
#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!
"Andrian .... Andrian? Ada apa?" tanya suara di telepon. "Andrian, apakah kamu masih di sana?"
"Ya, ya. Maaf, Rael. Saya panik saja. Maaf ya?" Andrian sudah kehabisan ide. Dia terlihat frustasi sekarang. Apalagi dia tengah menatap Haz dan yang lain dengan tatapannya yang menyedihkan.
James dan Milla terkikik pelan. Mereka berdua sekarang tahu alur yang dibangun oleh kelompok orang tersebut. Skenerio drama yang hebat! Tapi, sepertinya kelompok tersebut akan gagal. Menipu penipu profesional tidaklah semudah yang mereka pikirkan!
"Ya sudah, mungkin kamu sibuk Andrian. Aku matikan teleponnya dulu ya?" kata Rael. Wanita itu menutup teleponnya dengan Andrian.
"Simpan rekaman suaranya!" seru Haz, "Segera, Andrian! Segera!"
Andrian yang mendapat seruan dari Hazelia Lify langsung buru-buru menyimpan rekaman suaranya dengan Rael. Semenit kemudian, pria itu melihat telepon mereka sudah hilang, hanya tertera YOUR CALL HAS BEEN DELETED BY THE CALL CENTER—PERCAKAPAN TELEPONMU SUDAH DIHAPUS OLEH PERUSAHAAN—seolah mereka menelepon hanya untuk menyimpan berbagai macam rahasia saja.
"Putar kembali rekamannya," pinta Haz. Kali ini dia berusaha mengontrol dirinya untuk lebih tenang.
Andrian melaksanakan perintah Haz. Dia tidak tahu apa yang ditemukan oleh gadis itu, tetapi, dia yakin pasti gadis itu telah menemukan petunjuk yang sangat penting mengenai Raphaela.
"Berhenti." Haz memejamkan matanya. "Ulangi."
Andrian mengulangi rekaman telepon tersebut, bingung dengan apa yang diremukan oleh seorang Hazelia Lify.
"Berhenti." Haz membuka matanya perlahan. Itu dia! Aku sudah tahu! Aku sudah menemukan siapa itu Rael. Siapa yang ingin mencelakai Whisky Woods, dan orang yang membuat Richard Vinzeliuka terbaring di hospital bed seperti ini! Tunggu pembalasanku, Nona Penipu Profesional! Kamu akan menyesal telah berurusan denganku! pikirnya. Dia tersenyum girang. Ah ... sepertinya aku harus keluar mencari angin. Wanita itu bangkit dari duduknya, lalu mengintip dari balik jendela. Banyak sekali taksi-taksi dan mobil-mobil yang berlalu-lalang di depan Rumah Sakit. Tapi, tatapannya hanya terpaku pada satu orang, seorang wanita di seberang jalan sana.
Bingo! Dapat kamu! batin Haz senang. Dia kemudian melangkahkan kakinya di atas lantai kamar mandi. "Aku pergi dulu ya! Kandung kemihku hampir pecah ...." Dia berseru kepada semua orang di ruangan. Lalu, keluar dari kamar pasien yang ditempati oleh Whisky Woods dan Richard Vinzeliuka.
Jel juga keluar dari kamar pasien untuk menemani Haz. Dia paling tidak tenang kalau meninggalkan Haz seorang diri. Mengingat Haz adalah target paling empuk. Meskipun dia tahu sahabatnya itu memiliki seribu satu cara untuk menghindari yang namanya kematian, tetap saja dia tidak tenang. Seorang Hazelia Lify memanglah cerdas. Tapi, di mata Liulaika Jelkesya, wanita itu tetaplah orang yang ceroboh.
"Jelkesya ..." decak Haz dengan kesal saat menemukan Jel mengekorinya.
"Orang ceroboh sepertimu sangat membuatku takut tahu tidak?" Jel menatap tajam ke arah Haz seraya menggembungkan pipinya dengan kesal. Dia tidak ingin menerima penolakan apa pun dari Haz sekarang.
"Ya sudah. Berjanjilah untuk tetap di sampingku. Aku bisa kewalahan menyelamatkanmu jika kamu tertangkap oleh seorang raksasa. Dan aku harap kamu mau mematuhi persyaratanku yang satu itu," desah Haz, pasrah dengan kekeras-kepalaan sahabatnya itu.
"Aku tidak seceroboh kamu, Hazelia Lify sayang .... Aku berjanji aku tidak akan membebanimu dengan keberadaan diriku di sisimu," kata Jel meyakinkan Haz bahwa dia tidak akan menjadi beban.
Dua orang yang sangat dikenal Hazelia dan Jelkesya, melangkahkan kakinya terburu-buru di atas lantai koridor Rumah Sakit. Mereka berdua terlihat panik sekali. Mereka adalah Rika dan Riko Vinzeliulaika, kakak kembar Ric. Tidak ada satu pun dari mereka yang menyadari bahwa Haz dan Jel berada di sana, menatap intens ke arah mereka berdua. Lalu, mengabaikannya.
"Jadi, aku penasaran sekali, Hazelia Lify ...." Jelkesya kembali menyeimbangkan langkahnya dengan Haz. Dia memasang ekspresi bingung di wajahnya.
"Apa yang kamu bingungkan, Liulaika Jelkesya?" tanya Haz.
"Em ... misalnya, mengapa kamu tiba-tiba saja mengatakan kamu ingin pergi ke kamar mandi, padahal kamu telah menemukan tersangkanya," jawab Jel. Dia sama sekali tidak mengerti dengan jalan pikiran Haz sekarang. Bukankah lebih baik dia berada di dalam kamar pasien dibandingkan berkeliaran bebas di koridor Rumah Sakit seperti ini? Keadaan memang sudah ramai. Tetapi, tetap saja kriminal bisa terjadi di antara ramainya umat-umat manusia tanpa dapat diprediksi.
"Benar! Kamu benar. Memang aku lebih baik berada di dalam kamar pasien daripada berjalan-jalan seolah untuk menghantarkan nyawa seperti ini," kata Haz, "nanti kamu juga akan tahu alasannya, mengapa aku berjalan-jalan seperti ini. Juga, mengapa aku lebih memilih untuk berkeliaran tak jelas di koridor Rumah Sakit, terlihat seolah siap untuk menghantarkan nyawaku kepada Thomas Bara. Percayalah kepadaku Liulaika Jelkesya, berada di kamar pasien sama buruknya dengan berkeliaran di koridor Rumah Sakit seperti ini. Tak ada bedanya."
"Aku tidak suka bermain tebak-tebakan, Hazelia Lify," decak Jel dengan kesal.
"Aku juga tidak bisa memberitahumu sekarang, Nona Liu. Aku tidak ingin menghancurkan drama ini sekarang. Aku jelas tahu siapa yang meracuni Ric. Aku juga jelas tahu siapa yang mengendalikan Thomas Bara sekarang. Tapi, drama ini ... terlalu sedikit yang bisa menjadi barang bukti! Dengan kata lain, biar saja aku menyampaikan hal ini kepada polisi, mereka tidak akan menangkap tanpa bukti yang cukup dan keterangan korban. Ric belum sadar, jika pun dia sadar dia tetap tidak bisa angkat bicara untuk beberapa minggu. Racun itu untungnya tidak merusak pita suaranya. Dia hanya mengalami sedikit kebocoran pada lambungnya, sehingga pada saat dia sadar, dia harus menjalani operasi untuk menambal lambung. Dan selama itu juga dia tidak boleh berbicara terlalu banyak, apalagi ditanyai panjang lebar oleh polisi."
Haz mengambil napas setelah mengoceh panjang lebar tentang mengapa dia tidak ingin mengatakan siapa pelakunya kepada Jelkesya. Dia melanjutkan, "Intinya, aku belum bisa memberitahu siapa sebelum bukti-bukti yang kukumpulkan sudah cukup banyak. Kamu pasti tahu aku akan melakukan hal apa, ya kan Liulaika Jelkesya?"
"Maksudmu ... kamu ingin menjadi 'Pencari Jejak Kejahatan'?" tanya Jel. Dia terhenyak ketika Haz menganggukkan kepala sebagai tanda bahwa dia akan melakukan hal gila tersebut.
"Hazelia Lify!" seru wanita itu berbisik kepada sahabatnya, "Kamu gila! Kamu tidak tahu resiko menjadi 'Pencari Jejak Kejahatan' itu sangatlah berbahaya! Kamu masih sayang nyawamu atau tidak?!"
"Oh, jelas sekali aku masih sangat dan sangat sayang kepada nyawaku. Aku hanya memanfaatkan potensi yang kumiliki." Haz menyeringai manis.
Tiga puluh menit setelahnya ...
Haz melompat turun dari atap rumah yang dihuni oleh si kembar Vinzeliulaika. Sebagai seorang 'Pencari Jejak Kejahatan', dia harus extra berhati-hati dalam melaksanakan tugasnya untuk mencapai tujuan yang diinginkannya. Di rumah tersebut tidak terlihat seorang pun, gelap gulita, mengingat bahwa si kembar Vinzeliulaika sedang sibuk 'memperhatikan' adik mereka di Rumah Sakit. Lampu di seluruh penjuru rumah dipadamkan, kecuali satu ruangan.
Haz mengintip ke dalam ruangan. Di balik sana, terdapat sebuah lilin yang menyala di atas meja kayu. Di sebelah meja tersebut, ada sebuah sofa. Di atas sofa tersebut, terduduklah seorang pria berbadan kekar yang dikenal Haz sebagai Thomas Bara, pria yang baru saja mendobrak pintu apartemennya tadi sore.
Pasti kalian bertanya-tanya bagaimana cara Rika dan Riko membuat skenerio hebat tersebut. Mengingat Rika tengah berada di rumah Ric untuk melancarkan aksinya dan Riko yang berada di parkiran apartemen Haz untuk memonitor semua kegiatan mereka. Apalagi soal telepon dengan nomor sama, namun suara peneleponnya sedikit berbeda, bukankah begitu?
Jawabannya sangat mudah. Haz sudah memikirkannya tiga puluh menit sebelumnya, saat dia berada di Rumah Sakit dan berjalan-jalan, berkeliaran dengan sahabatnya, Liulaika Jelkesya. Nothing is impossible in this world—tidak ada yang mustahil di dunia ini—bahkan untuk memecahkan teka-teki dari seorang, bukan, dua orang penipu profesional seperti Rika dan Riko Vinzeliulaika.
Haz kembali merangkak di atas atap rumah si kembar Vinzeliulaika. Dia menurunkan ponselnya ke bawah, menggunakan benang nilon yang terkait antara ponsel dengan tangannya, berusaha menjaga agar tetap stabil tepat di depan jendela ruangan yang ditempati oleh Thomas Bara. Setelah menunggu sekitar tujuh detik, dia kembali menarik benang nilon untuk mendapatkan kembali ponselnya sebelum Thomas Bara menyadari adanya kamera yang menangkap gambar dirinya.
Sebelum Hazelia Lify mengunjungi rumah si kembar Vinzeliulaika ...
Jemari Haz bergerak dengan cepat di atas layar ponselnya. Dia menekan tombol call saat menemukan kontak yang dicarinya: Help Me!
Jel yang sedang menemani Haz, juga ikutan mendekatkan telinganya ke ponsel Haz.
Tet! Telepon diangkat oleh orang di seberang sana. "Halo?" Ternyata seorang gadis remaja. Dia terdengar sangat jengkel karena Haz meneleponnya.
"Halo, beibih!" sapa Haz dengan gaya alay-nya.
Jel yang berada di sebelahnya merasa mual setelah mendengar seorang Hazelia Lify berbicara dengan bahasa alay. Dia tidak pernah membayangkan hal tersebut. Yang dia ketahui dari Haz adalah bahwa orangnya sangat dingin dan datar, tidak sungkan untuk mengkritik pedas orang lain, dan terlalu rasional serta radikal. Melihat Haz seperti ini dengan mata dan kepalanya sendiri, dia rasa ingin menimpuk wanita itu.
"Oh! Hai, sweetie." Nada bicaranya langsung berubah seratus delapan puluh derajat setelah mengenali suara orang yang meneleponnya.
Jel menyerah mendengar pembicaraan mereka.
"Oke! Aku tidak akan berbasa-basi, sweetheart. Aku ingin kamu menyediakan baju santai untukku berperang sekarang!" seru Haz dengan raut wajah serius.
"Sweetie, kamu ingin berperang dengan siapa?" tanya suara di seberang sana. Terdengar sangat manja dan ... sedikit menjijikkan.
"Oh, bukan musuh yang berat. Hanya seorang Thomas Bara dan empat tikus kecil. Tiga tikus kecil yang kumaksud, bergaya seperti penipu profesional. Satu tikus lagi berada di belakang mereka, sangat tertutup dan dilindungi," jawab Haz.
"Bagus sekali! Kapan kamu akan datang ke sini?"
"Lima menit lagi aku akan sampai, beibih. Segera ya!" Setelah menjawab pertanyaan yang dilontarkan orang di seberang telepon, Haz segera menutupnya.
Haz mendongak menatap salah satu jendela di gedung Rumah Sakit. Dia bisa melihat Alkaf yang sedang menatap ke arah mereka dan mengisyaratkan untuk segera kembali. Sesuai dugaan Haz, Ric akan dipindahkan ke ruangan kamar pasien lain. Wanita itu mengisyaratkan untuk membiarkan si kembar Vinzeliulaika begitu saja.
Alkaf sudah banyak tahu gelagat Haz: mengapa dia meninggalkan kamar pasien, alasannya karena si kembar akan masuk ke sana. Dan, pria berkacamata tahu sebentar lagi seorang Hazelia Lify akan menjalankan aksi yang berbahaya.
Dari kamar pasien yang lain, terlihat oleh Haz, Rika dan Riko sedang menatapnya dan Jel. Haz mengabaikan tatapan mereka, seolah-olah tak melihat apa pun. Dia bangkit dari duduknya dan berkata kepada Jel, "Ayo kembali ke kamar pasien!"
"Eh? Tapi, bukannya kamu mau pergi ke suatu tempat?" tanya Jel. Dia bingung dengan jalan pikiran Haz. Dia mengikuti Haz hingga sampai di depan pintu lobi Rumah Sakit.
"Jarak rumah yang akan kudatangi itu sangat dekat," jawab Haz. Dia menunjuk ke sebuah rumah dengan pagar dan pintu rumah berwarna hijau muda yang amat terang dan menyakitkan mata. Sangat mencolok.
"Eh?!"
"Aku tidak akan melakukan aksi tanpa persiapan yang matang," ujar Haz dengan penuh kemenangan, "sekarang, kamu kembali ke kamar dan aku akan mengumpulkan bukti-bukti yang akan menghancurkan tikus-tikus kecil yang berani berperan menjadi penjahat."
Jel tidak menemukan Haz di sebelahnya lagi. Dia hilang bagai ditelan bumi. Kebiasaan! decak Jel dengan kesal dalam hati. Dia segera kembali ke kamar pasien untuk mengatakan kepada yang lain bahwa Haz sedang sakit perut—yang pastinya tidak akan dipercayai oleh semua orang, kecuali orang bodoh yang bekerja sama dengan Thomas Bara dan Tuannya.
Haz, tanpa mengetuk pintu rumah berwarna hijau mencolok terlebih dahulu, langsung masuk ke dalamnya karena dia tahu rumah itu tidak terkunci sama sekali. Dia kembali melirik ke arah jendela kamar pasien baru Richard Vinzeliuka dan tidak menemukan tanda-tanda orang lagi di sana. Dia menghela napas lega.
"Welcome!—Selamat datang!" seru seseorang.
Haz sudah terbiasa, sehingga dia tidak kaget.
Lampu langsung dibuka sedetik setelah kata "welcome" diucapkan. Terlihatlah seorang remaja yang tadi berbicara di telepon dengan Haz.
"Halo, sista. Itu setelan yang cocok untukmu dan tas yang akan sangat berguna dalam misi 'mencari barang bukti'-mu," kata gadis remaja tersebut.
"Thank you, Zenneth!"
Dan setelah itu, tiga puluh menit kemudian, Hazelia Lify sudah berada di atas atap rumah si kembar Vinzeliulaika ...