karena aku tahu kamu tidak fokus. Jadi, berhenti merasa bersalah dan tenanglah, Hazelia Lify."