
#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!
24 April 2020,
Hari-Hari yang Tenang Setelah Dua Rumor yang Beredar Tentang Whisky Woods Dan Hazelia Lify...
Pukul 08:40,
Di Apartemen Haz Dan Jel...
Tring!
Tring!
Sebuah pesan masuk ke ponsel Haz, sedangkan pemiliknya tengah larut dalam bunga mimpi. Pesan itu dikirim oleh Whisk. Dia mengirim pesan balasan untuk Haz atas pertanyaan wanita itu kemarin malam. Dia barusaja melihat ponselnya pagi ini.
~
(Kemarin Malam)
Haz: Jadi, tentang makan bersama yang kukatakan tempo hari, apakah kamu memiliki waktu?
Haz: Maksudku, kapan kamu bebas dari email-email yang akan mengganggumu?
(Hari Ini)
Whisk: Bagaimana dengan sore nanti atau besok?
Whisk: Tanggal hari ini cantik, tapi besok adalah weekend. Kamu bisa menentukannya sendiri, di antara hari ini atau besok.
Pesan belum dibaca.
~
Haz yang tengah asyik dengan tidurnya sampai tak sadar mak kos, alias Jelkesya, sudah berada di depan pintu kamarnya, menatap wanita itu seraya menggeleng kepalanya dan menepuk keningnya pelan.
Ya ampun..!!! Wanita ini benar-benar..!!! Jika dia memiliki anak, aku berharap anaknya tak seperti Mamanya yang kebo ini, batin Jel.
Jel mendekati Haz yang masih pulas, dia duduk di tepi ranjang. Wanita itu mencubit hidung Haz, tidak ada reaksi dari wanita bersurai panjang gelombang. Jel terkekeh pelan. Terkadang, dia suka sekali melihat wajah Haz yang tengah tidur. Polos dan lucu. Dia sudah menganggap Haz sebagai seorang kakak yang hebat dan selalu ada untuknya.
Jel mencubit hidung Haz lagi. Kali ini, tangannya ditahan oleh pemilik hidung. Jel bisa melihat Haz menatap tajam ke arahnya. Itu salah satu alasan mengapa Jel jarang sekali ingin membangunkan Haz. Jika dibangunkan, tatapan tajamnya membuat orang merasa sangat tidak nyaman.
Haz memejamkan matanya lagi. "Aku kira siapa," kekehnya. Mood seorang Hazelia Lify cepat sekali berubah.
"Maksud kamu aku siapa?" tanya Jel.
"Aku bermimpi buruk," jawab Haz singkat. Itu menjelaskan segalanya. Haz sering sekali bermimpi buruk akhir-akhir ini. Meski tak mengigau, saat terbangun, dia akan melemparkan kekesalannya terhadap sebuah objek, misalkan: orang, benda-benda yang ada di sekitarnya, ataupun membayangkan hal yang tak disukainya.
"Akhir-akhir ini kamu sering sekali bermimpi buruk ya?" tanya Jel tepat sasaran.
Haz mengangguk singkat. "Sepertinya ada yang mengganggu batinku, tapi aku tak tahu itu apa," jawabnya.
"Jangan terlalu memikirkan hal yang tidak penting, Hazelia Lify..." Jel bangkit dari duduknya. "Ayo kita sarapan! Basuh wajahmu dan sikat gigimu terlebih dahulu," lanjutnya. Usai berkata demikian, wanita itu beranjak pergi dari kamar Haz.
Haz menggembungkan pipinya sesaat, lalu dia segera bangkit dari tidurnya dan melakukan apa yang dikatakan oleh Jel.
Haz bisa melihat Jel yang sudah menikmati sarapannya seraya menatap ke layar ponselnya. Haz duduk berseberangan dengan wanita itu. Dia bisa melihat wajah serius Jel yang tengah membalas pesan dan dia tahu pesan tersebut dari Alkaf.
Sesekali, Haz bisa mendengar Jel menghela nafas kasar, tanda dia tidak sedang baik-baik saja. Haz berharap dia bisa membantu seorang Jelkesya dalam masalahnya.
Haz juga menghidupkan layar ponselnya. Di sana mengambanglah sebuah pesan dari Whisk. Haz menekan pesan dari Whisk dua kali dan membuka kunci layar ponselnya.
Haz membaca pesan dari Whisk, lalu segera membalasnya.
~
Haz: Sepertinya besok saja.
Haz: Hari ini aku memiliki rencana untuk membuat Alkaf dan Jelkesya keluar. Tentu saja untuk membicarakan masalah pribadi mereka berdua.
~
"Apakah hari ini kamu dan Alkaf memiliki rencana?" tanya Haz mendadak.
"Aku sudah mengajaknya keluar sih... Tapi..."
"Dia ragu-ragu?" potong Haz tepat sasaran.
Jel mengangguk pelan dan menghela nafas panjang.
Ah! Alkaf bodoh! Ini sama saja mengatakan kepada seorang Liulaika Jelkesya bahwa dia akan kembali ke pelukan Stephila Sastra! seru Haz dalam hati kesal.
"Ya... Mau bagaimana... Dia benar-benar keterlaluan sekarang. Apa yang dikatakannya padamu? Apakah dia membahas soal cici Phila?" tanya Haz.
"Dia bilang dia akan memikirkan hal itu lebih jauh lagi..." jawab Jel. Suaranya terdengar parau, seakan menahan tangis.
"Ah! KETERLALUAN!" seru Haz. "Pria berumur tiga puluh dua tahun sepertinya mengapa terlihat dan terdengar sangat labil!? Aku menyesal telah memercayakan kamu kepadanya! Aku salah tentang dirinya!" Haz mulai marah-marah.
"Tidak apa-apa... Dia cuma butuh sedikit waktu kan?" kekeh Jel polos. Dia terkekeh, namun tak sadar ada air yang mengalir membasahi pipinya.
Tring!
Sebuah pesan masuk ke ponsel Haz. Dari Whisk.
~
Whisk: Senior Alkaf bertanya padaku baru saja. "Apakah aku masih memiliki wajah untuk bertemu dengan Jelkesya setelah meragukan perasaanku sendiri?" Begitu pertanyaannya.
Whisk: Aku ingin memakinya sih...
Whisk: Tapi, aku sadar aku tak punya hak untuk itu.
Whisk: Maka dari itu, mohon bantuannya, Nona.
~
Haz yang melihat pesan balasan tersebut langsung mengirim pesan ke Alkaf.
~
Haz: Tidak berniat meluruskan masalah kesalahpahaman ini dengan Jelly?
~
Haz kembali membalas pesan Whisk.
~
Haz: Terimakasih sudah memberitahu. Dia benar-benar labil sebagai seorang pria di usianya.
Whisk: Aku juga berpikir demikian.
Whisk: Apakah kamu sudah mengatakan kepada Jelkesya jika mereka bertemu, dia harus menampar Senior Alkaf?
Haz: Tentu saja aku mengatakan itu kepada Jel. Benar-benar harus ditampar pria itu agar dia sadar dan tidak labil lagi.๐
Whisk: Sepertinya kita benar-benar jahat.๐
Haz: Jahat atau tidak tergantung situasi. Jika orang seperti Alkaf, tentu saja harus diperlakukan sedikit jahat agar dia sadar.
Whisk: Baiklah. Aku mengerti.
Whisk: Jadi, apa saja rencana kamu untuk esok hari? Jangan bertanya padaku. Aku akan mengikuti semua keinginanmu.
Haz: Kamu belum bersenang-senang sama sekali bukan?
Whisk: Ya, belum sama sekali.
Haz: Baiklah, sepertinya aku memiliki rencana yang bagus.
Whisk: Aku menunggu hal tersebut.
Haz: Bagaimana jika malam ini kita makan di luar? Aku akan mengajak Rael dan Andrian. Biarkan Alkaf dan Jel berdua, menyelesaikan urusan mereka.
~
Tring!
Akhirnya pesan balasan Alkaf yang ditunggu sedaritadi muncul juga.
~
Alkaf: Ingin.
Haz: Lalu, apa yang kamu tunggu?
Alkaf: Aku malu.
Haz: Dia menunggu.
Alkaf: Menunggu?
Alkaf: Apa maksudnya?
Haz: Dia menunggumu menjawab apakah kamu ingin keluar dengannya (tentu saja untuk berkencan) atau tidak.
Alkaf: Benarkah?
Haz: Untuk apa aku berbohong? Tidak ada rahasia di antara kita. Jel benar-benar menunggu jawabanmu sekarang.
Haz: Tega kamu membuatnya menunggu? Kamu sungguh kejam!
Alkaf: ... Aku akan membalas pesannya.
Haz: Lakukan sekarang, jangan menunggu!