Lady Sherlock : First Unofficial Case

Lady Sherlock : First Unofficial Case
124 : Pribadi Mana yang Dikorbankan?


#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!


Whisk duduk di kursi pengemudi dan menyodorkan plastik berukuran sedang tersebut kepada Haz. Dia menyalakan mesin mobil untuk menghidupkan AC.


Huff ... sedikit panas. Tidak, sangat panas di Indonesia ya! seru Whisk. Dia mengipas-kipas lehernya menggunakan tangannya. Padahal AC mobil sudah menyala dan diarahkan ke tubuhnya, pria itu masih saja mengeluh kepanasan di dalam hatinya.


"Apa ini?" tanya Haz sambil membuka plastik yang diberikan oleh Whisk untuknya.


"Benda yang akan membuatmu senang," jawab Whisk.


Ketika Haz mengintip ke dalam plastik, dia menemukan 2 kotak susu vanila, sebatang coklat, 2 tangkai permen lolipop, dan 3 bungkus Fitbar. Wanita berambut panjang gelombang langsung memamerkan deretan giginya dan mengucapkan terima kasih kepada Whisk.


"Terima kasih, Whisk," ucap Haz.


"Tidak masalah." Whisk juga senang melihat Haz senang. Entahlah. Menurut Whisk, memberikan sesuatu kepada orang lain itu akan meningkatkan hormon kebahagiaan dan itulah yang dirasakan olehnya.


Harus diakui bahwa hormon kebahagiaan juga diproduksi ketika seseorang melihat orang lain bahagia. Sebuah penelitian mengungkapkan hal tersebut. Jadi, jangan sungkan membelikan orang lain sesuatu walaupun harganya murah ya!


"Oh ya, aku baru dapat kabar dari Nicholas. Katanya dia sedang berada di TKP," kata Haz. Dia sibuk dengan sedotan limun di kotak susunya. Dia meminum cairan seputih kertas itu dengan sangat perlahan, membuat Whisk hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkahnya.


"Ingin makan malam dulu atau langsung ke TKP saja?" tanya Whisk.


"Aku akan melewatkan makan malam. Acara makan dengan Waikit dan Yudel sore tadi benar-benar gila. Mungkin aku akan merasa lapar sekitar jam tiga atau empat subuh. Saat itu, aku akan meneriaki dirimu." Haz menyeringai manis.


"Aku senang kamu bisa mengandalkan diriku, Hazelia. Tapi, kamu tidak pernah melewatkan camilan ya," kata Whisk, gemas dengan Haz.


"Selalu ada tempat yang kosong di perut untuk mengisinya dengan camilan, Whisky Woods," kata Haz. "Akui sajalah, kamu pasti lebih suka ngemil daripada makan makanan berat."


"Benar, camilan memang lebih menggoda. Tapi, aku memakan camilan yang sehat-sehat. Salad, contohnya. Atau, yoghurt," ujar Whisk.


"Kalau aku lapar jam tiga subuh nanti, buatkan aku salad sayur." Haz belum juga selesai dengan minumnya. Dia masih saja menyedot perlahan-lahan.


"Jika aku memiliki bahannya, Haz, aku akan membuatkannya untukmu," kata Whisk. Dia berbelok ke kanan di perempatan jalan.


Saat itu pukul 7 lewat 31 menit WIB, jalanan sangat sepi seperti jalur di kota mati. Whisk bisa mengebut untuk cepat sampai ke tujuan, dengan hati-hati dan teliti tentu saja.


"Aku memiliki kunci rumah Zenneth. Zenneth sama sekali tidak pernah menggunakan bahan-bahan di kulkasnya walau dia membelinya. Malam ini, kamu bertamu saja di rumah Zenneth. Empu-nya juga sudah dibawa entah kemana oleh Cyan," kata Haz malas. Dia memutar bola matanya.


"Kecelakaan itu tidak wajar, Haz," ujar Whisk, mengalihkan pembicaraan mereka ke arah yang lebih serius.


Haz juga merasakannya, apa yang dikatakan oleh Whisk. Kecelakaan yang dialami oleh mobil itu tidaklah wajar. Sama sekali tidak wajar. Seakan-akan, itu semua sudah diperkirakan kejadiannya oleh seseorang. Dengan kata lain, seseorang sudah menyetelnya dan menjadikannya sebuah kecelakaan.


Lebih anehnya lagi, penumpang di dalam mobil―yang tak lain adalah Cyan dan Zenneth―bisa menghilang begitu saja. Seseorang pasti sudah merencanakan penculikan kedua sahabat Haz.


"Aku mengerti maksudmu, Whisk. Tapi, aku harus memastikannya," kata Haz.


"Kamu tahu Will Graham?" Haz berbalik tanya kepada Whisk.


"Tentu saja tahu. Aku mengikuti serial Dr. Hannibal Lecter, bahkan sampai novel original-nya yang merupakan karya Thomas Harris. Aku menyukainya," jawab Whisk.


"Aku akan menggunakan empati yang digunakan oleh Will Graham," kata Haz.


"Oh, itu h- tunggu! Apa kamu bilang?" Whisk hampir tidak percaya dengan apa yang didengarnya, bahwa Haz akan menggunakan empati sama seperti karakter yang diciptakan oleh Thomas Harris, Will Graham. "Kamu bercanda, Hazelia Lify."


"Apakah aku terlihat sedang bercanda, Whisk?"


Whisk bisa melihat kalau Haz sangat serius. Dia tetap saja tak percaya bahwa Haz bisa melakukannya. Bagaimana kejiwaan dan kepribadian Haz bisa bertahan ketika dia sering menganalisis dari sudut pandang orang lain terus-menerus?


Sesaat kemudian Whisk tersadar, bahwa Haz memiliki Ziesya, Qerza, dan Fabella. Tentu saja dia bisa mempertahankan kejiwaannya dengan mengorbankan salah satu dari ketiga kepribadian yang dimilikinya. Menurut pria bersurai kemerahan, Haz sangatlah menyeramkan. Ternyata ada saja keunikan yang diberikan untuk seorang manusia dan Haz adalah salah satunya.


"Baiklah, aku percaya kepadamu, Hazelia Lify. Karena kamu juga mempunyai kepribadian yang bisa kamu korbankan untuk mempertahankan kejiwaan mu." Whisk mengangguk, tanda dia mengerti.


"Menurut kamu, siapa kepribadian yang ku korbankan untuk menahan menggilanya kejiwaan ku dari empati yang ku gunakan ini?"


Whisk terlihat berpikir sesaat, sebelum menjawab, "Aku yakin pasti Fabella." Dia menjawabnya dengan benar. Haz langsung menatap tidak percaya ke arahnya. "Ada apa? Apakah aku salah?"


"Tidak. Jawabanmu sudah benar. Aku penasaran, kenapa kamu menjawab Fabella? Padahal dari sisi mana pun, Qerza adalah yang paling cocok." Haz penasaran dengan apa yang dipikirkan oleh Whisk hingga pria itu memilih untuk menjawab bahwa Fabel lah yang dikorbankan.


Whisk terdiam. Dia tidak memiliki alasan untuk hal itu. Namun satu hal yang bisa dipastikan olehnya, bahwa Fabel terdengar sedih saat berkata-kata dengan kepribadian yang dibalut oleh kelembutan dan kecerdasan.


"Entahlah, aku hanya merasa bahwa dia adalah yang dikorbankan. Aku juga bisa menebak bahwa dia yang mengajukan dirinya sendiri."


Tak sempat Haz membalas perkataan Whisk, mereka sudah sampai di TKP. Banyak polisi dan reporter mengerumuni tempat tersebut.


Selang tak lama, ada seseorang yang mendekat ke arah mobil yang dikemudikan oleh Whisk. Setelah dilihat lebih cermat, ternyata itu adalah Nich. Dia mengetuk jendela penumpang, tepat di sebelah Haz.


Haz membuka jendela.


"Maaf karena tidak mengangkat telepon mu tadi, Nona Hazelia," kata Nich.


"Tidak masalah," balas Haz.


"Apa yang menjadi kepentingan mu di sini, Nona?" tanya Nich.


Whisk tidak mengatakan apa pun, membiarkan Haz dan Nich bercengkrama. Dia sedang menahan rasa cemburunya. Walaupun Haz dan Nich hanya berbincang dan bertanya-tanya soal kepentingan masing-masing, dia tetap saja cemburu. Maka dari itu, daripada pria bersurai kemerahan salah bicara, lebih baik dia diam saja dan membiarkan Haz mengambil alih semuanya.


"Aku ingin memeriksa TKP. Jika diperbolehkan, tentu saja."