Lady Sherlock : First Unofficial Case

Lady Sherlock : First Unofficial Case
136 : Gelud! Gelud! Gelud!


#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!


Haz turun dari mobil perlahan. Dia menutup rapat pintu mobil dan langsung melompat ke balik sebuah dinding yang tingginya sekitar 1.8 meter.


Tinggi Haz adalah 1,63 meter. Tidak sulit baginya untuk melakukannya karena ada sebuah batu besar yang sengaja diletakkan di sisi dinding untuknya serta ada Qerza yang siap membantu. Itu ide Leo dan Ratih. Dia sangat berterima kasih karenanya.


Haz menyusuri setapak jalan kecil di belakang dinding itu dan muncul di ujungnya dengan tempat yang lebih sempit dari parkiran. Kira-kira luasnya hanya seperempat parkiran, mungkin tidak sampai malah.


Di sana ada sebuah pintu yang berlabelkan, 'DILARANG MASUK KE DALAM KECUALI STAFF!".


Haz tidak mengindahkan larangan itu dan langsung masuk ke dalam.


Saat Haz membuka pintu dan masuk, wajah semua orang langsung menegang. Mereka mengira akan ada pencuri atau orang berbahaya yang masuk ke dalam. Ternyata hanya seseorang yang sangat mereka kenal.


"Kamu mengagetkan kami, Kak Haz!" seru Leo berbisik. Jantungnya hampir saja lepas dari tempatnya jika saja yang masuk ke dalam sana itu bukan Haz. Dia menarik napas berulang kali sambil terkekeh pelan.


"Jantungmu baik-baik saja kan, Tuan Muda?" tanya Haz. Dia juga terkekeh sama seperti Leo.


Sedangkan Ratih, dia hanya bisa menepuk jidat pelan. Staff lain seperti koki, yang bernama Andreas, dan kakak pembuat minuman, yang bernama Lila, menggelengkan kepala mereka. Mereka sudah terbiasa dengan kelakuan Haz.


"Buruk sekali, kak Haz. Jantungku hampir copot," jawab Leo.


"Kak Lila, boleh minta air mineralnya?" tanya Haz.


"Enak aja minta. Beli dong!" Lila menyengir lebar. Dia paling suka bercanda dengan Haz. Kadang-kadang jika sedang tidak ada orderan, dia akan pergi ke depan untuk konser bareng Haz dan Jel.


Di Cafe ada sebuah panggung kecil yang disediakan dengan berbagai macam alat musik yang biasanya digunakan di sebuah band.


Biasanya Haz akan bernyanyi, Jel akan memainkan alat musik sekaligus bernyanyi. Kalau ada yang request dan mereka tidak tahu lagunya, Ratih, Lila, Leo, maupun Andreas akan membantu. Bahkan para pengunjung lain juga ikut-ikutan konser karena kelakuan mereka.


"Iya, tambahkan ke bill ya, Ratih. Yang kecil aja, Kak Lila," kata Haz.


Lila memberikan saru botol air mineral berukuran kecil. Dia pun bertanya, "Untuk apa itu airnya?" Dia memiliki firasat bahwa air itu tidak akan diminum oleh Haz. Intuisi seorang wanita itu mengerikan.


Alih-alih menjawab, Haz hanya menyeringai manis. Dia berkata, "Terima kasih. Nanti juga kalian tahu. Jangan lupa ngintip."


Ratih, Leo, Andreas, dan Lila saling lirik-melirik. Mereka mengangkat bahu secara bersamaan dan memandangi kepergian Haz dari tempat masing-masing. Namun karena penasaran, mereka pun mengintip dari bagian belakang Cafe sesuai arahan Haz.


Whisk yang melihat kedatangan Haz girang bukan main, tapi dia juga memahami isyarat wanita berambut panjang gelombang yang menyuruhnya untuk tetap fokus ke arah Alkaf.


Sambil berjalan, Haz membuka tutup botol dan berhenti tepat di belakang Alkaf.


Alkaf tidak menyadari kehadiran Haz. Dia sibuk dengan ceritanya.


Karena Jel menempatkan posisi tubuhnya menyamping, pura-pura mendengarkan Alkaf, dia jadi tahu kalau Haz datang. Namun wanita itu berpura-pura fokus terhadap Alkaf. Dia akan mendukung semua hal yang dilakukan oleh Haz malam itu terhadap pacarnya sendiri. Dia pun sedang berada di posisi yang sebal dengan pria berkacamata.


Haz tersenyum dan memamerkan dua jemarinya kepada Whisk.


Whisk ingin tertawa, tapi dia tidak melakukannya. Jika dia tertawa, Alkaf akan tahu keberadaan Haz dan dia tak mau itu terjadi. Dia pun berusaha menahan diri.


Ucapan Alkaf terhenti karena Haz menyirami air mineral ke atas kepalanya.


Semua orang yang ada di sana langsung bersorak-sorai. Karena sudah mengenal Haz, mereka jadi tahu kalau Alkaf pasti membuat wanita berambut panjang gelombang tidak senang. Maka dari itu, dia menyirami pria berkacamata dengan air mineral.


Jel yang terkena cipratannya berusaha menahan senyumannya. Dia senang karena Haz melakukannya. Dia tahu Haz juga melakukannya untuknya. Entahlah, mungkin itu hanya perasaannya saja.


Wajah Alkaf merah padam. Dia marah. Bukan, sangat marah. Di kacamatanya banyak terdapat bulir-bulir air yang mengalir turun. Kaos navy-nya dan celana sport hitam panjangnya basah terkena air mineral yang ditumpahkan Haz ke atas kepalanya.


Haz tidak membiarkan tetes terakhir terbuang sia-sia. Setelah air mineral di dalam botol habis, dia melewati Alkaf.


Whisk segera menggeser tubuhnya ke bagian dalam meja untuk empat orang itu. Haz menarik kursi dari meja pelanggan lain. "Permisi, saya ambil kursinya ya." Dia mendapatkan senyuman sebagai tanda 'iya' dari pelanggan di meja itu.


Haz duduk tanpa perasaan bersalah terhadap Alkaf. Dia tersenyum dan berkata, "Maaf ya, Senior Alkaf ... tanganku licin tadi. Jadi, tidak sengaja menumpahkan air ke atas kepalamu."


Ratih, Leo, Andreas, dan Lila sudah tahu apa yang harus mereka lakukan. Leo langsung mengirim chat ke Ayahnya, Pemilik Cafe, Putra Bumi, yang sebenarnya ada di bagian atas Cafe. Kantornya berada tepat di lantai 2.


Leo: Hazelia Lify melakukan atraksi menarik.


Biasanya, Leo akan mengabari Ayahnya jika Haz datang. Sebelumnya, dia lupa. Setelah melihat apa yang dilakukan oleh Haz, seharusnya dia mengirim pesan ke Ayahnya lebih cepat dari itu.


Jel dan Whisk masih menahan tawa mereka. Sedangkan Alkaf sendiri, dia tak bisa berkata-kata dan menatap benci ke arah Haz.


"Ah ... benar. Tapi, itu cocok dilakukan untuk seseorang seperti Senior, bukankah begitu?" Haz benar-benar memancing kemarahan Alkaf.


Alkaf berdiri dari tempat duduknya, menggebrak meja, dan mengangkat tangannya untuk menampar pipi Haz.


Untungnya tangan Whisk cepat menangkap pergelangan tangan Alkaf.


Haz melemparkan airpods untuk Jel. Jel menangkapnya dan tersenyum sebagai tanda terima kasih. Wanita itu sangat butuh penyumbat untuk telinganya.


Haz bisa melihat Pak Putra buru-buru menuruni tangga dan berhenti di anak tangga pertama. Dia langsung menepuk jidatnya pelan. Tentu saja bukan karena kelakuan Haz, tapi dia menyesal tidak melihat apa yang dilakukan oleh wanita berambut panjang gelombang terhadap Alkaf. Dia bergabung dengan anak dan staff-nya di bagian belakang Cafe.


"Kenapa ga beritahu dari awal? Aduh kalian nih!" seru Pak Putra dengan raut wajah kecewa.


"Maaf Pah, kelupaan. Pas Kak Haz udah nyiram baru ingat," kata Leo, mencari pembelaan.


"Nanti kalau ada masalah, bantu itu Hazelia nya." Pak Putra berdeham pelan.


"Pasti dong," balas mereka secara bersamaan.


Pak Putra juga salah seorang yang dekat dengan Haz. Dia merasa bahwa Haz dan Jel itu bisa dipercaya. Semenjak kehilangan istrinya tercinta, dia jadi tidak memiliki penasehat yang baik untuk diri sendiri dan untuk anaknya. Dia bertemu dengan Haz dan tak sengaja diberi beberapa kata oleh wanita berambut panjang gelombang. Semenjak itu dia percaya pada Haz, mengangkatnya sebagai anak angkat bersama dengan Jel, dan menjadikan mereka berdua sebagai kakak angkat Leo.


Leo adalah anak satu-satunya dari Pak Putra.


"Sebentar lagi akan terjadi pertengkaran hebat," kata Pak Putra.