
#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!
"Ingin menemaniku ...? Kamu sedikit mencurigakan, Hazelia Lify," kata Whisk. Dia menatap tajam ke arah Haz untuk mencari tahu sebenarnya apa yang sedang dipikirkan oleh wanita berambut panjang gelombang. Hanya saja, semakin berusaha dia mencari tahu, dia pun semakin bingung. Haz terlalu pandai menyembunyikan apa yang sedang dipikirkannya.
"Memangnya aku terlihat sangat mencurigakan, Tuan Whisky Woods? Apa salahnya menemanimu di sini untuk sementara waktu?" tanya Haz, menghindari tatapan tajam Whisk. Dia mengambil novel yang tadinya dibaca oleh pria bersurai kemerahan.
"Bungaku Shojo ... hm?" gumam Haz. Dia membuka lembar demi lembar novel itu, membacanya secara cepat.
"Kamu sudah pernah membaca novel itu?" tanya Whisk sambil merebut novel yang ada di tangan Haz.
"Hei! Tidak sopan sekali kam-"
Haz terkejut ketika mendapati wajah Whisk begitu dekat dengan wajahnya. Wanita itu langsung tak bisa berpikir jernih. Ingin merasakan, juga ingin menolak.
Ayolah! Tolak dia! Haz berseru di dalam hati, panik. Dia tidak ingin tiba-tiba ada orang yang melintas dan memergoki mereka sedang melakukan 'hot kissing scene' atau melakukan 'France Kiss', mengingat bahwa Whisk adalah orang Prancis.
Haz langsung menutup mulut Whisk menggunakan telapak tangannya. "Hold up! Jangan macam-macam. Ini akan menjadi skandal besar ..,," katanya menahan Whisk. "Kamu kira ini negaramu? Jika ya, tidak apa. Negaramu tidak akan mempermasalahkan adegan ciuman di tempat umum. Tapi, tidak dengan negara ini."
Di luar dugaan, ternyata Whisk hanya mengecup mesra kening Haz. Sedangkan Haz, dia sudah merasa takut citranya akan rusak lebih dulu.
Haz menutup erat matanya hingga merasakan bahwa dia dicium di bagian kening, bukan bibir. Dia harus merasa lega? Mungkin dia harus merasa lega. Terkadang dia juga tidak bisa memprediksi apa yang akan dilakukan oleh seorang Whisky Woods.
"Siapa yang bilang akan mencium mu? Aku kan hanya mencium kening mu? Apakah kamu berharap bahwa aku akan mencium dirimu di tempat umum seperti ini? Aku tidak bodoh, juga tidak gila. Aku tahu ini di negara bagian apa," kata Whisk. Dia menepuk pelan pipi Haz, dengan sedikit tak sabar. Pria bersurai kemerahan ingin tahu apa yang baru saja dialami oleh Haz. Dia merasa pasti ada hubungannya dengan kasus yang berusaha mereka pecahkan. "Sekarang katakan kepadaku, Hazelia Lify ... apa yang sedang mengganggu pikiranmu itu? Kamu balik ke tempat ini adalah untuk mengajakku pergi menemui Zenneth, bukankah begitu?"
"Kamu memang ingin mencium ku!" Haz berseru berbisik kepada Whisk. Dia ingin memastikan bahwa tidak ada orang yang mendengar pembicaraan mereka. Dia cukup takut itu akan menjadi aib baginya, juga bagi karir yang susah-payah dibangun oleh Whisk. Memiliki skandal dengan seorang detektif itu lebih parah dibandingkan memiliki skandal dengan artis atau model, sebenarnya yang mana hal itu adalah sama.
"Pikiranmu ternyata bisa kotor juga ya," ledek Whisk sambil menyentil kening Haz, membuat wanita berambut panjang gelombang mengadu kesakitan.
"Hati-hati dengan keningku, Marjoram! Sudah kamu cium, kamu sentil. Apa maksudmu hah?" tanya Haz sambil melotot ke arah Whisk.
"Aku tidak memiliki maksud apa-apa. Hanya pikiran kotor itu sedikit mengganggu. Nah, Hazelia Lify ... apa yang ingin kamu katakan?"