
#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!
Haz menghela napas panjang berulang kali. Perasaannya semakin buruk seiring berjalanannya waktu.
Santai, Hazelia. Kamu harus santai. Jangan biarkan perasaan buruk ini mengejek dan menenggelamkan dirimu sendiri. Oh, ayolah! Masa aku harus seperti ini terus? Dimana Haz yang ceria? tanya Haz di dalam hati.
Sebuah pesan masuk ke ponsel Haz ketika dia ingin menyerah dan tidur di dalam mobil saja. Menunggu sampai Whisk datang dan mereka akan pulang―ke rumah Zenneth tentu saja.
Whisk: Karena keadaan sudah menjadi seperti ini, lakukan saja apa yang mau kamu lakukan. Kamu mau menyirami Alkaf? Silahkan. Tidak akan ada yang melarang dirimu melakukannya. Bahkan pacarnya sekali pun.
Haz saat itu sangat malas. Namun tidak ada hal lain yang bisa dia lakukan, dia pun membalas pesan itu.
Haz: Kamu akan menyesal karena menyuruhku melakukan hal gila, Whisky Woods.
Sebenarnya Haz sama sekali tidak tertarik. Dia juga tidak bisa menghindar dari masalah terus-menerus. Jika dia menghindarinya, semakin besar pula masalah itu. Jadi, mau tidak mau, suka tidak suka, dia harus menghadapinya cepat atau lambat.
Whisk: Tidak akan ada penyesalan, Hazelia Lify. Alkaf sepertinya memasang alat pelacak di mobil Jelly. Jelly pun tidak tahu hal itu. Kamu tidak ingin marah terlalu lama kan?
Hah ... tidak akan ada yang tahan dengan orang posesif seperti itu. Lebih baik aku mempercayai Whisk dan Jel. Aku harus melepas alat pelacak yang dimaksud oleh Whisk, batin Haz.
Haz: Aku akan membereskan alat pelacak nya.
"Kamu akhirnya ingin melakukan sesuatu, Haz," kata Qerza.
"Formalitas. Aku hanya melakukan apa yang aku inginkan. Aku itu bebas," balas Haz.
Whisk: Begini Hazelnut yang aku kenal. Silahkan melakukan kegilaan semau kamu. Ratih dan pria pelayan tadi akan mendukungmu juga.
Mereka akan selalu mendukungku, batin Haz.
Haz: Kamu jahad sekali, Whiskie...say goodbye to Haz yang bersedih. Aku akan sangat keterlaluan.
"Butuh bantuan, Haz?" tanya Fabel.
Haz masih berdiam di mobil, memejamkan mata, dan membayangkan dia duduk di dalam mobil Jel. Dia bertanya kepada dirinya sendiri, "Jika aku adalah Alkaf, kemana alat pelacak itu akan ku sembunyikan?"
Ketika membuka mata, Haz membuat sebuah dunia ilusi bahwa dia sedang berada di mobil Jel dan melihat ke seberang. Dia bisa melihat dirinya sendiri duduk di kursi penumpang, tersenyum dan melambaikan tangan ke arahnya. Itu Fabella.
"Sudah lama aku tidak pernah keluar seperti ini. Jadi, ingin aku yang menemukan atau ingin kita berdua yang menemukan?" tanya Fabel.
Haz hanya diam tidak menjawab pertanyaan Fabel. Semenit kemudian, wanita berambut panjang gelombang mengalihkan topik pembicaraan. "Jel bukan seseorang yang akan memperhatikan sekitarnya dengan teliti seperti kebanyakan orang," katanya. "Alat pelacak yang ditaruh Alkaf tidak akan berada di tempat yang sulit dijangkau dan tidak akan berada di tempat yang terbuka juga."
Haz bisa melihat Fabel menganggukkan kepalanya. "Analisis yang kamu berikan masuk akal. Alkaf juga bukan seorang psikopat yang akan memperhatikan hal itu," balasnya.
"Aku tidak yakin kalau alat pelacak itu tidak bisa mendeteksi keberadaan orang di sekitarnya." Haz berasumsi.
"Benar. Tapi, yang paling penting adalah ukurannya." Fabel membalas perkataan Haz. Dia mengerti bahwa Haz ingin menemukannya bersama dan dia hanya perlu mengarahkan Haz. Sama seperti ketika ingin menemukan botol racun di Tempat Pembuangan Akhir.
"Medium size?"
"Di luar atau di dalam mobil?"
Fabel melihat ke sekitarnya. Dunia ilusi yang Haz buat cukup sempurna, tapi itu masih belum cukup untuk menganalisis dimana Alkaf akan meletakkan alat pelacak. Dia membutuhkan informasi lebih.
"Aku mengerti. Aku akan bertanya kepada Whisk bagaimana keadaan Jelkesya. Terutama apakah Jel membawa ponselnya atau tidak," kata Haz.
Haz mengaktifkan ponsel dan membuka layar percakapan dengan Whisk.
Haz: Whisk, apakah kamu di sana?
Haz menunggu balasan pesan dari Whisk. Karena pria bersurai kemerahan tak kunjung membalas pesannya, selama lima menit itu dia juga tidak membacanya, dia pun langsung menelepon.
"Tut ... tut ...." Layar menunjukkan kata 'berdering'. Lalu, mati. Whisk tidak mengangkat telepon. Itu membuat Haz kesal.
Namun tak lama kemudian, Whisk keluar seraya melirik ke arah mobil. Dia langsung menelepon balik.
Haz pun mengangkatnya.
"Maaf, Senior Alkaf tidak berhenti mengoceh sedari tadi. Sebagai formalitas, aku harus mendengar sampai habis," kata Whisk dari seberang sana.
"Tidak masalah. Aku hanya ingin bertanya," ujar Haz. "Apakah kamu menemukan keanehan terhadap Jelkesya?"
"Keanehan? Ada," jawab Whisk. "Dia terlihat sangat gelisah. Yang paling penting adalah, sedari tadi aku bersamanya dan berbicara, dia tidak memegang android-nya sama sekali. Aku curiga kalau android-nya sudah diambil."
Meskipun Fabel adalah karakter ilusi, dia tetap bisa mendengarkan percakapan Haz dan Whisk. Dia dan Haz itu terhubung, sehingga mudah bagi mereka untuk mengetahui satu sama lain. Satu hal yang tak bisa dilakukan oleh Fabel adalah memegang benda-benda, kecuali saat dia memakai tubuh Haz.
"Aku butuh informasi apakah Alkaf menyita barang-barang lain selain handphone-nya. Misalkan saja, kunci mobil, atau paspor, atau apa pun itu," rengek Fabel.
"Informasi itu belum cukup untuk menganalisis dimana Alkaf meletakkan alat pelacak, Whisk. Aku butuh informasi seperti apakah kunci mobil Jel pernah diambil atau tidak, atau apakah ada kartu-kartu identitas disita oleh Alkaf," kata Haz.
"Untuk masalah itu, takutnya aku tak bisa membantu, Haz. Kecuali kal-"
"Diam, Whisk!" sela Haz. Dia melihat Alkaf sedang menuju keluar juga. Sepertinya dia curiga dengan percakapan mereka. "Alkaf ada di belakangmu."
Sesaat, Whisk yang ada di seberang sana terdiam. Lalu, dia berkata, "Oh, apa? Kamu mau waktu diundur sampai jam sebelas malam?"
Bagus juga drama yang kamu buat, Whisky Woods. Entah kenapa aku bangga dengan orang yang bisa berdrama di saat-saat terpojok, batin Haz.
Fabel hanya bisa menghela napas dan menepuk jidat pelan. Haz bisa melihatnya membuat tanda silang dengan dua lengan yang disatukan. Artinya, dia menyerah dalam menganalisis alat pelacak. Serta, dia menyarankan agar Haz cepat masuk kembali ke dalam Cafe dan membuat drama bersama kedua orang itu untuk Alkaf di sana.
"Whisky Woods, kamu tahu aku sedang sibuk. Waikit dan Yudel baru saja menelepon dan memberikan kabar tentang perkembangan yang mereka dapatkan. Aku tidak mungkin melewatkan hal itu," kata Haz.
"Apakah sampelnya tidak bisa diambil besok saja? Kamu juga belum makan malam. Aku bahkan sudah makan hampir tiga mangkuk mi dan dua gelas kopi susu," ujar Whisk dengan nada sedikit kecewa.
"Akan ku usahakan secepatnya, Whisk," balas Haz. Dia menutup telepon.