Lady Sherlock : First Unofficial Case

Lady Sherlock : First Unofficial Case
126 : Mencari Tahu


#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!


Oh tidak ... Whisk terlihat sangat panik saat itu. Haz sendiri sedang menggodanya dengan menempatkan dirinya sendiri di pangkuan Whisk dan mengalungkan kedua lengannya di leher pria bersurai kemerahan.


Whisk langsung menahan tubuh Haz. Dia berada pada posisi yang paling tidak nyaman. Seumur hidupnya, selain di klub malam di kota Paris, dia tidak pernah diganggu oleh wanita lain. Haz adalah orang pertama yang mengganggunya seintens itu.


Whisk bisa mendengar jantungnya sendiri, yang berdetak sangat kencang. Dia juga mulai berkeringat dingin. Posisinya sekarang adalah 'bottom'. Dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya dengan leluasa. Terutama dari bagian perut hingga ke bawah. Sekali dia bergerak, maka benda seperti 'rudal' bisa dengan atau tidak sengaja bersentuhan dengan Haz, dan dia tidak mau itu terjadi.


Berdoa sajalah agar tidak ada orang yang mengarahkan senter atau benda bercahaya apa pun ke dalam mobil.


Sesaat sebelumnya, ketika Hazelia Lify memasuki TKP ....


(Ps: Sengaja distop di bagian HOT-nya. Bahaya kalau keterusan.)


"Selama kamu di TKP, aku berharap kamu tidak menyentuh segala hal jika tidak memiliki izin dari kami, Nona Hazelia," kata Nich, menjelaskan prosedur yang harus dipatuhi oleh Haz.


Haz melihat intens ke arah mobil yang menabrak pohon. Sesuai dengan arahan yang diberikan oleh Nich, dia tidak menyentuh mobil itu sama sekali. Dia juga langsung mengetahui bahwa mobil itu benar-benar milik Cyan. Terlihat dari merk dan BK mobilnya.


"Ayo kita mulai empatinya, Fabel," kata Haz, membuka akses bicaranya dengan tiga kepribadian lain yang sempat dikuncinya karena kelakuan Ziesya.


"Baiklah. Mari kita lihat prosedurnya," ujar Fabel.


Pandangan Haz seketika berubah menjadi abu-abu. Orang-orang di sekitarnya langsung menghilang satu per satu. Dia bisa melihat Cyan yang berada di dalam mobil, melajukan mobilnya. Pria itu juga terlihat sedang menelepon seseorang.


Tak lama kemudian, Haz melihat Cyan mulai gelisah. Walau dari kejauhan, dia bisa melihatnya dengan jelas wajah Cyan yang panik dan mulai pucat.


Untuk adegan yang terjadi di dalam mobil sendiri, Haz dan Fabel hanya bisa mengira-ngira, karena mereka harus masuk ke dalam mobil untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi.


"Aku tidak bisa menunjukkan apa yang terjadi di dalam mobil. Pastikan kepada Nicholas untuk memperbolehkan kita memasuki mobil agar aku bisa memperjelas adegannya," kata Fabel.


"Baiklah. Akan coba ku minta kepada Nicholas," ujar Haz, menyetujui permintaan Fabel.


Haz bisa melihat mobil melaju tak begitu kencang dan hanya menabrak tanjakan trotoar saja, hingga mobil menjadi sedikit menaiki trotoar. Sepertinya Cyan sudah terlanjur memijak rem. Dan, untuk memperlihatkan bahwa ini murni kecelakaan, pelaku penculikan memindahkan Cyan dan Zenneth ke mobil yang dikemudikan oleh rekannya. Lalu, dia merusak bagian depan mobil menggunakan benda keras dan membenturkan mobil ke pohon.


Pandangan Haz kembali normal. Dia dikagetkan dengan tepukan di pundaknya. Dia langsung menoleh ke arah orang yang menepuk pundaknya dan menemukan Nich.


"Aku memanggilmu berkali-kali, Nona Hazelia," kata Nich.


"Maafkan aku, Polisi Nicholas. Ada apa?" tanya Haz.


"Setelah berbicara dengan rekan-rekan kerjaku, mereka memperbolehkan dirimu untuk mengecek mobil. Silahkan," jawab Nich.


Haz mengerutkan keningnya dan menatap heran ke arah Nich. Sejak kapan aku mengatakan kepadanya kalau aku ingin mengecek di dalam mobil? tanya wanita itu di dalam hati, sedikit curiga dengan gelagat Nich.


"Ah ... mungkin kamu bertanya-tanya kenapa aku mengatakan hal ini kepadamu. Em, kukira kamu akan sangat membutuhkannya. Kamu yang langsung datang ke TKP seperti saat itu, sepertinya kamu mengenal mobil ini dan orang yang ada di dalamnya." Nich menjelaskan maksud baiknya untuk membantu Haz.


"Terima kasih kalau begitu. Aku memang membutuhkannya untuk memastikan sesuatu." Haz tersenyum tipis sebagai tanda terima kasih kepada Nich.


Nich tidak salah mengartikan senyuman Haz dan hanya menundukkan kepalanya. Dia mempersilahkan Haz untuk mengecek ke bagian dalam mobil.


Haz tidak terburu-buru melakukannya. Dia mengamati sekitaran mobil itu terlebih dulu.


"Lihat itu!" desis Fabel.


Haz lalu pergi ke kursi penumpang. Zenneth pasti masih berada dalam keadaan koma. Cyan berani sekali membawanya keluar dari Rumah Sakit dengan kondisi Zenneth yang seperti itu.


Aku bertaruh, pasti kamu menyesal karena telah melakukan hal bodoh ini, Cyan Vilmasyah, batin Haz.


Haz menyeringai dingin. Dia tahu dia terlihat tidak peduli dengan keadaan sekitarnya. Namun satu hal yang bisa dikatakan dengan sangat jujur, bahwa dia pun tidak memperkirakan kejadian tersebut akan terjadi. Jika dia tahu, dia pasti sudah rewel tidak membiarkan Zenneth keluar dari rumahnya.


Saat Haz akan masuk dan duduk di jok penumpang, Fabel langsung meneriaki dirinya, "Hati-hati, Haz! Di sana aja jarum yang tertancap!"


Haz langsung memanggil Nich. "Polisi Nicholas!" seru wanita itu. Dia tentu saja tahu apa yang dilakukannya.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Fabel dengan nada tinggi. Dia sepertinya terpengaruh dengan kepribadian Cyan karena menggunakan empati untuk mengetahui apa yang terjadi kepada pria itu.


"Kita tidak boleh mengambil barang-barang bukti di TKP. Di sini pasti ada seseorang yang mengawasi. Dia pasti mengetahui sesuatu," jawab Haz.


Ketika Nich mendekat ke arah Haz, wanita berambut panjang gelombang langsung menunjukkan keberadaan jarum itu kepadanya. Dia langsung memanggil timnya untuk mengambil jarum yang tertancap itu, yang nantinya akan diberikan kepada tim forensik untuk diperiksa.


"Bagaimana kamu tahu ada jarum di dalam sana? Lokasinya sangat strategis dan bahkan hampir tidak terlihat oleh mata. Padahal sedari tadi kami cari tidak ada yang kami temukan," kata Nich, menginterogasi Haz.


Haz dan Nich menjadi curiga satu sama lain.


Haz memiliki jawaban yang bagus untuk Nich. Kebetulan dia membawa sebuah senter kecil. "Aku memakai senter kecil ini untuk melihat-lihat. Alih-alih langsung duduk dan terkena sesuatu yang tidak menyenangkan, tentu saja aku harus mengecek dulu, bukankah begitu?" Wanita itu mengarahkan cahaya senter kecilnya langsung ke mata Nich.


Nich memarahi Haz karena melakukannya. "Silau!" serunya dengan kesal.


Yang dilakukan Nich sama seperti yang dilakukan orang normal. Tidak ada orang yang suka matanya disenter seperti yang dilakukan Haz kepada Nich.


Setelah semuanya selesai, Haz baru masuk dan duduk di dalam kursi penumpang. Dia melihat wajah Cyan yang gelisah. Lalu, matanya mengarah ke kaca depan dan dia langsung dibekap menggunakan kain yang mungkin sudah dilumuri obat bius.


Oh, jadi begitu kronologi ceritanya, batin Haz dengan tenang.


"Terima kasih atas izin yang kamu berikan, Polisi Nicholas." Haz berkata ketika dia mendekat ke arah Nich


"Panggil saja aku Nich."


"Baiklah. Jika kamu ingin tahu, ini adalah mobil temanku. Namanya Cyan Vilmasyah. Dia bersama dengan salah seorang temannya yang bernama Zenneth. Sepertinya mereka diculik oleh seseorang. Aku bisa membuktikannya dengan jarum yang kutemukan tadi dan batang pohon yang tertabrak itu. Untuk yang lain, aku tidak tahu. Hanya segitu informasi yang bisa ku dapat." Haz menceritakan apa yang dia tahu. Dia terlihat sangat jujur.


"Baiklah. Aku akan memproses pernyataan darimu, Nona Hazelia."


"Panggil saja Haz." Haz membalikkan pernyataan yang diberikan oleh Nich kepada empu-nya sendiri.


"Baiklah, Haz. Terima kasih karena sudah ingin bekerja sama. Jadi, apakah kamu ingin menyatakan kedua kenalan mu sebagai orang hilang?" tanya Nich.


"Tentu saja aku sangat memerlukannya. Maaf merepotkan dirimu, Nich. Terima kasih karena sudah memenuhi permintaanku dan Whisky Woods," kata Haz.


Nich tersipu.


"Hari kian larut, aku akan kembali dulu. Sekali lagi terima kasih."


"Sama-sama, Hazelia Lify."