Lady Sherlock : First Unofficial Case

Lady Sherlock : First Unofficial Case
21 : Keraguan Alkaf Dalam Memilih


#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!


"Jelkesya... Aku tahu kamu tengah bimbang sekarang. Itu juga dikarenakan cici Phila yang datang saat kamu dan Alkaf lagi dekat-dekatnya. Tapi, percayalah padaku, seorang Alkaf tidak akan pernah mengecewakanmu, Jel... Aku sudah mengenalnya, begitu juga dengan dirimu. Bagaimana cara dia memperlakukan dirimu sama sekali berbeda dengan cara dirinya memperlakukan cici Phila," Haz berusaha meyakinkan Jel akan semua perlakuan manis Alkaf pada dirinya. Kedua insan tersebut berhak mendapatkan kebahagiaan.


Haz sudah mengenal Alkaf sangat lama, sangat dalam. Tidak ada rahasia yang pernah disembunyikan Alkaf kepada wanita itu. Bahkan Haz tahu bahwa Alkaf tidak bisa melupakan Phila jika saja saat itu Jel tidak datang ke hidupnya. Maka dari itu, wanita itu sangat merestui hubungan keduanya. Juga, Alkaf dan Jel sudah mengenal orangtua masing-masing pihak. Orangtua mereka berdua bahkan tidak masalah dengan hubungan mereka—meski sebenarnya Mama Jelkesya sedikit ragu dengan hati Alkaf.


"Tapi... Dia ragu Haz... Dia ragu..." isak Jel. "Dia ragu karena cici Phila ingin kembali dengannya seperti dulu. Bagaimana jika itu terjadi? Bukankah hubungan ini menjadi sia-sia?" Tangis Jel pecah setelah mengatakan hal tersebut.


Haz menarik Jel ke dalam kamarnya dan mengajak wanita itu duduk di atas kasurnya. Dia sendiri juga melakukan hal demikian.


"Jel... Aku yakin sekali dia tidak akan menyia-nyiakan hubungan ini. Juga dia tidak akan menyia-nyiakan dirimu. Bedanya kamu dengan cici Phila itu terlampau jauh. Bodoh sekali dirinya jika membuangmu hanya demi seorang Stephila Sastra yang pernah meninggalkannya," ucap Haz berusaha menghibur Jel. "Jika sampai dia melakukannya, aku berjanji, kalian berdua tidak akan pernah kupertemukan lagi. Bahkan hanya satu kali meski dia memohon. Tapi, aku yakin dia tidak akan menyia-nyiakan dirimu."


"Aku merasa tidak adil juga, Hazelia Lify..." ujar Jel di tengah-tengah tangisannya.


"Apakah dia pernah memperlakukan dirimu tidak adil? Di bagian mana itu? Barangkali saja aku bisa menceritakan hal yang tak bisa diceritakan olehnya kepadamu karena dia tidak ingin kamu terbebani karena kisahnya," ucap Haz. Wanita tersebut tahu segala hal tentang Alkaf. Dia adalah pendengar yang baik, sehingga Alkaf dan Jel, bahkan orang lain bisa sangat terbuka dan merasa nyaman ketika bercerita kepadanya.


Jel menggeleng kepalanya pelan. "Dia jahat," kata Jel. "Apakah jika itu akan membebaniku dia tidak harus menceritakannya padaku? Justru sepasang kekasih tidak harus memiliki rahasia di antara mereka agar bisa mengerti satu sama lain. Bagaimana bisa aku mengenalnya jika aku tidak tahu kisah hidupnya?"


"Baiklah... Baiklah... Aku mengerti. Jadi, ingin dimulai darimana?" tanya Haz.


"Semuanya. Yang kamu tahu. Terserah ingin dimulai darimana," jawab Jel.


"Nah. Pasang telinga dan buka pikiran kamu baik-baik, Jelkesya. Ini akan menjadi cerita yang sangat panjang, juga menguras emosi," ucap Haz.


Di ruangan apartemen lain...


Whisk mengintip ke dalam kamar Alkaf. Tak biasanya Seniornya yang satu itu membuka pintu kamarnya selebar-lebarnya.


Whisk masuk ke dalam kamar Alkaf dan menemukan pria berkacamata tengah termenung, mematung di sana. Seperti memikirkan sesuatu, namun dia ragu.


"Senior Alkaf, sepertinya kamu tengah gusar. Apakah ada sesuatu yang mengganggumu?" tanya Whisk pada Alkaf.


Alkaf tidak menjawab pertanyaan Whisk, juga tidak menoleh ke arah pria bersurai kemerahan.


"Kamu tidak ingin diganggu ya? Baiklah, aku akan meninggalkanmu sendirian, Senior Alkaf. Semoga setelah ini, kamu bisa berpikiran lebih jernih. Aku yakin sekali kamu tengah memikirkan sesuatu yang berhubungan dengan Nona Jelkesya," ucap Whisk.


Ketika Whisk ingin beranjak dari sana, dia bisa mendengar Alkaf bertanya, "Menurutmu, apa yang harus dilakukan jika orang yang kamu sukai ingin kembali padamu lagi setelah apa yang dilakukannya?"


Whisk berpikir sejenak, lalu menjawab pertanyaan Alkaf. "Aku akan memilih wanita yang sekarang. Tidak menjamin bahwa seorang 'mantan' bisa membahagiakan dirimu seperti apa yang terjadi di dalam novel."


Alkaf memang seperti sudah tidak menyukai Phila lagi, namun entah mengapa pria tersebut tak bisa melupakan segala hal baik tentangnya. Seperti senyuman Phila, gaya Phila, dan gerak gerik Phila. Dia tidak bisa melupakan hal yang sudah lama terpendam tentang Stephila Sastra.


"SADARLAH SENIOR!" seru Whisk. Dia mengguncang tubuh Alkaf bermaksud menyadarkan Seniornya yang satu itu. "MAKSUD KAMU, KAMU INGIN MENYIA-NYIAKAN DAN MENINGGALKAN SEORANG JELKESYA YANG SELALU ADA UNTUKMU DI SAAT KAMU KESUSAHAN UNTUK SEORANG 'MANTAN' YANG PERNAH MENINGGALKANMU!?"


"Aku sangat sadar sekarang, Whisky Woods..." kata Alkaf seraya menepis tangan Whisk dari tubuhnya sebelum pria bersurai mengguncang tubuhnya lagi. "Aku hanya bingung..."


"Jelas sekali kamu sedang kehilangan akal sehat, Senior," ucap Whisk.


"Aku sangat sadar..."


"Terserah kamu, Senior. Saranku, lebih baik kamu memilih Nona Liulaika Jelkesya. Jangan pernah menyia-nyiakan dirinya. Kamu akan menyesal sekali jika kamu memilih orang yang pernah meninggalkanmu dan membuang orang yang selalu ada di sana untukmu. Meski kamu tidak pernah bercerita kepadanya tentang kisahmu, tapi dia tidak pernah bertanya dan tetap menjaga perasaanmu. Itu adalah kesalahan fatal yang kamu buat, apalagi terhadap seorang Liulaika Jelkesya. Kamu benar-benar tidak punya hati, Senior Alkaf... Jika aku menjadi Jelkesya, aku akan menampar dan menyadarkanmu betapa sayangnya aku—maksudnya Jelkesya—padamu,” oceh Whisk panjang lebar berusaha menyadarkan Alkaf.


Alkaf tidak membalas ocehan Whisk. Dia tetap mematung di sana dan tidak peduli dengan kepergian pria bersurai kemerahan.


Apa yang harus kulakukan? begitu yang ada dalam pikirannya.


Sekitar dua jam kemudian...


Setelah Haz bercerita dan Jel melempar pertanyaan...


"Sekarang sudah paham?" tanya Haz.


"Huaaa..." tangis Jel pecah kembali. "Aku tidak tahu. Maaf... Maaf..." katanya di sela-sela tangisan.


"Justru karena kamu tidak tahu, maka kamu tidak perlu meminta maaf. Itu salah Alkaf tidak memberitahumu lebih awal," geram Haz. Dia gemas dengan seorang Jelkesya.


"Lebih baik kamu mengajaknya keluar sejenak. Lalu, tampar dirinya agar dia sadar. Sepertinya sekarang dia tengah meragukan pilihannya sendiri," Haz memberi saran yang sangat bagus kepada Jel. Meski pada akhirnya Alkaf memilih Jelkesya, dia harus ditampar terlebih dahulu agar sadar.


"Bukankah itu terlalu kejam?" tanya Jel polos.


"Setelah dia meninggalkanmu untuk cici Phila, kamu baru akan sadar ya, Liulaika Jelkesya?" Haz memicingkan mata menatap Jel tajam.


"Jika begitu, aku hanya perlu mengajaknya keluar, lalu menamparnya sekali bukan?" tanya Jel.


"Itu benar sekali. Kamu hanya perlu menamparnya sekali agar dia sadar betapa sayangnya kamu padanya," kekeh Haz jahat.