Lady Sherlock : First Unofficial Case

Lady Sherlock : First Unofficial Case
50. Hunt : Whisky Woods Ver. (Bagian 1)


#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!


[Whisky Woods]


Whisk akhirnya kembali lagi ke apartemen seperti yang diarahkan oleh Haz.


Setelah memarkirkan mobil di parkiran apartemen, Whisk langsung turun dan berlari masuk ke dalam apartemen dengan Nich yang masih berjaga di sana.


"Kamu kembali lagi, Monsieur!" seru Nich ketika dia melihat Whisk berjalan mengitari deoan apartemen untuk menemukan dirinya.


"Ya," jawab Whisk singkat.


Whisk menatap Nich yang menunggu pernyataan darinya—maksud dari Whisk kembali ke tempat itu. Pria bersurai kemerahan menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dia tak tahu harus jujur atau tidak.


Haz menyuruh Whisk untuk mengambil sesuatu yang menjadi barang bukti paling diperlukan di dalam kamar mandi apartemennya. Namun pria bersurai kemerahan tidak akan bisa mengambilnya secara diam-diam karena Nich akan terus mengawasi gerak-geriknya.


Apa aku pergi ke sewer saja dulu sampai malam hari, lalu aku akan kembali ke tempat ini? tanya Whisk dalam hati bimbang.


Whisk menatap Nich yang tengah menatap balik ke arahnya, menunggunya berbicara.


"Aku rasa tidak ada yang perlu kulihat lagi di dalam sini," kata Whisk berbohong. "Lanjutkanlah penjagaanmu. Sampai jumpa di lain waktu, Cop. Nicholas." Whisk menatap tag name yang terjepit di dada sebelah kanan Nich, kemudian tersenyum padanya.


Whisk segera berlalu setelah mendapatkan balasan senyum dari Nich. Dia menghempaskan dirinya sendiri ke dalam jok pengemudi sambil terus mengawasi Nich yang menatap tajam dari balik kaca jendela mobil. Sesaat, Whisk merasa ngeri dengan tatapan itu, karena seolah menyembunyikan sesuatu.


Tring!


Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Whisk tepat sebelum Whisk akan menginjak pedal gas. Itu dari Haz. Ketika ada hal yang berhubungan dengan Hazelia Lify, Whisk pasti cepat-cepat. Tak disengaja. Itu gerakan refleks ketika teramat menyukai seseorang. Namun ketika menyukai Milla, dia tidak pernah sampai over seperti itu. Itu adalah kali pertamanya Whisk menjadi 'budak cinta' yang sebenarnya akibat menyukai Haz.


~


Haz: Kamu sudah di apartemenku?


~


Whisk tersenyum ketika membacanya. Dia pun segera membalas pesan itu.


~


Whisk: Ya, sudah.


Whisk: Tapi aku merasa ada yang tak beres dengan polisi yang bernama Nicholas itu. Aku tidak tahu apa yang sedang kurasakan. Aku begitu yakin dengan perasaan tak nyaman ini.


~


Tak sampai satu menit setelah Whisk mengirimkan pesan kepada Haz, dia pun mendapat balasan pesan dari wanita itu.


~


Haz: Setelah kamu pergi, aku mendapat sebuah jawaban dari Tyas Reddish.


Whisk: Apa yang kamu dapat?


Haz: Sesuatu yang mengejutkan.


Haz: Tentu saja.


Haz: Aku tahu kamu berniat datang kembali saat malam hari dan itu adalah sebuah keputusan yang sangat bagus. Sekarang, cepat-cepat pergi dari sana.


~


Whisk melirik ke arah Nich yang sudah tak berada di sana. Perasaannya sungguh tak enak. Dia pun mengiyakan perintah Haz untuk segera pergi dari sana.


Whisk memasang headset wireless di telinganya dan menjawab panggilan Haz.


"Kamu sudah pergi dari sana?" tanya Haz dari seberang sana. Suasana gaduh terdengar, sehingga Whisk menyadari bahwa wanita itu sedang berada di tempat pembuangan yang belum tutup.


"Aku baru saja pergi dari apartemen. Ada apa?" Whisk bertanya sambil membelok di pertigaan.


"Jangan ke sewer dulu," kata Haz, "lihatlah di belakang mobilmu. Pasti ada yang mengikuti. Lebih baik kamu mengajak Alkaf dan Jelkesya pergi ke kafe atau kamu sendiri pergi ke sana. Dia tidak akan berani beraksi ketika berada di tempat dengan banyak orang."


"Langsung saja ke intinya, Hazelia Lify. Apa yang kamu tahu?" tanya Whisk. Dia melirik ke spion dan benar saja, ada yang mengikutinya di belakang sana.


"Oh tidak!" seru Haz dari seberang sana.


"Ada apa?" Whisk panik jika Haz sudah melontarkan kata-kata yang tidak bagus.


"Thomas Bara ada di sini. Sial sekali. Dua rubah berkulit anjing pelacak itu benar-benar memperhitungkan segalanya," jawab Haz menjelaskan.


"Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Whisk.


Tidak ada jawaban dari Haz, tetapi Whisk tahu bahwa Haz mendengarkan. Wanita itu tidak bisa berbicara padanya saat itu. Dia paham.


Whisk juga tahu bahwa Haz sangat memerlukan dukungan. Oleh karena itu, dia tidak mematikan telepon, melainkan: melepas headset; mengaktifkan mode speaker; dan menyetel lagu-lagu jaz yang dinyanyikan oleh Olivia Ong dalam albumnya yang berjudul "A Girl Meets Bossanova", yang terdiri atas dua bagian.


Whisk sendiri juga menikmati lagi tersebut. Sambil mengendarai mobil ke kafe terdekat, dia bersenandung.


Whisk juga tak lupa melirik kaca spion. Dia masih diikuti oleh mobil yang mungkin dikendarai oleh Nich.


Sepertinya Hazelia membisukan suara untuk sesaat. Pasti di sana dia sangat berjuang, pikir Whisk.


Ketika melihat sebuah kafe yang cukup ramai, Whisk segera berbelok dan memarkirkan mobil di parkiran.


Kafe itu terdiri atas tiga bagian: di halamannya, tertata rapi meja-meja dan kursi-kursi; di bagian dalam kafe; serta di lantai duanya.


Tatapan orang-orang yang duduk di halaman kafe, terutama gadis-gadis, beralih kepada Whisk ketika dia menuruni mobil. Mereka berbisik-bisik.


Sedangkan Whisk, dia sudah terbiasa dengan hal itu. Jadi, dia mengabaikannya dan masuk ke dalam kafe.


Mobil yang mengikutinya terparkir di seberang kafe. Tidak ikut masuk ke dalam parkiran. Whisk melirik sejenak. Kaca mobil itu reben, sehingga susah baginya untuk melihat siapa yang ada di dalam sana. Dia hanya bisa menerka-nerka.


Whisk memiliki sebuah ide. Dia akan pergi ke lantai atas saja, jika tempat itu tidak penuh dan dia yakin tidak.


Seorang pelayan pria langsung mendekati Whisk dan bertanya dalam bahasa Inggris yang cukup berantakan, "Ingin duduk di bagian mana?"


Whisk tersenyum padanya. "Saya bisa berbicara bahasa Indonesia, Mas," katanya.


Pelayan pria itu tersipu. "Maaf," ucapnya malu-malu, "saya tidak tahu Anda bisa berbicara bahasa Indonesia, Sir."


"Saya akan duduk di lantai atas. Apakah lantai atas penuh?" tanya Whisk. Matanya masih melirik-lirik ke arah mobil di seberang sana.


"Masih ada yang kosong. Mari saya antar," pinta pelayan pria itu dengan ramah.


Sesampainya di atas, Whisk melihat ada beberapa bangku kosong. Salah satunya berada di dekat jendela yang langsung menyorot pada mobil. Dia tentu saja lebih memilih untuk duduk di sana.


"Mau pesan apa?" Pelayan pria itu masih berada di sana.


"Saya pesan French Toast Cinnamon dan teh Chamomile satu ya, Mas," jawab Whisk. "Terima kasih."


Pelayan pria itu segera pergi dari hadapan Whisk.


Dan ... di sanalah pria bersurai kemerahan untuk lima belas menit ke depan menunggu pesanannya sambil terus mengawasi mobil yang terparkir di seberang kafe, barangkali ada yang keluar dari sana.