Lady Sherlock : First Unofficial Case

Lady Sherlock : First Unofficial Case
77 : Kesan Pertama Terhadap Nirvana Kenziro


#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!


Pukul 06:25 A.M. WIB, di dalam mobil yang dikemudikan oleh Whisky Woods ....


Haz dan Zenneth menatap satu sama lain dalam kebingungan yang mencekam. Mereka berdua seperti sedang melakukan telepati, pembicaraan dari hati ke hati.


Akhirnya, Zenneth pun menggelengkan kepalanya dan berkata, "Tidak mungkin sama sekali. Coba pikirkan trik apa yang bisa dilakukan untuk mengelabuhi cctv dan membuat sesuatu menjadi tidak bisa terlihat di depan kamera. Whisky Woods, kami butuh pencerahan darimu. Kamu kan sudah menangani kasus-kasus besar. Dari semua kasus yang kamu tangani, pasti ada satu kasus yang bisa mengelabuhi mata dan kamera, kan?"


Whisk berpikir sesaat. Dia menganggukkan kepalanya dan menjawab, "Ya. Ada satu kasus seperti itu. Tapi, daripada kita banyak berasumsi, lebih baik kita langsung bertanya pada Nirvana Kenziro. Aku tidak begitu menyukai orang itu. Apa boleh buat jika memang harus bekerja sama dengannya."


"Kalian kan baru saja bertemu dan berkenalan kan? Kenapa kamu tidak menyukainya?" tanya Cyan.


"Entahlah. Intinya aku tidak terlalu menyukainya, begitu pula sebaliknya. Aku tidak memiliki alasan yang jelas untuk hal ini." Whisk meneguk air tahu di dalam botol sampai habis.


"Orang aneh," gumam Cyan.


"Aku pun sama. Kamu akan tahu alasannya ketika bertemu dengan orang itu langsung. Dia tidak seperti yang kamu bayangkan," aku Haz. Ternyata dia juga tidak begitu menyukai Nirvana Kenziro. Dia juga sama seperti Whisk, tidak memiliki alasan khusus untuk tidak menyukai pria itu.


"Jadi, dari mana kalian berdua bisa menyimpulkan bahwa kalian tidak suka terhadapnya? tanya Cyan.


"Lebih baik kau berkenalan saja dengannya sendiri," jawab Whisk.


Beberapa saat yang lalu, pukul 06:00 A.M. WIB, di tepi jalanan yang tidak begitu jauh dari garis polisi ....


"Halo?" Riko menerima telepon dari seseorang.


"Oh, Andrian?"


Ternyata orang yang menelepon Riko adalah bucinannya, Andrian Delwin.


Riko langsung mengaktifkan speaker mode on. Dia membiarkan orang-orang mendengar percakapan antara dirinya dengan Andrian.


"Sedang apa?" tanya Andrian.


Rika menutup mulutnya yang ingin tertawa keras. "Maaf." Dia berbisik kepada semua orang yang mendengarkan pertanyaan konyol Andrian kepada Riko.


Riko melotot tajam ke arah kembarannya dan menjawab pertanyaan tersebut, "Aku sedang bersama dengan Whisky Woods dan teman-temannya. Sesuai perkataan mu, baby, mereka bukan pelakunya. Ada pembunuh yang baru saja terjadi di rumah sakit."


"Aku sudah tahu dari berita televisi. Ternyata Tyas Reddish berada di rumah sakit. Pasti kerjaan Nona Hazelia."


Andrian bahkan mengetahui orang yang membuat Tyas Reddish masuk ke dalam rumah sakit. Haz langsung menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Dia mengintip ekspresi wajah semua orang yang sedang menatapnya. Dia seperti anak kecil.


Haz berbisik pelan, "Aku tidak tahu apa-apa. Aku itu anak TK."


"Anak TK sebesar dirimu? Oh astaga, Hazelia," balas Whisk, berbisik pelan juga.


"Ya sudah, Saya berencana akan menemui kalian bersama dengan Tuan Thomas dan Tuan Kenziro."


Riko menatap Haz dan Whisk secara bergantian. Dia sedang menunggu jawaban dari mereka berdua.


Haz menganggukkan kepalanya.


"Ya sudah, Lokasinya akan ku kirim melalui chat pribadi."


"Oh ternyata mereka tidak begitu jauh dari tempat kita," kata Riko. "Mereka ada di warung bubur seberang jalan ini."


"Oh, bolehkah kita memesan langsung untuk sarapan pagi?" tanya Whisk.


"Tentu saja. Bubur di sana sangat enak. Aku juga mau," jawab Riko.


"Pesankan juga empat bubur. Bilang saja pesanan Nona Coklat Kacang. Tukang buburnya akan mengerti. Aku akan pergi ke sana untuk mengambil dan membayar pesanan," kata Haz. Dia melepas sabuk pengaman mobil dan membuka pintu.


"Barengan saja sampai warung bubur. Kita akan berpisah di sana. Pelaku juga tidak mungkin mengikuti sepanjang waktu," ujar Rika.


Haz, Whisk, dan si kamar Vinzeliulaika turun dari mobil yang dikemudikan oleh Whisk dan berjalan santai menuju warung bubur yang dimaksud oleh Riko dalam chat pribadinya bersama Andrian.


Andrian melambaikan tangannya saat melihat Riko.


"Ehem!" Rika berdeham keras dan memandangi sembarang arah.


"His!" desis Riko, sebal dengan kembarannya. "Itu Nirvana kan juga ada di sana."


Haz hanya senyum-senyum melihat aksi kedua saudara kembar Vinzeliulaika, sedangkan Whisk memasang tampang datar dan terlihat tidak tertarik dengan dunia wanita.


"Sembarangan! PDKT saja belum selesai. Terjebak friendzone!" seru Rika pelan kepada saudari kembarnya.


"Makanya, frontal dong!" Riko malah mengatakannya dengan keras sehingga semua orang bisa mendengarnya.


"Apa yang frontal?" tanya seorang pria. Haz dan Whisk langsung tahu dia adalah Nirvana Kenziro.


"Tidak ada!" seru Rika setengah berteriak. Dia langsung menutup mulutnya rapat-rapat. Wajahnya merona.


Haz tidak begitu tertarik. Dia hanya menyapa semua orang dengan senyuman dan langsung pergi ke arah tukang bubur. Dia dan sang tukang bubur malah terlihat sangat dekat. Mungkin karena dia sering pergi ataupun membeli sarapan di warung bubur itu.


Whisk juga tidak begitu tertarik untuk mengenal Nirvana Kenziro. Untuk dua orang lainnya, dia lebih kurang sudah mengenal mereka.


"Ini Whisky Woods," kata Rika memperkenalkan Whisk kepada Nirvana. "Dan itu Hazelia Lify, juniorku yang pernah ku ceritakan." Kemudian dia menunjuk ke arah Haz. "Mereka berdua ini yang akan membantu kita dalam mencari tahu siapa yang meracuni Ric."


"Berkat mereka, kami menemukan banyak jawaban. Terutama dari Hazelia. Dia adalah orang yang jenius. Analisisnya sembilan puluh persen akurat, sisanya terkadang dia ceroboh." Riko menyambung perkataan saudari kembarnya.


"Nirvana Kenziro," kata Nirvana tanpa embel-embel. Dia menatap Whisk dengan tatapan tidak suka.


"Whisky Woods." Whisk pun sama. Bahkan dia yang biasa mengulurkan tangannya untuk mengikat hubungan baik dengan orang lain, tidak melakukannya ketika bersama dengan Nirvana.


"Pesanan ku sudah selesai." Haz datang, memecahkan keseriusan yang melanda mereka semua. Semua orang langsung menatap ke arahnya. "Ada apa?"


"Tidak ada," kata Whisk.


"Kalau begitu aku dan Whisk akan kembali ke mobil kami terlebih dulu. Jika ada yang ingin disampaikan, langsung melalui via chat atau telepon saja," ujar Haz melambaikan tangannya dan tersenyum. "Ayo Whisk kita balik."


Saat Haz mengajak Whisk balik ke mobil, saat itu juga wanita itu melihat tatapan mata Nirvana untuknya. Dia balas menatap Nirvana polos. Tatapan yang diberikan Nirvana kepada Haz sangat berbeda dari tatapan mata yang diberikan oleh pria itu kepada Whisk. Tatapan yang diterima oleh Haz adalah tatapan yang menunjukkan bahwa seseorang sangat tertarik untuk mengenal lebih jauh ... dan itu membuat Haz merinding sekaligus tidak nyaman.


Whisk juga menyadari bahwa Nirvana memberikan tatapan tertarik pada Haz. Emosinya langsung naik ke ubun-ubun.


Berani sekali kamu melihat-lihat cintaku! Awas saja kalau kamu berani bermacam-macam, Nirvana Kenziro!