
#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!
Pukul 05:50 A.M. WIB, Hazelia Lify, Whisky Woods, Cyan Vilmasyah, Zenneth, dan si kembar Vinzeliulaika berada di dalam mobil yang dikemudikan oleh Whisky Woods, berbincang-bincang ....
"Polisi sudah terbagi menjadi dua tim yang berbeda. Kita tidak bisa berbuat apa-apa selain meminta surat izin untuk menjadi bagian dari tim penyelidik," kata Whisk sambil memacu mobilnya di jalanan ibukota negara.
"Aku ingin bertanya kepada kak Rika dan kak Riko," ujar Haz. Dia melirik ke kaca yang berada di dalam mobil, terlihat wajah dua kembaran yang menunggu pertanyaan darinya. "Apakah kakak-kakak sekalian mengenal siapa itu Nicholas Qet Farnaz?"
"Nicholas Qet Farnaz?" tanya si kembar Vinzeliulaika bersamaan. Mereka menatap satu sama lain, lalu menatap balik ke arah Haz dan menggelengkan kepala mereka.
"Yang menjadi rekan kami hanya tiga orang, dua orang adalah orang yang kalian ketahui—Thomas Bara dan Andrian Delwin. Satu lagi adalah seorang laki-laki yang tidak pernah mengekspos dirinya sendiri. Namanya adalah Nirvana Kenziro," kata Riko. Dia melayangkan jempolnya di atas keypad ponselnya, seolah seperti mengirimkan pesan kepada seseorang. Mungkin dia sedang mengirimkan pesan kepada Thomas Bara, atau Andrian, atau Nirvana Kenziro seperti yang disebutkannya barusan.
Sementara mereka berempat berbicara, melemparkan pertanyaan, dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terlempar untuk mereka, Cyan dan Zenneth tidur dengan nyenyak di jok paling belakang.
"Nirvana Kenziro? Apakah kakak memiliki fotonya?" tanya Haz, yang langsung mendapatkan tatapan tajam penuh selidik dari si kembar Vinzeliulaika. "Aku hanya ingin memastikan sesuatu. Aku tentu saja tidak akan bermacam-macam dengannya. Aku bisa dilempar dari dalam mobil keluar sana jika aku membuat orang ini cemburu." Dia menatap galak ke arah Whisk.
"Aku?" tanya Whisk dengan wajah tak berdosa.
Riko kembali menatap layar ponselnya. Dia mencari foto dari Nirvana Kenziro. Sementara itu, kembarannya berbincang dengan Haz tentang beberapa hal.
"Kamu belum mengatakan bagaimana caranya dia bisa kabur dari ventilasi di kamar ganti para perawat," kata Rika menginterogasi.
"Oh masalah itu sebenarnya sangat gampang," ujar Haz. Dia membuat orang lain semakin penasaran. "Syarat pertama, dia haruslah seorang perempuan. Ketika dia merencanakan hal ini, dia pastinya sudah tahu sebagian data rumah sakit. Data itu pasti bocor sampai ke tangannya. Yuni Erika palsu adalah orang yang tidak tahu apa-apa, tapi dia dibeli menggunakan uang. Dia ditempatkan ke dalam rumah sakit dan dia juga yang membobol ventilasi kamar ganti perawat wanita."
"Jadi, maksudmu pembunuh itu adalah seorang wanita?" tanya Rika.
"Ya. Aku yakin sekali dengan hal ini. Aku melihat dari bagaimana cara dia menusukkan pisau ke tubuh para korbannya dan aku menemukan satu hal yang cukup menarik," jawab Haz. "Jika diperhatikan dengan seksama, tusukannya sangat rapi, tidak berantakan sama sekali. Itu yang membuatku yakin bahwa dia adalah seorang perempuan. Aku juga sudah membandingkan tubuhku sendiri yang bisa masuk ke ventilasi dengan tubuhnya. Dia lebih kurus dariku sedikit."
"Tapi, itu kan tidak cukup membuktikan bahwa dia adalah seorang perempuan. Kamu selalu bekerja dengan perasaan, Dede Hazelia. Kamu tidak pernah berubah sama sekali," kata Rika.
"Izinkan aku menyela pembicaraan kalian berdua sebentar," ujar Riko. Sepertinya dia sudah mendapatkan foto Nirvana Kenziro yang diinginkan oleh Haz. Dia memperlihatkan layar ponselnya ke Haz.
Tidak sama dengan Nicholas Qet Farnaz. Nirvana Kenziro ternyata adalah orang itu. Lalu, Nicholas Qet Farnaz berada di pihak lain, ya? Atau dia akan menjadi korban seperti Yuni Erika palsu juga? Kita akan lihat bagaimana caranya berakhir, batin Haz.
"Aku awalnya menduga bahwa Nirvana Kenziro adalah orang yang sama dengan Nicholas Qet Farnaz. Setelah melihat fotonya, aku jadi tahu bahwa mereka tidak sama sekali. Maafkan kekeliruan yang ku perbuat," kata Haz.
"Tidak masalah. Setidaknya kamu sudah tahu." Riko langsung menarik ponselnya dari hadapan Haz.
"Aku menemukan bahwa mungkin ada beberapa orang yang terlibat di dalam kasus ini. Aku tidak begitu tahu apa yang mereka inginkan dengan membuat sesuatu seperti ini. Tapi, pasti ada alasannya," kata Haz.
Whisk fokus menyetir mobil, sehingga dia tidak berbicara sama sekali. Dia hanya mendengarkan penjelasan tiga dari empat wanita yang bersama dengannya di dalam mobil. Sementara itu, Cyan dan Zenneth terlihat sangat kelelahan. Mereka tidak terganggu dengan suara orang-orang berbicara sama sekali. Mereka juga terlihat sangat mesra di jok paling belakang, Zenneth tertidur di pundak Cyan. Ada orang yang mengatakan bahwa pundak laki-laki adalah tempat yang paling nyaman untuk dijadikan bantal.
"Apa pun alasannya, dia sudah sangat keterlaluan. Bagaimana bisa dia menggunakan alasan sendiri untuk berbuat sesuatu kepada orang lain? Dia kira dia siapa? Jika memang Ric mempunyai kesalahan terhadap orang lain, kami juga akan langsung mengetahuinya. Dia suka bercerita kepada kami tentang keadaannya," kata Rika.
"Benar. Kejadian sememalukan apa pun, dia tetap akan menceritakannya kepada kami. Dia bukanlah orang yang tidak akan bercerita tentang kisahnya kepada kami," ujar Riko.
"Tapi, dia tidak menceritakan apa-apa kepada kami. Dia hanya menceritakan bahwa dia sedang memata-matai dirimu. Selebihnya tidak ada lagi. Itu yang membuat kami curiga bahwa itu adalah kamu pertama kali. Tapi, ketika tahu bahwa kamu bersedia menjadi wali Ric selama kami tidak ada, membuat kecurigaan kami sirna. Kami tahu kamu pasti mempunyai kecurigaan terhadap kami. Kami berusaha sebisa mungkin untuk menekan keinginan Thomas Bara terhadap Whisky Woods," ucap Rika.
Rika dan Riko bergantian bercerita kepada Haz dan Whisk.
"Sepertinya kita benar-benar tidak bisa menerobos masuk ke dalam sana," kata Whisk ketika memberhentikan mobilnya. Dia menunjuk ke arah jalanan yang dipenuhi oleh polisi.
"Tidak akan ada polisi yang percaya bahwa semua kasus yang sedang kita alami berhubungan," ujar Haz.
"Tentu saja mereka tidak akan percaya jika tidak mengalaminya sendiri. Aku pernah melakukan dinas ke Korea Selatan dan situasinya juga seperti ini. Ada kasus yang terjadi di beberapa tempat yang berbeda. Tapi, tidak ada yang percaya bahwa semua kasus itu berhubungan. Hingga pada akhirnya aku dan satu polisi Korea Selatan yang percaya padaku memecahkan kasus ini." Whisk bercerita. Dia membuka laci dashboard mobil dan mengeluarkan sekotak susu dari dalam sana. Rasa vanilla, kesukaan Haz.
Haz menatap kesal ke arah Whisk.
"Apa?" tanya Whisk ketika menyadari bahwa Haz sedang menatap kesal ke arahnya. Dia bingung dengan sikap, ekspresi, dan mood Haz yang sering berubah-ubah.
"Maaf sekali. Tapi, bisakah kamu tidak meminum itu di depanku? Kalau kamu berniat minum, tolong berikan juga satu kepadaku."