Lady Sherlock : First Unofficial Case

Lady Sherlock : First Unofficial Case
111 : Percakapan Haz dan Waikit (Bagian 2)


#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!


"Nona kecil?" Haz mengerutkan keningnya, tidak begitu suka dengan panggilan yang diberikan oleh Waikit kepadanya. "Aku sudah cukup dewasa, Pak Tua."


Waikit tertawa. Cukup keras, sampai menarik perhatian orang-orang yang penasaran untuk melihatnya. Dia mengabaikan tatapan orang-orang dan berkata kepada Haz, "Aku suka sekali membuat wanita kesal. Mereka terlihat sangat manis ketika kesal. Dan juga, aku tidak setua yang kamu kira."


"Aku tidak ingin tahu umurmu. Tapi, umurku itu semuda jagad raya dan setua gigi susu," ujar Haz sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


"Semuda jagad raya dan setua gigi susu? Ah ... aku ingat, aku pernah berkenalan dengan seorang penulis pria asal Indonesia juga. Dia mengatakan hal yang sama sepertimu. Sepertinya, kamu suka membaca buku-bukunya," ucap Waikit.


"Tidak adil sekali ...," rengek Haz. "Bagaimana bisa kamu mengenalnya dulu dibanding aku?"


"Mungkin kami berjodoh?" Waikit mengangkat kedua bahunya dan tersenyum tipis kepada Haz. "Ah, inti dari pembicaraan panjang lebar kita ini adalah aku tentu saja pernah mengalami kesulitan. Bukan hanya kesulitan. Tapi, tak terpecahkan sama sekali."


Haz mengangguk paham. "Aku ingin meminta bantuan darimu, Tuan Waikit."


"Aku sudah mendengarnya dari James Stetson. Kenapa kamu berusaha padahal kamu bukanlah seorang polisi?" Waikit melahap makanannya pelan-pelan. Tingkat kepercayaan dan kenyamanannya kepada Haz terbilang sudah cukup tinggi.


Sebelum Haz menjawab pertanyaan Waikit, Pelayan lebih dulu menginterupsi obrolan mereka. Dia membawa pesanan Haz, juga milik Whisk dan Yudel.


Haz sedari tadi juga samar-samar mendengar percakapan dua orang di belakangnya. Entah apa yang mereka bicarakan, wanita berambut panjang gelombang tak ingin tahu. Asal mereka tidak membicarakan hal-hal yang aneh saja. Sepertinya Whisk dan Yudel juga menjadi akrab.


Pelayan berpindah dari meja Haz dan Waikit menuju meja Whisk dan Yudel, berganti menginterupsi obrolan mereka.


Haz mengabaikan keadaan Whisk dan Yudel. "Selamat makan," katanya kepada Waikit.


"Kamu tidak menjawab pertanyaanku," ujar Waikit ketika Haz memasukkan suapan pertama ke dalam mulut. Wanita itu langsung tersedak, terbatuk-batuk.


"Ah ... maafkan ketidaksopanan ku!" seru Waikit panik dan langsung memberikan Haz sebotol air putih.


Haz menerima air dari Waikit, meneguknya, lalu menatap tajam ke arah Waikit yang menurutnya sangat menyebalkan.


Pria ini bukan seorang pendengar yang baik, pikir Haz.


"Kenapa aku terlibat ya ...? Coba kamu tebak." Haz berkata ketika dirinya sudah cukup lega.


"Aku tidak sepertimu, tentu saja aku tidak tahu. Apakah kamu tidak apa-apa? Atau, aku harus menutup mulutku yang penasaran ini? Atau, kamu ingin bagaimana?" tanya Waikit bertubi-tubi.


"Berhenti mengatakan hal yang sedikit menyebalkan. Aku tidak apa-apa," jawab Haz. Wajahnya langsung berubah menjadi orang yang siap meledak jika diberi satu pertanyaan lagi.


Dan, saat itu juga, Waikit langsung menutup mulutnya dan membiarkan Haz berbicara sampai selesai.


"Aku melakukannya karena pelaku sudah berbuat terlalu jauh. Bahkan sampai melibatkan diriku. Meskipun media berusaha disuap dan ditutupi tentang kasus ini agar bisa diselidiki sampai tuntas, tanpa aku, orang yang menjadi tersangka satu-satunya karena rumor bodoh yang beredar, yang dibuat oleh korban yang sama bodohnya, para polisi tidak akan menemukan apa-apa. Pria itu ...."


Haz menunjuk ke belakang, ke arah Whisk. Dia berdeham dan melanjutkan perkataannya, "Dia juga tidak akan bekerja sama dengan para polisi. Negara ini memiliki Aparat Kepolisian yang kepalanya sama kerasnya dengan batu. Pria itu juga demikian."


"Kalian membicarakan diriku?" Whisk bertanya tanpa melihat ke arah Haz dan Waikit, mengejutkan wanita berambut panjang gelombang.


"Tidak ada," jawab Haz sambil memutar bola malas yang disambut dengan oh ria dari Whisk.


"Baiklah, aku mengerti. Lalu, apa yang harus aku bantu? Kebetulan sekali aku sedang liburan akhir-akhir ini. Mungkin aku bisa membantumu," kata Waikit.


"Liburan? Jangan berbohong. Ini tidak termasuk liburan, bukankah begitu?" Haz terkekeh kecil ketika bertanya, membuat Waikit tersipu malu dengan wajah yang merona kemerahan.


"Benar. Aku tidak sedang liburan sekarang. Aku sudah dibayar oleh James Stetson untuk membantumu dan Whisky Woods. Jadi, ini tidak dihitung sebagai liburan," jawab Waikit sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Tenang saja, Tuan Waikit. Aku tidak akan memberikan permintaan yang berat dan tidak masuk akal kepadamu. Aku hanya ingin meminta bantuan darimu yang sesuai dengan keahlian mu di laboratorium," kata Haz.


Haz mengeluarkan barang-barang yang ingin dia ketahui. Pertama, botol kaca yang ditemukannya di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dari rumah si kembar Vinzeliulaika. Kedua, hoodie yang dibuang oleh orang misterius di tempat sampah di lorong rumah sakit tempat Zenneth dan Ric dirawat.


"Aku akan memberimu informasinya. Secepat yang aku bisa," jawab Waikit.


"Tidak perlu terburu-buru, Tuan Waikit. Aku juga tidak akan terburu-buru dalam menemukan pelakunya. Biarkan dia menunjukkan batang hidungnya sendiri," kata Haz.


"Ya tentu saja. Dalam memecahkan suatu teka-teki, tidak boleh terburu-buru. Aku paham kesulitan yang sedang kamu alami, Nona," ujar Waikit.


"Terima kasih kalau begitu."


"Sama-sama."


Setelah itu, tidak ada lagi percakapan yang terjadi di antara mereka berdua. Baik Haz dan Waikit sama-sama diam dan menikmati makanan yang ada di hadapan mereka.


Sampai beberapa saat ke depan ....


"Tuan, bolehkah aku meminta ini sedikit?" tanya Haz


Waikit mengangkat kepalanya dan mengalihkan pandangannya ke arah dimana telunjuk Haz menunjuk. Dia lalu menjawab, "Tentu saja boleh. Meskipun aku sedikit tidak rela."


Haz tidak jadi mengambilnya, membuat Waikit menatap bingung ke arahnya. "Kenapa?" tanya pria itu dengan dahi yang mengerut.


"Kamu bilang sedikit tidak rela," jawab Haz sambil menggembungkan pipinya dan menatap kesal ke arah Waikit.


Waikit tertawa. "Aku hanya bercanda," katanya. "Silahkan jika Nona Resplendent Nephila ingin."


Haz menatap tidak percaya ke arah Waikit. Masih tidak ingin mengambil apa yang diinginkannya.


"Aku benar-benar ingin berbagi denganmu. Ayo, diambil saja. Jangan sungkan. Tadi aku hanya bercanda," kata Waikit.


Haz tersenyum dan mengambil apa yang diinginkannya.


"Apakah itu enak? Meskipun aku suka bau yang menyengat, aku tidak begitu cocok dengan beberapa masakan yang menggunakan rempah-rempah."


"Aku bisa menjamin bahwa kamu akan suka yang satu ini, Tuan Waikit. Masakan ini akan cocok dengan selera lidahmu."