
#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!
"Lalu, bagaimana cara kamu menanggapi hal ini, Haz? Apakah kamu akan mempercayai Nicholas? Aku akan memilih untuk mempercayai dirimu. Keputusanmu adalah yang terbaik. Dan, itu harus diakui," tutur Whisk.
"Aku juga tidak tahu harus memilih untuk percaya atau tidak, Whisk," aku Haz. "Tapi, kita harus berbicara dengan para kakak Vinzeliulaika."
"Benar. Tapi, lebih baik kamu keramas dulu. Mandi agar tidak masuk angin." Whisk menggoda Haz menggunakan hal yang paling disesalkan olehnya saat ini—seharusnya dia tidak keramas pagi tadi.
"Whisk!" Haz ingin memukul Whisk untuk melampiaskan kekesalannya. Namun pria bersurai kemerahan sudah lebih dulu kabur dan masuk ke dalam apartemen.
Benar-benar orang itu! pikir Haz.
Haz menyusul Whisk ke dalam apartemen. Dia tidak melihat Whisk dimana pun, sebelum akhirnya mendengar suara air mengguyur dari dalam kamar mandi.
Haz tidak peduli dengan apakah dia akan membasahi atau mengotori sofa di ruang kerja Whisk atau tidak, yang terpenting baginya sekarang adalah menekan rasa kesalnya dan berusaha untuk memikirkan segala sisi baik untuk menghadapi permasalahan dengan pernyataan dari Nich.
Sebuah pesan lagi-lagi masuk ke dalam ponselnya. Dan, tentu saja, Polisi Nicholas Qet Farnaz.
Haz membacanya melalui layar kunci ponselnya saja.
Nich : Aku harap kamu tidak b...(lihat selengkapnya di sini).
Haz melempar ponselnya ke samping, lalu menyenderkan kepala dengan rambutnya yang basah ke sandaran sofa. Dia memejamkan matanya. Untuk beberapa saat, mungkin.
"Hazelia? Hazelia Lify ...."
Haz bisa mendengar Whisk memanggil namanya. Kemudian, dia pun tersadar dari tidur singkatnya.
Haz membuka mata. Seolah-olah Whisk adalah seorang Malaikat, dia memperhatikan wajahnya dan ada cahaya yang mengikutinya di belakang sana. Dia pun bertanya, "Apakah kamu adalah seorang Malaikat?"
Whisk memegang dahi Haz, kemudian bertanya balik kepadanya, "Haz, apakah kamu sakit? Apakah kamu merasa tidak sehat di suatu bagian?"
"Tidak." Haz segera bangkit dari sofa. Dia menatap ke arah Whisk dan berdeham pelan. "Maafkan aku, aku sedang tidak begitu sadar, kamu tahu, kan?"
Whisk menganggukkan kepalanya.
"Entah kenapa aku lebih suka dengan nama aslimu." Haz kembali membahasnya.
Whisk tidak mengindahkan perkataan itu dan mengalihkan pembicaraan di antara mereka. "Lebih baik kamu mandi dulu. Aku akan memasak untuk makan malam kita."
"Lain kali, aku akan memanggilmu dengan nama Fanolize saja," kata Haz. Dia pun menghilang di balik dinding.
Aku tidak akan bisa menghalanginya jika dia ingin sesuatu, pikir Whisk. Tapi, aku bersumpah kalau aku benar-benar tidak menyukai nama itu!
Whisk tahu apa yang dipikirkan oleh Haz. Dia juga memikirkan untuk membuat sebuah grup baru yang beranggotakan si Kembar Vinzeliulaika dan kelompok mereka.
Whisk menggerakkan jari dengan cepat di atas layar ponsel.
Whisk : Attention!
Whisk : Karena kalian sudah tahu apa yang terjadi—sebagian kecilnya, maka aku dan Haz berencana untuk membuat grup ini untuk sementara waktu.
Whisk : Kita akan memutuskan, apakah kita harus percaya atau tidak.
Mereka memang sudah membaca pesan dari Whisk. Namun tak satu pun dari mereka membalas. Pastilah mereka sedang menunggu Haz, layaknya Whisk.
Haz kembali ke ruang kerja sambil mengeringkan rambutnya menggunakan handuk.
Haz menghempaskan dirinya sendiri ke atas sofa dan menguap lebar.
"Haz," panggil Whisk.
"Baca pesan."
Haz meraih ponselnya yang tak jauh terlempar, kemudian melihat ada notifikasi bahwa Whisk membuat grup baru di layar ponselnya. Dia pun membuka layar kunci dan membacanya.
Haz menghela napas panjang sambil menatap ke arah Whisk dengan posisi yang baru saja dia perbuat.
"Aku akan membalas pesan dari Nich. Aku berharap dia sesuai dengan keinginan kita. Jadi, kita tidak perlu repot-repot menyingkirkannya," kata Haz.
Kata 'menyingkirkannya' terdengar amat menyeramkan di telinga Whisk. Dia sampai menelan ludah dan berpikir, Apakah aku akan disingkirkan juga oleh seorang Hazelia Lify, jika aku tidak sesuai dengan keinginannya?
Haz menekan tombol kirim, setelah selesai mengetikkan pesan.
Haz : Manusia gampang dibutakan oleh harapan. Apalagi sumpah. Yang menjamin itu semua adalah perilaku yang kamu perbuat. Aku ingin bukti, bukan kata-kata saja! Aku yakin kamu mengerti apa maksudku, Nich. Aku juga berharap bahwa semua yang kamu katakan bisa kamu lakukan, Nich.
Haz kembali melempar ponselnya. Kali ini bukan ke atas sofa, melainkan kepada Whisk. "Tangkap!" katanya, sebelum melempar.
Untung saja Whisk berhasil menangkapnya, kalau tidak ponsel itu akan hancur berantakan.
"Jangan mendadak melempar begitu!" seru Whisk. Dia menatap tajam ke arah Haz, kemudian menghela napas.
"Aku minta maaf, Fanolize."
"Aku sudah bilang jangan menyebutku dengan nama itu!" tandas Whisk.
"Aku juga sudah bilang kalau aku akan memanggilmu dengan nama itu. Aku tidak akan pernah berubah pikiran, Whisk," balas Haz dengan santai.
Whisk menepuk jidatnya sambil memijit pelan-pelan. Dia pusing.
Bagaimana cara memberitahukan kepadanya kalau aku sama sekali tidak suka nama itu?! pikir Whisk. Dia memasang tampang benar-benar kesal dengan kelakuan Haz yang seenak jidatnya saja.
"Oh ya, password-nya adalah satu tiga lima tujuh sembilan satu. Jangan lupakan itu! Jangan lupakan makan malamku juga!" Haz melambaikan tangannya kepada Whisk.
Whisk tahu kalau sebentar lagi Haz akan tidur. Dia tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Namun di lain sisi, dia kasihan terhadap Haz karena pastilah dia sudah sangat kelelahan. Petang sudah berlalu dan langit pun sudah menghitam. Ada baiknya pria bersurai kemerahan membiarkan Haz istirahat dari dunia sejenak.
"Aku akan membangunkan kamu jika makan malam sudah siap, Haz."
"Ya, mohon bantuannya, Fanolize."
Seberapa benci pun Whisk dengan nama 'Fanolize', tapi, entah kenapa berbeda jika Haz yang memanggilnya seperti itu.
Ini sangat berbahaya ... aku jatuh semakin dalam untuknya, pikir Whisk. Dia pun segera berlalu menuju dapur untuk menyiapkan makan malam.
Haz memutar tubuhnya di atas sofa. Dia tidak menemukan satu pun posisi yang nyaman. Jadi, dia bangun dan terduduk, serta menghela napas panjang.
Apa yang salah denganku ya? tanya Haz. Dia meraba setiap sudut sofa untuk mencari ponselnya. Oh ya, aku lupa kalau aku melemparkan hp-ku pada Fanolize.
Haz serius dengan ucapannya. Dia memang ingin memanggil Whisk dengan nama aslinya.
Aku juga awalnya tidak suka dengan nama Hazelia Lify. Makanya, aku menciptakan nama Resplendent Nephila. Tapi, setelah dipikir-pikir, tidak ada gunanya membenci nama sendiri.
Kepala Haz dijatuhkan di atas lengan sofa. Kemudian, matanya terpejam erat. Tak lama setelahnya, dia tertidur.
Whisk berada di dapur dan sedang bingung ingin memasak apa. Jadi, dia berdiam diri selama beberapa saat untuk berpikir.
Apakah Haz lebih menyukai masakan Asia Timur? Bagaimana kalau aku masak Mapo Tofu? Apakah dia akan suka? tanya Whisk. Bodoh amatlah! Yang jelas dia, yang pasti dia menyukai masakan Chinese. Aku bisa jamin seratus persen!
Whisk pun berdiri dan memasak di sana selama beberapa saat ke depan.