Lady Sherlock : First Unofficial Case

Lady Sherlock : First Unofficial Case
37 : Ayo Berdrama!


#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!


[NOTE : MEREKA MEMAKAI BAHASA INGGRIS KETIKA BERBINCANG!]


"Aku tidak bisa membayangkan .... Seorang anak kecil, berusia sekitar empat atau lima tahun begitu lancarnya membaca sebuah buku yang aku sendiri terkadang sulit memahaminya. Terutama saat membaca DUNIA MAYA. Kosmik, cicak di dalam sebuah botol bir yang dapat berbicara, dan seorang ilmuwan biologis yang baru saja cerai dengan istrinya yang bisa mendengar reptil kecil itu tengah berbicara padanya, mengejeknya. Aku menyerah membaca buku karya JOSTEIN GAARDER. Itu bukan bidangku sama sekali," kata James sambil mengangkat tangannya, menyatakan bahwa dia benar-benar menyerah atas buku itu.


"Tapi, aku benar-benar menyukainya. Maksudku, aku menyukai hampir semua jenis novel. Dan, aku juga suka menulis dan mengetik." Haz mengakui apa yang disukainya.


"Benar-benar harus mengapresiasi karyamu, nona Hazelia Lify," ujar Milla, "aku selalu membayangkan dan menerka-nerka siapakah RESPLENDENT NEPHILA itu. Karya-karyanya sangat mewah dan merupakan sebuah racun yang mematikan seperti namanya."


"Terima kasih atas pujianmu, Senor Milla." Haz tersenyum tipis.


"Ingin melanjutkan ceritanya atau tidak?" tanya Alkaf.


"Sabar, Tuan Pendeta!" seru Milla, "Aku sedang menggoda Hazelia Lify. Dia itu polos dan menggemaskan. Aku gemas sekali dengannya."


Alkaf menggelengkan kepalanya dan berkata, "Aku akan melanjutkan. Terserah ingin mendengar atau tidak."


Di dalam bar kapal ...


"Juice, please?—Segelas jus, tolong?" Haz kecil mengabaikan perkataan bartender, memesan segelas jus dengan bahasa Inggrisnya yang fasih, dan menyodorkan logam senilai seribu rupiah sebagai tips untuk bartender. Seribu rupiah adalah mata uang dengan nilai yang tinggi pada masa itu.


Anak kecil itu bahkan tahu memberi tips adalah sebuah keharusan di dalam sebuah bar.


"Di sini rupanya!" seru Tuan Li. Dia menatap Hazelia dengan tatapan jengkel.


Haz kecil mengembuskan napas dan memutar bola matanya malas. Kenapa kakek sihir ini harus datang lagi? pikirnya. Dia mengacuhkan Tuan Li dan menatap datar ke arah bartender. "Mana jusku?" tanyanya dengan galak.


"Nona kecil, kau tidak mengatakan menginginkan jus apa. Aku bukan peramal yang bisa melihat isi hatimu," jawab bartender.


"Orange juice, please. Do I say it clear now?—Jus jeruk, tolong. Apakah aku sudah mengatakannya dengan jelas sekarang?" tanya Haz kecil.


Orang-orang yang duduk di sebelahnya tertegun. Mendengar seorang anak kecil yang bukan bule berbicara bahasa Inggris dengan lancarnya, sepertinya mereka memiliki masalah penglihatan dan pendengaran.


Tadi novel, sekarang Bahasa Inggris, berapa keajaiban lagi yang disembunyikan oleh gadis kecil ini? tanya Tuan Li dalam hati. Dia hampir tidak percaya dengan semua hal yang dilihatnya hari ini. Bunda Shinta sama sekali tidak berbohong tentang seorang anak ajaib yang kepandaiannya melampaui orang dewasa. Karena begitulah Haz kecil sekarang.


"Baiklah, bocah jenius," kata pria yang tadi ditemuinya di tengah-tengah kapal.


"Aku punya nama, namaku Hazelia," kata Haz kecil.


"Namaku Adi."


"Terus?" tanya Haz kecil. Dia benar-benar tidak tenang. Membaca sebuah novel saja harus diganggu oleh hambatan-hambatan yang datang terus-menerus. Tadi oleh ributnya klakson-klakson mobil, sekarang oleh seorang pria bernama Adi. Aku harus pindah ke kamar, pikirnya.


Ya ampun, cuek sekali bocah ini! seru Adi dalam hatinya. Dia tidak habis pikir bahwa Haz kecil bisa secuek dan setidak-menyenangkannya seperti itu. Gadis kecil itu pastilah sudah merasa sangat jengkel dengannya.


Tuan Li duduk di sebelah Adi. Dia memesan sebotol wine kepada bartender.


"Ini jus jerukmu, Nona kecil," kata bartender seraya menyodorkan gelas berisi cairan berwarna jingga.


Haz kecil menegak jus jeruknya dan fokus dengan novel bacaannya. Sampai akhirnya, ada yang menyenggol tubuh mungil gadis itu, hingga jusnya tumpah membasahi novel yang ada di depannya. Raut wajahnya yang datar berubah menjadi dua kali lipat lebih jengkel. Dia menghempaskan novelnya ke atas meja dan berusaha untuk tidak meletakkan gelasnya secara kasar. Cukup! Aku pergi ke kamar saja! serunya dalam hati.


Semua orang kaget mendengar suara hempasan buku dan segera mengalihkan pandangan mereka untuk melihat apa yang terjadi. Haz kecil menjadi sorotan publik sekarang. Dia tidak memperdulikan tatapan semua orang, bergegas mendekap novelnya dan turun dari kursi bar. "Dunia orang dewasa hanya bisa buat anak kecil kesal," gumamnya.


Tuan Li menepuk jidatnya pelan. Baru saja bertemu dengan gadis kecil itu, dia kembali meninggalkan tempat seenaknya.


Orang yang tadi menyenggol Haz kecil tertegun dengannya. Baru pertama kali dia melihat seorang anak kecil yang bergaya layaknya wanita dewasa.


Adi, pria itu mengekori Haz kecil seperti seorang pengawal pribadi yang menjaga Tuan Putrinya. Dia melihat gadis kecil itu menuruni tangga, pergi ke lantai satu di dalam dek kapal.


"Paman tidak punya kerja?" tanya Haz kecil.


"Hei bocah kecil, jangan panggil aku paman! Aku masih muda," sanggah Adi, tidak terima dengan panggilan yang diberikan oleh Haz kecil.


Haz kecil masuk ke dalam kamarnya, nomor 23. Tak lupa mengambil kunci yang menggantung di lubang kunci, dan segera menutup pintu kamarnya sebelum Adi mengatakan sesuatu yang dapat membuatnya lebih jengkel dibanding jus yang tumpah ke buku novel pemberian Lazul.


Adi cukup kaget melihat pintu ditutup di depan matanya. Baiklah, Adi Putra Chandra, kamu berhasil membuat seorang anak kecil membencimu, batinnya.


Selang dua puluh menit kemudian ...


"Hazelia? Hazelia?!" panggil sebuah suara. Sepertinya itu adalah suara Tuan Li. "Hazelia, kau di dalam?"


Haz kecil dengan malas, menyeret tubuhnya layaknya seekor ulat jengkal. Dia membuka pintu. Tampaklah Tuan Li di baliknya. "Ada apa?" tanya gadis kecil itu.


"Nothing! Aku hanya memastikan kau berada di dalam kamar. Sudah hampir jam makan malam, Hazelia. Bersihkan dirimu dan kita akan makan malam," kata Tuan Li, "aku akan pergi dulu. Kau bisa mengunjungi restorannya sendiri bukan?"


"Ya, aku bisa," jawab Haz kecil.


"Baiklah, Monster Pintar. Aku dan Tantemu akan pergi lebih dulu. Kau bersihkan dirimu sekarang." Tuan Li langsung pergi dari hadapan Haz kecil setelah mengucapkannya.


Haz kecil menutup dan mengunci pintu kamarnya. Dia mengangkat koper mininya ke atas ranjang, melihat-lihat baju yang akan dipakainya. Dan pada akhirnya, gadis kecil itu memilih memakai setelan jumpsuit dengan kaos hitam dan terusan berwarna putih. Dia cukup pandai untuk mengethui bahwa di dalam kapal dia harus menemukan kamar mandi. Hanya ada ada satu untuk laki-laki dan satu untuk perempuan.


Lagi-lagi, saat keluar kamar, Haz kecil bertemu dengan Adi. Sebuah kebetulan yang sangat menyebalkan menurut gadis kecil itu. Ternyata Adi tinggal di kamar sebelah, kamar nomor 22.


"Oh, Hazelia," sapa Adi. Dia menatap gadis kecil itu dengan handuk menggantung di bahu kanannya. "Ingin pergi mandi juga?"


Haz kecil mengabaikan sapaan dan pertanyaan Adi. Tadi kakek lampir, sekarang kakek lampir juga. Kapan aku bebas dan tenang? pikirnya. Dia mengembuskan napas. Dia menyusuri lorong dek kapal dan Adi mengekorinya lagi.


"Oh. Ada apa, Nak?" tanya awak kapal itu. Keningnya berkerut, mengapa ada anak kecil berkeliaran sendirian? Dia lalu mengalihkan pandangannya ke arah Adi. Pasti ini orang tuanya. Tapi, wajah mereka tidak terlihat sama sama sekali. Apa jangan-jangan anak ini akan diculik makanya dia memanggil?


Awak kapal itu berpikiran terlalu banyak.


"Aku tidak tahu dimana kamar mandi. Bisa kasih tahu aku?" tanya Haz kecil.


"Oh, astaga. Luruslah ke depan sana, Nak. Jika ada sesuatu yang mengganggumu, jangan sungkan untuk berteriak," jawab awak kapal sambil melirik ke arah Adi.


"Hei! Kau kira aku apa? Penguntit anak kecil?" tanya Adi seakan tahu bahwa awak kapal tersebut tengah mengatakan kepada Haz kecil untuk berhati-hati dengannya.


Haz kecil langsung melesat pergi, menyusuri lorong dek. Hingga ... dia menemukan kamar mandinya. Dia langsung masuk ke dalam kamar mandi perempuan tanpa berpikir panjang. Di dalamnya, banyak sekali wanita-wanita dewasa yang tengah berdandan. Memakai bedak; memakai pemutih; memakai parfum.


Haz kecil mengabaikan tatapan mereka dan segera masuk ke dalam bilik kamar mandi yang kosong.


Sekitar lima belas menit kemudian, Haz kecil keluar dari dalam sana. Dia bergegas kembali ke kamarnya. Adi sendiri tidak terlihat. Itu bagus, karena gadis kecil itu masih jengkel dengannya.


Haz kecil keluar dari kamarnya, dan lagi-lagi .... Ah ... sudahlah! Dia hanya bisa menghela napas panjang. Bertemu Adi, Adi, dan Adi lagi. Gadis kecil itu bisa gila, karena dia melihat Adi, Adi, dan Adi terus. Hari burukku, pikir gadis kecil itu.


"Baiklah, baiklah! Aku menyerah gadis kecil! Kau menang! Aku tidak ingin kau benci. Jadi, mari berteman," kata Adi, "kau ingin pergi makan malam?"


"Ya," jawab Haz kecil singkat.


"Maafkan aku ya. Aku hanya sepertinya mengenalmu .... Aku benar-benar bingung dengan diriku sendiri. Aku mengingat aku mengenal seseorang bernama em ...." Adi terlihat berpikir. "Oh! Benar! Aku ingat seseorang bernama Jonathan Li. Dia memiliki seorang putri. Katanya putrinya sangat cerdas. Tapi, sayang sekali dia dan istrinya mengalami kecelakaan."


Haz kecil terdiam. Wajahnya kaget, kepalanya tertunduk. Jonathan Li? Itu Papa kan? Kenapa Paman bisa kenal sama Papa? pikirnya.


Haz kecil tidak bertanya apa pun soal Jonathan Li, papanya, kepada Adi. Dia bahkan tidak ingat dengan wajah Papa dan Mamanya. Dia merasa tidak perlu mengetahui lebih banyak. Lagipula, Papa dan Mamanya sudah dua tahun pergi meninggalkannya seorang diri. Jadi, dekat dengan mereka pun sudah tidak bisa.


Haz kecil kaget saat Adi menggendongnya layaknya seorang Ayah menggendong anaknya. Dia refleks memukul kepala pria itu dengan buku novel yang ada di dalam dekapannya. "Ingin Paman bawa kemana aku? Paman!"


"Aduh sakit tahu?! Benar-benar. Anak kecil suka sekali melamun saat berjalan. Kamu hampir saja menabrak orang," kata Adi, "jadi, lebih baik aku gendong sampai ke restorannya."


Kembali ke kamar pasien ...


"Mengapa tidak bertanya soal orang tuamu?" tanya Whisk. Dia ingin tahu alasan mengapa Haz kecil tidak ingin mengetahui cerita orang tuanya dari pria bernama Adi itu.


"Karena aku tidak ingin. Mereka sudah meninggalkanku dua tahun. Ya, sebagai anak kecil yang (jenius), apa yang akan kamu lakukan? Bersikap layaknya kebanyakan anak yang rewel dan bertanya tentang orang tuanya? Itu tidak akan bisa mengembalikan mereka ke pelukanmu. Aku hanya memutuskan hal yang kuanggap benar saja," jawab Haz. Dia menepuk-nepuk pahanya.


Whisk meraih tangan Haz dan mencium punggung tangannya. "Aku bersimpati."


"Tidak perlu bersimpati. Aku tidak tersinggung sama sekali sebenarnya dengan Paman itu. Hanya saja aku terlampau kesal dengannya. Yang paling menyebalkan adalah ternyata dia juga akan menuju Sumatera Utara. Aku benar-benar pusing dengan ocehan-ocehan panjangnya," kekeh Haz. Dia terlihat semang ketika memikirkan masa lalunya, berada di kapal dengan Adi. Setidaknya, Adi adalah temannya untuk pertama kali di dunia luar. Dia tentu saja sangat menghargai pria yang umurnya bertahun-tahun lebih tua darinya itu.


"Ayo, lanjutkan cerita Anda, Tuan Pendeta!" seru Andrian. Dia terlihat tidak sabaran, bahkan melupakan sama sekali tentang Rael. Sepertinya dia benar-benar tidak terlibat dalam penyerangan itu.


Ting!


Ting!


Ting!


Tiba-tiba saja ponsel Andrian berdering nyaring. "Maafkan saya," katanya sambil menatap layar ponsel, "eh?! Lihat!" Dia memamerkan layar ponselnya ke hadapan mereka semua. Tertera "Rael Tercinta💕" di layar monitor.


"Speaker!" seru Haz dengan jengkel. Dia ingin mencari tahu dan memutar otaknya.


Andrian mengangkat teleponnya dan mengaktifkan speaker.


"Andrian? Andrian, kamu dimana?" tanya Rael. Suaranya berubah lagi menjadi lembut dan rendah.


Wanita licik. Siapa sebenarnya dia? Mengapa aku seolah pernah mendengar suaranya? Tapi, masalahnya adalah ... dimana aku pernah mendengarnya?! batin Haz dengan kesal. Seorang Hazelia bisa-bisanya melewatkan suatu hal yang amat penting.


Andrian menatap mereka semua: "Saya harus jawab apa?" Dia seolah mengatakan hal tersebut dengan bahasa isyarat yang berantakan, namun masih bisa dimengerti.


"Berbohonglah!" bisik Jel. Dia paling bisa diandalkan dalam keadaan yang sangat darurat.


"Saya sedang ... makan!" Andrian menjawab pertanyaan Rael tergagap. "Karena kalian lama sekali, saya akhirnya memutuskan untuk berpindah tempat dan makan sendiri. Apakah ada hal yang mengganggu Rael?"


"Aku sudah berada di sini dari setengah jam yang lalu bersama mereka," kata Rael.


Jelkesya yang kesal mendengar pernyataan bodoh Rael, meninju bahu Alkaf dengan kuat. Dia menggertakkan giginya, geram dengan kebodohan Rael yang menurutnya menjadi sebuah kebodohan tanpa batas itu.


"Sakit!" bisik Alkaf pada Jel. Sebenarnya, dia sudah terbiasa dengan seorang Jelkesya yang suka meninjunya.


"Oh, maaf, saya tidak tahu. Maafkan saya, Rael. Saya kira Rael dan mereka sudah tidak akan datang," kata Andrian seolah-olah dia menyesal.


"Tapi, Andrian, mengapa kamu berada di Rumah Sakit?" tanya Rael.


Andrian terdiam, semua orang yang mengerti Bahasa Indonesia melotot ke arahnya dengan galak.


"GPS! GPS-mu hidup!" Andrian bisa melihat bibir Haz mengatakan hal tersebut. Dia menepuk jidatnya pelan. Bodoh! makinya dalam hati.


"Uhuk! Uhuk! Uhuk!" Whisk terbatuk.


Untungnya Andrian cepat tangkap. Dia segera mengambil kesempatan itu. "Abang! Abang baik-baik saja kan? Bagaimana penyakitnya? Sudah sembuh? Aduh! Dokter!"


Milla dan James menahan tawa mereka melihat adegan itu. Mereka tidak mengerti Bahasa Indonesia. Tapi, mereka tahu apa yang sedang dilakukan semua orang. Berpura-pura! Untuk menjawab pertanyaan di telepon yang tak bisa dijawab oleh Andrian.