
#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!
"Zenneth, apakah ada tempat yang ingin kamu datangi? Misalkan ke shopping mall atau kemana pun itu?" tanya Haz.
Zenneth memandang Haz dengan tatapan tidak percaya, tercengang pada pertanyaan wanita itu.
Biasanya Haz tidak akan mengajakku pergi ke tempat seperti itu. Ada apa dengannya? tanya Zenneth di dalam hati.
"Tidak perlu menatapku seperti sedang menatap hantu, aku sedang berbaik hati akan menemanimu pergi ke tempat seperti itu. Jika kamu tidak mau, ma-"
"Aku ingin pergi ke shopping mall. Ada banyak barang yang harus ku beli," sela Zenneth dengan seringai manisnya.
"Ok. Cyan bagaimana?" tanya Haz.
"I'm out—Aku tidak ikut. Aku akan kembali ke kasur empuk dan tidur sepanjang siang ini. Aku benar-benar ngantuk. Tolong kembalikan diriku ke tempat asal ku," jawab Cyan.
"Bagaimana dengan kamu, Whisk?" Haz menatap ke arah Whisk.
Whisk terlihat sangat bersemangat. Sepertinya dia juga ingin menghambur-hamburkan uangnya. Paling tidak mengurung diri di GRAMEDIA atau PAPER CLIP sampai Zenneth selesai shopping.
"Oh, kamu jelas sekali akan ikut dalam kegiatan beli membeli yang satu ini," kata Haz, langsung dapat membaca ekspresi wajah Whisk. "Ya sudah, kita akan kembalikan Cyan ke gedung kasino miliknya. Setelah itu kita akan pergi ke rumah Zenneth untuk membersihkan diri, berdandan, dan seharian berbelanja di shopping mall."
Setelah mengantar Cyan pulang ke gedung kasino ....
"Aku akan kembali ke apartemen saja. Bajuku semua ada di sana," kata Whisk.
"Pindah saja dari apartemen itu. Lagipula, aku akan mencarikan apartemen baru untuk Hazelia kesayanganmu. Jika kau ingin apartemen yang bertetangga dengan Hazelia, aku bisa mencarikannya," ujar Zenneth. Dia memberikan lampu hijau untuk Whisk mengenai hubungan PDKT mereka berdua.
"Tentu saja aku tidak akan menolak. Tapi, apakah Nona yang satu ini tidak akan tersinggung dengan kehadiranku? Yang setiap pagi dan sore harus dilihatnya dan terus menerus mengganggunya," goda Whisk.
Haz hanya diam. Dia sedang tidak menyimak pembicaraan Whisk dengan Zenneth. Dia sedang memikirkan hal lain. Ada sesuatu yang mengganggunya ... sangat mengganggunya. Namun dia hanya membiarkan perasaan itu menuntunnya. Perasaan itu akhirnya menghilang ketika dia disadarkan oleh Whisk.
"Haz? Ada apa?"
Haz bisa mendengar pertanyaan itu diiringi tepukan kecil di bahunya. Dia langsung menoleh ke arah Whisk dan Zenneth yang sedang menatapnya bingung. Dia pun menggelengkan kepalanya, tersenyum dan berkata, "Tidak ada apa-apa. Orang yang mengikuti kita sudah pergi. Aku hanya sedang memikirkan posisi Nicholas Qet Farnaz tadi."
"Untuk apa kamu memikirkan hal yang aneh-aneh seperti dia?" tanya Zenneth. "Hari ini jangan memikirkan hal apa pun yang dapat membebani pikiranmu. Kita akan bersenang-senang. Ini perintah, Hazelia Lify."
Haz menghela napas panjang dan memutar bola matanya dengan malas. "Baiklah. Baiklah. Kita akan lakukan sesuai dengan caramu hari ini. Mari kita bersenang-senang."
Satu jam setelahnya ....
Whisk mengklakson saat dia sudah berada di depan rumah Zenneth dan akan menjemput Tuan Rumah serta Haz. Dia menunggu selama lima menit sesuai dengan percakapannya dengan Haz. Kata Haz, Zenneth sedang berdandan.
Whisk sendiri juga tidak mengerti kenapa wanita itu rempong sekali. Ketika ingin pergi ke suatu tempat, mereka pasti akan berdandan dan tampil semaksimal mungkin—kecuali Haz, Whisk tidak pernah melihat Haz berdandan secara menor.
Sesuai perkataan Haz, Whisk hanya perlu menunggu selama lima menit. Setelah itu, dia bisa melihat pintu rumah Zenneth dibuka. Tuan Rumah keluar lebih dulu dari sana. Ternyata berdandan yang dimaksud oleh Haz adalah mencatok rambut. Terlihat rambut Zenneth yang baru saja dicatok lurus. Haz sendiri tidak mengubah apa pun selain mengoleskan BB cream untuk menyamarkan kantung mata yang menghitam.
Haz membuka pintu mobil paling depan dan duduk di samping Whisk. Sedangkan Zenneth duduk di bagian tengah setelah memastikan bahwa rumah sudah terkunci.
Haz menggerai rambut panjang gelombangnya. Biasanya dia lebih memilih untuk mengikatnya. Namun hari ini terlihat sedikit berbeda. Haz sebenarnya cukup risih. Zenneth yang menyarankan kepadanya agar menggerai rambutnya saja.
Panas, batin Haz sambil menyelipkan rambutnya ke belakang.
"Jika kamu tidak suka, jangan digerai. Ikat saja," kata Whisk sambil memberikan sebuah ikat rambut pada Haz.
Haz menerimanya dengan senang hati. "Terima kasih. Jika bukan karena nenek lampir ini, aku juga tidak akan mau menggerai rambutku," ujar Haz sambil melotot kepada Zenneth.
Whisk melajukan mobil dari depan rumah Zenneth dan menuju ke shopping mall berdasarkan arahan dari Haz. Sebelum itu, mereka pergi ke sebuah toko sepeda langganan Zenneth.
Sesaat sebelumnya, di rumah Zenneth ....
"Haz! Kamu sudah selesai belum?" tanya Zenneth dari ambang pintu kamar yang ditempati Haz sementara.
Ternyata Haz sudah selesai sedari tadi dan ... dia mengikat rambutnya lagi.
"Astaga. Kamu ini. Rambutmu cantik, kenapa harus diikat terus sih? Lepaskan saja," kata Zenneth. Dia mulai bawel lagi.
"Dunia ini sangat panas, Zen." Haz tidak melepaskan pandangannya dari ponselnya.
"Lepaskan saja dan bantu aku mencatok rambutku," kata Zenneth. Dia duduk manis di depan cermin, menunggu Haz.
Haz tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti keinginan Zenneth. Jika tidak, Zenneth akan merengek terus kepada wanita itu. Dia tidak tahan dengan rengekan orang lain.
"Baiklah, jangan merengek lagi. Seperti ini kan?" Haz menggerai rambutnya. Dia pun terlihat ekstra cantik.
"Nah, begitu kan lebih cantik." Zenneth terkekeh kecil.
"Ya sudah, sini. Sebelum Whisky Woods datang. Ini juga sudah hampir jam sepuluh pagi. Kita harus cepat," kata Haz.
"Kamu tidak ingin membuatnya menunggu ya?"
Zenneth mulai menyebalkan lagi. Haz hanya bisa menghela napas panjang dan memutar bola mata, malas.
"Maafkan aku. Aku tahu aku lebih menyebalkan dibandingkan orang yang membuatmu bad mood. Aku tidak bermaksud, sungguh. Aku hanya bercanda," kata Zenneth.
"Bisakah kita tidak membahas tentang Jel dan kamu berhenti menyindirnya?" tanya Haz. Dia risih setiap kali Zenneth membandingkan dirinya sendiri dengan Jel.
Zenneth terdiam.
Apa bagusnya Liulaika Jelkesya? tanya di dalam hati. Dia memasang ekspresi wajah cemberut. Dia tidak mengerti dengan apa yang dipikirkan oleh Haz tentang Jel maupun Alkaf dan kenapa wanita berambut panjang gelombang bisa bersabar seperti itu walau masalah yang sama telah dilakukan berulang kali.
Di pertengahan kegiatan Haz mencatok rambut Zenneth, suara klakson mobil terdengar. Whisk sudah datang.
Haz pun menyuruh Zenneth untuk mengambil ponselnya yang berada di atas meja dan meminta wanita itu untuk membalas pesan dari Whisk.
Zenneth membalas pesan yang masuk dari Whisk melalui layar kunci. Dia tidak tahu password ponsel Haz—sebenarnya dia tahu, hanya saja Haz menggantinya agar dia tidak bermacam-macam lagi.
~
Whisk: Apakah kalian sudah selesai?
~
"Aku harus jawab apa?" tanya Zenneth.
Padahal Haz tidak melihat ke layar ponsel sama sekali, tapi dia menjawab, "Katakan kepada Whisk untuk menunggu lima menit."
Zenneth pun mengetik apa yang dikatakan oleh Haz.
~
Haz: Tunggu 5 menit.