Lady Sherlock : First Unofficial Case

Lady Sherlock : First Unofficial Case
138 : Kepribadian Qerza


#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!


Jel hanya bisa mengangguk dengan lemas untuk menjawab pertanyaan dari Pak Putra. Wajahnya terlihat lesu dan pucat seperti sudah tidak mendapatkan kebahagiaan berhari-hari. Nyatanya memang begitu yang terjadi kepadanya.


"Saya tidak akan menyalahkan siapa pun atas kejadian hari ini. Tapi, kalian harus ingat jangan mengulanginya lain kali," kata Pak Putra, memberikan peringatan untuk Haz dan Jel. Mungkin juga Whisk yang ikut terlibat di dalamnya.


"Maafkan aku. Aku yang salah," kata Jel. Suaranya serak. Sebentar lagi dia akan menangis.


"Tidak sepenuhnya salah kamu. Aku yang menyeret kamu ke dalam masalah. Jadi, sumber permasalahan dari awal adalah aku," ujar Haz.


"Cukup! Jangan kalian menyalahkan diri sendiri!" seru Pak Putra.


Setiap kali ada masalah, Haz dan Jel selalu berebut menyalahkan diri mereka. Padahal tidak ada yang bagus dari menyalahkan diri sendiri. Semua hal yang sudah terjadi tak akan bisa diulang lagi.


"Tapi, Papah harus tahu kronologinya," kata Haz. Dia dan Jel memang menyebut Pak Putra dengan sebutan 'Papah', sama seperti Leo. Hal itu, Pak Putra sendiri yang menginginkannya.


Haz pun menceritakan awalnya bagaimana, hingga sampai bagian kalau mereka baru saja menginvestigasi TKP dimana mobil Cyan mengalami kecelakaan serta para penumpangnya menghilang lantaran diculik oleh sekelompok orang yang diduga telah meracuni Richard Vinzeliuka. Dia juga tidak lupa memperkenalkan Whisk kepada Pak Putra. Hal itu memakan waktu satu setengah jam lamanya.


"Juga tidak bisa menyalahkan dirimu sendiri, bukankah begitu, Hazelia Lify?" tanya Pak Putra ketika Haz mengakhiri ceritanya.


"Semua yang terjadi, semuanya berhubungan dengan Haz. Tidak ada yang tidak berhubungan, Pah. Jadi, Haz yakin kalau ini adalah salah Haz." Haz tetap saja keras kepala dan menganggap bahwa semua yang sudah terjadi adalah salahnya.


"Hah ... anak ini benar-benar ...!" Pak Putra hanya bisa menghela napas panjang. Dia sama sekali tidak bisa menang dari Haz soal berargumen. Apa pun yang dia katakan, bisa dengan mudahnya dipatahkan oleh Haz yang notabene adalah junior dua tingkatan umur di bawahnya.


"Salahku juga. Jika saja aku tidak memilih untuk dinas dan datang ke Indonesia, hal ini tidak akan terjadi kepada kalian berdua dan kalian masih memiliki pekerjaan tetap kalian," kata Whisk.


"Apa pun masalahnya, akar masalah itu pasti tak hanya satu. Satu masalah dengan masalah lainnya pastilah berhubungan. Sama seperti sebuah pohon. Dari akar sampai ujung-ujung daun, pasti berhubungan satu sama lain. Tidak ada yang tidak berhubungan. Kalian itu masih tergolong muda, masih memiliki harapan untuk melangkah jauh." Pak Putra memberikan nasehat.


Haz menghela napas. Dia tentu saja tahu. Terkadang dia ingin menerobos sebuah batasan yang dianggapnya sangat mengikat. Dia juga salah telah melakukannya. Seandainya dia membiarkan Si Kembar Vinzeliulaika menaruh kecurigaan terhadapnya tanpa dirinya mengambil langkah-langkah aneh, keadaan tidak akan menjadi sangat rumit seperti itu.


"Tidak ada salahnya mencoba hal baru yang kamu inginkan, Hazelia," kata Pak Putra, seolah tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Haz. Yang diberi amanah hanya tersenyum, lalu murung kembali. "Daripada kamu memikirkan kejadian demi kejadian yang sudah terjadi. Lebih baik kamu pikirkan dimana kedua temanmu yang katanya telah diculik itu. Bisa saja nyawa mereka sedang berada dalam bahaya," lanjut pria tua itu.


Benar, Haz harus memikirkan kemana sekelompok orang-orang misterius itu membawa Cyan dan Zenneth. Walau dia tak ingin menyelamatkan seorang Cyan ... tapi, hal yang menyangkut nyawa seseorang itu ....


Ah! Sudahlah! Selamatkan ya selamatkan! Apa yang kamu pikirkan, Hazelia Lify? Haz bertanya kepada dirinya sendiri. Dia tak boleh egois di saat-saat seperti itu.


"Jadi, maksud kamu adalah kamu tidak boleh egois, sedangkan mereka boleh melakukan sesukanya ke dirimu?" tanya Qerza marah.


"Hukum rimba juga begitu: Jika kamu melakukan hal baik ke orang, belum tentu orang akan melakukan hal baik kepadamu. Jika kamu melakukan hal jahat ke orang, mereka akan membalas dirimu berkali-kali lipat dari apa yang mereka rasakan. Kamu harus memahami hal itu," balas Haz.


"Dan sekarang, aku berada di posisi seimbang dari kedua hal itu. Aku tidak melakukan hal jahat, juga tidak dengan hal baik. Aku hanya melakukan apa yang ingin kulakukan tanpa melihat apakah aku dengan orang itu memiliki masalah atau tidak," lanjut Haz.


"Tapi, setelahnya kamu selalu menyesal. Kamu selalu menyesal hingga membuat hatimu terluka!" seru Qerza, tidak terima dengan pernyataan Haz. Dia merasa Haz terlalu lembut untuk hidup di dunia yang keras ini.


"Lalu, aku harus seperti siapa? Seperti Alkaf yang keras kepala dan sesuka hatinya? Menganggap bahwa diriku di atas segalanya? Tidak memikirkan perasaan orang lain, juga perasaan kalian? Tidak! Aku bukan orang seperti itu! Walau masa laluku tidak bagus. Walau orang-orang berusaha menjatuhkan diriku. Aku tidak akan menjadi SEPERTI ORANG LAIN."


Perkataan Haz sukses membuat Qerza terdiam. Qerza hanya kuat, tapi dia tidak memikirkan secara keseluruhan. Dia hanya tahu apa yang dilakukan Haz hanya akan membahayakan dirinya sendiri. Namun dia tidak pernah berpikir jika jahat kepada orang lain akibatnya akan sangat fatal.


"Tidak ada salahnya merasakan pahitnya dunia. Malah itu bagus untuk perkembangan diri sendiri. Juga, bagus untuk memilah dengan siapa seseorang harus berteduh." Haz menaikkan sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman, tanpa disadarinya. Semua memori yang ada di dalam kepalanya berputar.


Setidaknya, orang yang menjadi musuhku pernah mengajariku tentang banyak hal, batin Haz.


Sementara itu, dari beberapa saat yang lalu ....


"Haz? Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Pak Putra sambil mengguncang pelan tubuh Haz. Tidak ada respon dari wanita berambut panjang gelombang.


Whisk tahu Haz sedang berbicara serius dengan kepribadian-kepribadiannya yang lain, sehingga dia menghentikan tangan Pak Putra yang sedang mengguncang tubuhnya.


Pak Putra melakukannya lantaran melihat Haz sudah tak berkedip layaknya seorang mayat.


"Dia sedang berbicara 'dengan teman-temannya'," kata Whisk.


Mendengar hal itu, Pak Putra berhenti mengguncang tubuhnya. Dia langsung menyadari bahwa Haz memiliki dunianya sendiri, memiliki teman imajinasi. Dia pun menganggukkan kepalanya.


"Sudah sejak kapan dia seperti ini?" tanya Pak Putra.


Jel pun tak bisa menjawabnya. Dia sering sekali melihat Haz menatap kosong seperti itu. Bahkan saat di kelas pun, Haz bisa-bisanya mengubah suara yang sangat bising dan mengganggu hingga menjadi seperti yang diinginkannya. Dia menyimpulkannya menurut perkataan wanita berambut panjang gelombang yang mengatakan kalau dirinya tidak merasa ada orang-orang yang berisik padahal suasana kelas sangatlah ribut.


Jel menggelengkan kepalanya. "Aku juga tidak tahu. Tapi, Haz sering merasa bahwa dunia ini sangat sepi. Padahal sangat ribut."


"Baiklah, saya mengerti," kata Pak Putra.


"Sepertinya aku terlalu serius hingga tidak mengamati keadaan sekitar di dunia asli. Aku harus kembali terlebih dulu. Kita akan berbicara lagi nanti," kata Haz.